Sang Pemuda

Sang Pemuda
88


__ADS_3

"Aku tak lagi hamil." ucap Dinda cepat.


Umi memperhatikan Dinda dengan seksama, "Untuk Umi yang memang orang awam begini. Memang tak habis pikir, masa haid bisa sampai pendarahan sebanyak itu." ujar umi secara tidak langsung tidak percaya dengan Dinda yang divonis pendarahan karena setres.


"Percaya atau tidak, aku memang tak lagi hami!" seru Dinda sedikit membentak. Umi terlihat terkejut dengan Dinda yang berani membentak dirinya.


"Dek, yang sopan." tegurku memberitahunya bahwa dia sudah kelewatan menurutku.


"Oh begini sifat aslinya. Ini nih orang yang kau lamunin?" tukas umi menoleh tajam padaku.


"Alhamdulillahnya, Allah membuka sifat asli kau hari ini Din. Udah pemabuk, tak sopan juga." tutur umi pada Dinda.


Lalu umi pergi ke luar, mengangkat jemuran miliknya yang terlihat belum kering betul.


"Dek, kau kenapa hm? Kalau begini sudah pasti kita makin terhalangi." ucapku kecewa dengan sikap Dinda barusan.


Dinda berdiri dan berjalan menuju kamar, terlihat ia mengusap pipinya kasar. Oh, menangis dia rupanya.


"Susulin sana! Dibaik-baikin malah ngatain mamah aku pemabuk lagi." seru Givan yang terlihat tidak suka dengan omongan dari umi yang mengatakan bahwa ibunya pemabuk. Ia paham atau tidak dengan arti yang sebetulnya. Tapi ia tetap tak suka ibunya disebut dengan pemabuk.


Aku menuruti Givan. Aku berjalan menuju kamar Dinda, yang sengaja pintunya tak aku tutup rapat.


"Coba cerita sama Abang. Ada masalah apa sama umi? Jangan bentak-bentak begitu, kau dinilai semakin jelek di mata umi." ucapku dengan menarik kursi riasnya, dan duduk di sebelah tempat tidurnya.


"Memang umi udah nilai aku jelek, kan? Udah aja aku buat jelek sekalian." sahutnya di tengah isak tangisnya.


"Kalau kau mau berjuang bareng Abang untuk bisa dapetin restu umi, Abang bakal usahain kau mati-matian Dek." balasku berharap Dinda memiliki harapan pada perasaanku.


Namun nyatanya Dinda menggelengkan kepalanya samar. Pupus sudah harapan yang aku kumpulkan dengan sepenuh hati. Mungkin Dinda memang tak menginginkanku. Mungkin ia hanya ingin bermain-main denganku. Mungkin ia tak memiliki perasaan yang sama denganku.


Beginikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Apa aku yang terlalu percaya diri saja?


Harusnya aku paham bahwa Dinda hanya menganggapku tak lebih dari seorang teman saja. Harusnya aku tau diri, nyatanya ia bersikap perhatian bukan hanya padaku saja. Dengan Jefri dan Haris pun demikian. Dan mungkin ia mau aku cumbu, karena ia membutuhkannya. Ia terus terang sendiri pada Haris dan Alvi kemarin hari. Mungkin memang benar seperti itu adanya.

__ADS_1


Lalu aku bangkit dari posisi dudukku, dan menyimpan kembali kursi rias pada tempatnya. Dan aku keluar dari kamar, meninggalkan Dinda yang terisak sendirian.


~


~


~


Sudah satu minggu aku berada di rumah umi, di kota J. Tiga hari yang lalu, aku dirujuk kembali ke rumah sakit, karena sesak nafasku yang kambuh dan aku tak sadarkan diri kembali. Dan sekarang, aku sudah diperbolehkan pulang hari ini.


Sejak kejadian itu dengan Dinda. Aku langsung mengemasi barang-barangku bersama umi. Dan kami pulang berdua dengan menggunakan kereta. Zulfa menetap di kota C, untuk mengurus kedai kopi ayah.


Aku sudah menyelesaikan puasa tiga hari itu, dan shalat malam setiap harinya. Tapi tak kunjung aku mengetahui siapa pelakunya. Setelah aku menyelesaikan puasa yang terakhir, malam harinya aku malah bermimpi buruk tentang Dinda dan Givan.


Aku ingin menghubungi Dinda, tapi aku merasa sangat malu padanya. Aku ingin mengetahui kabar mereka. Aku ingin melihat senyum mereka berdua.


Lalu aku bermain ponselku, kejelajahi sosial media Jefri. Berharap menemukan sosial media milik Dinda. Aku terus menscroll ke bawah, sampai aku menemukan Jefri menandai seseorang yang bernama Ananda Dinda.


Pikiranku langsung tertuju pada nama Givan yang memiliki nama depan Ananda, dan nama Adinda yang biasa dipanggil Dinda.


Ini kan pagar….. pembatas ladang kopiku. Apa? Dinda dan Givan sudah berada di provinsi A? Yang betul saja.


Lalu aku melihat beberapa komentar difoto itu. Sebagian besar banyak yang memuji ketampanan Givan diusianya yang masih kecil ini. Dan sebagian lain menanyakan lokasi mereka itu. Namun Dinda sama sekali tak membalas komentar dari mereka.


Apa aku telpon saja Dinda, dengan beralaskan ingin tahu tentang kondisi ladangku.


Saat aku akan menyentuh ikon panggil, tiba-tiba ponselku yang sedang kugenggam berdering. Terdapat panggilan masuk dari Zulfa. Aku langsung menggeser ikon hijau itu.


"Hallo Bang, assalamualaikum." ucap Zulfa sesaat setelah panggilan terhubung.


"Wa'alaikum salam, ya Dek. Kenapa?" sahutku kemudian.


"Minta bang Edi bantu aku di sini. Ada sedikit masalah tentang distributor barang, aku tak bisa menyelesaikan ini Bang." ungkap Zulfa langsung.

__ADS_1


"Kenapa tak telpon langsung aja. Abang lagi tiduran di kamar. Malas turun ke bawah." jawabku.


"Gak diangkat-angkat. Makanya aku telpon Abang." tukas Zulfa.


"Ya udah nanti Abang sampaiin. Kerjain dulu yang kau bisa!" sahutku dan Zulfa mengiyakan lalu mematikan sambungan teleponnya setelah mengucapkan salam.


Aku bingung sendiri, aku terus menatap nomor kontak Dinda yang kuberi nama Dek Dinda ini. Antara menelponnya atau….


Dinda menelponku, ya ini kebetulan yang berpihak pada gengsiku. Dinda menelpon di waktu yang tepat. Dengan cepat aku menggeser ikon hijau itu.


"Bang, Bang Adi." ucap Dinda yang bisa kudengar. Sungguh aku merindukan suara ini. Suara yang dulu selalu kudengar hampir setiap hari.


"Ya, Dek. Gimana kab……" sahutku terpaksa menggantung karena ucapannya.


"Aku udah di provinsi A dari tiga hari yang lalu. Ada sedikit masalah pada saluran irigasinya. Akibatnya ladang yang paling belakang tidak cukup mendapat pasokan airnya. Memang udah lagi diperbaiki dari kemarin." ungkap Dinda tanpa berbasa-basi lagi, "Tapi menurut aku biar hasilnya maksimal, gimana kalau pengairannya pakai sistem tetes gitu. Apa itu namanya?" lanjutnya setelah mengambil nafas.


"Pokoknya itulah lah ya, Bang. Jadi pas musim kemarau nanti kita masih punya pasokan air yang stabil. Dan kau tau sendiri, biayanya cukup banyak. Udah bilang sama uncle Rudi, katanya hasil ladang di deposit berjangka. Jadi ya tak bisa diambil dulu." tuturnya tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara.


"Intinya aku minta uang. Udahlah gitu aja. Capek aku jelasin." tukasnya kemudian.


"Seadanya dulu aja, kirim aja ke rekening aku." lanjutnya dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Sungguh aku tak menyukai sikapnya demikian. Dia tak paham kah aku tengah merindukannya. Nyerocos seenaknya sendiri dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Gila memang itu betina! Geram kali aku padanya.


Pantas aku hanya mendapatkan puluhan juta saja, eh tak taunya di depositokan uangnya.


Sudahlah, aku tak mau menanggung beban pikiran terlalu berat. Aku langsung mengirimkan sejumlah uang sebatas limitnya. Dan mengambil tangkapan layar untuk kukirimkan ke Dinda.


Terlihat dua centang biru. Dinda melihat pesanku tanpa membalasnya. Sesibuk itukah dia? Aku jadi ingin menyusulnya ke sana. Tapi pasti umi tak mengizinkanku.


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, dan umi memberitahu bahwa ada tamu yang sedang menungguku di bawah. Aduh, siapa lagi ini? Aku sedang menikmati waktuku menstalking sosial media milik Dinda. Namun terganggu dengan kedatangan tamu sialan itu.


TBC.

__ADS_1


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰


__ADS_2