Sang Pemuda

Sang Pemuda
29


__ADS_3

Devi asik memotret dirinya sendiri, akupun tengah menikmati rokok ku. Devi melarang ku merokok dengan menyebutkan beberapa penyakit kronis yang di sebabkan karena merokok. Dia kira mudah untuk berhenti merokok. Bagi aku yang sudah kecanduan nikotin dalam rokok, lebih baik tidak makan dari pada tidak merokok.


"Bang tolong fotoin aku ya." pinta Devi menyerahkan ponselnya. Aku pun mengambil ponselnya dan mengambil beberapa gambar Devi yang berpose sederhana.


"Dev, sini duduk. Abang mau ngomong." ucapku menepuk tempat kosong di sebelahku.


"Sini Bang foto bareng dulu." ajak Devi menarik tanganku.


"Abang gak suka foto-foto Dev." balasku menolak ajakannya. Sebenarnya bukan itu alasan sebenarnya. Aku khawatir Devi memajangnya di sosial medianya dan menandai ku. Aku paling tidak suka di ekspos begitu.


"Ya sudah deh. Mau ngomong apa Bang?" tanya Devi dan duduk di sebelah ku.


"Sebelumnya kamu pernah pacaran?" tanyaku langsung pada intinya.


"Per..nah. Kenapa ya Bang?" sahut Devi terdengar berhati-hati.


"Pernah melakukan hubungan se*sual?" balasku menatap wajahnya. Sebelumnya aku sudah memastikan keadaan sekitar. Aku tak mau membuat Devi merasa di permalukan.


Devi terdiam sesaat terlihat sedang memikirkan sesuatu, "Abang enggak percaya sama aku?" Devi bertanya balik padaku.


"Hei, bukan Abang gak percaya. Abang cuma mau memastikan aja." jawabku dengan memegang tangannya. Aku paham pertanyaan ini sedikit sensitif. Tapi aku pasangannya, aku berhak mengetahuinya.


"Tapi gak gini caranya." balas Devi lirih.


"Terus gimana caranya Dev? Abang berhak tau masalah ini. Abang gak mau punya calon istri yang sudah tidak perawan lagi." ungkapku langsung memberinya atensi yang jelas. Aku tidak suka terlalu berbelit-belit begini hanya untuk mendapatkan jawaban.


"Ya gak mungkin juga aku begitu kan bang." ucap Devi dengan tersenyum kaku. Tapi kenapa aku malah ragu atas jawabannya dan ekspresi wajahnya yang seakan menutupi sesuatu. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

__ADS_1


Dengan dia berhijab bukan berarti dia tidak pernah melakukannya bukan. Mantan-mantan ku dulu berhijab semua, kecuali Maya. Maya pun aku lah yang merenggutnya. Meski Maya bukan yang pertama untukku, tapi dengannya aku baru merasakan yang namanya cinta.


Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan. Aku mengajaknya untuk pulang dari tempat wisata ini. Semoga saja saat perjalanan nanti, hujan datang dengan deras dan aku bisa mencari alasan untuk meneduh di tempat penginapan terdekat.


~


Rencanaku berhasil dengan sedikit bujukan. Sebelumnya aku sudah mampir ke minimarket untuk membeli yang aku butuhkan dan air mineral. Devi tidak seperti Dinda yang berisik mau jajan ini dan itu menunjuk setiap gerobak pinggir jalan. Jelas Dinda paham bagaimana cara menghabiskan uang orang, sebelum dirinya di habisi. Tapi percuma juga waktu itu. Aku tak mendapatkan apa-apa dari uang yang ku keluarkan yang mencapai 11 juta itu.


Aku memesan satu kamar sederhana. Dan begitu sampai di kamar, aku meminta Devi membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan jubah mandi. Ternyata di balik hijabnya dia terlihat biasa saja. Jauh lebih menarik Dinda dari segi manapun. Sudahlah yang penting perawan. Dinda pun menarik seperti itu modal perawatannya sampai puluhan juta rupiah, dan juga rasanya pasti jauh dari perawan karena jelas Dinda sudah pernah mengeluarkan satu orang anak.


Aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, aku sedikit berlama-lama agar Devi tidak curiga. Aku malah memikirkan Dinda yang waktu itu sudah berada di bawahku. Kenapa aku sampai melakukan hal seperti itu. Pendirianku sudah jelas, aku tidak mau mendapatkan sisa dari orang lain. Apalagi Dinda jelas-jelas sudah bekas pakai orang.


Aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk saja. Aku lalu menghubungi bagian service penginapan untuk memesan makanan dan meminta mereka untuk mengeringkan pakaian ku dan Devi.


Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamar ku. Aku segera membukanya, petugas penginapan datang membawakan makanan yang ku pesan beserta billnya. Dan mengambil pakaian ku dan Devi yang basah itu.


"Di makan Dev." ucapku padanya. Melihat Devi hanya terdiam dan memainkan ponselnya.


"Kita gak nginep kan bang?" tanya Devi mengambil makanannya.


"Liat nanti aja ya. Takut hujannya belum reda." balas ku dan mulai memakan makananku.


Aku selesai terlebih dahulu, lalu mengambil rokok ku untuk ku nikmati. Aku tak mau terburu-buru. Aku mau Devi menyerahkannya tanpa pernah merasa menyesal nantinya.


Cukup lama aku terdiam, aku hanya memperhatikan gerak-gerik Devi saja. Aku tidak bisa membedakan wanita yang masih perawan atau sudah tidak perawan kalau tidak mencobanya.


Devi berdiri membelakangi ku. Dia sedang memasang charger ponselnya. Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Devi tersentak kaget, aku semakin mengeratkan pelukan ku dengan sengaja ku tekan milikku pada bongkahan part belakangnya.

__ADS_1


"Bang Adi." ucap Devi dengan memegang tangan ku yang merengkuh pinggangnya.


"Hmm, kenapa Dev?" sahutku sengaja berbicara di dekat telinganya dengan memberi sedikit hembusan nafasku.


"Jangan begini bang! Aku gak nyaman." Devi berkata dengan sedikit menoleh ke arah kepala ku. Aku paham Devi pasti mulai terpancing dengan hal kecil yang ku buat ini.


"Jadi bolehnya gimana?" balasku membalikkan badannya menghadap ke arah ku dan sedikit menggeser posisinya lalu ku dorong ia sedikit ke belakang. Ia terkunci dengan tembok di belakangnya, posisi yang menguntungkanku.


Aku membelai lembut wajahnya, ku tatap intens mata sayunya. Dia membuang muka, memutuskan pandangan kami. Dari bahasa tubuhnya. Aku memahami Devi menolak sentuhan ku.


"Bukannya tadi Abang bilang sendiri, Abang gak mau kalau calon istri Abang sudah tidak perawan lagi. Kalau abang kaya gini, nanti malah bikin calon istri Abang jadi tidak perawan." ungkap Devi dengan tersenyum.


"Yang penting Abang sendiri yang dapatin keperawanannya. Abang tidak ada niatan buat ninggalin kamu Dev." ucapku memegang dagunya untuk menghadap padaku. Aku tetap melewati acara berciuman. Aku enggan melakukannya.


Lalu aku mulai mendekatkan wajahku untuk bisa menciumi lehernya. Aku memberikan beberapa tanda di sana. Aku sangat menyukai betinaku yang penuh dengan tanda kepemilikan dari ku. Aku lihat Devi tidak memberikan perlawanan lagi.


"Janji Abang bakal nikahin aku." ucap Devi di tengah aktifitasku. Aku hanya mengangguk cepat, aku tidak suka aktifitasku di ganggu.


Aku membawanya ke atas ranjang dan mulai menindihinya. Aku lebih suka bermain lambat dengan aku yang menguasai permainan.


Aku mulai melepas jubah mandinya. Menikmati setiap jengkal tubuhnya. Sampai sebatas perutnya dan aku membentangkan kedua kakinya. Betulkah perawan? Kenapa l*bianya sedikit terbuka. Mungkin karena disunat pikirku.


Aku memasangkan sesuatu yang ku beli dari minimarket ke milikku. Dan perlahan mendekati inti Devi.


"Abang bakal pelan, kamu tenang aja ok. Mungkin sedikit sakit." ucapku menenangkan Devi dan menatap matanya. Aku ingin melihat ekspresinya.


TBC.

__ADS_1


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE , RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, vote 🤭, coment apa yang harus aku perbaiki karena aku masih pemula 😁, dan favoritkan ❤️ juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰


__ADS_2