
ADI POV
"Dek, kenapa hei?" tanyaku dengan mencekal tangannya.
"Aku berantem sama Givan. Dia tak mau dekat aku!" jawab Dinda lirih. Ya ampun, masalah dengan anaknya saja sampai membuatnya seperti ini.
"Kau juga gila apa bagaimana, hah? Kau gigit aku tak tau kira. Menancap gigi kau di leherku." ucap Dinda dengan menyibakkan hijabnya. Oh kasian sekali Dinda. Dasar pejantan, sampai hati aku buatnya macam ini.
"Maaf Dek." ucapku dengan menunjukan senyum manisku.
"Tau ah, kesal kali aku." balas Dinda menghempaskan tanganku dan masuk ke kamarnya. Aku melihat sekeliling, aman. Lalu aku pun masuk dalam kamar Dinda juga. Anaknya juga tak akan tidur di bersamanya, jadi aman.
"Kenapa kau malah masuk?" tutur Dinda melihatku menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
"Mau lanjutin yang tadi." jawabku sambil mendekatinya. Tapi Dinda malah menuju ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di sana. Gila memang dia, tak ada takutnya.
Aku mendekatinya dan merebahkan diriku di sampingnya lalu memeluknya. Aku tak tau aku kenapa, tapi aku selalu ingin mendekatinya. Tubuhku bergerak berlawanan dengan pikiranku. Sejujurnya aku ingin menjaga jarak dengan Dinda. Tapi yang ada aku malah semakin berusaha selalu dekat dengannya.
"Dengan aku begini. Bukan berarti aku mau kau apa-apakan Bang! Aku sadar waktu di rumahku, itu kesalahanku. Mungkin aku udah keterlaluan bercandain Abang." ucapnya membalas pelukanku. Ternyata Dinda waktu itu meresponku hanya karena dia merasa bersalah sudah membuatku demikian. Aku kira dia tertarik dan terbawa arus permainanku.
"Dek." panggilku lirih. Dinda hanya berdehem dan menatap mataku.
"Kau anggap Abang bayang-bayang mantan suami kau kah?" tanyaku serius dengan membalas tatapan matanya.
"Tak juga." jawab Dinda singkat.
"Terus kenapa? Kau tertarik dengan Abang?" sahutku berharap mendapat jawaban darinya. Pikiranku buntu karenanya. Aku tak paham dengan diriku sendiri.
"Ini Abang tengah serius kah?" tanya Dinda polos. Bertanya pula dia, jelas-jelas aku serius. Aku mengangguk, aku tak mau mengacaukan suasana yang sudah kondusif ini.
Dinda nampak sedang berpikir, "Biar aku jelaskan di sini Bang. Setelah ini aku mohon tetaplah seperti biasa, seperti Bang Adi yang aku kenal." ucap Dinda dan menjeda ucapannya, aku mengangguk menyetujui keinginannya yang mengharapkan aku tidak akan berubah padanya.
"Mungkin rasa tertarik itu ada, Bang. Tapi aku tak ingin menikah lagi, apa lagi setelah aku tau pasti Givan pun tak menginginkannya. Aku beberapa kali tertarik dengan laki-laki di luar sana, tapi aku pula yang mengakhiri hubunganku sendiri. Dan aku tak mau Abang, Bang Haris, Bang Jefri memiliki perasaan denganku. Aku tak mau aku membuang kalian gitu aja. Kalian Abangku, yang semoga selalu ada untukku dan Givan." ungkap Dinda dengan setetes air mata meluncur tanpa izin.
Aku memeluknya lebih erat, "Kenapa, hm? Masih begitu berharap kah dengan Papah Givan?" pertanyaan yang lolos dari mulutku.
"Aku tak mengharapkannya lagi Bang. Sekarang aku udah bisa cari uang sendiri, besarkan anak sendiri. Untuk peran ayah, Givan bisa dapatkan dari kalian bertiga. Aku tak butuh apa-apa lagi dari laki-laki manapun." tutur Dinda dengan bersungguh-sungguh. Kelak nanti aku tak akan membuat istriku sampai bekerja, paling akan kuajarkan bagaimana caranya mengolah ladang. Agar ia bisa melanjutkan usahaku saat aku sudah tiada nanti. Karena perempuan saat sudah bisa mencari uang sendiri, dia tak akan membutuhkan laki-laki lagi.
__ADS_1
"Jangan sombong! Mungkin sekarang kau tak butuh. Tapi nanti, ada masanya Abang, Haris dan Jefri sudah memiliki keluarga sendiri. Abang tak yakin masih bisa sedekat ini dengan kau juga Givan." balasku dengan memberikan kemungkinan yang terjadi. Aku sebenarnya kecewa dengan jawabannya. Dinda malah menangis mendengar jawabanku.
"Abang jangan nikah-nikah. Biar Bang Haris dan Bang Jefri aja yang nikah." sahut Dinda kemudian. Aku tersenyum samar mendengarnya.
"Kenapa tak berpikir kalau kita menikah saja?" astagfirullah, aku mengucapkan apa. Dinda seperti kebingungan menyikapi pertanyaan yang aku lontarkan begitu saja.
"Sayang Abangnya. Aku bekas orang banyak." ucap Dinda yang terdengar bercanda. Aku percaya Dinda tak mungkin seperti itu.
"Abang percaya, Abanglah yang kedua menyentuh kau sejauh ini." tuturku menepis ucapannya.
"Abang yang ke tujuh." sahut Dinda singkat. Tapi sukses membuatku melepaskan pelukanku. Hah, yang benar saja? Aku menjaga diriku baik-baik, aku yang hanya memakai barang baru malah tergila-gila dengan bekas orang banyak.
"Kau serius? Kau bilang, kau tak pernah melakukannya lagi setelah bercerai?" tanyaku dengan kalap. Jangan sampai aku mengecek kesehatanku lagi, apa lagi tadi sore aku sampai bertukar ludah dengannya.
Dinda kemudian mengangguk, "Memang begitu. Tapi sebelum nikah aku sering berganti-ganti pasangan." ucap Dinda mengakui kegilaannya dulu.
"Coba ceritakan sedikit aja Dek. Abang takut kali loh. Jangan-jangan kau…" pintaku yang langsung ditepis oleh Dinda.
"Untungnya aku tak sampai tertular penyakit kelamin. Tapi dulu, aku pernah dilanda keputihan cukup lama." curhat Dinda tentang pengalamannya karena kelakuannya.
Dinda menggeleng, "Aku menikah umur delapan belas tahun menjelang sembilan belas lah. Enam bulan pernikahan aku baru bisa hamil. Terus saat usia Givan kurang lebih dua tahun, aku udah dijatuhkan talak sama A Hendra." terang Dinda seperti mengingat kembali masa kelamnya.
"Kau menikah umur delapan belas tahun? Tapi kau sudah enam kali begituan dengan pasangan yang berbeda? Jadi kau hilang perawan umur berapa Dek?" tanyaku beruntun, sebelumnya aku tak pernah banyak bertanya pada Dinda.
Dinda tertawa geli dan memukul dadaku pelan, kemudian ia bangun dari posisi tidurnya "Udahlah jangan dibahas. Yang jelas aku bersih sekarang. Aku cek rutin kesehatanku. Kau tenang saja Bang!" ucap Dinda dengan berjalan ke arah jendela. Aku masih syok mendengar kenyataan ini. Jadi Dinda senakal ini dulu? Pantas saja sisi nakalnya masih terlihat jelas.
"Terus kau berhijab dari kapan Dek? Atau memang dari dulu kau ini memakai hijab?" aku bertanya lagi padanya.
"Tak ada rokok kah Bang?" ucapnya dengan tersenyum kuda. Dia benar-benar tak punya uang rupanya. Aku mengeluarkan bungkus rokokku dari saku celanaku.
"Nih. Jawab Dek?" balasku dengan mendekatinya.
"Aku berhijab sejak Givan berumur sekitar enam bulan atau delapan bulan. Aku lupa Bang." jawab Dinda yang mulai menyalakan rokok.
"Dek, Abang masih penasaran. Kau dengan ke enam laki-laki kau dulu gimana? Kok mau Hendra nikahin kau?" tanyaku yang masih penasaran. Aku memperhatikan pergerakannya.
"Kenapa sih kau nanya-nanya terus?" Dinda bertanya balik. Aku pun tak tau jawabannya, tapi aku ingin tau lebih jauh tentang dirinya.
__ADS_1
"Kau tak mau jawab? Ya udah tak jadi Abang kasih kau gajian sekarang!" seruku dengan sedikit mengancam.
"Eh, janji ya jangan bagi tau Bapak sama Ibu aku?" ucap Dinda. Kenapa dia seperti anak kecil. Orang tuanya saja aku tidak tau siapa, dan di mana rumahnya. Aku mengangguk menyetujui persyaratannya.
"A Hendra yang dapat perawan aku. Terus dengan salah satu laki-laki dari enam tersebut aku hanya melakukan or*l aja. Dan yang satu lagi baru kepala aja yang masuk. Dan sisanya real Having se*." jawab Dinda jelas.
"Terus?" tanyaku lagi dengan mendekatinya.
"Apa sih kau bang pengen tau sangat macam tu. Kau mau menyeleksi aku? Dosa tuh jangan diungkit-ungkit…" ucap Dinda yang langsung kupotong.
"Tapi diulang." ucapku dengan tersenyum penuh arti. Dan membuang kasar kaosku dan langsung menerkamnya.
"Gila memang kau. Lepasin aku!" seru Dinda terlihat terkejut.
"Bentar aja, ok?" ucapku dengan langsung membuang rokok di tangannya, dan menguncinya di tembok sebelah jendela.
"Kau tak mampu kah beli jal*ng baru?" ucap Dinda dengan sengaja mengejekku.
"Bang, jangan begini. Aku percaya sama Abang!" ucap Dinda yang masih memberontak.
"Abang pun percaya sama kau, Dek!" jawabku mendekati wajahnya. Aku memfokuskan pandanganku pada manik matanya. Aku meraih tangannya untuk menyentuh dada bidangku. Aku ingin disentuhnya, dirabanya, dicumbunya. Tapi sepertinya Dinda susah dijinakan sekarang.
Namun tangan Dinda yang kutahan di dadaku terlepas dan menutup mulutku, "Carilah yang baru. Jangan barang bekas macam aku!" ucap Dinda dengan lirih. Entah kenapa aku merasakan nyeri di hatiku saat Dinda mengucapkan kata-kata yang tak pantas untuk dirinya. Aku menginginkannya, amat menginginkannya.
Tok, tok, tok.
"Di? Kau ada di dalam?"
Sontak aku dan Dinda menoleh ke arah pintu. Untung tadi aku sempat mengunci pintu.
"Kau bilang nanti Abang tak ada di sini ok. Terus kau cek keadaan di luar. Kalau aman Abang nanti langsung keluar." ucapku lirih. Dinda mengangguk mengerti.
TBC.
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
Terimakasih 🥰
__ADS_1