
Pamanku mengatakan pencairan uangku bisa dilakukan nanti bulan depan. Jadi selama satu bulan ini terpaksa aku harus bisa bertahan dengan uang tiga juta itu.
Ladangku aman-aman saja. Hanya saja orang ayah terlalu mengatur dan merubah apa yang sudah semestinya. Membuat ladangku sempat tak stabil. Makanya orang ayah diminta untuk kembali saja. Dan diambil olih oleh keluarga besarku.
Aku tak yakin uangku cukup sampai akhir bulan. Apa lagi Dinda tengah mengirit juga, karena sisa pegangan uangnya tinggal dua jutaan saja. Itu pun aku tau saat ia menelpon Jefri waktu itu. Pasti setelah uangnya habis, Dinda akan minta gajinya dibayarkan lebih awal. Seperti pada saat Edi menikah itu. Sampai sovenir pernikahan untuk Edi pun, Dinda tak bisa memberikan apa pun. Dan alhasil sovenirku yang menjadi korban.
Givan terlihat mengantuk setelah aku suapi. Ia meminta gendong padaku kembali dan menimangnya.
"Givan, Givan. Kau ini sudah besar. Udah kelewat masanya, Bang.'" ungkapku dalam hati. Karena aku khawatir mata anak ini akan segar kembali, kalau aku mengeluarkan suara.
"Kalau udah lelap taruh di kamar aja." ucap bibiku pelan. Karena aku masih berada di rumahnya.
Aku mengangguk, dan menuju ke kamar tamu terdekat. Dan perlahan merebahkannya pelan-pelan.
"Sini, Di." panggil bibiku pelan, namun aku bisa mendengarnya. Lalu aku menaruh beberapa bantal di bagian kanan dan kiri Givan yang tertidur pulas.
Lalu aku keluar dari kamar, dan berjalan menuju bibiku yang duduk di sofa ruang tamu.
"Kenapa Mak cek?" tanyaku kemudian. Dengan duduk di sofa terdekat darinya. Mak cek adalah panggilan untuk bibi, sedangkan Pak cek adalah panggilan untuk paman.
"Dinda pacar kau kah?" tanyanya dengan memperhatikanku.
"Tak dipacari sebetulnya. Tapi memang aku ada rencana nikahin, cuma tak direstui sama umi." jawabku jujur. Berharap semua orang terdekatku bisa mengerti aku. Dan bisa membantuku mendapatkan Dinda.
"Kenapa memang?" sahutnya yang langsung mendapat gelengan kepala dariku.
"Laki-laki kalau nikah tak perlu wali dari pihaknya. Kecuali perempuan." balas bibiku yang membuatku langsung berpikir.
"Maksudnya gimana, Mak cek?" ujarku menunggu jawabannya.
"Ya kau nikah tinggal nikah aja, bisa nikahin Dinda tanpa restu umi kau, dan kehadiran umi kau dan keluarganya. Kau hanya butuh dua orang yang diminta jadi saksi dari keluarga kau. Kami juga kan keluarga kau. Kau butuh dukungan dari keluarga. Tinggal kau ngomong terus terang sama keluarga besar Abi kau. Kita pasti dukung kalau kau punya niatan baik begini." ungkapnya menjeda sejenak ucapannya, "Heran Mak cek sama umi kau. Udah tak urusin kau, tapi sok berkuasa betul atas kehidupan kau. Dia tak tau kah sifatnya anaknya. Mana kelihatannya Dinda cinta juga sama kau. Mak cek khawatirnya kalian nekat, terutama kau. Mak cek tak ingin, kau sampai berbuat gila padanya. Untuk mempermudah urusan kau." lanjutnya kemudian. Hebat juga bibiku, ia bisa tau rencanaku.
"Kenapa diam? Betul mau begitu? Makanya sampai semalam tidur serumah dengan Dinda?" tuturnya yang membuatku menoleh cepat pada ibu dari Safar ini.
"Dinda lagi sakit. Demam kalau malam aja, aku tak tega ninggalinnya." jawabku.
"Sebetulnya Dinda nolak aku. Dia tak mau aku nikahin. Masalahnya orang tuanya pun tak setuju." ucapku jujur dan terlihat bibi menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Runyam betul." sahut bibi, kemudian pergi berlalu.
Memang runyam, makanya aku sampai nekat begini. Mungkin aku egois dan tak memikirkan akibatnya nanti, terutama di akhirat kelak. Namun aku tak bisa menahan perasaanku lagi. Apa lagi mendengar niat baikku ditentang sana sini.
__ADS_1
Bibi terlihat berjalan ke arahku dengan membawa kotak kecil penuh ukiran.
"Ini bagian dari masyik kau. Untuk para menantu dari anak cucunya." ucapnya menyerahkan padaku kotak berukiran yang tercetak nama jelasku.
"Apa ini?" tanyaku dengan menerima kotak itu.
"Buka aja." sahut bibiku santai.
Ternyata emas yang cukup banyak. Aku mengeluarkannya satu persatu. Mulai dari gelang tangan, gelang kaki, kalung leher, sepasang anting, cincin, dan ada kalung pinggang juga. Dengan kondisinya yang terawat, walaupun modelnya sudah ketinggalan jaman. Untung perhiasan ini berukuran sedang, dan terlihat begitu sederhana.
"Banyak betul? Safar juga dapat kah?" tanyaku pada bibi.
Bibi mengangguk, "Liana juga dapat." jawabnya.
"Ini buat aku?" timpalku memastikan.
"Buat istri kau nanti. Memang kau mau pakai perhiasan macam itu?" sahut bibiku. Aku terkekeh pelan menanggapinya.
"Kasih ke Dinda kalau udah jadi istri kau. Bilang itu hadiah dari masyik." lanjut bibi kemudian. Aku mengangguk mengerti.
"Jangan dijual, meski tak dipakai juga." ucap bibi melanjutkan. Aku mengangguk paham.
"Ya udah. Nanti kau beli brankas buat tempat penyimpanan emas atau barang berharga lainnya di rumah." ujar bibiku. Aku lalu mengangguk dan keluar dari rumah. Tentu saja aku sudah menitipkan Givan pada bibi terlebih dahulu.
Aku kembali melajukan motorku menuju rumah. Aku khawatir demam Dinda naik lagi.
Namun saat aku membuka pintu, yang kudapati malah Dinda yang tengah menikmati kepulan asap hasil pembakaran rokoknya. Rupanya perempuanku masih belum bisa merubah kebiasaannya.
"Dinda sayang. Kau cantik kali kalau tak merokok. Nampak seperti ukhti sholehah." ucapku mengambil tempat di sebelahnya dengan menyomot rokok di tangannya, dan langsung kuselipkan diantara bibirku.
"Ambil baru tuh. Ganggu aja!" balasnya sengit, dengan menarik satu batang rokok dari bungkusnya.
"Abang punya rokok yang lebih besar, lebih panjang. Kau mau tak?" ungkapku dengan mengambil rokok yang berhasil ia keluarkan dari bungkusnya.
"Apa tuh? Srutu? Kau kira aku orang jaman dulu?" ujarnya terlihat tak suka dengan tindakanku yang merampas rokoknya.
"Ini nih, Dek." jawabku dengan menarik tangannya dan menempatkannya di atas resleting celanaku yang sedikit menonjol karena isinya.
"Gila kau!" serunya dengan memukul Adi's bird dengan tangannya yang tadi ku pegang.
Aku langsung memegangi Adi's bird yang terasa nyeri bukan main ini. Sampai hati Dinda melakukannya.
__ADS_1
"Kau jangan tega-tega kali, Dek." ucapku mendengar kekehannya.
"Orang pelan juga tuh. Lebay betul." sahutnya yang masih setia mentertawakanku yang tengah kesakitan ini.
"Di rokoin nih." ucapku buka suara setelah hilang rasa nyeri tadi. Dinda menoleh tanpa ekspresi.
"Apa?" tanyaku bingung. Namun ia malah tertawa lagi. Tak jelas memang, tapi aku malah ikut menyuarakan tawaku.
"Givan mana, Bang?" tanyanya yang baru menyadari bahwa aku tak datang dengan anaknya.
"Di rumah Liana. Dek coba ambilkan jaket Abang, di lemari. Yang warna hitam itu. Abang mau keluar sebentar." tuturku padanya.
"Tinggal ambil sendiri sana. Nyuruh-nyuruh aku, memang siapa kau?" ujarnya dengan meninggikan dagunya. Sombong kali perempuan ini.
"Calon suami kau! Cepat sana ambilkan jaket Abang." ucapku padanya. Ia melengos dengan berlalu pergi.
Aku langsung menuju pintu dan menguncinya. Lalu aku menyusul Dinda cepat. Dan begitu aku masuk ke kamar, aku langsung mengunci pintunya dan menarik kuncinya. Lalu kusimpan di atas angin-angin pintu. Agar Dinda tak bisa mengambilnya.
"Hm hm hm. Ternyata cuma alibi." ucapnya dengan melemparkan jaket yang tadi kuminta.
Aku tersenyum manis dengan mengedipkan sebelah mataku, Lalu aku menguncinya dengan pelukanku. Dan mendorongnya pelan, untuk menuju ke tempat tidur.
"Pandai kan Abang?" ujarku setelah berhasil meloloskan hijabnya yang asal nempel itu. Dan langsung membawanya telentang dengan aku di atasnya.
"Licik! Bukan pandai. Jangan coba-coba kau hamili aku! Kalau kau mau, kau boleh keluarkan di luar." ucap Dinda jelas.
"Kau juga pengen ya? Sampai-sampai kau ngasih izin Abang macam ini." sahutku merasa heran dengan tanggapannya.
"Kau cuma terobsesi pengen ngerasain barang aku. Lepas rasa penasaran kau terpenuhi. Kau tak akan macam ini lagi." balasnya membuat hatiku bergemuruh.
"Udah cepet lakuin! Nunggu apa lagi?" lanjutnya dengan memperhatikan wajahku, dengan tangannya yang membelai pelipisku.
TBC.
Alhamdulillah, ladangnya aman 😊
Tapi apa nih? Kok nanggung kali 🤭
Ayo semangat author 😉
Bagi LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT juga ya 😁
__ADS_1