Sang Pemuda

Sang Pemuda
57


__ADS_3

Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


happy reading


"Jangan ngelamun Bang." ucap Dinda mengecup pipiku sekilas, "Suruh cerita malah ngelamun." lanjut Dinda dengan tangan yang berada di pinggangku. Karena posisi Dinda duduk di tepian tempat tidur berhadapan denganku, sedangkan Givan duduk dipangkuanku.


"Katanya sih penyumbatan pembuluh darah jantung, Dek." jawabku kemudian dengan menatap matanya yang menggunakan lensa mata berwarna biru itu.


"Jangan pakai softlens lagi coba Dek. Abang tak suka liatnya. Macam bukan kau." protesku tak suka dengan matanya yang berwarna warni.


"Tapi bagus Mamah pake s*ptek tuh Pah. Macam Adek orang L*mno itu, matanya biru sebelah." Givan menimpali ucapan Adi.


"Softlens dengan s*ptek itu laen Bang!" sahutku dengan tawa. Dinda membenamkan wajahnya pada dadaku dengan tawanya yang pecah.


Givan hanya melirik padaku dan Dinda, dan ia kembali memfokuskan dirinya pada ponsel kembali. Ia terlihat cuek dengan ucapannya barusan.


"Bagus loh Bang aku pakai ini. Coba tatap mata aku lekat-lekat." jawab Dinda memegangi wajahku untuk melihat matanya.


Aku menuruti untuk memperhatikan wajahnya, namun entah kenapa aku malah memperhatikan bibirnya.


"Jangan mesum aja Bang!" seru Dinda membekap mulutku dengan tangannya saat aku perlahan mengikis jarak diantara kami.


"Ini rumah sakit, kau lagi sakit. Dan lagi, tengok Bang! Ada anak aku di sini." ucap Dinda menunjuk Givan yang berada di pangkuanku.


Aku menghela nafas gusar, "Pelit kau! Cium dikit aja tak boleh." ujarku kecewa.


"Ya tak sekarang juga. Yang penting Abang sehat dulu. Kalau udah sehat sih terserah mau cium kek, ngapain kek." ungkap Dinda merubah posisi duduknya untuk bersandar di sebelahku.


"Janji ya, jangan larang Abang nantinya?" balasku saat Dinda memberikan akses bebas saat aku sudah sehat nanti.


"Memang kau mau apa? Kenapa kau macam gatal betul begini." tukas Dinda dengan meremas Adi's bird yang sedang tidur.


Aku memekik kaget, "Jangan rese, Dek! Nafas Abang belum kuat untuk mompa kau!" ucapku menyingkirkan tangannya yang masih berada di atas Adi's bird.


Dinda malah tertawa renyah dan turun dari ranjang. Ia mengambil air minum gelas yang tersedia di atas meja.


Givan menoleh pada ibunya. Namun ia malah menggeletakan ponsel yang sedang ia mainkan begitu saja. Dan berbalik memelukku erat.

__ADS_1


"Kenapa Bang? Sini gendongnya sama Mamah aja. Mau pipis kah?" tanya ibunya yang melihat gerakan Givan yang terburu-buru.


"LARI MAH!" teriak Givan yang membuat Dinda kalap dan naik ke ranjang juga.


"Jangan mulai. Mamah udah kata tadi!" seru Dinda dengan wajah takut bercampur geram.


"Syahadat di air Mah!" seru Givan dengan pandangan waspada. Sungguh aku sebenarnya takut sekali. Tapi memangnya ada apa ini? Apa ada sangkut pautnya dengan ucapan Jefri yang bilang untuk mulai dari Givan. Ini kah sisi lain anak laki-laki ini. Pantas saja pandangan matanya sedikit aneh saat aku bersamanya. Bukan memandangku, tapi matanya menatap sekitar dengan pandangan aneh menurutku.


Dinda menyobek plastik pada air mineral kemasan gelas itu, membacakan yang sepertinya syahadat dan meniupkannya ke air. Givan mengambil dan menyiramkan air itu sedikit kasar ke arah kananku. Saat air disirimkan tadi, langsung muncul sedikit asap yang aku tak tau berasal dari mana.


Sungguh ini membuatku ketakutan sekali. Aku menggeser diriku untuk lebih erat memeluk Givan dan menggapai Dinda yang berada di belakang Givan.


"Udah aman belum Bang? Mamah mau kabur dari sini." ucap Dinda dengan wajah waspada.


"Gila kau, kabur kemana? Bawa Abang juga Dek." sahutku yang melihat Dinda turun dengan buru-buru dan langsung mengajak anaknya. Aku mau ditinggal sendirian di sini? Yang benar saja!


Untungnya Givan masih berada dipelukanku, aku memeluknya lebih erat agar tak dibawa kabur oleh Dinda. Biarlah dia kabur sendiri. Setidaknya aku ada teman di ruangan ini.


Givan tertawa geli melihat tingkah kami berdua yang ketakutan seperti ini.


Aku jadi tertawa mendengar Dinda menyebut anaknya tuyul. Mungkin ia tengah kesal sekali sekarang.


"Ada apa memang tadi Bang? Kau buat Papah takut aja." tanyaku memperhatikan wajah Givan yang terlihat biasa saja.


"Hmmm." gumamnya seperti berpikir, "Macam bola api, tapi dia hidup. Gerakannya macam jenis ubur-ubur. Aku tak tau apa itu namanya. Tapi memang sebelumnya aku pernah nampak, tapi dimananya aku lupa." ucap Givan menjelaskan sesuatu yang ia siram tadi.


Ohh, aku baru paham. Givan anak indigo rupanya.


"Indigo kah Dek?" tanyaku pada Dinda yang duduk kembali di tepian tempat tidur.


"Indih*me Bang." jawab Dinda cuek.


"Kenapa tak sekalian Indom*i aja?" sahutku sengit. Dia menoleh padaku dan tertawa. Aku tertular tawanya yang selalu membuatku kecanduan itu. Sesuatu yang tak lucu, bisa berkesan lucu sekali saat Dinda mulai tertawa.


"Yang pernah aku tunjukin waktu pulang malam dari rumah Ayah Jefri itu. Kan waktu itu bentuknya jelas Mah. Yang di atap rumah Mbak-mbak dagang itu loh. Jangan bilang lupa." ungkap Givan mengingatkan Dinda. Dinda nampak tengah berpikir keras.


"Is is is, tak patut." ujar Dinda menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa Dek?" tanyaku penasaran.


"Kiriman Bang." jawab Dinda singkat, lalu ia berjalan untuk mengambil air minum kemasan gelas yang berada di meja lagi. Dinda belum sempat minum saat ada insiden tadi.


"Kiriman apa? Abang tak pernah belanja online. Zulfa pun cuma jadi reseller, barangnya dikirim langsung dari pusatnya. Jadi tak mungkin Abang…" ungkapku yang dipotong Dinda.


"Bukan kiriman barang! Tapi kiriman penyakit." sela Dinda jelas. Aku terkejut mendengarnya. Jadi benar cerita Jefri yang mengatakan di kota ini sering terjadi hal-hal demikian.


Aku berpikir sejenak, kedai mana yang merasa bersaing dengan kedai kopi ayah. Aku mengingat sekeliling kedai ayah mayoritas resto luar negeri yang sudah memiliki cabang di mana-mana. Menurutku tak mungkin pemilik brand wafer terkenal melakukan hal demikian. Brand jalan panas pun tak mungkin juga melakukan hal serendah ini. Mereka jelas lebih unggul dari kedai kopi ayah.


"Kau punya usaha apa aja Bang?" tanya Dinda membuyarkan konsentrasiku yang sedang mencari pelakunya.


"Ladang aja. Ladang Abang pun tak banyak, cuma empat belas hektar. Kau tau kan rumah pas tanjakan masuk ke gang rumah Abang. Dia ada ladang hampir seratus hektar. Tapi pada sehat-sehat aja, Dek. Mayoritas penduduk asli sana pun pasti punya ladang kopi, meski tak besar." ungkapku menceritakan sedikit tentang usaha ladang di daerahku.


"Mungkin di sana juga ada hal berbau mistis begitu. Tapi Abang tak terlalu penasaran untuk mencari tau tentang ceritanya." lanjutku saat Dinda tak kunjung memberi sahutan.


"Memang banyak. Belimbing wuluh di depan rumah Papah pun ada. Mana seram betul lagi, bikin aku takut aja." Givan menyahuti perkataanku.


"Hah, yang betul?" responku kaget. Givan mengangguk mengiyakan.


"Ditebang aja coba Bang." balas Dinda dengan menggosok hidungnya.


"Jangan lah Dek. Buat bikin asam sunti, belimbing Abang punya buahnya lebat. Sayang kalau ditebang. Itu belimbing setara dengan umur Abang, Dek." ujarku menolak permintaan Dinda.


"Kau enak di sini tak tau. Aku di sana takut loh Bang lepas Givan bilang ada itu." ucap Dinda duduk di sebelahku.


"Memang bentuknya gimana Bang?" tanyaku pada Givan yang langsung mendapat cubitan di pahaku.


"Nanyain bentuk pula kau! Kutengok tadi kau pun nampak ketakutan sekali." seru Dinda mendelik tajam padaku.


Aku tersenyum padanya. Ternyata di balik sikapnya, ia penakut juga dalam hal makhluk tak kasat mata. Gimana caranya Dinda mengatasi anaknya yang berbau mistis begini. Pasti sulit sekali mengatasi ketakutannya.


"Cerita dong Dek, gimana awalnya kau tau Givan istimewa begini dan kek mana mau mewadahinya?" tanyaku penasaran.


TBC.


Terimakasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2