
Doble up, biar gak nanggung šš¤
"Pelan, Bang." ucap Dinda saat Adi's bird mulai membelah miliknya.
Sungguh aku menikmati ekspresinya saat ini. Mata yang perlahan terpejam, dengan bibir bawahnya yang ia gigit. Dinda terlihat begitu seksi dan membuatku semakin bergairah.
Setelah Dinda terbiasa dengan Adi's bird yang mengganjal di dalamnya. Aku mulai perlahan menggerakkan pinggulku. Dinda begitu menikmati permainanku yang pelan tapi pasti ini.
"Faster⦠lebih dihentakin, sayang." racau Dinda dengan tersenyum samar.
"Adek suka yang kasar?" tanyaku dengan menikmati dadanya. Lalu aku kembali menyerang telinganya.
"Bukan kasar yang dipukul-pukul juga. Biasanya aku keluar lebih cepet kalau mainnya agak keras dikit." jawabnya dengan menarik leherku, agar kepalaku tak menyerang telinganya terus.
"Begini kah?" sahutku dengan mengoyak intinya dengan gerakan memutar, dan menghentakkan lebih kuat dan dalam.
"Ouchhh, yaaahhhhhhh⦠dari ujung, lebih kuat, lebih cepat." balasnya dengan suara yang begitu lepas.
Dan benar saja, terasa Adi's bird terhimpit dinding yang kenyal dan basah. Dengan remasan dan hisapan yang terasa meski batangku tengah kebas. Berarti Dinda bukan main hebatnya dalam kl*maksnya. Aku jadi bingung dengan diriku sendiri. Aku yang memang kemarin cepat keluar? Atau inti Dinda yang begitu hebat dalam merespon lawan mainnya ini?
"Huuuuaaaaaa, Mamah⦠mamah.. mamah.." tangis Givan yang tidurnya terganggu dengan teriakan ibunya.
Sontak membuatku melepaskan penyatuanku, dan merebahkan diriku di belakang Dinda. Karena posisi Dinda sekarang berada di tengah-tengah antara aku dan Givan.
Dinda langsung menarik selimut sebatas dadanya, dan dia tidur menyamping menghadap Givan dengan memeluk guling.
"Mamah, ada apa?" tanya Givan dengan menghadap ibunya dengan memeluk guling yang Dinda peluk juga. Lihat air matanya begitu nanggung macam itu.
"Tak ada apa-apa. Bobo lagi yuk, masih malem." jawab Dinda dengan mulai mengelus punggung Givan.
Givan mengangguk mengerti, dan memejamkan matanya kembali.
Dan aku langsung membetulkan posisi inti Dinda yang sengaja ia tunggingkan. Perlahan aku memasukkannya lagi ke inti Dinda, dengan menggunakan gaya sendok. Dan menggoyangkannya secara perlahan. Agar Givan tak merasakan goyangan yang aku timbulkan.
Beberapa menit kemudian, Givan sudah pulas kembali. Dan Dinda mengajakku bermain di ruang keluarga.
Inilah enaknya di rumah sendiri dan tanpa adanya asisten rumah tangga. Aku dan Dinda bisa melakukan aktifitas fisik seperti ini di mana saja.
Sudah satu jam berlalu. Kami melakukannya dengan berbagai gaya dan Dinda sudah keempat kalinya mendapat kl*maksnya.
"Abang masih lama kah? M*ki aku udah pedes kali." ungkapnya yang sudah terlihat begitu lemas.
"Turn off kah?" tanyaku dengan mencabut Adi's bird. Dan menurunkan kepalaku pada selang*angannya. Kasian juga, terlihat begitu merah. Pasti jika dipaksakan Dinda bisa lecet.
__ADS_1
Aku mulai meng*ralnya kembali. Agar intinya mengeluarkan cairan pelumasnya lagi. Supaya ia tak kekeringan seperti ini, dan membuat intinya lecet.
"Bang, aku udah tak punya tenaga lagi. Aku seumur-umur baru ngerasain kl*maks berkali-kali macam ini." tuturnya dengan suara parau. Karena ia terlalu banyak mendes*h dan berteriak.
"Ayo sekali lagi, kita keluar bareng." ucapku yang merasa Dinda sudah siap untuk penetrasi lagi.
"Aku tak mau hamil sekarang-sekarang. Selain kita belum resmi, aku juga masih belum bisa berhenti merokok." sahutnya yang tak kutanggapi.
Aku hanya fokus pada titik kelemahannya, dan sesekali menyeka keringatnya.
Aku yakin, Dinda hanya beralasan saja. Aku yakin sepenuh hati, jika Dinda tau dirinya hamil. Dia akan berhenti merokok untuk kebaikan anak yang ia kandung.
"Masih lama kah? Ayo kita bareng." ucapku dengan memompanya begitu cepat dan dalam.
"Aduk Bang." sahut Dinda. Aku langsung menunjamkan Adi's bird dan memutarnya beberapa kali. Dinda terlihat begitu kelojotan, dan ia memintaku lagi untuk berganti dengan menghentakkan lebih kuat.
"Ber⦠sama⦠akhhh⦠" seruku.
"Abang, AKHHHH⦠" teriak Dinda dengan mengencangkannya otot-ototnya.
Aku menindihinya masih dengan Adi's bird yang menancap di dalamnya. Aku masih menikmati denyutan yang Dinda berikan. Andai saja aku tidak kebas, pasti enak sekali.
"Makasih Dinda sayang." ucapku dengan mencium keningnya.
"Abang tidur? Lepas dulu, cuci dulu." ungkapnya dengan menepuk-nepuk pipiku pelan.
Aku menurutinya, dan langsung mengajaknya kembali ke ranjang. Setelah aku dan Dinda selesai mencucinya.
"Abang tak nambah lagi kan?" ujar Dinda setelah berbaring dengan memelukku.
"Dinda masih pengen kah?" sahutku dengan membetulkan rambutnya yang menutupi wajahnya.
"Tak juga, biasanya kan kalau masih baru kenceng betul konsepnya." balasnya menyahutiku.
"Kasian, m*ki Dinda udah koyak kali. Takut lecet, nanti malah Abang yang terpaksa diliburkan." ungkapku membuatnya terkekeh kecil.
"Abang beli gel pelumas, tau kan?" pintanya yang aku angguki, "Iya, buat jaga-jaga aja, kalau aku kering." lanjutnya kemudian.
"Nanti Abang beli. Tapi Abang lebih suka Dinda ngeluarin pelumas sendiri karena Abang. Apa lagi kalau Abang sukses bikin banjir bandang. Bangga sekali rasanya." tuturku dengan senyum yang terpajang.
"Memang enak perempuan yang banjir?" tanyanya kemudian.
"Abang laki-laki normal. Masih lebih suka lubang yang berlendir, dari pada lubang kering." tukasku yang membuat tawa renyahnya terdengar. Lubang kering adalah hole belakang, jelas aku bukan kaum sesama jenis.
__ADS_1
"Dinda banjir juga bukan kecipkrakan macam itu. Tapi banjir yang bikin Abang merasa melayang di dalamnya." lanjutku kemudian. Dengan berbalik memeluknya dan menciuminya gemas.
Sayangnya gurauinku malah membuatku dan Dinda bergumul dengan penuh hasrat kembali.
Dan kami melakukannya satu kali lagi, dengan aku tanpa menggunakan barang itu.
Dan alhamdulilahnya, aku bisa bertahan sampai Dinda kl*maks dua kali. Mungkin karena jamu-jamuan yang aku minum dari Dinda tadi. Atau pun aku yang memang sudah bisa mengendalikan rasa nikmat dari inti Dinda itu. Yang tentu saja aku baru merasakan nikmatnya hanya dengannya ini.
~
~
Tidurku terganggu karena Givan yang sudah merengek minta makan.
"Jangan tidur aja, Pah. Ayo bangun, bikin sayur asem. Aku lapar kali." serunya dengan menarik-narik tanganku.
"Jam berapa sekarang? Mamah tuh bangunin. Papah mana bisa masak sayur asem." sahutku yang merasa berat sekali untuk membuka mataku.
"Jam sembilan. Betul, betul, betul aja udah abis acaranya." ucap Givan yang malah naik di atas perutku.
Pantaslah dia lapar, sudah terlewat dari tadi jam sarapannya.
Untungnya aku dan Dinda semalam menyempatkan diri untuk mencuci k*malu*n kami, setelah beradu. Dan langsung memakai pakaian kembali, agar bangun tidur aku dan Dinda tak kepergok oleh Givan.
"Yuk bangun. Bikin telor mata sapi aja, apa mau bikin darmi?" ujarku dengan menurunkannya dari atas perutku. Dan aku bangkit dengan tangan yang ditariknya.
Aku menoleh sekilas pada istriku yang masih mengalirkan air liurnya pada bantal. Terlihat wajahnya yang begitu lelah. Namun aku yakin, di balik wajah lelahnya. Ia pasti bahagia karena aku bisa memenuhi nafkah batin, sampai ia terpuaskan.
"Papah, sayur asem." protesnya yang melihatku mengambil tiga butir telur dari dalam lemari es.
"Mamah tak nyetok bahannya. Papah juga tak bisa buatnya." ucapku pada Givan.
"Pokoknya harus sayur asem. Ayo beli di tukang sayur dulu." seru anak laki-lakiku yang sambil menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Bentar, Papah ambil uang dulu." ujarku dengan bergegas menuju kamar untuk mengambil kaos dan dompetku. Karena aku hanya memakai celana pendek saja sekarang.
Dan setelah siap, aku pergi ke luar rumah. Dengan bertujuan untuk membeli sayuran yang dibutuhkan untuk membuat sayur asam. Ini adalah kali pertamaku pergi ke tukang sayur. Dan hanya karena anak laki-lakiku lagi. Hebat bukan, tidak ibunya, tidak anaknya. Selalu bisa mengendalikanku.
TBC.
Sang Pemuda beli sayur, Wak š
keren tuh macam ini š¤ udah sayang betul, rela berkorban, pengertian pulak š
__ADS_1