
AUTHOR POV
Adi tengah menyelesaikan pekerjaannya, dia terganggu dengan dering ponsel yang terus berbunyi. Adi melirik handphonenya sekilas, ternyata Devi lagi. Sudah terhitung berapa puluh kali Devi mengiriminya pesan chat dan menelponnya jika tidak cepat di balas. Adi merasa risih akan sifat Devi yang over protektif itu. Dan Adi baru mengetahuinya sekarang. Padahal di awal Devi tidak demikian.
"Ya Dev, satu jam lagi abang hubungin balik!" ucap Adi yang langsung memutuskan sambungan teleponnya. Adi mengusap wajahnya kasar. Ia merasa frustasi dengan pekerjaannya yang tidak bisa ia selesaikan sendiri.
Jam kerja Adi sudah selesai, tapi Adi masih berkutat dengan laptopnya. Entah apa yang ia kerjakan sampai memakan waktu cukup lama. Tak lama ada seseorang mengetuk pintu ruangannya. Adi berseru masuk, dan nampak Jefri dan Haris muncul dari pintu.
"Ayo Di." ucap Jefri begitu masuk dan menduduki sofa panjang di sebrang tempat Adi.
"Kemana?" balas Adi tanpa menghiraukan kehadiran mereka berdua.
"Nge-gym dong, biar dek Dinda nempel terus sama kita-kita." jawab Haris dengan kekehan.
"Jadi kita capek-capek nge-gym buat nyenengin hatinya Dinda?" sahut Adi menatap mereka berdua bergantian.
"Ya tak begitu juga. Tapi seneng aja aku di puji-pujinya terus." tutur Haris merogoh saku celananya untuk mengambil handphonenya yang berbunyi.
"Jadi bukan aku aja yang di pujinya?" tukas Adi berdiri menghadap Haris dan Jefri bersandar di mejanya.
"Hahaha, bukan cuma kau sendiri. Makanya jangan ge'eran." kelakar Jefri.
"Dulupun kita sama ge'ernya kalau kau lupa." ujar Haris di tengah perbincangannya dengan orang di sebrang telepon. Dan mereka tertawa bersama.
Adi menyerah dengan pekerjaannya, dia meminta abang Mun untuk menyelesaikannya. Dan ia meninggalkan kedai dengan Haris dan Jefri menuju ke tempat gym yang sama.
Adi terbawa perbincangan hangat dengan beberapa perempuan yang merupakan grup senam Adinda. Dan mengantarkan pulang salah satu dari mereka. Yang di ketahuinya bernama Silvana.
"Va, suami kamu marah gak aku antar balik kamu?" tanya Adi di atas motornya yang melaju.
"Aku belum menikah bang." sahut Silva di belakang Adi. Adi mengangguk, ini adalah salah satu cara Adi untuk mengetahui status perempuan tersebut.
"Tapi pacar ada?" balas Adi kemudian saat berhenti di lampu merah.
"Belum ada juga bang! Abang sendiri gimana? Nanti aku di sangka perusak lagi." tutur Silva menanggapi jawaban Adi.
__ADS_1
Adi tersenyum sesaat, tentu saja Silva tidak mengetahuinya, "Belum Va." jawab Adi menimpali pertanyaan balik dari Silva.
Adi menurunkan Silva di depan rumahnya dan meminta nomor kontak Silva dengan dalih untuk bisa nge-gym bareng.
Adi lalu pulang menuju rumahnya. Sesampainya Adi dirumah, ia di kejutkan dengan suara tangis yang berasal dari kamar Zulfa. Adi langsung menerobos masuk kamar Zulfa yang tidak dikunci tersebut. Dan terlihat Zulfa sedang menangis sambil memeluk bantal gulingnya.
Adi mendekati Zulfa, menyentuh dahi Zulfa dan bertanya, "Kau kenapa dek? Sakit kah?" terlihat raut wajah Adi yang khawatir.
"Bang Adi, aku diputusin Taufik." jawab Zulfa ditengah isakannya.
"Siapa itu Taufik?" tanya Adi memperhatikan Zulfa.
"Pacar aku bang. Dia ada main sama temen Zulfa sendiri!" seru Zulfa masih terisak pilu.
"Kau sudah diapakan saja sama Taufik?" balas Adi menatap tajam mata Zulfa.
"Abang ngomong apa sih? Gak jelas banget!" sahut Zulfa langsung memutuskan kontak mata dengan abangnya dan memunggungi Adi.
"Jangan pura-pura tak paham maksud abang dek!" jawab Adi terdengar dingin namun tersimpan amarah yang mulai memuncak mengetahui adiknya dibuat menangis oleh kekasihnya.
"Belum sejauh yang abang pikirkan!" ungkap Zulfa yang terdengar malu karena Adi menanyakan pertanyaan yang sifatnya privasi.
"Ya bang betul. Zulfa bisa jaga diri, jangan khawatir Zulfa gak akan membuat malu nama baik keluarga." tutur Zulfa meyakinkan abangnya.
"Yasudah, abang mandi dulu. Terus Zulfa ikut abang keluar." ucap Adi berdiri dan berjalan menuju pintu kamar.
"Kemana bang? Ngemall ya bang, nonton juga ya bang." tukas Zulfa semangat langsung bangkit dari tempat tidurnya.
"Ya, siap-siap gih. Dandan yang cantik." jawab Adi dan menutup pintu kamar Zulfa.
ADI POV
Aku berada di bioskop untuk kedua kalinya, tapi kali ini aku pergi dengan adikku Zulfa. Aku hanya mencoba menyenangkan dirinya yang tengah patah hati diputuskan kekasihnya. Aku sempat khawatir saat mendengar penuturannya tadi. Aku takut adikku Zulfa ditinggalkan kekasihnya setelah ia mendapatkan apa yang diinginkannya dari Zulfa.
Meskipun aku melakukannya dengan beberapa mantan kekasihku dulu. Tapi aku tidak pernah berniat meninggalkannya. Hanya saja dia sendiri yang ingin meninggalkanku. Entah kesalahan apa yang aku lakukan sehingga mereka tidak mau bertahan denganku.
__ADS_1
Aku berani melakukannya hanya dengan memakai pengaman, aku tak mau mempermalukan nama baik keluargaku dan lagi aku takut tertular penyakit kelamin.
Bisa dikatakan aku ini brengsek, tapi aku tidak mau adikku harus menerima karma dari kelakuan abangnya.
Setelah selesai menonton film pilihan Zulfa. Aku diserednya beberapa kali ke store perlengkapan wanita. Mulai dari sepatu, tas, pakaian, hijab, dan aksesoris lainnya. Tentu saja aku yang membayarnya. Tak apalah, yang penting Zulfa sembuh dari patah hatinya.
Aku merasa sangat keroncongan dengan kelakuan Zulfa yang tidak mendengarkan interupsiku bahwa aku ini lapar.
"Cukup dek, abang mau pingsan ini dek!" seruku tak tahan lagi menahan rasa laparku.
Zulfa menoleh kearah ku dengan tawa gelinya, "Maaf ya bang. Ya udah yuk makan dulu. Tapi janji nanti lanjut ke G******a ya bang. Aku mau nyari buku yang aku belum punya."
"Jangan baca terus, minus nanti matanya. Syukur-syukur cuma minus, kalau jadi juling juga macam M***** difilm kartun pagi itu gimana?" sahutku menakutinya agar tidak meminta beli buku juga.
"Memang sudah minus, ini aku pakai lensa kontak untuk mata minus!" jawab Zulfa enteng.
Terlintas di pikiranku Dinda yang sibuk berkutat dengan laptopnya, "Apa mata Dinda juga minus ya?" Gumamku pelan. Tapi dia tidak pernah memakai kacamata bening yang bertengger di hidung minimalisnya. Yang ia gunakan hanya kacamata untuk bergaya saja, dan lebih sering di taruh diatas kepala ketimbang di sangkutkan kehidungnya. Dan aku hanya melihatnya sekali menggunakan lensa kontak berwarna abu-abu kehitaman itu waktu di acaranya.
"Apa bang?" tanya Zulfa yang mungkin mendengar gumamanku.
"Tak ada dek, makan disini aja ok!" ungkapku dan langsung menariknya masuk ke resto tersebut.
~
Aku sudah merebahkan diri di tempat tidurku. Ini betul-betul hari yang sangat melelahkan untukku. Aku hendak memejamkan mataku, tapi kurasakan getar handphone di saku celanaku. Devi mengirimiku berpuluh pesan chat dan ada beberapa panggilan tidak terjawab darinya. Ah, aku melupakan janjiku untuk menghubungi Devi saat di kedai tadi. Ku lihat jam sudah menunjukan pukul 22.50, sudah lewat berapa jam dari janjiku untuk menghubunginya satu jam setelah aku selesai bekerja itu.
Aku menyentuh ikon panggil untuk menelpon Devi. Tak lama langsung tersambung dan aku diberi rentetan pertanyaan yang maksudnya sama. Aku hanya diam saja, menunggunya selesai berbicara.
"Abang, abang hallo dengar gak sih!" ucap Devi setelah selesai berbicara semaunya.
"Iya dengar. Sudah kah kau ngomongnya? Udah ya abang mau istirahat. Capek kali!" sahutku dengan logat asliku. Aku lelah berpura-pura berbicara menyesuaikan dengan dirinya.
"Kok abang ngomongnya kasar banget. Biasanya abang nyebut aku dek, atau Dev. Kasar-kasarnya paling kamu. Sekarang abang berani kau-kau'in aku!" balasnya dengan suara yang menurun. Jangan-jangan dia hendak menangis lagi.
"Iya maaf. Mau gimana lagi, abang asli sebrang. Sebutan kau terdengar biasa saja untuk abang. Lagian abang lagi capek, pengen istirahat. Kamu ngajakin debad terus. Gimana abang gak emosi coba." terangku menjelaskan.
__ADS_1
"Harusnya aku yang emosi sama abang. Harusnya aku yang marah sama abang. Bang aku ini nungguin balasan dari abang, nungguin telepon balik dari abang. Tapi abang malah........" tutur Devi dan panggilannya langsung aku putuskan. Dan setelahnya aku menekan tombol off pada ponselku. Aku benar-benar ingin istirahat. Tapi ia tak bisa mengerti aku betul. Kesal sendiri aku padanya. Ternyata beginikah sifat aslinya. Cerewet cerewet juga macam Dinda. Aku kira di balik sikap anggunnya dia memiliki mulut yang seperlunya saja untuk berbicara. Tapi ternyata sama saja seperti kebanyakan perempuan yang lain.
TBC.