Sang Pemuda

Sang Pemuda
82


__ADS_3

"Maksudnya nanya apa nih?" sahut Haris kemudian.


"Ada hubungan apa? Dan waktu kau bilang kemungkinan terbesar diantara kita bertiga yang akan menikahi Dinda hanya kau." ungkapku mengingatkan kembali kejadian waktu di rumah umi di ibu kota J.


"Aku hanya ingin melindunginya dari laki-laki macam kau! Yang dengan mudahnya bisa nyumbuin dia tanpa ada hubungan yang terikat. Perlu kau tau juga, jika ada apa-apa dengannya, ia pasti larinya langsung ke aku. Aku tak mau Dinda hamil anak kau, tapi dia minta aku buat tanggung jawab sama dia. Dan bukannya tadi kau bilang, kau akan nikahin dia kan?" jawabnya dan bertanya balik padaku.


Aku mengangguk, "Insyaa Allah, pengennya sih aku nikahin. Tapi aku tak mungkin ngebantah umi. Tak ada alasannya kenapa aku sampai membantah ibuku sendiri, apa lagi hanya untuk seorang wanita." sahutku jujur.


"Ok, tapi jangan nangis ya!" balasnya dengan menepuk bahuku dan berlalu pergi dengan membawa gelas yang berada di tanganku.


Aku lalu berjalan mengikutinya di belakang, namun Haris sudah sampai di depan Dinda duluan.


"Nih minumnya. Sini biar Abang lanjutin nyuapin makanannya. Adi mau makan soalnya." ucap Haris pada Dinda.


Sungguh aku ragu sekali pada Haris, sebenarnya apa yang ada dipikirannya. Kenapa ucapannya tak sama dengan tingkahnya pada Dinda.


Dinda melirikku sekilas dan membuka mulutnya saat suapan dari Haris sudah berada di depan mulutnya. Aku pura-pura tak peduli dan melanjutkan langkahku menuju ruang depan.


Saat aku berusaha fokus pada makananku. Aku malah mendengar suara Dinda yang sepertinya sedang bercerita pada Haris.


Jadi semudah itu Dinda membuka suaranya pada Haris. Ternyata dia lebih nyaman berkeluh kesah pada Haris, ketimbang padaku.


Aku lalu menuju teras rumah, agar bisa melanjutkan acara makan siangku. Karena semakin jelas aku mendengar suara Dinda yang sedang bercerita itu, semakin susah rasanya aku menelan makananku.


Saat aku duduk di sebelah kursi besi yang terdapat di sini. Dengan Jefri yang tengah merokok dan bermain ponsel di kursi seberang meja. Ada mobil jenis sedan mewah yang berhenti di depan gerbang rumah Dinda. Lalu muncullah seorang wanita dari dalam kemudi.


"Siapa itu, Jef?" tanyaku lada Jefri.


Jefri melirik sekilas pada wanita itu dan berkata, "Alvi itu. Betinanya Haris." jawabnya kemudian.


"Bukannya kau udah tau?" tanya Jefri saat Alvi berjalan ke arah kami.


"Lupa aku sama wajahnya. Ditambah waktu itu lampunya kurang terang." sahutku santai.


"Di mana Dinda, Jef?" sapa Alvi setelah berada di depan kami.


"Di dalam, sama pejantan kau." ujar Jefri tanpa menoleh pada Alvi.

__ADS_1


Ia tersenyum sekilas padaku, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Heh, mau ke mana?" ucap Jefri menurunkan ponselnya dari depan wajahnya.


"Masuk lah, memang mau apa lagi?" jawab Alvi berhenti melangkah.


"Sini aja, sama kami. Jangan masuk, nanti kau ganggu mereka." sahut Jefri yang terdengar bercanda.


"Biarin, ganggu-ganggu sekalian. Dari semalam mereka mepet terus. Kesel aku!" balas Alvi dengan menghentak-hentakan kakinya dan masuk dalam rumah Dinda.


Tak lama suster Linda keluar dari rumah, "Aku pamit dulu, Dokter Jefri." ucapnya pada Jefri.


"Oh iya. Dinda udah bisa ngurus dirinya sendiri kah?" tanya Jefri setelah mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.


"Iya, Dok." jawab suster Linda yang aku tebak sepertinya seumuran dengan aku juga. Lalu ia pamit pulang dengan mengendarai motor sendiri.


Setelah selesai makan, aku lalu masuk berniat mencuci tangan dan akan mencuci pakaianku sekalian.


Namun saat di ruang tengah aku melihat pemandangan Alvi dengan posisi duduk tengah memeluk Haris dari belakang dengan dagunya ia sandarkan pada pundak Haris.


Dengan Dinda yang masih bercerita menghadap mereka dengan posisi tidur miring memeluk guling. Aku pura-pura tak melihat mereka dan berlalu begitu saja menuju dapur.


"Aku tak ada yang jagain, Kak!" sahut Dinda dengan suaranya yang lemah.


"Minta Taufan suruh ke sini." balas Alvi yang bisa kudengar dengan jelas.


"Taufan siapa?" tanya Haris.


"Taufan Daru. Yang semalam Dinda godain itu." jawab Alvi, "Nih liat chatnya. Dia mintain kontaknya Dinda terus nih." lanjut Alvi.


"Iseng-iseng aja aku, Bang. Tak niat godain betul." sahut Dinda meski pelan namun bisa kudengar.


"Jangan mainin laki-laki terus. Takutnya mereka dendam, terus kau di g*ngb*ng sama mereka yang udah jadi korban mainan kau." balas Haris pada Dinda.


"Ayo lah Ris." suara Alvi yang terdengar merengek lagi.


"Zina sama dengan dosa." ujar Haris sok iya kali. Oh jadi dari tadi Alvi merengek karena ingin itu.

__ADS_1


"Macam kamu gak doyan aja." seru Alvi, kemudian Haris tertawa geli.


"Aku juga udah pengen. Gila kan dari selesai nifas adiknya Givan, sampai sekarang aku belum ngerasain lagi." ucap Dinda terdengar memelas sekali. Terdengar suara Haris dan Alvi yang tertawa geli.


"Eh, tapi gimana ya caranya biar bisa k*maks berkali-kali. Aku doyan, sebetulnya ingin terus. Tapi aku cuma bisa k*maks sekali, lepas k*maks pasti udah kering gitu. Udah tak on fire lagi." lanjut Dinda bercerita tanpa malu.


"Kalau itu, ya carinya laki-lakinya yang hebat. Ya bisa bikin kau t*rangsang terus." sahut Haris memberi saran.


"Kamu hebat gak Ris." tutur Alvi untuk Haris.


"Kau tau sendiri. Hebat menurut kau, belum tentu hebat menurut dia." jawab Haris ada benarnya juga.


"Aku mau pipis." tukas Dinda kemudian. Aku cepat-cepat menyibukkan diri dengan kumpulan pakaian kotorku.


"Bisa gak? Sini aku bantuin." ujar Alvi.


"Pakai popok, tinggal pipis di situ aja." ungkap Haris.


"Tak keluar-keluar." sahut Dinda, "Tak perlu Kak, aku bisa sendiri." ucapnya seperti menolak tawaran Alvi.


"Aduh, muter kepala aku." seru Dinda kemudian.


"Ayo makanya aku bantu sini." ujar Alvi.


Lalu mereka berdua muncul. Aku menoleh sekilas pada Dinda. Terlihat ia pucat sekali, dengan bibir yang tanpa warna itu.


"Ehh, Bang. Itu sabun cucinya di situ. Ambil satu aja cukup. Itu udah sabun plus pewangi juga." ucap Dinda saat melihatku tengah memilih pakaian yang berwarna putih di atas mesin cuci. Aku hanya mengangguk menanggapinya.


Yang sebenarnya pikiranku sedang ke mana-mana. Jika aku perjuangkan Dinda, sudah pasti aku akan melawan umi. Dan yang jadi masalahnya, Dinda mau tak aku perjuangkan? Ia mau tak berjuang bersamaku? Apa lagi Dinda yang sepertinya sedang mengincar seseorang di luar sana. Sudah pasti ia tak akan memperdulikan perjuanganku. Sudahlah, aku pasrah pada takdirku saja.


"Makan belum? Jangan ngelamun aja!" ucap Dinda dengan menyentuh lengan tanganku, ternyata ia sudah kembali lagi dari kamar mandi.


"Udah, Dek." sahutku cepat. Lalu Dinda melanjutkan langkahnya dengan dituntun oleh Alvi.


TBC.


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.

__ADS_1


Terimakasih 🥰


__ADS_2