Sang Pemuda

Sang Pemuda
66


__ADS_3

Sampai minta tethering 😂 demi bisa up 😂


Bagi aku semangat dong 😁


Bagi LIKE, VOTEnya ya kak 🙏😅 bagi TIPnya juga boleh 😅


"Nanti dilanjutkan lagi obrolan mengenai hatinya. Sekarang makan dulu." ucap ibu Meutia menyadarkan dari kondisi yang tak dimengerti mereka.


"Bantu Abang kau makan, Dek. Tolong diambilkan buburnya. Sama air minumnya." pinta ibu Meutia menyuruh Adinda.


"Ya Umi." sahut Adinda dan mulai menyajikan makanan untuk Adi.


"Mamah, suapin aku." rengek Givan yang berada di dekat Adi. Lalu Adinda mengangguk.


"Boleh sambil main H*y D*y tak Mah?" ujar Givan meminta izin pada ibunya yang sedang menaruh air minum di nakas dekat ranjang Adi


"Nih Bang." ucap Adinda dengan menyerahkan makanan pada Adi. Adi mengulurkan tangan menerima makanan dari Adinda tanpa sepatah kata pun.


"Boleh, tapi jangan lama-lama main gamenya." jawab Adinda untuk anaknya. Lalu ia memulai sesi makan dengan sesekali tangannya menyuapi makanan ke mulut anaknya.


Adi makan dalam diam, ia memperhatikan gerakan Adinda yang berada di depannya. Ia masih memikirkan ucapan Adinda tadi. Sepertinya hatinya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Hatinya tergores dengan ucapan dari mulut Adinda. Mulut yang biasanya bisa menebar tawa untuk orang sekelilingnya terutama untuk Adi sendiri, ternyata bisa juga untuk menyakiti hati Adi.


~


Sore harinya Adi memaksa untuk mandi. Ia berniat menyucikan dirinya dari hadas besar yang ia lakukan tempo hari dengan Adinda. Ia ingin memperbaiki ibadahnya, dan meminta petunjuk untuk kesembuhannya dari Yang Maha Esa.

__ADS_1


Adinda dan Givan pamit pulang, karena sore ini ayahnya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Adinda pulang dengan keadaan Adi yang masih terlihat marah padanya. Adi pun tak bisa melarang Adinda pulang.


Ia paham ia tak memiliki hak untuk meminta Adinda selalu di sisinya. Karena ternyata Adinda menilai Adi dari sisi yang lain. Dari sudut pandangnya yang entah ia dapat dari mana. Dengan demikian, perlahan luntur seketika rasa kepercayaan diri Adi pada Adinda. Karena Adinda-nya jelas tak menginginkannya.


"Hei, jangan ngelamun aja." ucap ibu Meutia menepuk bahu Adi.


"Jefri sama Edi udah pada balik, Umi? tanya Adi dengan menoleh pada ibunya.


"Udah. Lebih baik kau tidur, macam Zulfa sama Ayah. Dari pada bengong begini." ujar ibu Meutia memperhatikan wajah Adi yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Tadi Dek Dinda bilang, lepas dia jemput bapaknya di rumah sakit. Nanti dia usahain ke sini lagi." lanjut ibu Meutia berujar.


"Ya udah biarin aja." sahut Adi menundukkan kepalanya.


"Kenapa sih Bang? Masih mikirin yang tadi?" balas ibu Meutia, berharap anaknya buka suara dan menceritakan isi hatinya padanya.


"Terus gimana yang sebenernya?" sahut ibu Meutia menyimak penjelasan Adi.


"Abang ingin rumah tangga Abang nanti tanpa dihiasi perceraian. Abang tak mungkin buang istri Abang lepas ia kasih keturunan untuk Abang. Abang paham, wanita jadi seperti itu karena berkorban untuk bisa melahirkan keturunan Abang. Abang tak pernah menganggap perempuan itu baju, yang udah berlubang lalu Abang buang. Tapi Dinda sampai hati nilai Abang macam itu." ungkap Adi dengan suara menurun. Lalu ia merebahkan tubuhnya dengan kepala berbantal pada pangkuan ibunya.


"Ya Abang buktikan sendiri pada Dinda, kalau Abang tak begitu. Abang nikahin Dek Dinda. Terus buktikan Abang tak seperti apa yang dia katakan." balas ibu Meutia memberikan pendapatnya.


"Abang ragu. Apa lagi dia janda pisah. Bukan janda mati. Ditambah dia bilang letak kesalahannya ada padanya, makanya ia bisa ditinggalkan suaminya." ujar Adi kemudian.


"Terus Abang percaya? Menurut Umi, kalau istri itu tergantung bagaimana suaminya." tutut ibu Meutia.

__ADS_1


"Banyak yang bikin Abang percaya ucapannya itu. Karena Abang tau sendiri, sisi lain dari Dinda jika sedang tak bersama anaknya. Laki-laki juga punya batas toleransi, Umi. Jika memang wanitanya susah untuk ia luruskan, lalu mau bagaimana lagi." sahut Adi dengan melihat wajah ibunya dari bawah.


"Seburuk-buruknya wanita pasti ada sisi baiknya. Jadikan sisi baik wanita itu buat jadi pertimbangan kau. Umi mau cerita sedikit nih Bang. Ada adzan berkumandang, suaminya teriak-teriak nyuruh istrinya buat shalat. Tapi suami tersebut masih anteng mantengin tivi aja, ia tak shalat seperti apa yang ia perintahkan pada istrinya. Yakin istrinya bakal nurut perintah suaminya itu? Ada dua kemungkinan. Istrinya nurut tapi menggerutu. Dan kemungkinan kedua istrinya membantah perintah suaminya, karena suaminya tak melakukan shalat seperti apa yang ia perintahkan tadi pada istrinya. Jadi kelakuan baik buruknya istri, bisa dibilang dari bagaimana suaminya membimbingnya." balas ibu Meutia dengan jelas.


"Ada kan pribahasa. Wanita tidak pernah salah, jika wanita salah. Maka laki-lakinya adalah penyebabnya. Coba aja diulik letak kesalahan perempuan, pasti ujung-ujungnya karena laki-lakinya. Istri jelek, kucel, burik. Bukan karena dia tak bisa merawat tubuhnya. Tapi suaminya yang tak mampu bayar perawatan istrinya, bisa jadi juga karena ia tak mau menjaga anak-anaknya sementara istrinya menghias tubuhnya." ungkap ibu Meutia secara gamblang. Adi merasa ada seseorang yang pernah mengatakan demikian. Tapi siapa ya, sepertinya memang ada yang menceritakan tentang hal demikian.


"Kalau memang Abang masih ragu pada Dek Dinda, coba Abang tanyakan langsung padanya. Umi paham tak semua laki-laki tak bisa menerima masa lalu wanitanya. Jika Abang tak berniat untuk meminang Dinda. Lebih baik bersikap sewajarnya teman, jangan berikan harapan palsu padanya. Dan beri juga pengertian pada Dek Dinda. Tapi jika Abang berniat sebaliknya, kasih kejelasan pada Dinda. Minta ia menunggu Abang agar bisa menerima semua kenyataannya." lanjut ibu Meutia menasehati anaknya.


"Kenapa Abang harus kasih pengertian dan kejelasan?" tanya Adi bingung.


"Ya kasian dong Dek Dindanya kalau Abang gantungin gini. Dia juga berhak bahagia, meski tak bareng Abang. Dia juga butuh kepastian, kalau memang Abang tak punya niatan baik dengannya. Kan lebih baik Abang bilang, biar Dek Dinda cari pengganti Abang. Kalau Abang sebaliknya, ya mesti bilang juga. Biar dek Dinda mengerti, Abang punya niatan baik tapi masih butuh waktu untuk mewujudkannya bareng dia." jawab ibu Meutia jelas.


"Tak tau Umi. Abang bingung." sahut Adi tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.


"Mentok karena dia janda lagi? Jangan menyinggung status, Umi pun pernah jadi janda." balas ibu Meutia kemudian.


"Kalau Umi kan janda mati, bukan janda pisah. Jelas beda lah umi. Sebetulnya Abang tak paham sama perasaan Abang sendiri, Umi. Ditambah lagi sepertinya Dinda tak menginginkan Abang." ucap Adi dengan memeluk bantal guling.


"Tapi Umi tengok, Dek Dinda pandangannya lain kalau ke Abang." Ibu Meutia menimpali.


"Lain gimana, Umi?" Adi bertanya balik.


"Pokoknya lain cara dia mandang ke Abang. Tak sama macam dia mandang ke Jefri dan Haris." jawab ibu Meutia.


"Menurut Umi, kira-kira Dinda nyimpen rasa tak ke Abang?" sahut Adi kemudian.

__ADS_1


TBC.


Terimong Geunaseh 🙏


__ADS_2