Sang Pemuda

Sang Pemuda
SP139


__ADS_3

"Hmm, sebetulnya Abang sama Retno udah memutuskan untuk tak melanjutkan perjodohan ini." jawab Adi dengan memperhatikan wajah istrinya itu. Ia khawatir ia salah ucap, dan akan berakhir pada pertengkaran di antara mereka berdua.


"Kok macam itu? Tapi Retno pas Umi tanya, katanya terserah kita sebagai orang tua aja. Abang bohong ya?" ujar ibu Meutia dengan suara yang terdengar terkejut.


"Tak bohong juga. Waktu Abang anter Retno ke stasiun. Abang udah ngasih keputusan sama dia. Dia juga nerima kok. Tapi memang dia bilang terserah orang tua aja." sahut Adi dengan menggenggam tangan istrinya yang terasa begitu dingin.


"Berarti Abang yang mutusin. Bukan kalian berdua." balas ibu Meutia.


"Katanya sih dia perawan loh, Di." suara pak Dodi menyahuti percakapan ibu dan anak itu.


"Biarin lah! Abang udah mabok kali sama janda." sahut Adi yang sepertinya keceplosan. Karena ia langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


"Apa? Jangan bilang kau masih ada hubungan sama Dinda? Pokoknya Umi tak mau tau. Umi bakal tetap siapin rencana pernikahan kau dan Retno." tegas ibu Meutia yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


Adi menaruh ponselnya, dan ia fokuskan perhatiannya pada istrinya yang sudah membasahi pipinya dengan air matanya itu.


"Tenang aja. Pernikahan Abang dan Retno tak akan pernah terjadi." ucap Adi dengan mencium lembut tangan istrinya.


"Abang tak ada cerita apa pun sama aku." sahut Adinda yang sudah tersedu-sedu.


"Maaf ya. Mungkin Abang lupa ceritain masalah ini sama Adek. Tapi memang Abang dan Retno hanya dijodohkan saja. Dan kami tak punya hubungan khusus." balas Adi merengkuh istrinya dalam pelukannya.


Flashback off


"Sabar ya. Meski Abang butuh waktu lama buat resmikan pernikahan kita. Tapi Abang tak akan pernah meninggalkan Adek, Givan dan calon anak-anak kita nanti." ucap Adi dengan senyum lebarnya.


"Tapi aku yang khawatir dipisahkan karena keluarga aku selalu berpikir buruk tentang Abang. Apa lagi Abang dengan terang-terangan pada mereka tentang umi yang tak bagi restu. Belum lagi soal Abang yang nampaknya takut sama uminya." sahut Adinda dengan menundukkan kepalanya.


"Abang bukan takut. Tapi Abang khawatir malah melukai hati orang tua Abang, Dek." balas Adi dengan menaikan dagu Adinda, agar mau menatap matanya.


"Jadi lebih baik aku yang terluka begitu?" seru Adinda yang langsung melepaskan tangan Adi dan berlalu pergi menuju kamarnya.


"Kau tak paham, Dek. Abang cuma ingin kau tak sakit hati dengan ucapan umi. Abang ingin mereka bisa nerima kau dengan lapang dada." gumam Adi pelan.


~


~

__ADS_1


Esok harinya seperti biasa. Adi dan Adinda melakukan shalat subuh bersama. Dengan Adi yang menjadi imamnya.


Setelah shalat, tanpa mencium tangan Adi seperti biasa. Ia langsung pergi menuju dapurnya. Sepertinya mood Adinda belum membaik karena permasalahan semalam.


Adi menghela nafas panjang, dengan menggelengkan kepalanya. Lalu ia merapihkan kemeja dan sarung, beserta sajadahnya juga. Kemudian menghampiri istrinya yang tengah berkutat di dapur.


"Hei, masih marah aja. Maaf kalau Abang salah." ucap Adi dengan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Aku sibuk. Jangan ganggu aku!" sahut Adinda yang melepaskan tangan Adi yang melingkar di pinggangnya.


"Dosa Dek ngacuhin suami macam ini." ujar Adi dengan berdiri di sebelah Adinda.


"Oh, jadi menurut Abang aku banyak dosanya sama Abang begitu? Sedangkan Abang tak punya dosa sama aku, begitu?" seru Adinda yang membuat Adi terkejut karena suara Adinda yang meninggi.


"Tak boleh macam itu sayang kalau ngomong sama suami." ujar Adi dengan memeluk langsung istrinya. Adi paham pembahasan ini jika berlanjut akan terjadi sesuatu yang berdampak pada keharmonisan hubungan mereka. Jadi Adi berinisiatif, lebih baik untuk menenangkan hati istrinya terlebih dahulu.


"Apa lagi ini, cium-cium aku segala! Abang butuh aku, hah? Kalau butuh aja pasti gini. Baik-baikin aku, Abang butuh selang*anganku." ungkap Adinda dengan air mata yang sudah berjatuhan. Adi langsung melepaskan pelukannya, saat istrinya memberontak terhadapnya. Ia makin bingung untuk mengatasi hal tersebut. Kenapa dirinya selalu salah di mata istrinya? Itu yang ada di pikirannya.


Padahal ia bermaksud untuk menenangkan istrinya saja. Bukan untuk mengajaknya berhubungan badan.


"Apa?" tanya Adinda dengan memperhatikan wajah Adi.


"Abang tuh mau nenangin Adek, bukan minta hubungan badan. Kalau memang Adek lagi kacau macam ini. Coba ceritakan ke Abang, biar plong." jawab Adi yang membawa istrinya dalam rengkuhannya, dan mengajaknya duduk di kursi makan.


"Abang tuh janji-janji aja. Memang tak niat resmikan pernikahan kita kan? Abang takut sama orang tua Abang. Abang enggan ngasih tau mereka. Bahkan ngenalin aku sebagai istri aja Abang aja, Abang tak mau." ungkap Adinda yang berbicara sambil menangis.


Sebenarnya Adi ingin tertawa melihat tingkah istrinya tersebut, yang berbicara sambil menangis. Tapi ia tahan, khawatir malah menyinggung perasaan istrinya.


"Bukan Abang tak mau resmikan pernikahan kita. Abang pengen juga ngadain pesta pernikahan besar-besaran. Dengan Adek sebagai mempelai wanitanya." ujar Adi dengan menarik tangan istrinya untuk ia genggam.


"Tapi Abang pengennya, umi nerima Adek dengan ikhlas dan ridho. Abang khawatirnya Adek dimaki umi, kalau kita terus terang tentang pernikahan kita. Abang takutnya malah umi nyangkanya Adek sengaja jebak Abang." lanjut Adi berbicara dengan sangat halus.


"Jadi, biar Abang bicara pelan-pelan masalah ini sama umi. Kalau memang umi tetap tak bagi restu. Ya udah, kita bagi tau kalau Adek udah hamil aja. Umi pasti bagi restu kalau keadaannya udah macam itu. Karena jelas dengan kita seperti itu, tandanya memang kita saling menginginkan. Belum lagi umi pasti minta Abang untuk bertanggung jawab atas perbuatan Abang. Dan umi juga tak mungkin membiarkan cucunya lahir tanpa peran ayah dan ibunya." jelas Adi perlahan.


"Cara seperti itu kan lebih halus. Dari pada otot-ototan, maki-makian." ucap Adi dengan menciumi tangan istrinya.


"Iya tapi licik!" seru Adinda dengan mendorong pelan dada suaminya.

__ADS_1


"Tak apa, Abang licik untuk kebaikan kita juga." sahut Adi dengan tersenyum lebar.


Lalu mereka berdua harmonis kembali dengan canda tawa yang terdengar dari dalam rumah itu.


~


"Eh, Bang Givan lagi yang datang. Udah paham tentang ikhlasnya?" tanya ustad tersebut dengan senyum ramahnya. Setelah mereka semua berjabat tangan dan mengucap salam.


"Belum belajar lagi. Hafalan surat pendek aja aku tak pindah-pindah udah semingguan. Otak aku lagi macet soalnya, Pak ustad. Belum dikasih nutrisi banyak-banyak." sahut Givan yang berada pada gendongan Adinda. Mereka semua tertawa geli mendengarnya.


"Memang apa nutrisi otak itu?" tanya ustad kemudian.


"Es krim, kue tart strawberry, buger, pizza. Pokoknya makanan yang enak-enak lah, Pak ustad." balas Givan yang membuat tawa mereka semua pecah.


"Ya udah, ayo Bang Adi. Kita langsung mulai saja." ungkap pak ustad yang langsung memulai pengobatan untuk Adi.


Dengan Givan dan Adinda yang ikut mengaminkannya, saat Adi mulai bereaksi.


~


Beberapa jam kemudian, mereka semua sudah berada di salah satu hotel terdekat dengan lokasi kediaman ibu Meutia.


"Sekarang aja kah Dek? Tapi Abang pasti balik lagi kok. Abang tetep tidur sama kalian di sini. Abang tak nginep di sana." ucap Adi saat mereka selesai menunaikan shalat magrib, dan mengulas hafalan surat Givan.


"Janji jangan nginep di sana ya?" tanya Adinda yang langsung mendapat anggukan kepala dari Adi.


"Tenang aja, Abang pasti balik ke kalian." sahut Adi dengan bersiap untuk berangkat ke rumah orang tuanya.


TBC.


Mau tamat ini 😩


Janji ya ikutin terus season 2nya 😉


Aku takut ditinggalin kalian 😥


Nanti aku sama siapa di NT ini 😫

__ADS_1


__ADS_2