Sang Pemuda

Sang Pemuda
28


__ADS_3

Sekarang pukul 04.10 pagi. Tapi aku belum bisa memejamkan mataku. Aku kembali ke rumah sejak pukul 02.00 pagi, dengan Dinda yang menginap di rumahku. Tapi dia ku minta tidur dengan Zulfa. Tentu saja untuk keamanannya semata. Dia begitu percaya padaku, tapi aku sungguh tak percaya pada diriku sendiri.


Perasaan apa ini yang menguasai hati dan pikiranku. Berulang kali aku bolak-balik ke kamar Zulfa hanya untuk melihat wajah Dinda. Meski Dinda tertidur dengan mulut sedikit terbuka, tapi aku suka memandangnya. Seperti bayi yang tidak pernah menjaga imagenya. Aku ingin selalu bisa melihatnya, perempuan yang selalu membuatku menggebu-gebu.


Mungkin Dinda benar aku hanya butuh pelepasan. Sedikit aku menceritakan apa yang ku rasakan saat di dekatnya. Karena pembawaannya yang selalu jujur dan ceplas-ceplos membuat ku merasa nyaman untuk menceritakan segala sesuatu.


Aku berinisiatif memperbaiki hubungan ku dengan Devi. Aku tak mau mengambil resiko terlalu besar. Lagi pula aku tak berniat untuk meninggalkannya juga.


Aku membuka blokiran nomornya, dan mengirimkan pesan chat padanya. Aku memintanya untuk menemuiku besok di kedai. Aku mencoba kembali untuk memejamkan mataku, tapi tak berhasil juga.


Aku keluar dari kamar ku dan masuk ke kamar Zulfa lagi. Ku lihat masih ada tempat yang cukup untuk satu orang lagi di sebelah Dinda. Tanpa pikir panjang aku langsung merebahkan diriku dan memeluk Dinda dari belakang. Setidaknya ada Zulfa juga di kamar ini, aku tak mungkin berbuat nekad pada Dinda di depan adik ku sendiri. Ini sangat nyaman sekali, aku merasakan kantukku mulai datang. Tak lama akupun terlelap dalam mimpi.


~


Aku terbangun karena bau masakan yang sangat menyengat. Mataku sangat berat untuk ku buka, mungkin karena aku tidur terlalu pagi juga. Ku edarkan pandanganku, ini masih di kamar Zulfa. Tapi kemana larinya perempuan yang ku peluk dalam tidurku. Disini hanya ada aku dan Zulfa yang memunggungi ku.


Aku beranjak dari tempat tidur Zulfa dan keluar menuju kamar mandi. Aku berpapasan dengan Dinda di dapur. Dia tersenyum manis padaku tanpa meninggalkan aktivitasnya. Inilah yang ku maksud wanita dan kodratnya.


~


Aku sedang menyantap sarapan ku yang telah di siapkan oleh Dinda. Seperti biasa Dinda membuat sarapan dengan menu yang cukup berat menurut ku. Zulfa tidak ikut sarapan dengan ku, dia masih tertidur. Zulfa tidak terbiasa bangun pagi. Padahal ia tidur tidak terlalu larut. Keseharian Zulfa di rumah hanya melanjutkan bisnis online shopnya dan membaca buku. Saat ku minta untuk membantu ku di kedai pun ia tak mau.


"Dek sebentar lagi abang berangkat ke kedai. Kau mau abang antar ke Haris dulu tak?" tanyaku setelah selesai sarapan. Dan Dinda sedang mencuci beberapa peralatan dapur yang ia gunakan untuk memasak tadi.


"Aku pakai motor aku aja bang. Abang langsung aja berangkat." sahut Dinda meletakkan panci ke tempat semula.


Aku keluar dari dapur dan bersiap untuk berangkat. Ku lihat Maya menuju kesini. Aduh bagaimana ini? Pasti banyak pertanyaan mengenai Dinda yang berada di dalam rumah.


"Mau kemana May?" sapaku berbasa-basi.

__ADS_1


"Mau ke abang? Abang udah mau berangkat?" tanya Maya yang menghampiri ku.


"Ah iya. Mau bareng?" tawarku pada Maya. Maya bekerja di salah satu bank swasta di kota ini.


"Hmm, boleh deh. Tunggu sebentar ya. Aku siap-siap dulu." ucap Maya dan kembali lagi ke rumah.


Aku sedikit menjaga jarak dengannya karena sekarang aku tau, mulut Maya sebenernya bercabang dua. Dan lagi, cukup satu janda yang mengusik kehidupan ku. Aku tak mau ada janda-janda yang lain.


Aku sengaja menunggu Maya di depan rumah ibunya dengan motorku sekalian. Aku tak mau sampai Maya melihat Dinda berada di rumahku dan memberiku banyak pertanyaan lagi.


~


Aku sudah sampai di kedai. Sudah beberapa kali aku menguap, aku masih sangat mengantuk. Tapi aku sadar aku punya tanggung jawab di sini. Tak lama ada seorang karyawan mengetuk ruanganku dan memberitahu ku bahwa ada seorang wanita yang mencariku. Pikiranku langsung tertuju pada Devi. Saat pagi tadi aku mengiriminya pesan chat. Terdapat satu balasan darinya yang hanya menjawab iya saja.


Akupun keluar dari ruanganku dan menemui seseorang yang karyawan ku bilang tadi.


"Hai Dev, gimana kabarnya?" sapaku padanya. Devi menoleh ke arah ku. Dia terlihat sedikit kurus sekarang. Apa dia tidak makan dengan baik akhir-akhir ini.


Setelah di ruangan dia berkata amat panjang sekali yang intinya dia meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Baguslah kalau ia paham aku tidak nyaman dengan sikapnya. Aku mencium pucuk kepalanya sekilas dan mengatakan, "Abang pun minta maaf ya, sudah beberapa hari ini tidak menghubungi mu." Devi hanya mengangguk menanggapinya.


"Jadi, akhir-akhir ini kamu sibuk apa Dev?" tanyaku padanya yang ku persilahkan duduk di sofa panjang.


"Sibuk ngajar aja bang. Aku hari ini sampai absen, biar bisa ketemu sama abang." balas Devi dan aku mengambil posisi duduk di sebelahnya dengan map hijau yang sedang ku pahami.


"Harusnya tak perlu absen Dev. Tapi ya sudah kamu pun sudah ada di sini juga." tutur ku yang merasa sedikit kaku dengan mencoba memantaskan diri berbicara tanpa menyebutnya dengan kau. Aku tak mau menyakitinya hanya karena ucapan yang menurut ku hal sepele.


Bagaimana kalau Devi tau sifat asliku yang cepat terbawa emosi dan berkata kasar ketika sedang marah. Aku tak yakin Devi bisa bertahan denganku. Kecuali Dinda, dia seperti bisa menyikapi dengan baik amarahku. Atau memang dia tidak paham kalau aku sedang marah. Tapi herannya Dinda tidak pernah marah beberapa kali ku katakan dirinya gila. Dan beberapa kali aku berkata risih dengan sikapnya yang seenaknya itu. Ok sudah, ingat Devi Di sekarang ada di sebelah mu.


"Bang...bang Adi...hallo bang..." ucap Devi menggoyangkan lenganku. Aku langsung tersadar dari pikiran ku yang sempat kemana-mana tadi.

__ADS_1


"Ya dek, sampai mana tadi?" tanyaku dengan senyum canggung pada Devi.


"Melamun terus sih. Ada masalah ya bang? Jadi abang sibuk apa beberapa hari ini?" tutur Devi memperjelas.


"Sibuk di kedai aja. Abang selalu keteteran dengan kerjaan abang." sahutku dengan berdiri dan mengambil laptop yang berada di mejaku.


"Berarti hari ini kita gak bisa keluar ya bang?" balas Devi memperhatikan pekerjaanku. Maksudnya keluar yang bagaimana ini? Ekhm, mana tau Devi mau kan?


"Memang mau kemana?" tanyaku padanya dengan maksud tertentu.


"Terserah abang aja." jawab Devi kemudian. Ok tadi dia bilang terserah padaku. Berarti dia memberi akses apa yang aku inginkan. Jadilah perempuan yang cerdas oke, macam Dinda contohnya. Jangan terserah pada laki-lakimu, kau akan dimanfaatkannya nanti.


"Ke daerah K******n yuk Dev. Abang belum pernah kesana, tapi dengar-dengar katanya sejuk ya tempatnya?" jawabku pada Devi. Daerah tersebut termasuk daerah pegunungan yang ada di sini. Kira-kira jarak tempuh perjalanan satu jam lebih dari kota C ini.


"Boleh. Di sana banyak tempat wisatanya bang." sahut Devi. Benar Dev, kau benar sekali. Dan rencananya aku pun mau berwisata di tubuhmu.


"Ya udah yuk langsung aja." ajak ku membereskan berkas-berkas ku dan menarik tangannya untuk segera beranjak dari duduknya.


"Eh, gimana kerjaan abang nanti. Yakin mau pergi sekarang?" tanya Devi mengikuti langkah ku.


"Udah tenang aja. Abang bisa urus nanti. Yang penting kan quality time bareng kamu dulu." balasku memberinya senyum terbaik ku. Sengaja aku mengajaknya sedikit jauh, selain identitas ku aman dan juga Devi tidak akan bisa kabur.


~


Kami sudah sampai di salah satu tempat wisata yang cukup sepi. Karena ini bukan hari weekend. Cuaca sedikit mendung di sini. Aku sedikit ingin tahu dengan masa lalunya. Akan ku urungkan niat ku kalau memang dia sudah tidak perawan lagi. Aku tak mau kalau yang ku dapat hanya sisa orang lain.


TBC.


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE , RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, vote 🤭, coment apa yang harus aku perbaiki karena aku masih pemula 😁, dan favoritkan ❤️ juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.

__ADS_1


Terimakasih 🥰


__ADS_2