
Aku terbangun dengan tangan yang sudah terpasang infus. Sudah kuduga, pasti aku berada di rumah sakit lagi. Ya ampun, sampai kapan siklus kehidupanku seperti ini terus? Sudah pasti aku sangat menyusahkan orang-orang terdekatku.
Aku menggerakkan tanganku untuk mengucek mataku yang terasa berat sekali terbuka.
"Alhamdulillah, kau akhirnya bangun juga Bang." ucap seseorang yang suaranya begitu kukenal dari kecil, umiku.
"Panggilin dokter dulu, Nak." ucap umiku untuk seseorang yang berada di situ. Mungkin Zulfa atau siapa, karena sungguh mataku berat sekali rasanya.
"Gimana Bang? Apa yang dirasa?" tanya umi dengan memegang tanganku.
"Ngantuk kali, Umi. Abang pengen tidur aja." jawabku jujur. Karena itulah yang aku rasakan sekarang.
"Kau udah terlalu lama tidur, Bang. Buka matanya, ayo cepet buka." pinta umi memaksaku membuka mata.
Perlahan aku membuka mataku, samar terlihat umi yang berderai air mata. Lalu aku cepat memejamkan mataku kembali. Sungguh ini pedih sekali, mataku amat berat.
Terdengar umi memanggilku dengan menggoyang lenganku. Dan terdengar suara sepatu yang berhentakan dengan lantai. Lalu berhenti di dekatku, dan langsung menempelkan beberapa benda ditubuhku.
Rupanya dokter yang datang memeriksaku. Aku mengatakan aku baik-baik saja. Aku hanya ingin tidur sebentar saja.
"Biarkan pasien istirahat sejenak ya, Bu. Agar kondisinya lekas pulih." ucap dokter itu. Tak lama, alat suara derap kaki menjauh dan hening. Aku kembali ke alam mimpiku sesaat, karena sungguh aku merasa lelah dan mengantuk sekali.
~
Aku terbangun dengan rasa haus yang amat sangat menggerogoti kerongkonganku.
Terlihat ada Edo, adik keduaku. Ia tengah duduk di kursi sebelah ranjangku dengan membaca Al-Qur'an. Dan Zuhra tertidur di spring bed single yang berada di sebelah kanan ujung ruangan ini.
"Do, Abang haus." ucapku sambil mengusap lenganya yang sedang memegang kitab suci itu.
"Eh, Bang. Alhamdulillah, Abang bangun." ujarnya setelah menutup Al-Qur'an dan menyimpannya di meja sebelah ranjangku.
"Bentar, Bang. Aku panggilkan dokter dulu ya. Soalnya tadi pesan jangan dulu dikasih makanan atau minuman kalau pasien bangun." lanjutnya dan berlalu pergi dari ruanganku.
Sungguh aku tak menghendaki Edo, dan Zuhra yang berada di sini. Mereka masih sekolah, dan harus bergantian menjagaku di rumah sakit begini.
Eh tunggu dulu, perasaan waktu itu aku berada di kota C. Apa sekarang aku berada di kota J?
"Zuhra...Dek, Zuhra." panggilku berharap ia terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Hmmmm" gumamnya dengan mata yang masih terpejam. Lalu ia menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan.
"Ya Bang. Mana yang sakit? Mana bang Edo?" ujarnya setelah matanya terbuka sempurna. Terlihat ia sedikit kaget, dan langsung bangkit dan berjalan ke arahku.
"Mana Umi? Di mana Abang sekarang?" tanyaku langsung.
"Umi di rumah. Kasian umi kecapean. Tapi nanti besok umi juga datang. Apa mau dikabarin sekarang?" jawabnya dan bertanya balik padaku.
Aku menggeleng, biarlah umi istirahat di rumah sejenak. Pasti ia lelah menjagaku di rumah sakit ini.
Tak lama Edo datang dengan dokter yang berjalan mendahuluinya.
Ia mengecek kembali keadaanku, dan bertanya tentang apa yang aku rasakan. Jujur, selain rasa haus ini, aku merasakan rindu setengah mati pada Dinda. Tapi jelas, rumah sakit ini tak mungkin bisa memberi obat penawar rinduku pada Dinda.
"Gimana Pak? Apa ada yang sakit?" tanya dokter itu berulang.
"Tak ada. Aku baik-baik saja. Hanya haus sekali, Dok. Bolehkah saya meminta air minum?" jawabku kemudian.
"Ada mual atau lainnya?" sahutnya kemudian.
Aku menggeleng. Dan dokter itu mengizinkan aku minum, tapi dengan takaran yang ia berikan. Sebetulnya aku sakit apa? Kenapa minum pun tak boleh lebih dari 200ml? Padahal aku tengah haus sekali. Ya sudahlah, yang penting aku dapat air. Dari pada tidak sama sekali. Dan lihatlah, aku minum pun sampai ia perhatikan. Padahal dokter itu laki-laki. Tak mungkin kan ia terpesona denganku yang merupakan sejenis dengannya.
"Kau tidur lagi aja, Dek. Biar Abang yang jagain Bang Adi." ucap Edo pada Zuhra. Ia mengangguk dan kembali lagi ke spring bed singlenya.
"Di mana Abang? Jam berapa sekarang?" tanyaku pada Edo yang memperhatikan wajahku.
"Abang pucet banget. Aku jadi takut." ujarnya tanpa menjawab pertanyaanku.
"Di mana Abang? Jam berapa sekarang?" ucapku mengulang pertanyaanku.
"Di rumah sakit G***** J***, masih di kota C. Sekarang jam empat pagi." jawabnya setelah mendongakan kepalanya untuk melihat jam dinding.
"Kalian jauh-jauh ke sini? Gimana kuliah kau? Memang Zuhra tak berangkat sekolah?" tanyaku kemudian.
"Seminggu lalu aku baru di wisuda, Bang. Zuhra lagi libur." jawabnya dengan duduk kembali di kursi yang tadi ia duduki.
"Hari apa sekarang? Katanya kau di wisuda sebulan lagi?" sahutku kemudian.
"Hari minggu pagi. Zuhra kan libur kalau hari sabtu dan minggu. Memang Abang udah sebulan lewat tiga hari gak bangun-bangun." terang Edo yang membuatku mengerutkan keningku. Jadi selama itu aku tertidur?
__ADS_1
"Waktu Abang bangun kemarin, Abang udah berapa lama tidur?" tanyaku.
"Empat hari yang lalu. Dan sekarang semoga Abang baik-baik aja. Gak tidur panjang lagi. Aku takut, umi sampai sempat masuk rumah sakit juga karena keadaannya drop." ungkap Edo prihatin.
"Abang gak ngantuk lagi kan? Napas Abang baik-baik aja kan?" tanyanya kemudian. Karena aku terdiam tak merespon ucapannya tadi.
"Abang ngerasa baik-baik aja." jawabku cepat. Aku malah memikirkan Dinda, dia makan apa sekarang? Bagaimana dengan kebutuhan hidupnya? Jelas aku telat membayar gajinya. Karena memang aku tak mendatangi bank untuk bisa rutin mentransfer uang ke rekening Dinda setiap tanggal yang ditentukan.
"Mana hp Abang?" ucapku setelah selesai dengan pemikiranku.
Edo memberikannya ponselku yang tergeletak di meja samping. Aku langsung melihat datanya, kenapa dari tadi tak bisa tersambung saat aku menelepon Dinda. Apa paket dataku hangus? Cepat-cepat aku mengeceknya. Dan ternyata betul demikian.
"Tethering, Do. Cepet!" ujarku menoleh sesaat pada Edo yang tengah memperhatikanku itu. Kenapa lagi dengan adikku yang satu ini?
"Kau kenapa sih, Bang? Punya janji ya?" tanyanya dengan mengambil ponselnya dan mengutak-atiknya.
Aku tak menjawabnya, setelah wifiku tersambung. Aku langsung menelpon Dinda berulang kali. Berdering tapi tak diangkat-angkatnya. Apa ia masih tidur sekarang? Biarlah aku mengganggunya sepagi ini. Aku khawatir Givan tak bisa jajan esok pagi, karena Dinda tak punya uang.
Kelima kalinya aku menelepon, akhirnya diangkatnya juga.
"Hallo, Dek. Kau pegang uang tak sekarang? Gimana jajan Givan kemarin, kau masih ada pegangan kan?" tanyaku beruntun.
"Hallo, ya. Dengan siapa ini?" ucap suara laki-laki di sebrang telepon. Sungguh rasanya hatiku seperti terhimpit luka. Siapa laki-laki ini? Kenapa ia sepagi ini sudah berada di dekat Dinda? Atau semalam Dinda baru selesai having se*, kan semalam malam minggu. Aku kalut memikirkan Dindaku. Pikiranku melayang ke mana-mana.
"Mana Dinda?" tanyaku dengan perasaan yang campur aduk.
"Dinda masih tidur. Ada pesan yang bisa saya sampaikan nanti?" tanyanya dengan nada formal.
"Kau siapa?" tanyaku dengan emosi yang mulai menguasaiku. Apa dia kata tadi? Dinda masih tidur? Jadi Dinda malam ini tidur dengannya? Yang benar saja.
Kalau sampai aku tak bisa mendapatkan Dinda. Aku pastikan Dinda pun tak bisa dimiliki oleh siapapun! Aku tak rela jika Dinda jadi milik orang lain.
"Saya………….
TBC.
SUPPORT AUTHOR 🙏
Dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
__ADS_1
Terimakasih 🥰