
"Dek, kau yakin?" tanyaku memastikan. Terlihat mobil Dinda dan mobil milik Eko baris berdampingan. Eko adalah pemenang balap kemarin hari.
"Dek, biar Abang yang gantiin kau. Ok?" tanyaku pada Dinda yang menatap lurus jalanan yang akan ia taklukkan. Pikiran buruk tentang Dinda menyelubungiku. Aku khawatir dengan Givan, jangan sampai ia jadi tak punya Mamah.
"Abang ngeraguin aku?" sahut Dinda setelah berdiam diri cukup lama.
"Abang tak ngeraguin kau. Abang yakin kau hebat." balasku kemudian, "Abang khawatir sama Givan, Dek." lanjutku menatap matanya. Aku harap Dinda mengerti, aku tak mau menyebutkan kemungkinan buruk yang terjadi.
"Aku janji ini yang terakhir aku main di arena. Setelahnya aku bisa pastiin, aku bakal patuh sama Abang terus." ucap Dinda memberikan perhatiannya padaku.
Aku terdiam membisu, jujur aku pun sedikit trauma bermain di arena. Aku pernah mengalami kecelakaan tunggal, yang membuat kakiku terjepit dibagian kemudi yang ringsek. Dan sekarang kakiku nampak berleter o. Berbagai pengobatan sudah pernah kujalani, hanya menghilangkan rasa nyeri di lututku saja tapi tidak membuat kakiku kembali sempurna. Aku selalu hadir hanya untuk memihak dan tentu saja berjudi, seperti kemarin hari yang Dinda lakukan.
"Janji ya? kalah pun tak apa." ucapku kemudian, Lalu Dinda memelukku dan sedikit berjinjit... cup. Dia mencium pipiku sekilas dan langsung berbalik dan berjalan ke arah mobilnya.
Aku melongo dibuatnya. Dasar gila! Besok-besok aku akan memasang tarif, agar dia tak seenaknya begitu.
Jantungku mendadak berpacu dengan cepat, aku merasakan dingin di ujung jariku. Nah kan, sudah kuduga. Cairan merah mengalir perlahan dari dalam hidungku. Aku memegangi hidungku dan mencari tempat yang aman. Segera aku membersihkan hidungku dengan air mineral kemasan yang dari tadi kugenggam. Kenapa kau selemah ini Di? Dinda hanya wanita biasa, tapi alarm tubuhku macam habis disosor angsa.
Tak lama lampu jarak jauh mobil Dinda sudah menyala dengan terangnya. Aku mendekatinya, mengetuk kaca jendela mobilnya. Dinda tak meresponku. Pandangannya lurus ke depan. Berani sekali kau dek ngabaiin aku! Awas aja kau nanti.
Beberapa mobil sudah pergi menuju titik tertentu. Aku stay di sini dengan beberapa kawan Dinda. Aku menunggu di sini karena finisnya akan kembali ke titik start. Sungguh aku sebenarnya khawatir setengah mati. Aku terbayang Givan yang sedang tertidur lelap di rumah Haris dan harus dikagetkan dengan kabar buruk dari ibunya. Semoga jangan sampai terjadi.
AUTHOR POV
Wanita berpakaian seksi yang memegang bendera sudah memberikan aba-aba. Terdengar raungan mobil dari keduanya yang sama-sama ingin menunjukkan siapa yang lebih hebat.
"1......"
"2....."
"3....."
Wanita itu telah mengibaskan benderanya disusul dengan lajunya kedua mobil yang fokus pada jalanan. Semua orang yang berada di situ bersorak menyemangati salah satu pembalap yang mereka pihak.
Adi terlihat tegang dengan aksi di depannya. Memang ia sudah terbiasa melihat pertunjukan seperti ini, tapi yang membuatnya tidak bisa tenang adalah seseorang yang berada dalam mobil yang sedang berpacu itu.
Adi memanjatkan doa dalam hati untuk keselamatan Adinda. Dia tidak peduli Adinda kalah atau menang, yang terpenting untuknya adalah Adinda bisa menyelesaikan kegilaanya dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Mereka berdua terlihat fair dalam mengarungi jalanan yang sepi itu. Eko, partner balap Adinda adalah teman Adinda sendiri. Mereka saling menghargai dalam melintasi jalanan. Tapi terlihat Adinda begitu berambisi untuk bisa menjadi yang terhebat.
Saat di tikungan yang cukup tajam, Eko bisa mendahului Adinda dari lajur kanan. Eko tersenyum lebar melihat Adinda sekarang ada di belakangnya. Adinda memukul setirnya, ia terlihat kesal. Lalu ia mengatur beberapa komponen yang ada di dalam kemudinya.
Terlihat mobil Adinda melaju dengan kencangnya, dan mencoba mencari cela untuk bisa mendahului Eko lagi yang berada persis di depannya. Saat di tikungan terakhir Adinda sedikit kesulitan mengendalikan mobil yang melaju dengan luar biasa itu.
Adinda tak sengaja menyenggol mobil Eko dari samping saat mencoba berbelok dan mendahului Eko, dan mobil Eko langsung naik ke atas trotoar. Untung Eko memiliki refleks yang cukup baik, dan bisa mengendalikan mobilnya lagi. Eko begitu handal dalam mengendalikan tunggangannya, yang sekarang sudah berada di belakang mobil Adinda lagi.
Eko menggeleng dan mengaktifkan fitur kecepatan tinggi yang ia miliki, sayang sekali ia salah perhitungan. Mungkin karena fokusnya pada mobil Adinda saja sampai ia melupakan bahwa finis sudah berada persis di depan Adinda.
Adinda mencapai garis finis terlebih dahulu. Semua orang bersorak gembira, namun tidak sedikit orang yang berpihak pada Eko terlihat kecewa.
Saat semua orang hendak menyambut Adinda. Mereka dikejutkan dengan benturan yang cukup keras dari arah belakang mobil Adinda. Sampai-sampai mobil Adinda melompat dari posisinya. Adi terlihat kalap, ia berlari menabrak beberapa kerumunan orang untuk bisa melihat keadaan Adinda.
Adi langsung membuka pintu mobil Adinda. Sayang sekali pintunya masih terkunci. Adi panik bukan main, ia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Adinda. Kaca filmnya begitu gelap, Adi tidak bisa melihat bagaimana keadaan Adinda.
Saat beberapa orang akan memecahkan kaca mobil untuk menyelamatkan Adinda, tiba-tiba pintu terbuka perlahan. Adi langsung menarik pintu itu dengan cepat, terlihatlah dahi Adinda berdarah. Adi langsung membukakan sabuk pengaman Adinda dan menggendong Adinda keluar dari mobil.
Adinda terlihat begitu pucat, air matanya mengalir membasahi pipinya. Beberapa orang bersuara untuk membawa Adinda langsung ke rumah sakit saja.
"Dek mana yang sakit? Jangan diem aja! Ngomong Dek sama Abang." ucap Adi yang menuju ke mobilnya dengan Adinda digendongnya.
"Maaf, permisi. Boleh aku lihat sebentar keadaan Dinda." ucap perempuan berhodie hitam berdiri di belakang Adi. Adi mengangguk mempersilahkan perempuan itu untuk bisa mengecek keadaan Adinda. Kemudian perempuan tersebut mengeluarkan beberapa alat medis dari tas yang ia bawa.
"Mana yang sakit Din?" tanya perempuan itu memperhatikan Adinda.
"Dahi aku nyut-nyutan kali. Untungnya aku pakai sabuk pengaman yang cukup erat tadi." sahut Adinda yang sedang dicek keadaannya oleh perempuan itu. Adi memperhatikan mereka berdua.
"Kalau hari ini atau besok kamu ada muntah darah langsung ke rumah sakit aja ya." ucap perempuan itu yang diangguki oleh Adinda.
"Mari a." ucap perempuan itu pamit pada Adi setelah selesai memeriksa keadaan Adinda.
"Hai Dek, sebentar." seru Adi melambaikan tangannya pada perempuan tersebut.
"Iya a gimana?" sahut perempuan itu, berhenti dan menoleh pada Adi.
"Dek Dinda kenapa-kenapa tak? Apa ada masalah di kepalanya?" tanya Adi dengan menghampirinya.
__ADS_1
"Sepertinya gak. Tapi kalau hari ini atau besok muntah ada darahnya lebih baik langsung rujuk ke rumah sakit aja a." jawab perempuan tersebut. Adi manggut-manggut mengerti.
"Oh ya, dengan siapa?" balas Adi mengulurkan tangannya.
"Dengan Dewi Pertiwi a, aa?" sahut Dewi dengan menyambut uluran tangan Adi.
"Adi, hm Adi Riyana." ucap Adi dengan tersenyum.
"HEI, NGAPAIN PULA KAU BANG?" teriak Adinda yang melihat tajam pada Adi. Adi langsung melepaskan tautan tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
"Hubungi aku segera ya? Nanti kalau ada apa-apa dengan Adek, aku bisa hubungi kamu buat minta arahanya. Aku tak bisa terlalu lama meninggalkan anak perempuanku." ucap Adi dengan terkekeh dan menunjuk pada Adinda dengan dagunya.
Dewi tersenyum ramah menanggapi gurauan Adi, "Aanya Adinda ya?" tanya Dewi sebelum Adi berlalu.
"Apa tuh Aanya? Aku Abangnya." jawab Adi kemudian.
"Ya sama aja." balas Dewi dengan terkekeh.
Adi tersenyum, "Aku pergi dulu ya." sahut Adi dengan mengisyaratkan Dewi untuk menelponnya segera. Dewi mengangguk dan pergi dari tempat itu.
"Dasar gatal!" Maki Adinda saat Adi sudah berada di sampingnya.
"Cemburu ya?" tanya Adi meledek pada Adinda.
"Is, tak level aku sama kau! Ambilkan aku minum!" seru Adinda kemudian. Adi melirik sesaat pada Adinda dan berlalu pergi untuk mengambil air mineral kemasan yang masih utuh.
Saat mereka hendak pulang. Frans memberitahukan bahwa nanti mobil Adinda akan ia bawa dulu ke bengkelnya, lalu Frans menunjuk seseorang yang berada di sekitar mobil Adinda. Orang itu menatap tajam ke arah Adinda dan Adi.
Adinda langsung bersembunyi di belakang badan tegap Adi dan memeluknya.
"Kenapa pula kau sembunyi heh?" tanya Adi kemudian.
"Aku udah janji sebelumnya. Tapi aku lupa, pasti aku kena marah habis-habisan." sahut Adinda lirih. Orang tersebut pun mendekati mereka berdua.
TBC.
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
__ADS_1
Terimakasih 🥰