Sang Pemuda

Sang Pemuda
117


__ADS_3

"Assalamualaikum, ini Adi." ucap Adi setelah mengangkat sambungan teleponnya.


"Wa'alaikum salam. Iya gimana, Nak Adi?" sahut ibu Risa.


"Apa bapaknya Adinda ada di situ juga?" tanya Adi.


"Ya saya sendiri. Ada hal apa, sampai-sampai ingin berbicara dengan kami?" jawab bapak Sodikin.


"Begini Pak. Saya ingin meminta restu, dan meminta Bapak untuk mewakilkan hak bapak pada salah satu ustad yang saya tunjuk di sini." ungkap Adi yang membuat mereka semua bingung.


"Maksudnya?" tanya suara di seberang telepon.


"Saya ingin menikahi Dinda hari ini juga. Karena ada suatu kejadian, dan hanya bisa terselesaikan dengan saya menikahinya." ujar Adi meringkas kejadian tadi.


"Lebih jelasnya bagaimana? Kenapa mendadak seperti ini?" sahut Arif terdengar begitu khawatir.


"Saya dan Dinda kepergok tengah berada di dalam kamar. Dan kami akan diproses jika tidak menikah hari ini juga." jelas Adi sedikit menceritakan tentang kejadian tadi.


"Gak mungkin dong kalau gak lagi ngapa-ngapain terus diminta buat nikah." balas Arif terdengar mulai emosi.


"Sebetulnya saya tengah memaksakan kehendak saya pada Dinda. Maaf yang sebesar-besarnya. Tapi saya bukan bermaksud melecehkannya atau bagaimana. Ini di luar kendali saya" tutur Adi dan langsung mendapat beberapa makian tajam dari kakak kedua Adinda tersebut. Terlihat Adi memejamkan matanya sambil mendengarkan ucapan kasar dari Arif. Ia paham Arif seperti ini. Siapa pun orangnya pasti akan marah besar, jika mengetahui orang yang hampir memperkosa anggota keluarganya berterus terang dan meminta maaf seperti ini.


"Gimana, Di?" tanya paman Adi. Adi menggelengkan kepalanya.


"Sini biar Pak cek yang ngomong." lanjut paman Adi. Dan Adi langsung menyodorkan ponselnya. Lalu paman Adi mencari tempat yang sedikit sunyi untuk berbicara lewat telepon dengan keluarga Adinda.


"Di, kau juga ganti baju." pinta bibi Adi yang tengah kerepotan mengurus makanan untuk akad nikah Adi dan Adinda yang mendadak seperti itu.


Acara yang akan di laksanakan tanpa rencana itu, dilangsungkan di kediaman Adi.


Keluarga Adinda sudah terhubung lewat panggilan video. Mereka akan menyaksikan akad nikah Adi dan Adinda, dengan Adinda yang diwalikan dengan ustad setempat. Terlihat Adinda yang duduk di sebelah Adi dengan menundukkan kepalanya.


"Pak kyai, saya wakilkan kepada Bapak. Saya minta untuk menikahkan anak saya, Adinda binti Sodikin dengan Adi Riyana bin almarhum Ali Hadiyana dengan mas kawin kebun kopi sembilan hektar tunai." ucap pak Sodikin di seberang telepon, untuk pak kyai yang menikahkan anaknya. Sebelumnya pak Sodikin sudah diarahkan oleh pak ustad untuk mengucapkan kalimat itu.


"Saya terima apa yang Bapak wakilkan kepada saya dan akan segera saya laksanakan." sahut pak ustad tersebut.


Ustad dan Adi saling berjabat tangan. Dan terdengar suara tersebut yang menarik atensi semua orang yang hadir.


"Syedara Adi Riyana bin almarhum Ali Hadiyana?" tanya pak ustad dengan memperhatikan Adi.


"Ulon." jawab Adi kemudian.


"Wakilah Wali bak ulon tuwan, ulon peunikah, Adinda binti Sodikin keu Adi Riyana bin almarhum Ali Hadiyana, deungon jeulame lampoih kupi sikureueng hektar, tunai."


"Ulon teurimong nikah Adinda Binti Sodikin keu ulon tuwan deungon jeulame lampoih kupi sikureueng hektar, tunai." ucap Adi dalam satu tarikan nafas.


"Sah?"


".....Sah…" sahut semua orang.


"Gak sah." ujar pak Sodikin melalui panggilan video yang terhubung.


Semua orang tertuju pada kak Ayu, "Bapaknya dek Dinda yang bilang. Bukan aku." serunya dengan menatap semua orang.

__ADS_1


"Kenapa, Pak?" tanya Ridho pada bapak Adinda. Ridho adalah suami dari kak Ayu.


"Kami gak paham bahasanya. Boleh minta diulang dengan bahasa nasional aja?" ucap pak Sodikin kemudian.


Adi menggaruk kepalanya, susah payah ia mengahafalkan ini. Namun harus diulang dengan bahasa nasional.


"Boleh, Pak." jawab Ridho mantap.


Beberapa menit Adi diberikan waktu untuk menghafalkan qobul yang akan ia ucapkan.


"Saudara Adi Riyana bin almarhum Ali Hadiyana?" ujar pak ustad.


"Saya." jawab Adi terdengar di telinga semua saksi.


"Saya nikahkan anda dengan Adinda binti Sodikin yang hak walinya mewakilkan kepada saya dengan mas kawin kebun kopi sembilan hektar sudah terbayar tunai."


"Saya terima Adinda...tunai."


"Diulang." ucap beberapa saksi.


"Jangan grogi, satu tarikan nafas ya." ujar pak ustad tersebut. Adi mengangguk paham.


"Saya nikahkan anda dengan Adinda binti Sodikin yang hak walinya mewakilkan kepada saya dengan mas kawin kebun kopi sembilan hektar sudah terbayar tunai."


"Saya terima nikahnya Adinda binti Sodikin yang walinya mewakilkan kepada bapak dengan saya sendiri dengan mas kawin kebun kopi sembilan hektar tunai."


"Sah" tutur pak ustad pada para saksi di dekatnya.


"....Sah…"


ucap semua orang.


"Alhamdulillah." riuh terdengar ucapan syukur.


Lalu dilanjutkan dengan doa, kemudian Adinda diminta untuk mencium tangan Adi.


"Nah sekarang kalian berdua sudah sah secara agama. Silahkan berbuat seperti yang kalian mau. Asal tak melakukan di tempat umum saja." ucap ustad tersebut. Adi mengangguk malu. Ia merasa tersindir dengan ucapan ustad tersebut.


Lalu acara dilanjutkan dengan obrolan ringan. Lebih tepatnya acara pernikahan mereka, seperti kumpul keluarga saja.


~


Adi tengah membersihkan rumahnya. Dengan Adinda yang sudah pulas di sofa panjang ruang keluarga. Sedangkan Givan masih asik dengan mainan dan cemilannya.


Givan membangunkan ibunya karena celananya basah oleh tumpahan air minumnya.


Namun ia terkejut dengan kulit ibunya yang terasa panas saat ia menyentuhnya.


"Pah… Pah…" seru Givan yang memanggil Adi berkali-kali.


"Papah di depan, Bang." sahut Adi.


"Celananya kok basah? Mainan air ya?" tanya Adi saat Givan muncul di depannya.

__ADS_1


"Airnya tumpah. Salin Pah." ucap Givan dengan mendekati Adi.


"Memang tak bisa kah salin sendiri?" ujar Adi yang menurunkan celana Givan.


Givan menggeleng cepat, "Pah, Mamah demam lagi." tutur Givan kemudian.


"Hah? Mamah kan udah minum obatnya tadi. Kok bisa demam lagi." tukas Adi yang menaruh sapu di tempatnya. Dan menggandeng tangan Givan, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


Adi langsung menempelkan punggung tangannya pada dahi Adinda. Benar yang dikatakan anaknya, Adinda demam lagi.


"Pah, pakaiin celana." tutur anak itu dengan menenteng celananya.


"Udah besar Abang tuh. Masa tak bisa pakai celana sendiri. Bentar lagi punya adik loh." ucap Adi dengan menerima celana yang Givan berikan.


"Kan tadi baru sah-sahan aja. Belum ke Maldives, Bali, Lombok. Nanti kalau udah pulang dari Maldives, Bali, Lombok. Baru aku punya Adik." sahut anak itu dengan memasukkan kakinya satu persatu pada celana yang Adi bentangkan.


Adi tersenyum lebar mendengar ucapan Givan.


"Ngapain ke Maldives, Bali dan Lombok tuh?" tanya Adi pada Givan.


"Ya liburan. Teman-teman Mamah yang habis sah begitu, terus rame ngomongin madu dari negara itu. Hmmm, apa tuh? Madu trigona kah, Pah?" ujar Givan yang membuat Adi bingung. Namun akhirnya Adi paham maksud Givan.


"Hmm, iya iya. Papah paham. Liburan ya? Nanti deh kalau Mamah sembuh ya? Abang mau liburan ke mana?" tanya Adi pada Givan. Sebenarnya yang Givan maksud tadi adalah bulan madu. Mungkin Givan tak mengerti maksudnya. Ia hanya paham tentang liburannya. Beruntung Givan hanya mengingat bagian madunya saja. Kalau tidak, sepertinya bisa panjang pertanyaannya pada Adi.


"Aku sih mau ke tugu nol kilometer aja. Mau foto di sana, yang di titik nolnya." jawab Givan yang membuat senyum di wajah Adi tak pernah pudar.


"Kenapa tak liburan di danau l** t**** aja. Perjalanan satu jam lima belas menit kita udah sampai di sana." ungkap Adi membuat Givan penasaran.


"Mau ke sana, Pah. Yang tambak ikan mahal itu kan, Pah? Harga saboh ikan dua ratus ribu itu kan, Pah?" tukas Givan begitu antusias.


"Kau udah bisa ngomong saboh, Bang. Coba Papah tanya, saboh itu apa artinya coba?" tanya Adi yang memangku Givan.


"Sa kan satu. Boh kan buah. Boh rambot sidomdum, dum, dum." ungkap Givan yang berakhir bernyanyi ria. Tawa Adi pecah melihat tingkah Givan yang ada saja itu.


"Jangan berisik coba. Mamah tak enak badan." ucap Adinda yang bangun dari tidurnya.


"Pending ya Bang. Aku tidur duluan." lanjut Adinda yang berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang tertundanya Pah?" tanya Givan yang membuat Adi terhenyak. Ia bingung ingin menjawab apa. Pasalnya maksud Adinda tadi adalah mengenai malam pertama untuk mereka yang harus ditunda sementara. Tak mungkin juga ia menjelaskan pada Givan.


"Apa yang dipending Pah? Pending is tertunda." tanya Givan yang ingin segera mendapat jawabannya.


"Itu, Bang." jawab Adi dengan menggaruk kepalanya.


"Apa ya…." ucap Adi yang masih mencari alasan.


" 'Pending ya Bang. Aku tidur duluan.' " ujar Givan menirukan ucapan ibunya, "Hmm, jangan-jangan mau jalan-jalan. Hah? Aku tak di ajak? Aku ikut, aku ikut." rengek Givan yang tak mau diam.


TBC.


LIKE loh ya, awas aja kalau tak bagi like.. nangis aja lah aku 😭


Mohon maaf sebelumnya, jika ada yang mengenali bahasa dan tempatnya. Ini hanya pandangan penulis semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Bukan menyudutkan suatu daerah, atau menyudutkan suatu suku tertentu.

__ADS_1


Sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya 🙏


__ADS_2