
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😉
happy reading 😍
"Kau kira aku semurah itu?" ucap Adinda setelah paham dengan situasi ini.
"Terus siapa itu?" sahut Adi dengan memperhatikan wajah sewot Adinda yang tidak terima dengan tuduhan darinya.
"Itu kakak aku. Dia punya acara aqiqahan anaknya. Jadi aku nginap di sana." jelas Adinda jujur. Adi menaikkan alisnya, ia merasa tak yakin dengan jawaban Adinda.
"Coba jelaskan struktur keluarga kau? Dan kau berapa bersaudara?" ujar Adi kemudian.
"Apa sih kau? Kau ganggu betul! Tak bisa kah jangan banyak tanya? Kasih aku waktu sikit, untuk bisa menyalurkan rasa rinduku yang terhalang emak kau!" ungkap Adinda terdengar seolah sedang melakon.
"Mau di salurin gimana? Abang udah tak kuat untuk di atas kau." sahut Adi jujur. Ia merasa sudah tak perlu ditutup-tutupi lagi kenyataan yang sebenarnya sekarang.
"Kan bisa WOT, atau posisi sendok." balas Adinda dengan tersenyum menggoda.
"Udah diamlah kau! Abang makin merasa tak berdaya dengan kau ngomong macam ini." ujar Adi dengan menatap tajam Adinda.
Lalu Adinda tersenyum, dan mengeratkan pelukannya. Kepalanya semakin ia selipkan di antara ceruk leher Adi. Ia menyesapi bau khas Adi yang ia rindukan.
"Sebetulnya kau gimana ke Abang?" Adi membuka suaranya lagi.
"Abang gimana ke aku?" Adinda bertanya balik.
"Kenapa tak kau jawab aja? Kenapa mesti tanya balik begitu? Abang butuh ungkapan dari kau" ucap Adi yang teramat ingin mendengar ucapan cinta dari Adinda.
"Aku tergantung kau." sahut Adinda cepat.
"Tinggal jawab aja coba Dek!" balas Adi terdengar tak suka dengan jawaban Adinda.
"Aku gengsi lah Bang. Lebih-lebih kau tak doyan spesies macam aku. Aku tau diri lah. Kau tak mau ya udah, aku tak maksa. Lagian kan laki-laki bukan cuma kau aja! Banyak pemuda-pemuda di luar sana yang doyan barang aku." ungkap Adinda yang begitu menusuk. Adi paham sekarang, ternyata betul yang dikatakan Jefri waktu itu.
"Kasar betul kau cakap!" tutur Adi dengan membingkai wajah Adinda.
"Kau mau tak Abang nikahin?" lanjut Adi kemudian.
__ADS_1
"Atas dasar apa kau mau nikahin aku?" ucap Adinda dengan beraninya menatap mata Adi yang begitu dekat.
"Karena Abang cinta sama kaulah! Memang apa lagi?" jawab Adi mantap.
"Aku pun butuh ungkapan cinta kau. Kau aja memang yang hana utak! Tiba-tiba kau gurauin aku, kau bilang kau calon suamiku. Tak jelas kali kau! Lebih-lebih kau langsung minta aku berjuang bareng kau!" tukas Adinda yang membuat Adi sadar. Ia melupakan hal penting itu.
Adi tertawa renyah dan memeluk Adinda semakin erat. Ia merasa sangat bodoh di depan wanita yang dicintainya. Lebih-lebih ia dimaki Adinda yang menyebutnya hana utak. Yang berarti tak ada otak.
"Kalau ungkapin perasaan itu yang romantis. Ajak diner di hotel mewah, terus…." ujar Adinda terpotong dengan ucapan Adi.
"Terus ditiduri gitu?" pangkas Adi yang membuat mereka tertawa bersama.
"Mesum betul kau! Sana jauh-jauh lah!" tutur Adinda melepaskan pelukan Adi.
"Memang kau tak mesum? Yang punya inisiatif gaya WOT dan gaya sendok tadi siapa?" sahut Adi yang membuat tawa Adinda pecah.
"Ya kau tadi bilangnya tak berdaya." balas Adinda setelah selesai tertawa.
"Nyatanya Abang memang udah tak mampu." ungkap Adi jujur yang membuat Adinda menoleh cepat pada Adi.
"Terus kenapa kau ngajakin nikah?" tanya Adinda dengan memperhatikan wajah Adi dengan seksama.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dengan Haris yang langsung memperhatikan mereka berdua yang berada di atas kasur.
"Dilarang zina dalam bentuk apapun!" ucapnya memperingati mereka berdua.
"Tenang aja." sahut Adi berbalik arah untuk bisa melihat Haris yang berada di ambang pintu.
"Ngobrolnya jangan di kamar. Sini keluar, tenang tenang tenang. Kalian berdua mana bisa dipercaya." ujar Haris kemudian. Lalu ia menutup pintunya, dan berlalu pergi.
"Yuk." ajak Adi setelah bangun dari posisinya. Ia mengulurkan tangannya untuk mengajak Adinda keluar dari kamar.
"Kenapa sih mesti keluar? Yang di luar aja pada cari kamar." ucap Adinda yang membuat Adi terkekeh geli. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Adinda.
Lalu dengan malas Adinda bangun dari tempat tidur dan menyambut uluran tangan Adi.
"Jadi gimana? Udah diungkapin tadi." ucap Adi dengan berjalan mendahului Adinda.
__ADS_1
"Memang maunya gimana? Udah tua begitu yakin masih mau pacaran?" sahut Adinda yang mengikuti langkah kaki Adi.
"Ungkapin balik tak apa. Mana tau nanti bisa langsung nikah. Pacaran terus Abang udah khatam. Pengen nikah terus punya anak aja. Tapi kalau nikah, Abang khawatir kau cepat jadi janda kalau Abang masih sakit begini." ujar Adi yang mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga. Di depan kamar tamu tersebut.
Adinda pun ikut mendudukkan dirinya di samping Adi, "Kenapa aku jadi janda lagi?" tanya Adinda bingung.
"Karena Abang tak yakin kuat dengan sakit macam ini. Ok, Abang akui. Sekarang Abang lebih punya semangat. Semangat untuk bisa lanjutin hidup. Semangat pengen cepet sembuh, terus bisa nikah sama kau. Punya keturunan sama kau, Dek." ungkapnya, "Tapi Abang ragu, Abang tak yakin bisa sembuh macam sedia kala lagi." lanjutnya dengan menaruh tangannya pada bahu Adinda.
"Udah bosan kah main-mainnya?" tanya Adinda dengan menoleh pada Adi.
"Yang jelas, Abang tak mau mainin kau." jawabnya dengan menatap mata Adinda.
"Kenapa me….." ucapan Adinda terpangkas dengan seruan dari Jefri.
"Deeekkkkkk…. cepat naik! Ada emak yang nyariin anaknya. Givan juga ajak ke atas." seruan Jefri yang berlari kecil.
"Aduhhhh, ganggu aja! Tak tau kah ada yang lagi kasmaran." ujar Haris yang muncul dari pintu belakang rumahnya. Jefri dan Haris terkekeh kecil. Berbeda dengan Adi yang langsung menuju ke ruang depan. Dan Adinda yang menuju tempat bermain anak-anak, untuk mengajak Givan ke lantai atas.
Jefri dan Haris mengikuti langkah kaki Adi. Mereka semua bertegur sapa dengan ibu Meutia dan Edo. Lalu mereka berbincang ringan dengan di selingi gurauan untuk mencairkan suasana.
"Sebenarnya Umi khawatir. Takut Adi kenapa-kenapa. Mana dia maksa kali mau pergi. Coba mana Kinashanya. Coba bawa ke sini, Di! Kau bela-belain pergi, padahal baru balik dari rumah sakit pagi tadi." ucap ibu Meutia yang membuat Haris dan Jefri menoleh serentak ke arah Adi.
Adi tersenyum lebar pada mereka, dan berlalu pergi menuju ruang bermain anak-anak. Untuk mengajak Kinasha.
Terlihat Kinasha yang ogah-ogahan saat digendong oleh Adi. Ia merasa asing dengan pemuda yang satu ini. Saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu pun Kinasha merengek terus. Menolak untuk dekat-dekat dengan Adi.
"Loh, Kin. Ini Papah Adi, kok macam tak kenal gitu." ujar ibu Meutia saat Kinasha berjalan merambat menuju ke abinya.
"Kin memang begitu kalau lama tak jumpa." sahut Haris yang bingung dengan keadaan ini. Tapi ia menangkap sinyal bahwa anaknya tengah dijadikan alasan Adi untuk bisa keluar dari rumah.
"Maaaaaa….maaaaaaa..emmmmmm..mmmhhaaa..." celoteh Kinasha tak jelas. Ia turun dari pangkuan Haris. Dan merangkak cepat, menuju ruang sebelah. Sepertinya ia melihat seseorang yang ia kenal dari tembok kayu yang berlubang seperti di rumah Adinda, hanya saja milik Haris lubangnya lebih kecil.
"Lagi ada mamahnya ya, Kin." ucap ibu Meutia dengan menghampiri Kinasha yang masuk ke ruangan yang menghubungkan antara ruang bermain dan ruang keluarga.
Namun ibu Meutia terkejut dengan kaki seorang perempuan yang dipeluk oleh Kinasha. Terlihat perempuan itu tersenyum kaku dengan tangan yang memegang gelas berisi susu.
"Kau………..
__ADS_1
TBC.