Sang Pemuda

Sang Pemuda
21


__ADS_3

AUTHOR POV


Hari berganti hari seperti biasa. Adinda sudah terbiasa dengan udara yang sedikit sejuk di kampung halaman Adi. Memang pada awalnya Adinda sempat mengalami flu dan menggigil karena kaget dengan suhu yang cukup dingin itu. Adinda juga sudah bisa meng-handle sendiri pekerjaannya tanpa di bantu oleh Safar, ia sudah paham dengan tugas-tugasnya. Adinda juga menempati rumah Adi seorang diri. Kak Ayu, sepupu Adi yang merupakan anak dari kakak ayah kandungnya hanya membersihkan rumah Adi dan pulang kembali setelah selesai.


Adinda berencana memboyong Givan untuk ikut bersamanya. Tapi dia belum menemukan waktu yang pas untuk menjemput Givan. Adinda tidak tega menitipkan anaknya pada orangtuanya yang sudah tidak muda lagi tersebut.


Adinda merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya bernama Afandi, ia berumur 35 tahun sudah memiliki keluarga sendiri, dan sudah memiliki anak yang berusia 10tahun. A Afan , begitulah Adinda memanggilnya, ia sekarang tinggal di kota I. Ikut bersama istrinya yang merupakan asli penduduk kota I. Dan kakak keduanya bernama Imam Arif, kakak laki-lakinya yang terlihat acuh padanya itu berumur 29 tahun, a Arif tinggal tidak jauh dari orangtuanya. Dia pun sudah menikah dengan kekasih hatinya yang berasal dari provinsi KS. A Arif baru di karuniai seorang anak yang berusia tiga bulan. Orangtuanya sedikit menentang pilihan hatinya karena mereka tidak mau memiliki menantu penduduk pulau sebrang, dengan alasan takut anaknya ikut istrinya dan lupa pada orangtuanya. Dan mereka pun menemukan jalan tengahnya dengan memboyong istri a Arif untuk tinggal di kota C.


Ya benar, Adinda menikah mendahului a Arif. Ia memilih menikah muda, tapi ternyata malah membuatnya menjadi janda di usia muda. Adinda tidak menghendaki ini semua, tapi begitu banyak cobaan dalam rumah tangganya. Dan suaminya memilih berpisah dari pada mempertahankan pernikahannya yang baru di jalaninya kurang lebih 5 tahun itu.


Siang ini Adinda mendapat telpon dari Adi, ia mendapat kabar pernikahan Edi yang akan di langsungkan minggu depan di kediaman keluarga Adi di Ibukota J. Adinda tersenyum lebar, ada kesempatan untuk menjemput Givan juga pikirnya.

__ADS_1


ADI POV


Aku terkejut bukan main, saat sampai di rumah umi ku di kota J. Disini begitu banyak orang yang sedang sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aku mengucapkan salam, dan langsung menciumi pipi umi ku yang sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Kenapa abang tak kabari umi dulu?" tanya umi ku mengamati diriku yang hanya memakai celana jeans panjang dari Adinda dan kaos putih berukuran s yang terasa sedikit gantung di bagian lengan ku. Dan di padukan dengan jaket abu-abu milik ku. Dinda tidak tau ukuran bajuku atau bagaimana. Tapi celana ku begitu pas ku kenakan. Atau mungkin waktu dia membeli kaos ini, yang diskon hanya untuk ukuran s saja.


"Abang khawatir sama umi. Mau dari kemarin hari kesini, tapi baru sempatnya sekarang karena abang punya tanggung jawab di kedai." terang ku menatap umi ku yang sudah memiliki beberapa kerutan di wajahnya.


"Tak apa umi. Abang maklumi kok." sahutku kemudian dan kami mengobrol ringan tentang kehidupan baru ku di kota C. Aku menceritakan tentang bertemu kembali dengan Haris dan Jefri. Sedikit banyak tentang Dinda aku ceritakan pada umi dan ku beri sedikit sensor. Aku tak mau umi ku tau anaknya sebodoh itu.


Aku putuskan untuk menginap satu malam di sini. Aku sudah menghubungi Dinda, Haris dan Jefri untuk datang di pernikahan Edi. Aku menganggap mereka sudah seperti kerabat sekarang, karena mereka orang yang paling welcome dengan diriku di kota C.

__ADS_1


Aku tengah mengobrol dengan ayah masalah gaji dek Dinda. Waktu Edi yang mengawasi ladang ku, aku hanya membagi sedikit dari hasil kebun ku saja. Karena dia masih adik ku sendiri, aku tak terlalu perhitungan dengan keluarga ku sendiri. Dan sekarang yang mengawasinya adalah Dinda, tentu saja kalau masalah uang kami menganggap tidak kenal siapa dirinya. Alias profesional kita harus membayarnya, karena orang tersebut memiliki beban hidup yang harus di tanggungnya juga.


Aku sudah menyambungkan telpon dengan Dinda untuk membahas masalah ini dengan ku juga ayah. Dinda sedikit gila atau bagaimana. Awal dia di gaji ayah hanya sekitar 7 juta. Begitu dia paham, aku yang akan menggajinya dia meminta minimal 15 juta saja. Ayah tertawa terbahak mendengar ucapan Dinda dengan ekspresi ku yang kaget bercampur kesal. Saat ku katai dirinya matre, dia berdalih bahwa dirinya ini realistis. Dia menyebutkan beberapa perawatan kulit, rambut dan giginya yang total kira-kira 21 juta tiap bulannya. Belum makan dan jajan Givan katanya. Aku ini bosnya, kenapa dia meminta uang yang bersifat uang bulanan itu padaku yang jelas-jelas bukan suaminya apalagi ayah dari anaknya.


Aku terus beradu argumen dengan Dinda lewat telepon. Ayah berlalu pergi meninggalkan ku yang katanya berisik sendiri ini. Menurut ayah tinggal turuti saja dan kelar masalah ladang ku. Aku akan tetap bebas kesana kemari tanpa harus memikirkan nasib ladang ku. Tapi aku tidak terima harus mengeluarkan uang lumayan banyak hanya untuk menggaji satu orang macam Dinda saja.


Adinda menyebutkan beberapa kesibukannya dan jam kerjanya yang tidak teratur itu. Dia begitu lancar berbicara dengan cepat. Aku menyerah, aku mengiyakan permintaannya yang meminta gaji 15 juta belum termasuk bonus katanya. Mau bagaimana lagi, Adinda cukup bisa di percaya, kinerjanya juga cukup handal. Dan lebih-lebih sekarang dia meminta buruh yang sudah renta tidak usah di pekerjakan karena menurutnya sudah tidak produktif lagi. Aku jadi memikirkan nasib buruh renta yang di sana. Nanti aku coba ikut Dinda, untuk melihat sendiri keadaan disana setelah selesai acara pernikahan Edi di kediaman keluarga ku di ibukota J ini. Aku jadi ragu, apa Dinda bisa mempertahankan ladang ku tetap stabil atau malah membuat ku rugi besar. Kenapa yang berkaitan dengannya selalu membuat kepalaku berdenyut sakit.


Ku putuskan untuk meminta obat pereda sakit kepala ku yang menyerang mendadak ini kepada asisten rumah tangga di sini. Setelah aku mendapatkannya, aku berjalan menuju kamar yang di sediakan untuk ku disini. Sampai di tangga aku berpapasan dengan Edi yang hendak turun. Rupanya keluar juga dia dari persembunyiannya. Aku memintanya ikut dengan ku untuk berbicara di balkon rumah. Sungguh aku geram sekali dengannya. Ceroboh atau bagaimana, banyak pertanyaan yang ingin ku hujamkan padanya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2