Sang Pemuda

Sang Pemuda
105


__ADS_3

"Ahh, sialan kau betina!" gumamku dalam hati. Terang saja suaranya membangkitkan sesuatu dari dalam diriku.


Ya Allah, kirimkan lah Adindaku segera untuk membawaku pergi dari sini. Aku takut menyesal karena tergoda dengan suara yang membangkitkan sisi liarku itu.


Rapalku dalam hati untuk mengokohkan keimananku. Tanpa menyahuti atau menoleh padanya. Aku melanjutkan langkah kakiku yang sempat terhenti tadi.


Lalu aku melihat ayahku tengah merokok dengan membaca sebuah berkas. Aku langsung menyapa ayahku dan mencium tangannya.


Ayah memperhatikanku dari atas sampai bawah. Aku mengikuti pandangan ayahku yang terlihat aneh itu.


"Kenapa, Yah?" tanyaku pada ayah.


"Pakai pakaian yang bener tuh. Lagi ada tamu yang ngunjungin kau juga." ucap ayahku yang menyadarinya.


"Aku lagi pengen pakai pakaian ini." sahutku dengan melempar bagian tengah apel ke tong sampah. Lalu aku langsung mengambil bungkus rokokku yang aku simpan di atas angin-angin pintu masuk.


Sekilas terlihat mata bercilak itu tengah memperhatikan kegiatanku. Jujur saja, masalah hati aku tetep ke Dinda. Namun jika laki-laki disandingkan daging fillet, itu hal yang sulit untuk ditolak. Aku harap Retno nanti tak seperti Maya yang sengaja memasang umpan untukku, dan menghidangkan daging di depanku.


"Kirain udah berhenti ngerokoknya." ucap ayah saat asap mulai keluar dari mulutku.


"Susah, Yah." sahutku ringkas. Lalu aku marogoh ponselku yang berada di saku celana. Dan mulai memainkannya, membuka satu persatu akun sosial mediaku. Dengan sengaja aku mengikuti akun sosial media Dinda.


Terlihat unggahan terbarunya, Dinda yang tengah memakai sarung dengan menggunakan jaket dan hijab segitiga yang dibiarkan tergerai begitu saja. Dan lihat kaca mata hitam yang menempel di hidungnya. Ia tengah berpose menoleh ke samping, dengan background pepohonan kopi yang berbuah lebat.


Sudah pasti ia tengah berada di ladangku. Cuma stylenya saja yang berbeda. Eh tunggu dulu, itu kan koleksi kaca mata milikku. Dan sarung hitam milikku juga.


Aku terkekeh geli sendiri. Aku malah senang melihat barang-barang milikku dipakai olehnya. Yang membuatku tak habis pikir, kenapa ia sampai mengenakan sarungku? Memang ke mana semua pakaiannya? Jangan-jangan ia malas mencuci baju lagi.


Lalu aku beralih memperhatikan captionnya. Ia menuliskan, 'Dingin.' keterangan di atas fotonya.


Sengaja aku berkomentar gila, 'Sabar ya. Nanti Abang peluk biar tak kedinginan lagi.' tulisku menanggapinya.


Namun beberapa detik kemudian aku malah mendapat balasan komentar dari Haris. Ia menuliskan, 'Aku pun kedinginan Bang Adi. Tolong peluk aku juga.' komentar Haris.


Beberapa detik kemudian Jefri pun menuliskan komentar dikolom balasan komentarku, 'Bagaimana dengan aku?' balas Jefri.


Sungguh ini membuatku tertawa cekikikan sendiri. Memang temen-temen bang*at mereka berdua ini.


Aku hendak menuliskan balasan untuk mereka berdua, namun malah muncul balasan dari pemilik foto.

__ADS_1


'Nah iya. Perang pedang sana!' tulis Dinda yang membuatku tersenyum lebar. Sejauh ini, ia tak pernah membalas komentar orang-orang. Tapi ia menanggapi komentarku. Gila memang, hal kecil seperti ini saja membuatku senang bukan main.


'Marahin mereka, Dek! Gangguin kita terus mereka.' balasku gagal karena ponselku loncat dari tanganku, gara-gara seseorang menepuk pundakku cukup kuat. Yang membuat aku terhentak kaget dibuatnya. Untung aku masih bisa menangkap ponselku yang seharga tujuh belas juta itu.


"Ya ampun, Umi. Terkejut aku!" ucapku saat menoleh dan mendapati umi yang tengah berdiri di sampingku.


"Ngapain sih? Dipanggil-panggil diem aja, malah cekikikan mantengin hp begitu." tanya umiku dengan wajah sewot.


"Ya… lagi main hp. Abang lagi menghibur diri, Umi. Kenapa? Tak bolehkah?" sahutku seperti anak kecil.


"Retno diajak ngobrol sana! Malah main hp!" balas umi dengan menatapku tajam.


"Iya nanti, Abang masih ngerokok." ujarku yang sebetulnya hanya beralasan saja. Karena bisa saja aku menyudahi acara membakar rokokku. Namun enggan aku melakukannya.


Lalu umi berlalu pergi, masuk ke dalam rumah kembali.


Aku ingin beralasan pergi. Tapi ke mana ya? Bermain dengan Kin kah? Tapi jelas Kin tak akan mau bermain denganku. Bayi imut itu sepertinya enggan menanggapiku. Ia selalu terlihat ingin kabur saja begitu melihatku. Apa tampangku seseram itukah di matanya?


Atau bermain dengan Ken? Tapi Ken begitu pendiam, cukup sulit untuk mengakrabinya. Memang Givan teman yang klop untuk bermain. Selain ia cepat akrab denganku, ia pun nyambung saat diajak ngobrol.


Lalu aku mengirimkan pesan pada Haris, 'Ris, bolehkah aku bawa Kin main ke rumahku. Bosen aku tak ada kegiatan.' tulisku dan langsung kukirimkan pada Haris.


'Ya, bentar lagi aku ke sana.' balasku menanggapinya. Lalu aku mengantongi ponselku dan masuk ke dalam rumah, untuk mengambil kunci mobilku.


Aku berjalan melewati mereka lagi dengan kunci mobil ditangani.


"Heh, mau ke mana?" tegur umi padaku.


"Bentar, Umi. Haris butuh bantuan, mobilnya mogok." sahutku pada umi. Kulirik sekilas umi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dan ayah hanya memperhatikanku pergi dengan mobil, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


~


Selesai aku membantu Haris. Aku langsung mencuci tanganku dan mencari keberadaan bayi imut itu di dalam rumah Haris. Terlihat ia tengah berjalan merambat dengan berpegang pada barang-barang yang bisa ia gapai.


Saat melihatku, ia langsung kalap. Ia terduduk dan langsung merangkak cepat masuk ke dalam ruang bermain.


Aku tersenyum samar melihat tingkahnya. Kenapa aku jadi semakin menyukai makhluk kecil itu. Apakah sifat kebapakanku sudah muncul dari dalam diriku? Entahlah, aku tak bisa memastikannya sendiri.


"Kin… ikut Papah yuk." seruku dengan mengambil boneka berbentuk kucing biru itu. Sengaja aku mengambilnya untuk menarik perhatian Kin.

__ADS_1


Haris muncul dari arah garasi rumahnya, ia berjalan menuju arahku.


"Kin, main tuh sama Papah Adi. Papah Adi mau latihan momong anak katanya." ucap Haris meledekku.


Entah paham atau tidak, namun Kin menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Nih mainan favoritnya. Bujuk dulu sana! Kin tak macam Ken. Kin cepet akrab sama orang. Asal kau ngomongnya jangan kuat-kuat, Kin bisa takut nanti sama kau." ujar Haris memberikan aku mainan boneka yang bisa menangis.


Lalu aku mengambilnya bonekanya dan mulai mendekati Kin. Haris langsung berlalu pergi dan mengatakan ia akan tidur. Terlihat Kin mengembangkan senyum padaku. Meskipun Kin bukan anak kandung Haris. Namun jika ia mengembangkan senyum begini, ia terlihat sekilas mirip dengan Haris. Tentu saja karena ibunya masih adik kandung Haris.


Lalu ia ingin mengambil bonekanya dari tanganku. Aku menjauhkan bonekanya, dan membentangkan tanganku. Ia langsung berpegangan tangan dan bajuku, dan memelukku erat.


Aduh, sesenang ini rasanya punya bayi imut macam dia. Lalu kuajak ia mengobrol denganku. Namun malah aku yang menjadi bingung sendiri karena tak mengerti ucapannya.


"Berapa bulan ini, Mbak?" tanyaku pada pengasuh Kin.


"Akhir bulan nanti pas satu tahun." jawabnya memberitahuku.


"Siapin susu dan perlengkapannya. Kin mau aku ajak keluar. Nanti sore aku antar balik." ucapku begitu Kin sudah mulai akrab denganku.


"Tapi…." suara pengasuh tersebut terdengar ragu.


"Aku udah bilang ke Haris. Tenang aja. Mbak tak usah ikut." ujarku kemudian. Ia langsung mengangguk dan mulai menyiapkan perlengkapan Kin.


Setelahnya, aku langsung membawa Kin masuk ke dalam mobilku. Yang sebelumnya sudah dipasangkan kursi bayi yang kudapat dari pengasuh Kin.


Terlihat Kin asik dengan mainannya sambil memperhatikan jalanan ramai. Aku jadi ingin memiliki anak perempuan sendiri. Setelah aku mendapat Dinda nanti, aku akan berusaha membuat bayi imut seperti Kin. Hah, iya. Tentu saja itu hanya rencanaku.


Sesampainya aku di halaman rumah. Aku langsung menggendong tas perlengkapan Kin, dan lalu menggendong Kin. Dan keluar dari mobil.


Terlihat ayah, umi dan Retno menatap lurus ke arahku.


"Anak siapa itu, Di?" tanya ayah dengan mengernyitkan keningnya.


TBC.


Bantu sundul dong 😁


LIKE, VOTENYA jangan lupa 😉

__ADS_1


__ADS_2