
"Kau ada di sini! Pantas saja Adi bela-belain pergi. Tak taunya ada jandanya." seru ibu Meutia di depan Adinda. Adinda berjongkok untuk bisa menggendong Kinasha yang minta digendong olehnya.
"Kau tak tau kan Adi baru balik dari rumah sakit. Sebulan lebih dia tidur, apa kau ada nengokin dia? Tak ada kan? Dengan tak tau malunya, kau minta dia nemuin kau begitu? Memang dasarnya datang dikala butuh aja!" ucap ibu Meutia dengan menunjuk Adinda. Pengasuh anak Haris yang satu lagi bernama mbak Nok datang, untuk mengambil Kinasha dan mengambil alih susu yang berada di tangan Adinda.
"Tolong kasih ke Givan ya, Mbak. Terus ditemani, dia di atas sendirian." ujar Adinda pada mbak Nok. Mbak Nok lalu mengangguk mengerti dan berlalu pergi.
"Bukan dia tak mau nengokin Adi. Dia tau kabar tentang Adi, dia selalu cari tau kemajuan dari kesehatan Adi dan dia cari tau untuk pengobatan Adi. Tapi dia cukup tau diri saat Umi bilang dia tak pantas untuknya. Dia terlalu buruk untuknya. Dan bukannya Umi yang minta dia buat jauhin Adi. Dan perlu Umi tau, dia tak pernah minta Adi untuk datang nemuin dia!" sahut Jefri yang muncul dari belakang tubuh ibu Meutia.
"Oh, ada pembelanya rupanya." balas ibu Meutia dengan memutar tubuhnya menghadap Jefri.
"Kalau memang dia perempuan baik-baik, dia pasti bisa nempatin dirinya di lingkungan yang baik. Dengan dia berteman dengan laki-laki dan berada di rumah laki-laki begini, ini sudah cukup menunjukkan bagaimana buruknya mertabatnya sendiri. Apa orang bilang tentang seorang perempuan yang berada di rumah laki-laki yang bukan muhrimnya. Dia tak bisa menjaga marwahnya sebagai seorang perempuan." maki ibu Meutia dengan berbalik dan menunjuk Adinda kembali.
"Udah Umi, ayo pulang." ajak Adi halus. Ia melihat mata Adinda sudah berkaca-kaca.
"Jangan sekali-kali kau nemuin dia lagi!" ucap ibu Meutia dengan berlalu pergi dari rumah hadapan mereka semua.
Detik itu juga Adinda berlari masuk ke lantai atas rumah Haris. Seumur hidupnya ia baru merasakan di maki oleh ibu dari laki-laki yang ia cintai.
Ia menangisi apa yang sudah terjadi hari ini. Baru saja ia bahagia karena ungkapan cinta dari Adi. Tapi di hari ini pula ibunya Adi terang-terangan menghalangi Adi untuk bisa bersamanya.
Berbeda dengan Haris yang mengajak Givan untuk bermain bersama anak-anak ke luar rumah. Jefri justru menemani Adinda yang tengah menuangkan rasa sakitnya dengan air mata yang mengucur deras.
"Kau tau, rasanya aku ingin rusak anak gadisnya." ucap Jefri setelah ia terdiam mendengarkan suara isakan Adinda yang mulai mereda.
Sontak membuat Adinda menoleh cepat pada Jefri, "Jangan gila. Ini tak ada hubungannya." ucap Adinda kemudian.
__ADS_1
"Kau yang dimaki, aku yang ikut sakit hati. Apa lagi pas dia ngomong teman laki-laki begitu. Hei, dia pikir anaknya laki-laki baik-baik. Sejauh-jauhnya aku berteman dengan kau, aku tak pernah peluk, cium kau macam anaknya. Laki-laki juga apa laki-lakinya. Memang kelemahan laki-laki itu tentang perempuan. Tapi jujur, tak pernah terlintas sedikitpun untuk nikmati kau. Aku butuh penyaluran aku beli perempuan, kalau Ganis tak mau ladenin aku. Aku hanya ingin berteman murni. Aku nitip badan di pulau orang. Aku tak punya kerabat atau keluarga di sini untuk jaga aku. Aku hanya ingin ada seseorang yang bisa jadi keluarga di saat aku susah ataupun senang. Dengan gampangnya ia bilang begini begitu bawa-bawa marwah pulak." ungkap Jefri yang terlihat begitu emosi.
"Iya aku tau! Udahlah tak usah diperpanjang." balas Adinda agar masalah ini cepat selesai.
"Udahlah kau tak usah obatin Adi. Capek-capek kau puasa buat kesembuhan Adi. Tapi emaknya gila begitu." ujar Jefri dengan menikmati rokoknya.
"Aku kasian sama dia." tukas Adinda lirih.
"Kasian sama benci itu lebih kuat dari rasa cinta tau tak! Kau kasian sama Adi, tapi kau tak kasian sama badan kau sendiri." tutur Jefri yang keluar logat aslinya.
Adinda hanya terdiam membisu. Ia sebenarnya masih memikirkan makian ibu Meutia tadi. Ia tak habis pikir, kenapa ibu Meutia bisa langsung sebenci ini padanya. Ia semakin penasaran, terlebih lagi saat kejadian di dapur rumahnya waktu Adi tinggal di sana kemarin. Ibu Meutia berseru memanggil namanya, dan Adinda beranjak menghampiri ibu Meutia di dapur.
Flashback On
"Dek.. Dek Dinda. Sini sebentar." seru ibu Meutia dari arah dapur.
"Sore ini Umi sama Abang mau balik ke kota J. Kau yang sehat-sehat ya. Pulanglah dulu ke orang tua kau, biar Givan ada yang ngurus." ucap ibu Meutia yang menarik tangan Adinda agar lebih dekat dengan posisinya yang duduk di kursi makan. Lalu Adinda mengangguk menanggapinya.
"Umi harap setelah ini kau tak usah hubungi Adi lagi. Umi hanya ingin Adi mendapatkan wanita yang baik, yang bisa membimbing Adi untuk menjadi laki-laki yang lebih baik lagi. Kalau kau, Umi rasa kau tak pantas untuknya. Lebih-lebih lagi kau... tau sendiri aja lah ya. Jauhin Adi, biar dia paham juga bahwa kalian tak bisa bersatu. Atau sekalian aja tunjukin semua keburukan kau biar Adi buka mata. Dan mundur dengan sendirinya." ungkap ibu Meutia pelan namun begitu menusuk hati Adinda.
Adinda merasa bingung dengan situasi sekarang ini. Ia tak paham dengan apa yang terjadi. Kenapa ibu Meutia tiba-tiba mengatakan hal yang menyakiti hatinya. Adinda langsung menganggukan kepalanya tanpa menyahuti perkataan ibu Meutia. Lalu ia pergi menemui Adi di ruang depan.
"Nanti kabarin aku ya kalau kau butuh aku." ucapnya pada Adi dengan tersenyum samar.
Flashback off
__ADS_1
Itulah sebabnya mengapa Adinda sempat membentak ibu Meutia di hari itu. Di hari Adi dan ibu Meutia pulang ke kota J.
Adinda pun masih belum mengetahui alasannya kenapa ibu Meutia sampai sekasar ini padanya. Apa karena ia mabuk di malam itu? Tapi menurutnya ibu Meutia tak perlu sekasar ini hanya karena hal itu. Cukup jauhkan anaknya saja, tak perlu sampai memakinya seperti ini.
"Tidur kah kau, Dek?" tanya Jefri yang bersuara ketika Adinda terdiam lama tanpa pergerakan.
"Tak, Bang." ucapnya dengan menoleh ke arah Jefri yang tengah berdiri di ambang pintu balkon kamar Haris.
"Oh iya. Besok nanti kau anterin bang Adi ke ustad yang kemarin ya. Sekalian bawa Givan juga. Nanti aku minta kakak aku ikut bareng kalian untuk jagain Givan." lanjut Adinda kemudian.
"Kan Abang udah kata tadi. Adi tak perlu kau obati. Dia juga masih punya keluarga. Ok, kau kasian sama Adi. Tapi kau juga harus kasian sama badan kau sendiri." sahut Jefri.
"Tak apa. Nanti aku transfer biayanya. Aku dapat bonus dari penerbit kemarin." balas Adinda keras kepala.
"Buat ambil motor kau yang kau jual kemarin aja lah. Atau mulai aja proses ternak puyuhnya. Tak payah obatin Adi." ujar Jefri yang tidak terima dengan keputusan Adinda demikian.
TBC.
🤔 tak habis pikir aku 🙄
Ayo ikuti kisahnya terus 😊
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😉
LIKE, VOTE, COMENTnya ditunggu 😁
__ADS_1
terimakasih 🥰