
Di siang hari ini, siang yang telah membuat istriku menangis. Aku juga membuatnya mend*sah keenakan karena aku.
Flashback off
Dan sekarang alhamdulillah, aku sudah sembuh, dan tak bergantung dengan obat oles itu. Aku hanya olah raga ringan setiap hari, dengan setiap paginya rajin lari pagi. Tentu dengan Dinda juga, dan hanya di sekitar rumah. Karena kami khawatir Givan terbangun, dan ia menangis karena tak ada orang di dalam rumah.
Dan Dinda juga menjaga asupan gizi yang aku butuhkan. Dengan beberapa hari sekali aku meneguk jamu yang Dinda beli dari toko online itu. Hasil usaha kami berdua, cukup berhasil. Aku bisa bertahan lebih lama. Dan bisa bermain berulang kali seperti sedia kala.
"Ngapain kalian?" seru suara seseorang yang selalu membuat kami terkejut.
Dinda langsung turun dari pangkuanku. Dan membetulkan hijabnya yang asal nempel itu.
"Kaget kali aku. Apa sih kak? Tak bisa pelan kah kalau ngomong?" ucap istriku, dan kak Ayu malah terkekeh geli mendengarnya.
"Aku pun tak tau kenapa? Anak Akak aja kagetan terus." sahutnya dengan berjalan menghampiri kami.
Dan kemudian kak Ayu mengobrol dengan Dinda, seputar obrolan perempuan. Aku pergi menghampiri Givan, dan mengajaknya main di luar. Main bola tentunya, kegiatan rutin kami jika sore telah tiba.
~
~
~
Kami bertiga sudah berada di depan rumah orang tua Dinda. Namun aku malah dihadapkan dengan pandangan penuh amarah dari Arif dan mungkin yang berada di sebelahnya itu yang bernama Afan.
Arif langsung mengambil alih Givan yang berada dalam gendonganku. Dan dia juga merangkul Dinda masuk.
Tak di sangka, satu pukulan mendarat di pelipisku. Saat Dinda baru melangkah masuk dalam rumah.
Aku sedikit terdorong saat laki-laki yang sepertinya umurnya di atasku itu, mencengkram kerah bajuku. Dan menendang perutku dengan lututnya.
"Akkkhhh, ampun A." ucapku dengan menahan rasa sakit yang menjalar, saat kakak dari Dinda menonjokiku berulang kali di bagian perutku. Aku tak bisa melawannya, selain karena mendapatkan serangan yang tiba-tiba. Aku juga tak mungkin membuat masalah dengan keluarga dari istriku.
"AA, JANGAN! A AFAN, JANGAN! ITU SUAMI DINDA." teriak Dinda yang berlari ke arahku. Dinda langsung memelukku, bertujuan agar Afan itu berhenti menghajarku.
Terlihat beberapa tetangga keluar dari rumahnya, karena keributan yang kami ciptakan.
"MASUK!" suara tegas Arif dari dalam rumah.
__ADS_1
Sebetulnya apa salahku? Kenapa aku diperlakukan demikian?
"Mana yang sakit, Bang?" tanya Dinda dengan membelai pelipisku.
"Aduh, aduh. Jangan disentuh, Sayang." sahutku yang merasakan nyeri di bagian yang Dinda sentuh.
"Ayo masuk, aku kompres bagian yang sakitnya." ajak istriku dengan menarik tanganku.
Terlihat semua orang menatapku dengan tatapan mematikan. Namun Dinda langsung mengamankanku, dengan membawaku dalam kamarnya.
"Dek, kenapa langsung masuk kamar? Bahkan Abang belum salim sama orang tua Adek." ucapku saat Dinda mengajakku untuk duduk di tepian tempat tidurnya.
"Aduh, suamiku langsung boncor-boncor macam ini." ujar Dinda tanpa menghiraukan ucapanku tadi.
"Dek, tak sopan. Main masuk kamar macam ini." tuturku padanya.
"Aku takut nanti malah Abang dipukulin lagi." sahutnya kemudian.
"Tak apa. Ayo selesaiin dulu masalahnya." ajakku menarik tangannya untuk keluar dari kamar.
Lalu aku menghadap pada mereka, yang duduk dalam diam di ruang tamu.
"Duduk!" pinta ayah Dinda. Aku menurutinya, dan duduk di kursi yang masih tersedia.
"Pak, Bu, A Afan, A Arif, sebelumnya aku minta maaf. Aku tak bermaksud…" ucapku terpotong dengan interupsi dari ayah Dinda.
"Terus sekarang gimana? Dinda mau dibalikin? Apa mau diresmikan?" ujar ayah Dinda dengan memperhatikanku.
"Sebetulnya, aku belum memberitahu ibuku tentang pernikahan siri aku dan Dinda." ungkapku yang membuat Afan mencengkeram leherku. Aku hanya ingin terbuka dengan keluarga istriku. Setidaknya, biarlah mereka iba dengan kisah cintaku dengan anaknya. Dan berpihak padaku. Dan mendukung semua usahaku untuk memperjuangkan rumah tanggaku dengan Dinda.
"Afan!" seru ayah dari Dinda. Kenapa sebetulnya dengan anak mereka yang bernama Afan ini? Kenapa ia selalu ingin menghabisiku?
"Terus, mau kamu gimana?" tanya ayah Dinda.
"Aku lagi berusaha untuk dapatin restu dari umiku. Kejadian waktu aku dan Dinda digrebek pun, itu adalah cara aku untuk bisa menikahi Dinda sekaligus dapatkan restu umi. Tapi malah aku dan Dinda dinikahkan hari itu juga, tanpa sepengetahuan dari pihak umiku." jawabku jujur.
"Rencananya mau kau apakan adik aku, waktu hari kamu digrebek itu?" tanya Arif terlihat tenang, namun ia malah lebih menakutkan ketimbang orang-orang yang ada di sini.
"Aku… Aku mau, hamilin Dinda dulu. Dengan begitu, aku dan dia bisa langsung mendapat restu. Karena umiku tak mungkin tega dengan cucunya yang harus lahir tanpa peran ayah. Dan umi juga, akan memintaku untuk bertanggung jawab atas perbuatanku." jawabku jujur.
__ADS_1
"Licik! Kamu laki-laki bukan, hah? Ingin dapatkan restu dengan menghalalkan segala cara. Kalau memang kamu sungguh-sungguh, kamu pasti usahakan untuk dapat restu dari sana-sini. Udahlah, cerai aja. Tinggalin aja Dinda. Mumpung Dinda belum hamil juga." sahut Afan membuat Dinda membulatkan matanya.
"Aku yang tak mau cerai! Aku dan Bang Adi saling cinta. Aa tega betul misahin aku sama suami aku." ucap istriku. Bagus, Dinda mendukungku. Semoga mereka mengerti tentang perasaan aku dan Dinda.
"Sini." ajak Afan yang melambaikan tangannya pada Dinda. Dan membawa Dinda pergi dari ruang tamu. Aku khawatir Dinda dihasut kakaknya itu.
Dan, aku diinterogasi oleh Arif dan orang tua Dinda. Semua pertanyaan terlontar dari mulut mereka. Dan aku menjawabnya dengan kejujuran. Karena aku memang ingin terbuka pada mereka. Dan mendapatkan dukungan dari keluarga istriku.
Aku seharian ini berada di rumah orang tua Dinda. Dengan mulai akrab pada mereka, dan tetangga terdekat mereka.
Sore harinya, aku dikenalkan dengan beberapa anggota keluarga dari ayah istriku. Aku mencoba menyesuaikan diri di lingkungan yang sehari-hari menggunakan bahasa daerah kota C ini.
Malam harinya, setelah aku berbincang dengan Arif yang ternyata seumuran dengan aku itu. Aku langsung masuk ke kamar Dinda. Karena suasana rumah begitu sepi. Dengan sebagian lampu sudah dipadamkan.
"Abang, minum dulu tuh. Terus baru tidur." ucap Dinda yang ternyata tengah asik merokok di depan kolam ikan koi yang berada di dalam kamarnya.
"Setelah minum ini, malah Adi's bird yang bangun." sahutku mengambil gelas yang tersedia di meja kerja kecilnya. Entah efek dari jamu itu, atau memang aku yang selalu mesum. Aku selalu turn on setelah menghabiskan jamu dari Dinda.
"Itu jatah rokok Adek yang ke tiga." ujarku setelah meneguk habis minuman dengan rasa jahe yang begitu terasa itu.
"He'em. Heran aku, dapat suami kok perhitungan betul." istriku merespon ucapanku dengan delikan tajamnya.
"Kan untuk kebaikan kita. Abang aja cuma tiga batang sehari. Sama macam Dinda. Nanti perlahan biar kita bisa berhenti merokoknya. Karena Abang paham, kalau berhenti langsung tidak sama sekali itu sulit." ungkapku dengan menghampirinya, dan duduk di belakang tubuhnya.
"Masih sakit kah? Nanti aku kasih obat lagi." tutur Dinda saat aku memeluknya dari belakang.
"Ini yang sakit. Habis libur panjang kemarin. Pengennya sih malam ini dapat." tukasku dengan menciumi tengkuknya.
"Aku masih haid, Bang." sahut istriku yang kentara sekali tengah berbohong. Karena memang Dinda tengah haid. Tapi ini sudah hari keenam. Dan malam ini, sudah malam yang ketujuhnya.
"Tadi ada yang habis shalat magrib, shalat isya." balasku yang langsung menyerang telinganya. Sengaja aku menyindirnya. Karena ia bermaksud menolakku.
"Nanti besok aja di rumah aku. Jangan di sini, aku takut nanti aku berisik." ungkap istriku yang melepaskan diri dari dekapanku.
"Tak boleh nolak suami loh, Dek." ucapku memberinya peringatan.
Namun ia malah bangkit, dan menuju tempat tidur. Lalu ia sembunyi di dalam selimut. Aku menutup pintu kaca yang terhubung dengan kolam ikannya. Lalu menguncinya. Dan aku langsung menghampiri istriku yang berada di dalam selimut.
TBC.
__ADS_1
Selimut lagi nih 🤭 gacor memang 😂