Sang Pemuda

Sang Pemuda
31


__ADS_3

"Abang tadi udah janji bakal nikahin aku." ucap Devi dengan menatapku lemah. Aku tak habis pikir dengannya.


"Udah aja Dev. Lebih baik hubungan kita gak usah di lanjut." putusku langsung. Dia bukan istriku yang haram kuceraikan setelah berhubungan badan. Dia hanya perempuan yang mencoba menipuku dengan caranya sendiri


Harusnya saat ku lihat l*bianya sedikit terbuka, kutanyakan lagi yang sebenarnya pada Devi. Tapi sekarang sudah terlanjur. Aku sudah terkontaminasi dengan bekas orang lain juga.


Devi tengah menahan tangisnya. Terlihat dari wajahnya yang memerah dan bibir yang sedikit bergetar.


Aku kalut memikirkan diriku sendiri. Aku takut tertular penyakit kelamin dari pasangan Devi yang sebelumnya. Lepas dari sini, aku berencana akan melakukan beberapa tes kesehatan. Pikiran buruk menyelubungi ku.


Cukup lama aku membiarkan Devi yang menangis pelan. Aku tak menenangkannya dan aku tidak berniat bertanya berapa laki-laki yang sudah memasukinya. Menurut ku apapun urusan tentangnya sudah tidak penting lagi.


Aku menanyakan lewat pesan chat pada Jefri, di mana tempat tes yang rencananya akan ku jalani itu. Jefri mengirimkan alamatnya, dia menyebutkan juga bahwa sekarang sudah tutup. Aku bisa melakukan serangkaian tes esok pagi pukul delapan.


Devi sudah tertidur karena lelah menangis pikirku. Aku tidak setega itu, aku tak akan membiarkan Devi pulang sendiri.


Pakaian yang tadi di keringkan oleh petugas penginapan sudah berada di tanganku lagi. Aku masuk ke kamar mandi dan memakai pakaianku kembali.


Aku membangunkan Devi dan memintanya bersiap untuk pulang.


Sepanjang perjalanan kami hanya diam, tidak ada niat untuk memulai obrolan.


Dan seperti biasa, aku menurunkannya di depan pagar rumahnya saja.


"Maaf ya Dev. Kamu masih bisa menghubungi ku dan menemuiku sebagai teman." ucapku saat Devi turun dari motorku. Devi tersenyum sekilas dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Aku meminta maaf padanya agar Devi tidak memiliki rasa dendam padaku. Harusnya dia juga paham, aku kecewa akan sikapnya yang tidak jujur itu.


Flashback Off.


"BANG ADIIIII." teriak Dinda dengan membuka pintu kamarku. Dia muncul dengan senyum kudanya.


"Astagfirullah Dek, lepas jantung Abang." seruku terkejut bukan main dengan kelakuannya. Aku mengelus dadaku, berharap rasa lonjakan yang datang tiba-tiba ke jantungku berangsur normal.


Aku duduk di tepian tempat tidur, dan Dinda langsung duduk di pangkuanku dengan tangannya yang melingkar di leherku. Untung dia tidak duduk mengangkangiku. Tapi tetap saja aku merasa terbebani. Aku bisa dengan jelas mencium aroma tubuhnya.


"BANG ADIII!" teriak Dinda tepat di depan wajahku dengan menarik salah satu telingaku.

__ADS_1


"Ya ampun Dek." sahutku mengelus telingaku yang hampir ia buat putus, "Ada apa Adindaku sayang? Jangan bertingkah absurd begini Dek! Abang ini laki-laki normal! Tolonglah mengerti Abang!" seruku kemudian dengan menatap matanya.


"Diajak ngomong diem aja, kesel betul aku! Lagian kan Abang tak mungkin juga ngapa-ngapain aku." balas Dinda ringan dengan semakin menempatkan badannya.


"Lepasin Abang, Dek! Risih kali ini Dek." tuturku mencoba melepaskan diri. Sebenarnya aku takut tidak bisa mengendalikan diriku. Mana tadi hasratku belum tuntas. Ditambah amarahku yang belum reda. Aku takut memaksanya dengan kasar.


"Asal temenin aku makan buntut beureum ok." tukas Dinda memberikan penawaran aneh. Apa itu buntut beureum. Aku baru mendengarnya.


"Apa tuh Dek?" tanyaku dengan Dinda masih setia duduk di atas pangkuanku.


"Ayo ikut aja pokoknya." ajaknya turun dari pangkuanku dan langsung menarik tanganku.


"Sebentar loh Dek, masa iya Abang pakai sarung begini." ucapku melepaskan tarikan tangannya.


Adinda tertawa dengan menutup mulutnya. Aku berdiri hendak memilih pakaianku. Tapi saat aku baru berada di depan lemari bajuku, aku merasa ada yang menarik-narik sarungku.


"Heh, kau ngapain pula narik-narik sarung Abang." tuturku menepis tangannya yang tak berhenti menarik sarungku.


"Aku mau melorotin, tapi tak bisa-bisa. Coba Abang bantu aku." ucap Dinda dengan wajah serius. Entah mengapa aku malah tertawa dibuatnya. Amarahku luntur seketika dengan tingkah ajaibnya.


"Ya kau ada-ada saja. Udah sana kau keluar dulu! Abang mau ganti pakaian dulu ini Dek." pintaku padanya.


"Hmm, padahal aku mau buat Abang kesal. Malah gagal pula." ucapnya berbalik dan berlalu pergi. Hm, aku jadi tau. Ternyata hobby Dinda ternyata membuatku kesal. Mungkin dia merasa puas jika sudah membuat orang kesal padanya.


Aku sudah selesai bersiap lalu aku berbicara pada Zulfa. Kunci rumah ku serahkan satu padanya dan satu untuk kubawa. Aku mengunci pintu dari luar karena Zulfa tengah sibuk dengan onlinenannya.


Dinda memaksa untuk memakai mobil saja. Dia merasa tidak nyaman duduk di atas motorku.


"Dek, padahal cewek-cewek pada pengen punya laki-laki yang motornya motor laki macam Abang punya ini." ujarku membuka obrolan sesaat setelah berada di dalam mobil.


"Ya tengok aja sendiri. Abang dapetnya cewek yang macam apa kalau cuma modal motor laki aja." balas Dinda dengan mencari sesuatu di dalam tote bagnya.


"Jadi laki-laki kau punya apa? Sombong betul kau!" seruku sesekali mengamatinya.


"Laki-lakiku cuma punya barang besar nan panjang aja dah cukup Bang. Biar nanti biaya hidup dan biaya rumah tangga aku yang tanggung, asal janji cuma aku perempuan yang ia peluk erat-erat." jawabnya seolah bersungguh-sungguh dengan mengepalkan tangannya. Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapannya dan ekspresi wajahnya. Kenapa ada saja tingkah tak terduga dari Dinda.

__ADS_1


"Aku tersinggung, Abang ketawa terus tiap kali aku ngomong." ungkapnya kemudian.


"Ya kau kalau ngomong dipikir dulu lah Dek. Yang sekiranya jangan buat Abang geli dengarnya." ucapku dengan menepuk pahanya yang berada dalam jangkauanku.


"Diam kau! Jangan pegang-pegang aku! Aku ini barang mahal!" ungkapnya dengan menepis tanganku yang berada di atas pahanya.


"Abang jadi merasa macam laki-laki murahan Dek, kalau ingat seenak jidatnya kau pegang-pegang Abang dari berbagai arah." tuturku dengan pandangan lurus ke depan. Dinda memukul pelan lenganku dengan terkekeh pelan. Ini menurutku tidak adil, setidaknya bolehlah sedikit saja aku menyentuhnya.


Lima belas menit kemudian, kami telah sampai di rumah makan Sunda. Hmm, jadi buntut beureum itu makanan khas Sunda pikirku.


Dinda menggandeng tanganku mengajak untuk masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk kami berdua. Dibagian depan rumah makan terdiri beberapa kursi dan meja berbahan kayu. Lalu Dinda menarikku ke lorong yang berada di belakang jejeran kursi itu, dan nampaklah beberapa pondok kecil beratap daun kelapa dan jerami dengan lampu sedikit redup yang menyala. Ini seperti jambo menurutku, entah apa sebutan untuk daerah sini.


"Dek, ini namanya apa?" tanyaku pada Dinda sambil menengok kiri kanan untuk mencari jambo yang tidak ada orangnya.


"Ini namanya gubug derita, enak ya bang buat tempat mesum. Mana suasananya mendukung lagi." ucapnya dengan terkekeh geli. Lihat dirinya sendiri pun merasa geli akan ucapnya. Apalagi orang yang di sekitarnya.


"Yang betul namanya gubug derita Dek?" tanyaku memastikan.


"Ya bukan itu juga Bang namanya!" sahutnya tertawa kecil. Aku tidak tahu, makanya aku bertanya. Lalu salahku dimana?


"Terus apa namanya? Kenapa sih kau senang kali bikin Abang kesal." balasku mulai geram karena Dinda tidak segera memberitahuku.


"Namanya saung! Macam di tengah sawah itu loh Bang. Buat neduhnya petani dan jadi tempat mesumnya anak muda." jawabnya dan memilih saung yang terdapat kolam ikannya di bawahnya.


"Jangan foto-foto ok. Aku tak mau kenikmatan makanku diganggu dengan Abang yang sibuk berfoto!" tutur Dinda memberiku peringatan. Lagi pula di sini tidak cukup terang untuk berfoto.


Tak lama makanan yang sebelumnya telah Dinda pesan sudah datang. Menurutku buntut beureum ini mirip dengan sie masak mirah di daerahku. Hanya saja buntut beureum menggunakan buntut sapi dan rasa asam yang lumayan kuat. Sedangkan sie masak mirah terasa begitu banyak rempah yang begitu meresap. Selebihnya mungkin sama saja, didominasi dengan rasa pedas.


Aku dan Dinda sedang fokus pada makanan masing-masing. Sampai kami terganggu dengan interupsi dari sesorang, "Siapa lagi itu Din?" suaranya yang terdengar dingin dan penuh emosi.


Dinda terlihat terkejut namun cepat ia memasang ekspresi wajah santai, "Loh, kok ada di sini? Bukannya tadi bilang masih di kota B." ucap Dinda dengan tersenyum. Jadi siapa laki-laki berbadan tegap dan berkulit kuning langsat ini? Apakah dia salah satu laki-laki yang dianggapnya sebagai Abang juga.


TBC.


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.

__ADS_1


Terimakasih 🥰


__ADS_2