Sang Pemuda

Sang Pemuda
118


__ADS_3

Pagi harinya terlihat keadaan Adinda yang semakin memburuk. Adi membawakan Adinda sarapan dengan menu nasi putih dan telor mata sapi saja.


"Mau sikat gigi dulu tak? Apa mau kumur aja?" tanya Adi yang memperhatikan wajah lemah istrinya.


"Jangan nangis aja, Dek!" lanjut Adi saat tak mendapat sahutan dari Adinda.


"Mamah kan memang begitu kalau sakit, nangis terus." ujar anaknya yang muncul dengan susu kotak di tangannya.


"Macam anak kecil kau, Dek. Sakit aja rewel, nangis terus. Hah terus apa lagi, minta gendong terus tak?" ledek Adi bermaksud agar Adinda bersuara.


Namun perkiraannya salah. Ia malah mendapat gigitan di paha kirinya.


"AWWW" pekik Adi dengan mencoba menyingkirkan kepala Adinda yang masih merekat di pahanya yang berlapis sarung.


Tawa Givan pecah melihat papah sambungnya yang diperlakukan demikian oleh mamahnya.


"Ya ampun, Adindaku. Sampai hati kau gigit suamimu." ucap Adi setelah gigitan Adinda terlepas. Lalu ia menyibakkannya sarungnya. Dan terlihat bekas merah dengan cekungan bekas gigi.


"Aku juga kemarin di gigit. Tuh Pah bekasnya." ujar Givan dengan menunjukkan bekas gigitan ibunya di lengan tangannya.


"Masih sakit tak ini, Bang?" tanya Adi dengan menyentuh bekas gigitan istrinya pada lengan Givan.


"Sedikit." jawab Givan ringkas. Adi memperhatikan bekas merah yang hampir hilang itu. Ia baru tau ternyata istrinya suka menggigit.


"Kenapa bisa digigit mamah?" sahut Adi menunggu jawaban Givan.


"Waktu itu aku di suruh mandi. Aku tak mau. Terus udah mandinya, aku tak mau udah. Pas udah selesai mandinya, aku tak mau salin. Terus mamah langsung tancapin giginya di sini. Aku sampai nangis." ungkap Givan membuat Adi tersenyum samar. Bahkan Givan sekarang sudah bisa berbagi cerita padanya. Ia merasa sangat bahagia.


"Nakal ya?" balas Adi yang langsung diangguki Givan.


"Lain kali jangan macam itu lagi." Adi berpesan pada anaknya.


"Mau makan apa, Dek? Tak doyan kah telor mata sapinya?" tanya Adi yang kembali memperhatikan istrinya.


"Mau makan chicken teppan. Siangnya beff teriyaki. Malamnya….." jawab Adinda namun tak dilanjut, karena Adi menyela ucapannya.

__ADS_1


"Malamnya nasi goreng depan gang." ucap Adi kemudian.


"Mau di mana beli chicken teppan sama beff teriyakinya? Kau kan tau ini kampung. Mana ada g*kana di sini." lanjutnya dengan melirik istrinya.


"Ya udah aku minta uangnya aja. Aku mau mandi dulu." sahut Adinda yang bangkit dari tidurnya. Dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


ADI POV


Aku tengah menyuapi sarapan pada anak laki-lakiku. Givan cerdas, sempurna, tak ada kurang-kurangnya. Namun mengapa ia belum bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Hanya pipis yang ia lakukan sendiri. Selebihnya ia meneriaki ibunya untuk mengurusnya.


"Dek, Givan diajari untuk bisa mandiri. Anak-anak yang seumurannya udah pada bisa makan sendiri, pakai baju lepas baju sendiri." ucapku pada Dinda yang sedang menyantap telor mata sapi buatanku.


"Kau banding-bandingin anak aku?" sahut Dinda dengan mendelik tajam padaku.


"Ini suami kau, Dek. Tak sopan kau panggil suami sendiri kau-kau macam itu. Dan Abang bukan bandingin Givan dengan anak-anak yang lain juga. Udah waktunya dia bisa melakukan hal kecil itu sendiri. Mau sampai kapan dia serba mamah terus. Kau jangan terlalu manjain dia juga. Dengan kau macam ini, kau malah bikin anak kau tak bisa mandiri nanti." terangku padanya. Maksudku baik, tapi sepertinya tak berkenan di hatinya.


"Kau aja kau-kau'in aku! Belum juga kau punya anak dari aku. Udah pengennya nguasa'in aku, dan minta Givan untuk melakukan apa pun sendiri." balas Dinda yang langsung menyudahi acara makannya. Aku lupa, dia tak suka diganggu ketika sedang makan.


Sepertinya konsep wanita tidak pernah salah sudah harus diterapkan di sini. Ok, aku tak akan menyebutkannya kau lagi. Dan masalah Givan, sepertinya aku harus perlahan memberi pengertian pada ibunya dulu. Sepertinya Dinda tak menyukai caraku memintanya untuk mengajari Givan mandiri.


"Bukan macam itu sayang. Contohnya gini aja deh. Misalnya Givan udah berumur sepuluh tahun. Dan dia masih belum bisa makan sendiri. Adek ngikutin dia main dengan bawa makanan untuknya. Dengan telatennya Adek nyuapin Givan suap demi suap. Dan Adek tak tau jika kawan Givan memperhatikan Givan yang ternyata masih disuapi. Terus dia diledekin sama temen-temennya, lepas Adek balik. Dan Givan nanti malah marahnya ke Adek, gara-gara ia diledekin temennya karena Adek nyuapin dia. Dia belum paham, Adek nyuapin dia untuk kebaikannya sendiri. Agar ia tak kelaparan. Abang juga tak mau Givan kekurangan perhatian dari ibunya. Tapi itu juga ada batasannya. Agar anak bisa mandiri. Masa iya Givan mau dimandiin, disalinin, disuapin sampai baligh. Kan tak mungkin begitu juga." jelasku perlahan.


"Adek siapa?" tanya Dinda yang membuatku bingung.


"Maksudnya?" sahutku bingung.


"Adek ngikutin dia main dengan bawa makanan untuknya. Dengan telatennya Adek nyuapin Givan suap demi suap. Nah itu adek siapa?" balas Dinda. Oh, sepertinya ia tak paham. Aku terkekeh geli karenanya.


"Ya Adek Dinda. Dek Dinda. Istri Abang." jawabku agar Dinda paham. Namun ia malah tertawa terbahak-bahak.


"Aku dipanggil Adek? Macam itu?" tuturnya dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya macam itu." tukasku dengan menyimaknya.


"Sejenis panggilan sayang kah? Kok aku geli." ujarnya dengan tertawa lebih keras.

__ADS_1


"Agar Dinda paham, biar tak nyebut suaminya dengan sebutan kau lagi." balasku membuat Dinda terdiam seketika.


"Maaf." ucapnya yang langsung memelukku dari belakang.


"Kita belajar pelan-pelan ok. Mulai dari hal kecil dulu. Adek masih Abang ijinin ngerokok. Tapi sehari cuma tiga batang. Lebih dari itu Adek tak dapat uang belanja dari Abang." ungkapku kemudian.


Dinda langsung melepaskan pelukannya. Dan memutar tubuhku untuk menghadapku.


"Abang kasih aku berapa sebulan?" tanyanya mengintrogasiku. Sepertinya aku harus jujur.


"Nasi aku habis belum, Pah?" tanya Givan yang membuatku mengurungkan ucapanku pada Dinda.


"Nih, satu lagi. Lagi main apa sih?" jawabku kemudian bertanya balik padanya.


"Main balok susun di ruang depan. Aku tak keluar rumah kok. Masih dikunci pintunya." sahut Givan kemudian berlari ke ruang depan lagi.


"Jawab aku!" seru Dinda terlihat menantikan jawabanku.


"Sehari 75 ribu aja, ya." jawabku dengan meraih remot tv.


"Tuh kan. Makanya aku sih mending jadi janda aja. Bebas make uang mau habis berapa aja." ungkapnya dengan berdiri dan menuju dapur. Apa tadi aku salah ngomong kah? Sebegitu kecilnya kah 75 ribu di kampung?


Aku menghampirinya, dan memeluknya dari belakang. Dinda sekarang tengah mencuci piring, dengan wajah merengut. Aku tak suka mendengarnya berucap baru sehari menikah tapi Dinda sudah beranggapan mending jadi janda. Sebetulnya aku marah, tapi sepertinya konsep wanita tidak pernah salah berlaku sepanjang hari.


"Adek dengerin Abang dulu. 75 ribu buat masak aja. Jajan Givan Abang kasih lagi 15 ribu. Rokoknya Abang jatah sehari tiga batang. Biar Dinda bisa pelan-pelan berhenti merokok. Abang juga nanti begitu, Abang janji tak ngerokok lagi kalau Dinda juga berhenti merokok." ungkapku menjelaskan padanya sehalus mungkin.


"Bang, Abang orang kaya. Abang tega jatah aku jumlah ribuan aja. Masak dan jajan Givan aja cuma Rp,2.700.000.an aja sebulan. Uang Abang mau Abang pakai buat apa? Pelit betul dapat suami! Dosa apa aku, sampai dapat karma suami pelit begini." ucapnya jelas, dengan mencuci piring seperti akan memecahkannya.


TBC.


Wah, Adi perhitungan sekali rupanya?


Atau bagaimana?


Ayo ikuti kisahnya terus. Tambah seru nih 😍

__ADS_1


S**upport aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰**


__ADS_2