
ADI POV
Aku tengah menikmati roti tawar dengan selai strawberry buatan Dinda. Setidaknya biarlah seperti ini dulu, sampai waktunya Haris akan menikahi Dinda. Dan menurutku Haris bercerai dengan Sukma karena ia sekarang lebih tertarik dengan Dinda. Tapi coba aku cari tau dari Dinda saja.
"Dek, Haris bisa pisah gara-gara apa?" ucapku dengan memperhatikan wajahnya yang dipoles riasan tipis. Makin menarik saja ini perempuan.
"Udah cepet makan! Apa sih kau Bang jadi pengen nempel terus sama aku?" sahut Dinda mengalihkan perhatiannya padaku. Sebelumnya ia tengah asik bermain ponsel dengan anaknya.
"Soalnya belum keturutan. Masih penasaran!" balasku dengan mengajaknya bercanda.
"Sama aku juga. Bagaimana kalau kita cek in aja?" jawab Dinda dengan menaik turunkan kedua alisnya. Dan tentu saja dia bercanda. Aku tertawa geli karenanya.
"Bagi tau Abang, Dek. Kenapa Haris bisa pisah sama Sukma?" tanyaku ulang, aku ingin mengetahui dari sudut pandang yang berbeda.
"Kak Sukma capek Bang. Bang Haris tak mau pakai asisten rumah tangga. Belum lagi dia tak mau pakai jasa pengasuh. Maunya anaknya didikan istrinya aja. Ditambah lagi Kin juga harus dia yang urus." ucap Dinda dengan menopang dagu.
"Memang begitu tugas istri!" sahutku menelan terlebih dahulu makanan ku.
"Memang. Tapi jangan kau terlalu banyak nuntut dari istri kau nanti!" balas Dinda sengit.
"Memang gimana realitanya? Abang belum beristri jadi kurang tau pasti." tanyaku agar Dinda tidak mengira semua laki-laki itu sama.
"Kau kalau mau istri kau tetap cantik, tetap enak dipakai. Ya kau harus pandai ngerawatnya. Masalah anak, ya diurus bareng-bareng. Abang kasih waktu dia buat merawat dirinya. Nah kau gantiin dia sejenak buat jaga anak. Itu kalau kau tak mau pakai jasa pengasuh. Lain Bang Haris, nuntut istrinya cantik tetap enak dipakai tapi dia tak mau gantiin jaga anak. Aku kan sama kak Sukma akrab juga. Kalau kak Sukma lagi perawatan. Anaknya sama aku. Begitu pula sebaliknya." jelas Dinda menerangkan.
"Kan tak setiap laki-laki nuntut itu semua, Dek!" balasku mengunyah roti terakhirku.
"Ada juga yang begitu. Dia lebih milih jajan di luar. Karena tak perlu repot-repot ngasih uang tambahan buat perawatan istrinya, tak perlu gantiin untuk ngurus anak." ungkap Dinda terlihat kesal.
"Kau ngomong apa sih, Dek." tutur ku dengan mendekatinya. Dia sesensitif itu jika membahas rumah tangga.
Aku duduk di sampingnya dan merengkuh pinggang rampingnya. Dia menoleh padaku, dan aku tersenyum padanya.
__ADS_1
"Kau kenapa sih? Biasanya risih betul sama aku. Sekarang kau pengen nempel terus kayaknya." ucap Dinda mengintip ponselnya yang sedang dimainkan oleh anaknya.
"Mumpung masih bisa begini." ucapku melingkarkan tangan di perutnya. Aku bersandar pada bahunya.
"Hm, ternyata laki-laki dan perempuan itu tak mungkin ya Bang berteman sehat." ungkap Dinda kemudian.
"Kenapa memang?" balasku pelan.
"Macam kau ini. Kayanya aku ini jadi fantasi se*s kau!" ucap Dinda membuatku reflek menegakkan kepalaku dan menatap wajahnya. Benarkah aku begitu padanya?
"Abang tak begitu loh Dek." sangkalku atas pernyataannya barusan.
"Halah, buktinya begitu. Bang Haris butuh aku untuk anaknya. Bang Jefri butuh aku untuk ngurusin makanannya. Dan sekarang kau pun sama." sahut Dinda dengan kesal.
"Oh, Jefri sering minta kau nyiapin makanannya Dek? Abang baru tau." balasku mengendus wanginya. Dinda kenapa berdandan sampai sedemikian rupa. Dia amat menggoda, ditambah lagi aroma greentea yang lembut tercium begitu menyengat.
"Bukan nyiapin makanannya. Tapi misal dia libur gitu, dia minta dimasakin apa gitu." tutur Dinda menyingkirkan kepalaku yang sedang mengendus lehernya.
"Tapi kau dikasih uangnya, Dek?" tanyaku mengamatinya.
"Kau ngerasain risih juga. Coba bayangkan rasanya Abang kemarin." jawabku sambil memanyunkan bibirku.
Dia terkekeh sesaat, "Aku tak sei*tim ini. Baru kau disosor sesaat. Malah balasnya tak udah-udah!" ucap Dinda menoyor pelan kepalaku.
"Abang begini sama kau aja!" ucapku sekilas menciumnya. Tapi Dinda biasa saja, tidak marah dan tidak terlihat kesal.
"Aku udah kebal rayuan macam itu. Kau begitu sama perawan, jangan sama janda!" ucapnya dengan tersenyum dan melirikku. Aku terkekeh geli karenanya, dia pun tertawa kecil menanggapiku.
"Nih, kau kasih sovenir ini aja ke Edi." ucapku mengeluarkan kotak kecil dari saku celanaku.
"Abang mikirin sovenir aku ternyata. Hmm, makasih ya." ucap Dinda dengan memeluk tubuhku dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Bukan juga. Ini sovenir Abang sebetulnya." sahutku dan kulihat Dinda langsung mencabikan bibirnya. Aku tertawa geli, "Ya buat kau aja. Nanti Abang gampang sovenirnya nyusul." lanjutku memberitahunya.
Dinda mengangguk, "Isinya apa ini Bang?" tanyanya dengan mengambil alih kotak hadiah di tanganku.
"Buka aja. Tak besar sih. Tapi itu emas tua, Dek." jawabku memperhatikan kotak itu di tangannya.
"Oh emas. Emas jaman dulu ya emas tua itu?" tanyanya dengan membuka kotak itu. Terlihat emas batangan seberat sepuluh gram.
"Bukan emas jaman dulu juga." ucapku dengan tawa pecah, "Apa ya namanya, karatnya itu besar?" lanjutku masih tertawa. Kulihat Givan menatap bingung padaku, dia turun dari kursinya dan meminta didudukan dipangkuanku. Aku mengangkatnya untuk kupangku.
"Oh, Emas berkarat. Macam besi kah?" ucap Dinda polos. Aku terbahak-bahak mendengarnya. Ini aku yang salah ngomong tadi, apa Dinda yang tak paham?
"Jadi tuh gini Dek. Beli emas kan Abang nih. Nah pihak storenya bagi tau, ini dua puluh empat karat, ini dua puluh tiga karat. Gitu loh, Dek." terangku menjelaskan padanya secara saksama. Dinda manggut-manggut mengerti.
"Kau tak pakai emas, Dek?" tanyaku padanya. Dinda menggelengkan kepalanya.
"Kenapa tak pakai?" tanyaku lagi dengan memperhatikannya.
"Aku dulu pakai. Aku pun nampak cantik kali kalau pakai emas." jawab Dinda seperti sedang berpikir, "Pastilah Dek. Menurut Abang perempuan lebih menarik kalau pakai perhiasan." ungkapku menyelanya.
"Coba kalau aku tak pakai apa-apa nampak menarik tak buat kau." ucap Dinda konyol. Itu pasti favoritku tanpa ia bertanya juga.
Aku merangkulnya dan tertawa bareng dengannya. Tidak dengan anaknya yang masih fokus pada video yang sedang diputarnya.
"Aku dulu pernah punya pengalaman memalukan Bang. Waktu itu aku tak punya beras sama sekali. Aku niat jual emas yang cuma setengah gram buat nyambung makan hari itu. Tapi pas di toko aku macam orang minta-minta. Aku tak dilayanin sama pegawainya. Aku udah bilang aku mau jual, pegawainya ngelirik sebentar. Lalu lanjut layanin yang beli. Sampai beberapa pegawai kaya gitu semua sama aku. Akhirnya aku dilayanin setelah tak ada lagi yang beli. Aku pulang bawa beras hasil jual emas setengah gram itu. Tapi sejalan-jalan aku nangis Bang, malu kali rasanya aku Bang. Sebelumnya aku tak pernah sesusah itu." ungkap Dinda menceritakan panjang lebar, aku mengangguk menyimak ceritanya.
"Jadi aku putuskan buat tak usah beli-beli emas lagi. Aku trauma Bang datang ke toko emas!" lanjut Dinda dengan tersenyum masam.
Aku tak menyangka Dinda pernah merasakan dititik itu. Pantaslah tak ada emas di tubuhnya. Lalu aku mencium pucuk kepalanya sekilas.
"Yuk, ke depan." ajakku dengan menggendong Givan lalu berdiri dari kursiku. Dinda mengangguk dan mengikuti langkahku.
__ADS_1
TBC.
Semoga dengan crazy up pembacaku bisa kasih aku semangat. Jujur aku galau kali loh kak 😔. Aku bukan mengemis LIKE, VOTE, RATE, COMENT dan FAVORIT. Aku butuh untuk jadi semangatku buat nulis. Cemana lah aku cakap, intinya begitulah kak 😩