
"Masih nyari lokasinya, Bang. Tenang aja!" sahut Adinda santai.
"Kau belajar dari mana sih Dek? Ajaklah Abang juga, biar punya usaha lain." balas Adi kemudian.
"Sama temen. Nanti kalau udah ada tanahnya. Aku tinggal pesen kandangnya dari temen aku itu, dia juga nerima pembuatan kandang. Dia jualnya permeter barang jadi. Terus bibit puyuhnya juga ada sama dia, minimal seribu ekor untuk ngambil dari dia. Nanti itu puyuhnya sekitar empat belas sampai dua puluh satu hari, udah siap panen. Tapi kata dia, kalau telur baru biasanya belum terlalu banyak dan ukurannya sedikit kecil." jelas Adinda tentang usaha yang akan direncanakannya pada Adi.
"Umi denger juga katanya kotorannya bisa dijual juga ya, Dek?" sahut ibu Meutia menyimak cerita Adinda.
"Betul, Umi. Makanya nih aku lagi ngumpulin dana dulu. Buat kandangnya, bibitnya, pakannya, perawatannya dan untuk bayar orang yang ngurusinnya. Karena kalau awal gitu kan tak langsung balik modal." balas Adinda menyahuti.
"Rupanya kau udah memperhitungkan semuanya ya, Dek? Pantaslah kau bilang mau usaha aja dan berhenti kerja di Abang." jawab Adi terdengar tidak suka.
"Kalau memang udah jadi kan yang ngurus puyuhnya bukan aku juga. Aku bayar orang untuk ngurusin puyuh-puyuh itu." sahut Adinda ringan.
"Oh, jadi nanti kau tetap kerja di Abang Dek?" sahut Adi cepat dan sedikit mendekat pada Adinda.
"Ya tak begitu juga." balas Adinda. Adi langsung membuang nafasnya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Ini bosnya yang orang A*** itu ya?" ujar ibu Risa setelah mereka selesai berbicara.
"Iya betul, Bu." jawab Adi menegakkan badannya lagi.
"Papah sini. Aku tunjukkan kamar aku yang back to nature." seru Givan berlari ke arah Adi lalu menarik tangan Adi untuk mengikutinya.
Adi langsung mengisyaratkan sesuatu pada Adinda. Adinda lalu mengangguk mengiyakan Adi untuk menuruti Givan.
"Kok manggilnya papah sih, Din?" tanya ibu Risa pada Adinda.
"Udah akrab soalnya." sahut Adinda yang memperhatikan Adi yang ditarik masuk dalam kamarnya oleh Givan.
"Jauh-jauh dari A*** ini, Bu?" tanya ibu Risa pada ibu Meutia.
"Tak juga. Adi sudah sebulan tinggal di kota ini. Kalau saya memang baru satu mingguan di sini. Karena Adi sakit." jawab ibu Meutia.
Lalu mereka terlibat percakapan hangat membahas penyakit Adi untuk mencari jalan keluarnya.
Adinda merasa jenuh dan menghampiri Adi dan Givan yang berada dalam kamarnya.
"Ya ampun, Dek! Kamar sekecil ini kau buat ada air terjun dan kolam ikannya juga." ungkap Adi takjub dengan mendekati Adinda yang baru masuk dalam kamarnya tersebut.
__ADS_1
"Terus kau bisa tidur nih Dek, suasana berisik gemercik air begini?" tanya Adi dengan memperhatikan tempat tidur Adinda yang tak menggunakan ranjang.
Suasana kamar Adinda dengan tembok kaca dan pintu kaca yang memiliki rel sendiri, di hadapkan langsung pada tembok yang terdapat air yang mengucur deras dari sudut atasnya. Dengan dilapisi beberapa batuan yang tertata seperti bentuk air terjun aslinya. Dengan kolam ikan koi di bawah air terjun. Mengesankan begitu alami dan indah.
Dengan kamar bernuansa warna putih dan segala perabot di dalamnya yang juga berwarna putih.
Siapa menyangka di dalam rumah yang masuk ke dalam gang kecil, terdapat kamar yang begitu indah dan alami seperti ini.
"Kau sekolah lulusan apa, Dek? Sampai punya pikiran untuk merancang kamar macam ini." tanya Adi dengan duduk di samping Adinda yang duduk di tepian tempat tidur.
"SMK jurusan tukang tambal ban." jawab Adinda dengan memperhatikan anaknya yang asik memberi makan ikan-ikan yang sudah cukup besar itu.
"Memang ada?" sahut Adi menoleh pada Adinda.
"Teknik Kendaraan Ringan." balas Adinda.
"Pantaslah keluar jadi pembalap." tutur Adi yang membuat mereka terkekeh sendiri.
"Tapi aku waktu praktik kerja dapetnya suruh nambah angin dan nambal ban terus Bang. Padahal di bengkel mobil." tukas Adinda membuat Adi semakin terkekeh geli.
"Kau tak lanjut kuliah, Dek?" tanya Adi setelah tawanya mereda.
Namun Adi mengikuti pandangan Adinda yang melihat ke arah pintu, "Ada apa, Dek?" tutur Adi bertanya pada Adinda.
"Takut didenger sama Ibu." sahutnya dengan terkekeh kecil.
"Gimana sih waktu masanya kau sekolah dulu?" balas Adi yang terlihat ingin tahu lebih dalam tentang Adinda.
"Tak usah dibahas lah Bang." seru Adinda kemudian ia bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke luar kamar. Namun langkah terhenti karena tangannya dicekal kuat oleh Adi.
Adi berdiri dan mendaratkan bibirnya sekilas pada bibir Adinda.
Kemudian ia tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang terlalu banyak mengonsumsi kopi itu.
Adinda menatap datar pada Adi. Ia seolah biasa saja dan tidak terjadi apa-apa pada mereka.
"Kenapa sih kau? Menutup diri sekali. Kan Abang jadi bingung untuk kedepannya, Dek." ujar Adi yang masih berhadapan dengan Adinda.
"Tak usah bingung-bingung. Carilah yang belum ada anak. Karena pasti susah nyesuaiin diri dengan anak nemu gede begini." ungkap Adinda kembali duduk di tepian tempat tidur.
__ADS_1
Adi menoleh pada Adinda. Ia memperhatikan wajah Adinda dari samping. Sebegitu tidak inginnya dia kah sampai langsung berbicara ke intinya begini. Awal-awal memang ia menolak Adinda terang-terangan. Tapi saat Adi mulai menyadari sesuatu dalam hatinya, Adinda yang malah tak menginginkannya.
"Aku keluar ya Bang? Tak enak sama Umi sama Ibu." ucap Adinda, Adi mengangguk mengizinkan Adinda pergi. Lalu Adinda bangkit dari posisi duduknya dan berjalan keluar kamar.
"Pah, ikan ini. Ikan yang pertama dibeli Mamah aku loh." seru Givan mengalihkan pikiran Adi.
"Kok Abang tau sih?" tanya Adi dengan menghampiri Givan.
"Tau lah, rumah nenek dibagusin pun aku tau. Nenek sama kakek kan waktu itu tinggal di rumah aku yang di kota." ungkap Givan.
"Oh, ini rumahnya abis direhab ya. Pantesan terlihat masih baru." sahut Adi memperhatikan bangunan rumah orang tua Adinda.
"Iya baru. Pas Mamah sering begadang itu. Katanya mau bagusin rumah nenek." Givan menjeda ucapannya sejenak, "Tapi temboknya tak di bongkar semua." lanjut Givan dengan menabur pakan ikan lagi.
ADI POV
Aku semakin malu pada Dinda, ia sudah memiliki rumah sendiri dan membangun ulang rumah orang tuanya. Sesukses itu ia, atau memang aku yang hanya berjalan di tempat saja.
Aku tak mengerti, uang hasil ladang aku kemanakan. Rumahku yang disana jelas itu warisan dari abiku, ladang pun sama. Sejauh ini aku hanya bisa memperbaiki kerusakan bangunan saja. Tidak merehab total seperti yang Dinda lakukan.
Apa iya uang ratusan juta itu kugunakan untuk obat-obatan terlarang saja. Aku jadi ingin bertanya pada paman Rudi, adik abiku, ayahnya dari Safar. Ia bagi kemana saja hasil panen setiap bulannya. Karena hanya ia yang aku percayakan mengatur keuangan ladangku.
"Bang, Bang Adi." seru Adinda yang sudah berada di sampingku lagi.
"Hmm, apa Dek?" tanyaku dengan menoleh padanya.
"Tunggu di luar. Aku mau salin, terus kita cari ustad yang bisa bantu kau." ucapnya dengan berjalan ke arah lemari pakaian.
"Dek, lepas masalah Abang selesai. Boleh Abang minta sesuatu tak dari kau?" ujarku menghampiri Dinda yang tengah memilih pakaian.
"Minta apa lagi sih Bang Adi?" balasnya yang terdengar keberatan padahal aku belum mengatakannya.
"Abang ingin menikmati satu malam dengan……."
Byuuuur
"MAMAH……..
TBC.
__ADS_1