
Pukul 19.45 malam, aku sekarang sudah berada di kedai dengan Dinda di sampingku. Aku tadi sempat menyaksikan anak-anak yang tengah setor hafalan pada Dinda. Dinda begitu paham dengan tata cara membaca Al-Qur'an. Aku sedikit terkesima saat Dinda membenarkan bacaan yang salah saat Kenandra tengah mengaji tadi.
Kalau saja dek, dijari tanganmu itu tak terselip rokok dan pergaulan kau tak sebebas itu mungkin aku akan tergila-gila padamu.
"Bang gimana?" tanya Dinda menggoyangkan lenganku.
"Apa dek? Abang masih ingat siang tadi kau bilang mau bantu kerjaaan Abang!" sahutku tanpa menoleh kearahnya.
"Aku tak paham! Apa yang harus aku kerjakan. Dan ini harus diapakan?" tanya Dinda kembali menyerahkan sebuah berkas bermap biru.
Aku menatap wajahnya dan menghela nafas panjang, "Abang kira adek paham." tuturku mengambil map dari tangannya.
"Kau kira aku sejenius apa? Abang tak ajarin aku ya aku mana paham!" balas Dinda dengan memeluk lenganku.
"Kenapa kau nempel terus begini hm? Mau rebahan kah? Abang pindah ya ke meja abang?" tanyaku beruntun. Memang saat ini kami duduk di sofa panjang di sebrang mejaku.
"Aku capek!" ujar Dinda, "Lepas ini nyari hiburan yuk bang? Abang ada mobil kan?" lanjutnya menatapku dari samping.
"Kemana dek? Katanya capek! Malah ngajak nyari hiburan." balasku tetap memfokuskan diri pada pekerjaanku.
"Butuh refreshing aku bang!" jawab Dinda yang malah memindahkan lenganku untung merangkulnya dan dia memelukku erat.
Ku turunkan pandanganku pada manik hitamnya yang tanpa lensa, "Kau pengen abang cium kah dek?" ucapku kemudian.
Dia tersenyum dan malah tertawa terbahak-bahak. Apa yang lucu memangnya?
"Badan abang tuh pelukable betul. Enak loh bang rasanya." sahut Dinda di tengah tawanya.
"Memang rasa apa dek?" tanyaku tertular tawanya. Dinda malah mencubit pelan perutku yang ada didekapannya.
"Bang kalau lagi adegan begini terus tiba-tiba pasangan abang datang pasti seru ya bang. Aku nanti di jambak-jambaknya." tutur Dinda yang enggan melepaskan pelukannya.
Aku jadi teringat betinaku. Gimana kabar Devi sekarang ya? Aku merasa tak enak hati.
"Ya lepas makanya. Kalau betul pasangan abang datang. Bisa mati terpisah kau dek." jawabku mencoba melepaskan pelukannya.
"Memang abang punya pasangan? Macam laku aja kau! Jantan pelit macam kau paling cuma buat ganjal aja bang!" sahut Dinda melepaskan pelukannya dan mengejekku. Ganjal apa yang dia maksud itu? Kenapa otakku terkoneksi langsung pada ganjal yang aku miliki di tengah tubuhku.
__ADS_1
"Sembarangan! Devi Latvia yang fans berat kau itu kan betina abang dek." jawabku tidak terima dengan ejekannya.
"Ohh, itu. Enak tak dia bang?" tanyanya dengan beranjak dari tempat duduknya.
"Belum dicoba dek. Kau ini perempuan, tak risikah ngomong hal yang begini dengan abang?" balasku memperhatikan gerakan-gerakan yang ternyata ingin mengambil rokok yang berada di meja kerjaku.
"Biasa aja. Itukan kebutuhan bang. Tergantung kita menanggapinya aja." jawabnya menyelipkan rokok di mulutnya. Aku mengangguk mengerti dengan jawabannya, yang tak mungkin semua wanita menjawab sama dengan Dinda.
Aku menceritakan sedikit banyaknya tentang Devi pada Dinda. Akupun baru mengetahui sekarang ternyata Dinda juga memiliki seorang kekasih. Tapi ia enggan mendekatkannya pada Givan karena Givan yang masih belum mengerti keadaan sebenarnya.
Aku bertanya padanya kenapa dia bisa bercerai dengan suaminya. Aku paham pertanyaan ini terlalu intern dan kurang pantas jika kutanyakan langsung padanya. Tapi sungguh aku penasaran sekali. Dinda hanya menjawab letak kesalahannya ada padaku bang. Oh, jadi benarkah tebakanku? Aku tak berani lagi bertanya terlalu jauh melihat urat wajahnya yang kurang berkenan waktu mulutku melontarkan pertanyaan tidak sopan tersebut.
Seperti biasa, akhirnya aku menyerah pada pekerjaanku. Dan memberikannya pada orang ayahku karena abang Mun sudah pulang.
Aku bertanya pada Dinda mau kuantar balik atau ke rumah Haris kembali. Karena anaknya pun masih berada di sana. Dinda tetap ngin keluar mencari hiburan bersamaku.
"Kau janji ya dek nanti jagain abang!" ucapku saat berada di atas motor untuk pulang dulu ke rumah ku.
"Tak ke club kok. Ke rumah aku dulu bang ambil beberapa baju aku." sahut Dinda bersiap naik ke motorku.
"Bukannya kau udah mandi di rumah Haris tadi?" balasku dengan membenarkan roknya yang tersingkap.
"Mau buat apa?" tanyaku sebelum menarik gas motorku.
"Kalau aku maen di rumah abang tak usah susah-susah pinjam baju!" jawabnya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
Aku memasukkan gigi motorku mendadak dan Dinda sedikit terbawa ke depan, "Terserah kau dek!" sahutku dan melajukan motorku.
Rumah Haris sudah seperti rumahnya sendiri dan sekarang ia akan sedikit mangacak-acak rumahku juga. Aku tak mengerti jalan pikirannya. Terserah kau sajalah dek Dinda. Bahkan motornya pun ada di rumahku, sering digunakan Zulfa untuk pergi membeli makanan.
~
Aku baru selesai mandi dan masuk ke kamar untuk memakai baju. Aku terkejut saat mendapati Dinda tertidur di tempat tidurku. Tadinya saat ku tinggalkan dia untuk mandi, Dinda tengah berbenah pakaiannya untuk dimasukkan ke lemariku.
Kalau sedang tidur begini dia tampak seperti bayi. Entah kenapa aku mendekatkan diriku dan mencium pucuk kepalanya. Aku menghirup dalam-dalam aromanya, aku merasa dia bukan orang lain dikehidupan ku. Tapi jelas-jelas aku baru mengenalnya. Aku perlahan mengangkat kepalaku kembali, lalu beranjak untuk menutup pintu kamarku karena kurasa Dinda tidur pulas dan tidak akan melihatku memakai baju.
Namun aku malah menemukan Zulfa tersenyum diambang pintu dan tengah bersedekap tangan. Aku langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa dek?" tanyaku pada Zulfa.
"Ini calon kakak iparku? Hm, kalau iya aku mendukung abang. Tapi janji ya minta kak Dinda ajarkan aku untuk jadi penulis juga." jawab Zulfa dengan mata memancar.
"Kau ini ada-ada aja. Ini bukan pacar abang!" balasku cepat dan hendak menutup pintu.
"Abang mau ngapain hayo? Tadi kulihat abang cium-cium kak Dinda!" sahut Zulfa langsung.
"Mau pakai baju! Abang habis mandi!" ucapku cepat dan langsung menutup pintu. Jadi tadi Zulfa sempat melihatku mencium Dinda. Kenapa rasanya aku seperti habis ketahuan mencuri. Semoga saja Zulfa tak memberitahu Dinda.
~
Aku ketiduran saat menonton televisi. Sudah pukul sebelas malam saja dan Dinda masih tidur di kamarku sepertinya. Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahku dan buang air kecil. Aku keluar dan meuju kamarku.
AUTHOR POV
Adinda terkejut saat Adi masuk ke kamar begitu saja. Karena ia sedang menyisir rambut panjang bergelombang yang berwarna coklat keemasan itu.
"Ketuk dulu dong bang Adi! mentang-mentang rumah sendiri. Keluar dulu sana aku lagi sisiran!" ucap Adinda mengikat asal rambutnya dan memakai hijab yang hanya di sampirkan ke kepala.
"Udah lanjutin aja. Abang tak akan ganggu! Abang mau lanjut tidur ini dek. Kau tidurlah sama Zulfa sana!" jawab Adi menolak dan ia langsung merebahkan diri di tempat tidurnya.
"Aku tak pernah nampakin rambut aku begini. Sanalah kau bang! Jangan tidur! Ayo kita keluar." balas Adinda menarik tangan Adi.
Adi menarik balik tangan Adinda yang berada di tangannya. Adinda tidak bisa menopang tubuhnya dan langsung jatuh di atas tubuh Adi. Adi langsung membuang hijab yang berada di kepala Adinda lalu memeluknya erat Adinda.
"Ayo kita keluar bersama!" ucap Adi ambigu yang langsung membalikan posisi. Sekarang Adinda yang berada di bawah Adi.
"Abang....!" rengek Adinda meronta minta dilepaskan.
"Sssssttt, jangan berisik dek." bisik Adi pelan yang langsung mengincar telinga Adinda.
"Aduh bang, jangan-jangan oke. Lepasin aku, nanti ku traktir abang jajan betina satu." ucap Adinda saat Adi mulai mengendus lehernya.
Adi mengangkat kepalanya, dan menatap intens mata Adinda. Terlihat dari kilatan mata Adi, bahwa Adi sudah sangat menginginkan Adinda.
"Dek............
__ADS_1
TBC.