Sang Pemuda

Sang Pemuda
128


__ADS_3

Pegang kuat-kuat apa yang bisa kalian raih šŸ˜…


Jangan lupa bernafas šŸ˜‰


"Dinda, sayang…" panggilku mesra, dengan berjalan mendekatinya.


"Hmm, butuh apa Bang?" sahut Dinda dengan berbalik badan menghadapku.


"Kok ngomongnya macam itu, sayang." balasku sehalus mungkin dengan mendekatkan tubuhku. Dan membawanya masuk ke dalam selimut.


"Aduh, aduh, aduh…" suara Dinda yang terkejut dengan tanganku yang langsung meremas tutup tekonya.


"Ssttttt, jangan berisik." ujarku dengan berbisik di telinganya. Sengaja aku ingin merangsang bagian sensitifnya itu.


Satu per satu pakaian tergolek begitu saja, tanpa Dinda sadari bahwa sekarang tubuhnya sudah terekspos jelas di depan mataku.


Aku mulai membawanya masuk ke dalam belaianku. Yang tentu saja selalu bisa membuatnya menyebutkan namaku berulang kali, meski aku belum bermain di intinya.


Aku mencoba memiringkan tubuhnya, untuk bisa merasakan halusnya dan indahnya punggung Dinda yang tanpa lemak melipat sedikit pun. Bahkan yang perawan saja, belum tentu bisa menjaga tubuhnya seindah ini.


Dinda langsung melengkungkan tubuhnya, begitu ujung lidahku menyentuh permukaan punggung indahnya.


"Hhssstttttt, A..bang… jangan ressse." ucapnya terbata-bata, karena ia tengah menahan gelombang geli yang meningkatkan rasa nafsunya.


"Abang tak rese. Adek aja yang lebay…" sahutku mengincar telinganya kembali dengan tangan yang tengah memijat p*yuda*anya, "Belum apa-apa udah kelojotan macam itu." lanjutku yang mendapatkan cubitan di tanganku yang tengah beraktifitas itu.


Dinda membalikkan tubuhnya, dan mendorongku. Sekarang posisinya berada di atas tubuhku.


Terlihat matanya sudah menunjukkan bahwa ia tengah ingin sekali. Ia mendekatkan bibirnya, meraup bibirku dan menikmatinya sesuai keinginannya. Dengan lidahnya yang begitu lincah menari bersama lidahku.


Tanganku tak tinggal diam, aku menyentuh meremas apa saja darinya yang bisa kuraih. Dinda perlahan menurunkan bibirnya menuju leherku. Apa ini, aku baru merasakan jakunku dipermainkan seperti ini. Tapi sungguh ini membuatku cukup geli, karena Dinda memakai ujung lidahnya di sana.


Tentu saja ia lihai dalam hal ini. Untuknya hal seperti ini adalah kebutuhan biologis yang ia lakukan rutin bersama suaminya dulu.


"Adek merahin leher Abang?" tanyaku yang merasakan hisapan kecil dari mulutnya.


Dinda melepaskan bibirnya dan mengangkat kepalanya, untuk bisa melihat wajahku.


"He'em, kenapa? Tak boleh kah?" jawabnya kemudian.


Bagaimana ini? Bukannya tidak boleh, hanya saja pasti aku akan jadi ledekan semua orang yang melihat beberapa bekas cu*ang di leherku. Tentu saja mereka akan menyangka Dinda begitu buas ketimbang aku.


Tapi jika aku menolak, aku khawatir ia menyudahi kegiatannya.


"Boleh, apa lagi di tempat yang tak terlihat orang." sahutku dengan menarik tengkuk kepalanya dan menyesapi bibirnya yang memucat karena permainan mulut kami tadi.

__ADS_1


Dinda melepaskan pagutan bibirku dan mulai turun pada bagian dadaku. Bajuku sudah aku lepaskan sebelum aku menaiki tempat tidur tadi. Jadi Dinda langsung bisa menyerang pucuk dadaku yang seukuran dengan pucuk miliknya.


Aku paham sampai sini, Dinda selalu menggunakan giginya juga saat bermain di dadaku. Aku baru mengeri sekarang, ternyata pakai gigi lumayan bikin melayang juga.


Aku mendesis nikmat, saat tangannya mulai merogoh Adi's bird di dalam celana jeans pendekku. Memang rasanya begitu kebas, seperti mati rasa. Tapi aku bisa merasakan cukup nikmat di bagian yang tak terolesi barang itu. Di antara batang tengah Adi's bird, dan pucuk kepala Adi's bird.


Dinda sudah berhasil menurunkan celanaku, dengan mulutnya yang berada di sekitar pusarku. Sungguh, baru perempuan ini yang aku bebaskan bermain sesukanya atas tubuhku.


Dinda menaik turunkan tangannya begitu hebat, dengan lidahnya yang berada di bagian bijiku.


Aku merasakan geli yang amat sangat, saat lidahnya semakin turun menuju bagian paling bawa bijiku. Tapi aku yakin tidak sampai ke bagian pembuanganku.


"Akhhhhh, Dinda…" suaraku begitu berat terdengar. Bayangkan saja, batangku kebas. Tapi aku dirangsang sedemikian rupa.


"Cukup sayang, jangan bikin Abang melayang begitu tinggi." ucapku dengan menggapai kepalanya.


Namun ia malah menjulurkan lidahnya, menempel pada permukaan kulit yang berwarna seperti byson itu.


Ia membawa kepalanya ke atas, dengan lidah yang ia jejakan di garis lurus yang terdapat di bagian bawah Adi's bird.


Lalu perlahan ia memainkan bibirnya di kepala Adi's bird. Sungguh, Dinda pandai sekali membuatku tak tahan.


"Masukin ke mulut."


"Jangan kepalanya aja, Adek."


Ucapku berulang, namun Dinda masih memusatkan perhatiannya pada kepalanya saja.


"Akhhh" seruku yang tak tahan, karena ia malah merangsang bagian lubang kencingku.


Ya ampun, istriku. Sampai keringat membanjiri tubuhku, padahal aku belum melakukan aktifitas fisik yang berarti.


"Huuuuaaaaaa... Mamah…" tangis Givan yang sepertinya terkejut dengan seruan suaraku. Reflek aku langsung menarik selimutku, menutupi tubuh ibunya yang berada di tengah-tengah tubuhku ini.


Tanganku menggapai Givan, mengelus-elus punggung Givan. Karena Givan masih memejamkan matanya. Dan tak terdengar tangisnya lagi. Nafasnya pun sudah mulai teratur, bertanda ia sudah pulas kembali.


Namun ibunya rupanya sudah semakin gencar menaklukkan Adi's birdku.


Terlihat selimut yang menutupi kepalanya sudah kembang kempis. Bertanda ia sudah meng*ral Adi's bird dengan mulutnya. Hanya saja memang aku tak merasakannya. Hanya di tengah batangnya saja aku bisa merasakan hangatnya dan lincahnya Dinda bergerak.


Aku menarik tangan Dinda. Dan membawanya untuk berbaring sejajar dengan tubuhku.


Dan kini, giliranku yang memberi karma atas apa yang sudah ia lakukan pada Adi's birdku.


Segala kemampuanku aku kerahkan, berharap Dinda bisa menyerukan namaku seperti aku yang menyerukannya.

__ADS_1


Terdengar pekikan yang tertahan. Ok, sejauh mana ia menahan teriaknya.


"Akhhh, Abang…"


"Abang… Bang Adi, aku… aku."


"Akhhhhh… ouchhh…" serunya kemudian, berbarengan dengan banjir bandang yang melanda dua jariku yang berada di intinya.


Main-main dengan aku, kubuat kau kl*maks sekalian Dek. Ucapku dalam hati.


Aku ingin menyicipi rasa airnya. Tanpa ragu aku sesapi sisa-sisa yang masih terasa di intinya.


Ternyata seperti ini rasa m*ni perempuan. Terlihat Dinda memeras rambutku berulang kali.


"Apa sayang?" tanyaku dengan mengangkat kepalaku untuk bisa melihat wajahnya.


Dinda penuh keringat, dengan mata yang basah juga. Namun Dinda malah menarik leherku, dan mengajakku berciuman lagi.


"Apa nih? Tak enak!" ucapnya dengan melepaskan mulutku dan mengelap mulutnya.


"Air Adek. Ada banjir bandang tadi." sahutku dengan tersenyum lebar. Dinda terlihat merona karena malu.


"Maaf ya? Aku marah seharian ini." ungkapnya dengan menciumi pipiku. Baru saja di keluarkan, moodnya langsung membaik saja. Segala minta maaf pulak. Hmm, dasar wanita.


"Abang juga minta maaf." balasku dengan menyumbui lehernya.


"Kenapa memang, Bang?" tanya Dinda heran.


"Soalnya, Dinda bakal Abang buat meraung hebat malam ini." tuturku dengan mulai memancing nafsunya lagi.


Aku menyerangnya bertubi-tubi dari segala arah. Beberapa kali bulir bening menetes dari garis matanya. Sebegitu nikmatnya kah dia? Apa ia tak merelakan tubuhnya kujamah sedemikian rupa?


"Kenapa sayang? Kok nangis?" tanyaku dengan menyetarakan kepalaku dengan kepalanya. Dan menghapus sisa air matanya yang merembes lagi.


"Abang tanya pulak kenapa! Cepet masukin! Aku udah tak tahan." jawabnya dengan sewot.


"Ohh, tak tahan ya?" sahutku manggut-manggut.


"Cepetan! Mikirin apa lagi?" balasnya dengan tidak sabaran.


Aku tersenyum senang mendengarnya, dan mulai menempatkan posisiku agar tak membuatnya berat.


"Tatap mata Abang, sayang." ucapku dengan menatap netra yang serasa selalu mengawasiku di mana pun aku berada. Dan tanganku mengarahkan Adi's bird tepat di bibir bawahnya.


Dinda menatap mataku, dengan tangannya yang tengah mengelus-elus punggungku.

__ADS_1


TBC.


Kita tengok sehebat apa si Adi's bird. šŸ˜‰


__ADS_2