
"Aku bidan setempat, jadi aku ikut bertanggung jawab juga pada keadaan pasienku." ucapnya tersenyum lebar, "Aku udah hubungin kamu semalam, kok gak diangkat." lanjutnya kemudian. Dia bidan ternyata, kenapa pergaulannya macam itu. Jelas dia ada di tempat semalam.
"Oh, aku malas angkat telepon dari nomor tak dikenal. Kenapa tak chat aplikasi aja Wi?" tanyaku dengan mengecek ponselku.
"Gak terpikir. Katanya kamu Abangnya Dinda, kok gak mirip ya?" balas Dewi menoleh padaku.
"Abang tak sedarah tak sekandung! Aku asli dari provinsi A, aku bukan orang sini." sahutku menunjukkan nomor baru yang tertera di ponselku, "Ini bukan?" lanjutku memastikan nomor teleponnya.
Dia mengangguk mengiyakan, "Ohh, Kakak adikan sama Dinda?" tanyanya sambil memperhatikanku.
"Apa lagi tuh?" tuturku tak mengerti maksudnya.
"Semacam pengen punya hubungan dengan Dinda, tapi masing-masing udah memiliki pasangan. Kepentok status gitu deh. Jadi nyari opsi lain, biar bisa tetap dekat." ungkapnya menjelaskan dengan jelas. Tapi aku tak begitu, entah kalau Dinda sendiri bagaimana.
"Tak juga." tukasku yang malah memikirkan Dinda. Jangan-jangan Dinda suka lagi denganku? Akan kupastikan nanti.
"Tapi kelihatannya dekat banget? Apa memang pacaran?" tanyanya lagi, jujur aku tak merasa nyaman dengannya yang banyak bertanya begini. Saat aku mau menjawab, nomor antrianku sudah disebutkan.
"Aku permisi dulu ya." ucapku pamit padanya, lalu ia pun mengangguk.
~
Sebelumnya aku sudah menghubungi abang Mun terlebih dahulu sebelum berangkat ke P*****a lab itu. Sekarang aku sudah selesai melakukan beberapa tes. Dewi pun sudah tak terlihat lagi di sini.
Aku kembali masuk ke mobilku dan sepertinya aku ingin berjalan-jalan terlebih dahulu dan mengisi perutku. Aku tidak langsung pergi ke kedai.
Aku memutuskan singgah di warung Up N****l untuk mengisi perutku. Setelah siap memarkirkan mobilku, aku turun dan masuk ke dalam tempat tersebut. Aku menoleh kiri kanan untuk mencari tempat.
Singkat cerita aku sudah selesai mengisi perutku. Setelah membayar makanan aku langsung keluar dan menuju tempat parkir. Saat aku keluar area parkir, aku melihat Reno laki-lakinya Dinda. Ia bersama dengan wanita berhijab. Saat posisi mobilku sedikit dekat dengan mereka. Eh ternyata, si Dinda yang sedang bersamanya. Sudahlah namanya juga sepasang kekasih. Tapi terlihat dari raut wajahnya Dinda seperti sedang marah.
Sudahlah biarkan saja. Aku pun melanjutkan perjalananku ke kedai kopiku.
~
__ADS_1
Aku bekerja seperti biasa, dengan dibantu dengan abang Mun juga tentunya. Aku lebih handal dengan pekerjaan yang memakai tenaga, dari pada pekerjaan yang memakai otak begini. Belum apa-apa pun rasanya kepalaku sudah berdenyut.
Aku pulang lebih awal, setelah sampai di rumah. Aku langsung meminta Zulfa untuk bersiap untuk bertolak ke kota J.
Aku dikabarkan oleh Haris untuk sekalian menjemput Dinda di rumahnya. Setelah Zulfa bersiap kami pun langsung berangkat ke rumah Dinda.
Sesampainya aku di sana, ternyata Dinda sedang ada tamu. Aku dan Zulfa turun dan menuju pintu masuk rumah Dinda. Tapi terdengar keributan dari dalam rumah, aku mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu. Lalu aku dan Zulfa duduk di kursi besi yang berasal di teras rumah Dinda.
"Din, maaf. Ok aa janji bakal nurutin semua mau kamu. Tapi jangan putusin hubungan ini Din." terdengar suara laki-laki yang sepertinya sedang memohon pada Dinda.
"Tak usah maksain begitu! Lagi pula, aku bakal lama di provinsi A. Aku gak bisa dan gak mau kalau harus hubungan jarak jauh. Ini bukan tentang masalah yang aku minta tadi!" suara Dinda yang terdengar meninggi.
"Bohong! Aku paham kamu Din. Selalu saja kamu marah, kamu ngambek begini kalau keinginannya gak dituruti! Cobalah mengerti sedikit. Aku gak selalu ada uang. Aku sampai rela kerja jauh buat bisa menuhin keinginan kamu Din! Aku kira, kamu bakal ngerti. Aku jauh dari kota B. Aku cukup buat ongkos aja, buat bisa ketemu kamu pas kamu bilang kamu bakal lama." ungkap laki-laki itu dengan nada kecewa. Benarkah Dinda seperti itu? Ok, jangan nilai dari sudut pandang orang lain aja Di! Benakku berseru dengan pertengkaran yang aku dengarkan.
"Aku pengen sendiri! Silahkan kamu pulang!" tutur Dinda pelan. Ya ampun Dek, kenapa kau tega sekali dengan laki-laki kau.
"POP CORN CARAMEL SIALAN!" teriak laki-laki itu dengan membuka dan membanting pintu untuk menutupnya kembali. Aku dan Zulfa sampai terkejut dengan munculnya...Reno dengan tiba-tiba. Hah, Reno? Semalam dia baru dikenalin sebagai laki-lakinya. Sudah main putus-putus aja sekarang. Dan apa seru Reno tadi? Pop corn caramel sialan? Benarkah Dinda minta putus hanya gara-gara tak dibelikan pop corn caramel?
Lalu Reno berlalu sesaat melirikku dan Zulfa yang tengah duduk di teras. Ia berlalu pergi tanpa menyapaku dulu. Matanya merah sekali, menandakan ia tengah emosi sekarang.
"Abang tungguin dari tadi di luar, tak taunya lagi bersantai kau rupanya!" ucapku melihatnya berwajah muram.
"Lagi kesel aku Bang! Duluan gih, ketemu di rumah Bang Haris aja." sahut Dinda melirikku sesaat.
"Abang tungguin ok? Mau pop corn caramel, Dek? Yuk Abang belikan." balasku dengan mengambil dompet di saku belakang celanaku dan menghitung jumlah uang yang ada di dalamnya.
Dinda tertawa pelan dan melemparkan bungkus rokok yang sudah kosong, "Nguping kau? Tak sopan kali kau Bang!" tutur Dinda kemudian.
"Tak nguping pun, memang dengar. Abang udah ada di luar dari sepuluh menit yang lalu!" seruku padanya, "Ayo berangkat, ada Zulfa nungguin di luar tuh." lanjutku memberitahu keberadaan adikku yang sendirian di teras rumahnya.
"Bang sini dulu coba, duduk." ungkap Dinda dengan menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Aku menurutinya untuk duduk di sebelahnya, "Apa Dek?" tanyaku singkat.
__ADS_1
"Rokok aku habis. Kuota aja aku dapat dari Abang." tuturnya pelan.
"Terus kenapa?" sahutku pura-pura tak mengerti maksudnya. Ini perempuan dibaiki malah ngelunjak.
"Aku mau minta gajianku dulu lah." ucapnya dengan menarik lenganku untuk jadi tempat sandarannya, "Aku tak ada hadiah buat adik kau yang nikahan itu Bang. Tak mungkinkan aku kasih dia sovenir pernikahannya gelas setengah lusin." lanjut Dinda membuatku tertawa.
"Tak apa kasih gelas setengah lusin juga, Dek." ucapku dengan tertawa renyah. Dinda malah memukul pahaku pelan, dengan wajahnya yang terlihat kesal sekali. Sontak saja aku malah semakin kencang tertawa. Kenapa humorku hanya sebatas hal-hal kecil seperti ini. Jujur aku jenis manusia yang susah tertawa lepas. Apa lagi setelah delapan belas bulan aku dikurung dalam tahanan. Aku malah tak yakin bisa tertawa seperti ini lagi.
Zulfa masuk, terlihat ia sepertinya penasaran sekali, "Pada ngetawain apa sih?" tanya Zulfa kemudian.
"Abang kau aja yang tertawa. Aku gak!" sahut Dinda masih terlihat kesal.
"Sini Dek, duduk dulu." ucapku setelah meredam tawaku dan meminta Zulfa untuk duduk.
"Aku pengen BAB Bang. Makan pedes tadi siang, jadi sakit perut terus!" ucap Zulfa berbisik padaku. Aku mengangguk, mungkin ia malu pada Dinda.
"Dek, tunjukin Zulfa di mana toilet rumah kau Dek!" pintaku pada Dinda. Tanpa bertanya Dinda langsung mengajak Zulfa untuk mengikutinya.
Dinda kembali lagi dan langsung duduk dengan memelukku, "Bang." rengeknya manja.
"Apa lagi coba, Dek! Gandeng lengan Abang bayar lima ratus ribu. Peluk Abang bayar satu juta. Cium Abang bayar dua juta Dek.!" ucapku dengan meliriknya, aku ingin melihat ekspresinya.
Dinda melepaskan pelukannya, menaikan satu alisnya dan tersenyum menyeringai. Kenapa ia terlihat menyeramkan sekali.
"Apa tadi kau cakap?" tanya Dinda menatap tajam padaku. Dan dia mulai mendekatiku, mengikis jarak diantara kami. Kenapa aku merasa ini pertanda buruk.
"Hmmm, itu Dek..." ucapku terpotong dengan serangan Dinda yang secara mendadak, "Ampun Dek, aaaaaaaa Din-da jangan. Aduh aduh akhhhh." seruku namun Dinda tak menghiraukanku.
TBC.
Happy reading
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
__ADS_1
Terimakasih 🥰