Sang Pemuda

Sang Pemuda
32


__ADS_3

"Katanya kamu lusa nanti mau balik ke provinsi A. Aku sengaja pulang buat kamu!" ucap laki-laki tersebut yang langsung ditarik Dinda untuk duduk di sebelahnya.


"Kok bisa tau aku ada di sini?" sahut Dinda memperhatikan wajah laki-laki itu.


"Bisa. Pakai aplikasi ini." balasnya menunjukkan aplikasi dalam ponselnya. Aku mulai paham, mungkin dia kekasih Adinda pikirku. Adinda mendengus, ia terlihat tidak suka setelah mengetahui dirinya dilacak oleh laki-laki itu.


"Buat apa coba? Udah gak percaya, hm?" tutur Dinda dengan wajah kesal dan mata yang menyiratkan amarah.


"Bukan gitu. Biar aku gak khawatir terus sama kamu." jawab laki-laki tersebut dengan menoel hidung minimalis Dinda, "Siapa ini Din?" lanjutnya dengan mengalihkan pandangannya padaku.


"Ini Abang aku, yang punya ladang. Lebih baik kamu pulang gih. Aku udah mau pergi lagi!" ucap Dinda. Dinda terlihat tidak suka dengan kehadiran laki-laki itu.


"Kamu gak mau kenalin Abangmu dulu sama aku, Din? Rupanya aku ganggu ya acara kalian." sahutnya yang jelas saja merasa kesal karena dengan terang-terangan Dinda memintanya pergi.


"Gak juga, memang udah mau selesai." balas Dinda datar, "Bang, kenalin ini A Reno." lanjut Dinda menepuk pundakku. Posisi Dinda di tengah-tengah antara aku dan laki-laki tersebut.


Aku langsung mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya, "Adi." ucapku dengan tersenyum, "Reno, laki-lakinya Dinda." balasnya padaku. Sudah kuduga, terlihat dia sombong sekali bisa memiliki status dengan Dinda. Dia belum tau saja betinanya nemplok terus padaku.


Jelas Dinda merasa terganggu, acara makan malam berdua denganku harus berhenti diseparuh piring. Apa lagi Dinda jenis orang yang tak suka diganggu ketika sedang makan. Pantaslah Dinda memilih mengakhiri acara makan malam ini. Dinda menuju kasir untuk segera membayar makanannya yang baru kami habiskan setengahnya.


Lalu Dinda mengajakku pergi, meninggalkan Reno sendirian di saung. Karena disaat Dinda tengah berpikir untuk mencari alasan, ponselnya berbunyi ternyata Haris mengabarkan anaknya minta ditemani dulu tidurnya. Tentu jadi kesempatan Dinda untuk melarikan diri. Aku sedikit merasa tidak enak pada Reno sebetulnya.


Dinda cemberut dengan wajahnya yang menghadap jendela mobil. Dia tidak berbicara apa pun dalam perjalanan. Saat berada di lampu merah, aku berinisiatif untuk mengajaknya mengobrol.


"Hei Dek, kenapa diam aja?" ucapku memperhatikan wajah kesal Dinda.


"Aku kesel." sahutnya dengan air mata yang tak dapat terbendung, dan bibir yang melengkung ke bawah. Aku bingung menyikapinya, ada apa ini? Kenapa Dinda tiba-tiba menangis. Setelah lampu merah menyala, aku menarik pedal gas ku perlahan. Dan menepi di depan ruko pinggir jalan.


"Jangan nangis. Kesal kenapa? Kenapa tak senang tau pejantan kau datang?" ungkapku kemudian setelah menarik rem tangan.

__ADS_1


"Macam aku buronan, pakai acara dilacak segala. Dan lagi, aku belum puas makannya." jawab Dinda yang masih menangis. Cuma gara-gara masalah ini saja dia sampai menangis.


"Jadi mau makan apa sekarang? Dibungkus aja kita lanjut makan di rumah. Belikan juga buat Haris." ucapku langsung, berharap Dinda berhenti menangis. Begini kah sifat aslinya? Atau sekarang Dinda dalam masa sensitif?


Dinda masih terisak, aku makin tidak tega saja padanya. Aku menggeser posisiku sedikit mendekat padanya, "Adek mau makan apa , hm? Biar Abang yang belikan." ucapku sehalus mungkin dan merengkuh badannya dalam pelukanku.


Hanya masalah makan di ganggu pun ia sampai menangis. Mungkin ia lapar sekali tadi, makanya ia kesal. Aku pun begitu ketika lapar, tapi saat makan malah ada yang menggangu. Waktu makan di restoran seafood pun aku memarahinya karena mengganggu acara makanku.


Aku hanya diam memeluknya dan mengelus pelan punggungnya. Aku hanya ingin Dinda merasa tenang dulu. Tak lama tangisnya terhenti, menyisahkan mata bengkak dan hidung yang memerah. Aku mengelap sisa air matanya, Dinda berbalik menatap mataku. Jujur aku kembali berhasrat menatap Dinda dengan sedekat ini. Persetan bekas orang, aku hanya ingin menyicipi sedikit bibir tipisnya itu. Aku sangat yakin Dinda bersih. Terlebih lagi ia sangat menjaga dirinya.


Aku mulai mengikis jarak diantara kami. Hanya tinggal beberapa centi saja, Dinda malah membekap mulutku dengan tangannya.


"Aku ingusan Bang." ucap Dinda polos. Aku pun paham orang yang sehabis menangis pasti ingusan, itu wajar. Bisakah tak usah ia ucapkan. Sialan kau ingus! Menggangguku saja.


Aku langsung kembali ke posisi semula. Aku memejamkan mataku, aku sangat berhasrat bercampur kesal. Coba bayangkan saja bagaimana rasanya.


"Hmm." suaraku yang mungkin terdengar berat sekarang.


"Aku mau burgernya K*C, enak loh Bang. Terus aku mau martabak bangka yang depan puskesmas itu ya, itu enak juga loh Bang. Bang Haris pun suka. Terus apa lagi ya? hmm, sambil di jalanin dong Bang mobilnya." tutur Dinda yang terlihat gembira. Cepat sekali dia berganti mood.


Aku bersyukur, yang penting Dinda tak menangis lagi. Akan kuturuti apa yang ia mau. Tak mungkin habis puluhan juta hanya untuk makanan saja. Aku sempat bingung setengah mati, melihatnya menangis macam itu. Aku paling tidak bisa melihatnya menangis. Entah apa alasannya.


Aku turun beberapa kali dari mobilku. Aku melarangnya untuk turun dari mobil, karena matanya masih bengkak dan hidungnya masih memerah. Aku khawatir orang-orang malah berprasangka buruk terhadapku.


"Janji ya makanannya dihabiskan semua loh Dek. Abang paling tak suka dengan orang yang maruk begitu, jangan mubazir makanan ok!" ucapku memberinya peringatan.


"Ok." ucapnya santai dengan memeriksa beberapa kantong plastik berisi makanan. Di tangannya sudah terdapat beberapa burger, martabak bangka, jamur crispy, beberapa macam gorengan, roti bakar dan terakhir ia memintaku membeli es krim jumbo di minimarket.


"Es krim ini buat anak-anak kah?" tanyaku menoleh padanya.

__ADS_1


"Buat aku cocol sama roti bakar. Hmm, enak loh bang!" sahut Dinda dengan tersenyum lebar. Aku menggeleng heran. Betulkah mau ia cocol?


"Semuanya kau bilang enak." balasku pelan. Dinda hanya terkekeh mendengarku. Lalu aku pun sampai di depan rumah Haris. Dinda memintaku untuk memarkir mobil di luar gerbang saja, karena ia berniat akan mengajakku keluar lagi.


Anak-anak heboh dengan kedatangan Dinda yang membawa banyak makanan. Ternyata jamur crispy itu kesukaan Givan, terlihat dari tingkahnya yang menolak untuk berbagi.


Aku duduk di ruang keluarga dengan Haris. Dinda terlihat masuk ke dapur dan keluar dengan membawa nampan berisi kopi dan gorengan yang ia sajikan dalam piring.


"Dek, tadi pun Abang belum selesai makannya. Masa iya Abang cuma disajiin ini!" seruku padanya yang meletakkan makanan di atas meja.


"Abang tadi kenapa tak sekalian beli untuk Abang sendiri!" balas Dinda enteng.


"Bikinin bentar apa gitu buat Adi." sela Haris menengahiku dan Dinda yang akan berdebat. Dinda menoleh padaku, mengisyaratkan pertanyaan dari ekspresi wajahnya.


"Telor mata sapi aja Dek. Tapi matanya dua ya. Masakannya setengah matang aja. Pas kau tuangin telor dalam kuali, terus langsung kau taburin bawah merah, bawah putih dan sedikit cabai di atas telornya. Jangan kau aduk bareng dalam telor, Dek." ungkapku menjelaskan tata cara membuat telor mata sapi favoritku. Dinda mendengarkanku dengan saksama dan mengangguk, ia pun langsung pergi menuju ke dapur.


Terlihat Haris tersenyum samar, "Kau apakan Dinda? Nampaknya macam habis nangis dia." ucap Haris yang sepertinya sedang mengintrogasiku.


"Aku tak apa-apakan dia!" sahutku dengan membuka jendela yang berada di ruang keluarga Haris dan menyalakan rokokku.


"Halah, tak mungkin dia nangis kalau memang kau tak apa-apakan dia!" balas Haris dengan memencet remot televisi dan mencari acara yang menarik.


TBC.


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰


happy reading

__ADS_1


__ADS_2