
ADI POV
Aku sudah selesai membersihkan popok sialan itu. Kesal betul aku. Dia malah mengembang pas kena air, bukannya darahnya luruh. Eh, malah terperangkap dalam butiran gelnya.
Setelah meneguk habis air putih yang aku tuangkan dalam gelas, aku lalu berjalan untuk mencari keberadaan Dinda. Sayup-sayup terdengar suara Dinda yang sedang berbicara dengan Jefri.
Sepertinya mereka di dalam kamar. Tapi mengapa mereka berdua di dalam kamar, jangan-jangan mereka…..
Aku langsung menuju kamar Dinda, yang ternyata pintunya tak ditutup. Aku mendengar suara Dinda yang sedang berbicara serius.
".......Dengan begini kan dia akan tersiksa pelan-pelan." ucap Dinda yang sedikit bisa kudengar dengan jelas.
"Siapa Dek yang disiksa pelan-pelan?" tanyaku membuka suara. Terlihat Jefri dan Dinda melihat ke arahku dengan pandangan kaget. Hm, aku paham. Sepertinya mereka sedang membicarakan aku.
Otakku langsung menyangka bahwa Dinda lah pelaku santetnya. Tapi apa benar Dinda sengaja menyiksaku secara licik begini. Aku harus cari tau sendiri. Karena sepertinya Jefri berpihak pada Dinda.
"Bukan siapa-siapa, Bang." sahut Dinda kemudian setelah menetralisir rasa kagetnya.
"Hmmm, gitu ya Dek?" balasku manggut-manggut dan berlalu dari hadapan mereka. Kalau memang Dinda seperti itu padaku, dengan atas dasar apa ia tega melakukannya? Bukankah selama ini dia terlihat baik-baik saja padaku. Atau mungkin saja Dinda ini musuh dalam selimut.
Entahlah aku pusing memikirkannya. Aku jadi malas untuk membereskan rumah yang berantakan ini. Aku memilih untuk duduk saja di depan rumah dengan menikmati sebatang rokok.
Tak lama Jefri menghampiriku, lalu ia duduk tak jauh dari tempatku.
"Jangan cemburu buta. Tadi cuma ngobrol aja." ucap Jefri kemudian.
"Hmm, lagian terserah kalian juga mau ngapa-ngapain. Aku tak ada hak melarang." sahutku menoleh sekilas pada Jefri.
"Nah iya betul itu. Dinda kan masih bebas ya?" balas Jefri yang membuat aku menatapnya dengan tajam. Apa ia tak mengerti jika aku tengah marah? Apa ia tak paham aku tadi berucap bahwa Dinda akan kunikahi? Jelas itu tandanya karena aku ada rasa pada Dinda. Meski aku tak tau apa Dinda demikian juga padaku.
Aku langsung membuang rokokku kasar, dan masuk begitu saja meninggalkan dia sendirian. Aku langsung menuju ke kamar Dinda. Terlihat ia tengah bermain ponsel dengan berbaring menyamping.
"Dek" panggilku pelan dan langsung duduk di tempat Jefri duduk tadi.
"Hmm" sahut Dinda dengan bergumam.
"Abang sampai tak jadi puasa loh hari ini." ucapku membuka percakapan.
"Kenapa memang?" tanya Dinda dengan mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.
"Abang nyalinin kau. Ehh, malah turn on." jawabku mengaku.
__ADS_1
"Menang banyak dong? Bukannya jijik, malah turn on lagi." sahut Dinda kemudian.
"Ngomong apa sih, Dek! Itu alarm tubuh dari laki-laki normal kali, Dek." balasku memberi pemahaman padanya. Agar ia tak menyangka kalau aku berhasrat tanpa mengenal situasi. Tapi memang seperti itu sih. Hanya saja tak kuhendaki tadi.
Dinda diam tak menyahutiku. Aku ingin mencairkan suasana diantara kami berdua. Sepertinya Dinda sedang banyak beban pikiran sekarang. Aku bingung ingin memulainya dari mana. Apa aku ungkapkan saja keinginanku untuk meminangnya itu. Tapi aku khawatir pikiranya malah semakin terbebani.
"Dek, ngomong dong." ucapku bingung.
"Ngomong." sahutnya berkata seperti yang aku pinta. Tapi bukan ngomong juga maksudku.
"Maksud Abang, Adek cerita dong. Cerita apa yang kau rasa? Gimana sakitnya? Pendarahannya udah berhenti belum?" balasku kemudian.
"Belum tau lagi. Soalnya tadi kan diapersnya bekas tadi. Aku belum ganti lagi. Tapi udah pakai pembalut sih sekarang. Aku tak nyaman pakai diapers begitu." jawabnya jelas.
"Memang sebetulnya kau kalau haid banyak kah?" tanyaku pada Dinda. Tapi malah Dinda menatapku dengan tajam. Apa aku salah bicara ya.
"Ehh, maaf Dek." ucapku dengan menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Aku memang dari gadis kalau haid selalu banyak. Terlebih lagi jika hari pertama dan kedua." jawabnya setelah beberapa detik terdiam.
"Kaya gini?" sahutku kemudian.
Aku mengangguk mengerti, "Masih sakit perutnya?" ucapku yang menyiratkan rasa perhatianku.
"Nyeri, Bang." jawabnya semakin mengeratkan bantal guling yang berada di pelukannya.
"Butuh donor darah kah kalau udah begini?" sahutku setelah mendaratkan bibirku pada pucuk kepalanya.
"Tak tau pasi, Bang." balas Dinda seperlunya.
"Abang mandi dulu ya, mau asharan." ujarku setelah tak mendapat topik pembicaraan lagi. Dinda hanya mengangguk menanggapiku.
Lalu aku keluar dari kamar Dinda dan menuju kamar mandi, dan langsung memulai ritual mandiku.
Setelah selesai mandi, dengan handuk yang melilit dari pusar hingga atas lututku. Aku masuk ke dalam kamar Dinda. Karena pakaianku ada di sana. Terlihat Dinda tengah menatap plafon kamarnya dengan pandangan kosong.
Kenapa lagi itu perempuan? Sebetulnya ada masalah apa sih, sampai-sampai dia melamun seperti ini.
Aku menutup pintu kamar Dinda sepelan mungkin. Dan memakai celana dalamku dengan masih memakai handuk. Kulirik sebentar pada Dinda, dia masih anteng di posisinya. Lalu aku melepaskan handukku dan mengambil sarungku ditumpukkan alat shalat.
"Heh, ngapain kau Bang?" tanya Dinda yang membuatku terkejut.
__ADS_1
Buru-buru aku memakai sarungku dengan asal, "Kau buat Abang kaget aja! Ya salin ya. Memang apa lagi?" jawabku sesantai mungkin.
"Kan bisa minta aku buat keluar dulu." sahutnya dengan bangkit dari posisi tidurnya.
"Udah terlanjur liat. Malah keluar." balasku pelan.
"Biar kau khusyuk shalatnya." ujar Dinda dengan berjalan perlahan. Mau kutuntun tapi bagaimana. Aku sudah punya wudhu.
Terdengar suaranya yang berbicara dengan Jefri. Aku tak menghiraukan suara mereka. Lalu aku melanjutkan aktifitasku untuk beribadah.
~
~
Esok harinya, Dinda terlihat sudah lebih baik dari kemarin.
Semalam umi dan Givan sudah kembali pukul delapan malam. Lalu tak lama mereka tertidur. Zulfa telah sampai saat aku selesai shalat ashar kemarin sore. Entahlah dia betul dari kedai kopi atau ada acara lain.
Aku baru selesai membaca cerita Dinda yang jarang update itu. Aku terngiang penutup kalimat di episode iti. Di situ tertulis, ‘Jangan membandingkan antara matahari dan bulan. Mereka bersinar saat waktunya tiba.’
Aku jadi memikirkan, apa Dinda sakit hati dengan ucapanku dulu. Sungguh bukan maksud hatiku untuk membandingkan perawan dan janda. Sampai di sini aku pasrah. Jika memang Dinda-lah pelaku santetnya, aku ikhlas. Aku paham sekarang, mungkin ia begitu sakit hati dengan ucapanku dulu.
Jika memang Yang Maha Kuasa berkehendak untuk kesembuhanku lewat ikhtiarku ini, maka aku akan bersyukur dan berjanji tak menyakiti orang-orang terdekatku dengan ucapanku lagi. Tapi jika memang setelah ikhtiar ini aku masih seperti ini, aku juga menerimanya. Mungkin ini sudah jalan takdirku.
Tak lama Haris datang dengan menggunakan ojek online. Karena mobilnya masih terpakir di sini. Kemarin ia dibawa pergi oleh Alvi dengan menggunakan mobil Alvi.
"Mana Dinda?" sapa Haris yang melihatku duduk sendirian di teras rumah.
"Tadi sih lagi rebahan di ruang tengah." sahutku kemudian. Lalu Haris mengangguk dan melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam rumah Dinda.
Tak lama Haris keluar dengan menenteng tas jinjingnya. Dan diikuti oleh Dinda di belakangnya.
"Nanti USG aja, Dek." ucapnya dengan memakai lagi sepatunya.
Aku menatap Dinda kaget, kenapa mesti USG? Memang ada janin kah di perutnya? Jika memang begitu, lantas anak siapa yang ia kandung itu. Aku jelas tak merasa menanam benih di rahimnya.
TBC.
***Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
Terimakasih 🥰***
__ADS_1