
ADI POV
Aku sedang bersama Haris di halaman belakang rumahnya. Dia memiliki beberapa burung peliharaan, tentu saja burung dalam arti sebenarnya. Dulu saat kehidupan ku masih baik-baik saja, aku pun memiliki minat terhadap burung dan unggas lainnya. Kalau sekarang, jangankan untuk mengurus peliharaan, mengurus diri sendiri pun aku tak becus.
Saat aku fokus pada pembicaraan kami. Tiba-tiba pintu terbuka dan nampaklah seorang wanita membawa kopi dan menenteng laptop. Dia melawati kami dengan senyum yang menunjukkan gigi putihnya, keliatan nya mahal juga perawatan giginya. Terlihat dari putihnya yang terlampau bersih, seperti gigi artis-artis di layar televisi.
"Abang kira kopinya buat abang dan bang Adi dek?" sapa Haris berbasa-basi. Karena memang kami sudah di suguhkan kopi oleh pengasuh anaknya Haris.
"Abang mau kah? biar aku buatkan." jawabnya menghentikan langkahnya sesaat.
"Tak usah dek, lanjutan saja aktivitas kau!" sahut Haris. Dan adinda hanya mengangguk mengerti. Ya dia mamah Givan, jangan lupakan anak-anak Haris pun di ajarkan untuk memanggil nya demikian.
Kami melanjutkan pembahasan kami, aku merasa bau asap rokok yang terbawa angin. Padahal sekarang kami tidak sedang merokok.
Saat aku menoleh kebelakang, astagfirullah. Apa itu di antara jari telunjuk dan jari tengah Adinda. Pemandangan macam apa ini? Wanita berhijab, berpakaian sopan menurut syariat yang telah di tentukan, dengan sesekali menghembuskan asap dari mulutnya. Sungguh aku tak menyangka, pantas saja anak keduanya telah gugur mendahului kita.
Aku melongo melihat adinda demikian. Sampai ku merasakan tepukan di bahuku dan gelak tawa dari Haris, "Kau lihat Dinda macam liat setan aja Adi Riyana!"
"Umumkah wanita di daerah sini begitu modelnya?" tanyaku, "Atau mungkin aku yang maen nya kurang jauh, pulangnya kurang malam?" lanjut ku masih keheranan.
"Hah, kau ini Di ada-ada saja. Di luar sana banyak yang terang-terangan!" sahut Haris santai.
"Ya memang, tapi yang model begini aku baru nampak!" jawabku sejujurnya.
__ADS_1
"Jadi bisa di bilang Dinda ini makhluk langka ya Di?" tukas Haris menoleh ke arahku. Lalu kami tertawa bersama. Aku mengalihkan pemikiran ku untuk membahas tentang perawatan peliharaan Haris.
Tak lama akupun pamit untuk pergi ke kedai dengan mengendarai ojek online lagi. Sepanjang jalan aku memikirkannya, jangan-jangan hijabnya hanya untuk pencitraan nya saja. Jangan-jangan dia punya profesi lain. Atau mungkin emansipasi wanita memang sudah sampai sejauh ini, tentunya dalam hal apapun.
Sesampainya aku di kedai, aku bergegas ke ruangan yang abang Mun siapkan untuk ku. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, aku menginjak sesuatu yang sepertinya langsung pecah. Tak berselang beberapa lama terdengar suara wanita yang terdengar kecewa, "aduh, udah remuk"
Aku menoleh ke sumber suara. Masya Allah, ciptaan Tuhan yang sungguh indah. Wanita berhijab dengan mata yang sedikit sayu, bulu mata yang lentik, hidung mancung sederhana. Tidak seperti hidung ku yang menurut Givan seperti terong, untung tidak seperti squidward. Dan jangan lupakan bibir tipis yang berwarna merah pias.
"Permisi mas, sepertinya anda telah menginjak kaca mata milik ku" ucapnya ramah. Oh ya ampun, suara gadis itu begitu menyejukkan hati. Meskipun panggilan mas sedikit terdengar aneh di telinga ku.
"Oh ya, maafkan aku dek. Aku tidak melihatnya!" balas ku kemudian. Kenapa aku selalu begini. Awal aku di kota ini, Sepatu ku tertukar. Dan sekarang aku menginjak kaca mata orang. Apakah aku seceroboh itu sekarang?
"Oh tak apa mas." jawabnya dengan senyum yang begitu manis. Masya Allah lesung pipinya. Rasanya aku ingin memiliki gadis itu sekarang juga, "Aku ingin melihat kaca mataku mas!" lanjutnya yang masih dengan senyum ramah. Pasti ekspresi ku sangat bodoh tadi.
Gadis itu berjongkok dan mengambilnya, "Sepertinya memang tidak bisa di perbaiki lagi, biar aku menggantinya dengan yang baru dek!" tawar ku tulus. Ini adalah strategi ku untuk lebih dekat dengan nya, tentunya karena dia cantik juga. Tak apalah rugi beberapa ratus ribu.
"Tak usah mas, ini salahku juga tadi tidak sengaja menjatuhkannya!" tolaknya dengan halus.
"Dan aku tidak sengaja menginjak nya dek, ayolah tak apa. Sepertinya kamu membutuhkan kaca mata itu bukan." bujuk ku perlahan.
"Ya memang mata ku sedikit bermasalah mas, tapi tak apa aku masih bisa melihat dengan jelas." jawabnya berusaha menolak ku.
"Atau mau ku antarkan pulang saja dek?" bujuk ku lagi. Aku tidak boleh menyerah begitu saja.
__ADS_1
"Aku masih ada keperluan lain mas, aku tidak langsung pulang" balas perempuan berlesung pipi itu.
"Oh, begitu? Aku lihat kamu sendirian. Bagaimana kalau aku temani saja?" rayu ku tak kehabisan akal.
"Ya memang aku sendirian, boleh kalau tidak merepotkan." sahutnya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
Ah, akhirnya berhasil juga kan. Tapi tunggu, aku lupa aku tidak punya kendaraan disini.
"Oh maaf dek, aku lupa. Aku tidak punya kendaraan disini, biar aku memesan taksi online dulu dek." ungkapku, sungguh sebenarnya aku sangat malu.
"Yah tak apa mas, memang mas orang mana?" tanyanya mendelik ke arah ku.
"Aku dari provinsi A dek, adek sendiri orang mana? Dan sedang apa berada di sekitar sini?" balas ku bertanya balik.
"Wow, jauh juga. Lagi liburan ya mas? Aku asli orang sini, dan aku baru selesai makan di kedai ini" terangnya dengan tuntas.
"Tidak lagi liburan juga sebetulnya, aku di tugasin buat ngelola kedai ini aja dek!" aku berdalih seperti itu. Karena pada dasarnya aku tidak melakukan tugas apa-apa di kedai ini.
Tak lama taksi yang ku pesan pun datang. Aku membukakan pintu untuknya dan menutup nya kembali setelah dia masuk. Lalu aku memutar untuk masuk dari pintu sebelah kanan. Aku berencana untuk sekalian membelikan nya kaca mata baru. Di dalam taksi aku dan gadis itu yang aku baru tau namanya Devi Latvia mengobrol tentang diri masing-masing. Aku bersyukur ternyata status dia belum pernah menikah dan sepertinya dia wanita baik-baik. Tapi kenapa aku malah takut dia seperti Adinda, berhijab untuk pencitraan nya saja. Dan kenapa aku merasa ini tak adil, aku pun melonggarkan salah satu sepatu milik Adinda. Tapi aku tak menggantinya, kan aku yang salah juga waktu kejadian itu. Ya sudahlah, biar ku pikirkan nanti.
Setelah aku sampai di tempat tujuannya yang ternyata adalah mall di kota ini, aku berkeliling dan sesekali bercanda dengan Devi. Ternyata Devi ingin membeli beberapa hijab, dia bertanya tentang warna hijab yang pas untuk kulit putih. Ini sedikit aneh, kulit Devi berwarna hitam manis. Tentu saja hitamnya tidak segelap hitam seperti ku, tapi kulit ku tetap di sebut hitam manis juga.
Setelah dia selesai membeli, sambil ku ajak dia berkeliling mencari store kaca mata. Dia sempat menolak juga, tapi jangan khawatir rayuan ku lebih kuat dari tolakanya. Aku bertanya untuk siapa hijabnya, karena dia beli cukup banyak juga. Dia menjawab untuk idolanya yang tadi pagi menggelar acara untuk penjualan bukunya tapi dia lupa membawa bingkisan untuk idolanya tersebut, jadi dia berniat untuk mengirimkannya saja. Dan menurutnya idolanya itu beretnis Tionghoa karena berkulit putih dan bermata sipit tapi sepertinya muslim karena dia selalu berhijab. Menurut ku itu tidak perlu sebenarnya. Tapi biarkan sajalah toh itu urusan nya. Eits, tapi tunggu dulu. Apa dia kata tadi... ~
__ADS_1
TBC.