
Like, vote dong kak 😁
happy reading
AUTHOR POV
Adinda dan Givan sudah rapi dengan pakaian yang berwarna senada. Mereka berjalan menuruni tangga untuk menuju meja makan. Tapi sekarang masih terlalu pagi untuk sarapan bersama dalam keluarga Adi Riyana.
Adinda mendudukkan anaknya di kursi makan dan memberinya ponselnya agar anaknya anteng bermain ponsel. Adinda membatasi anaknya untuk bermain ponsel, hanya untuk membuat anaknya diam saat ia ingin melakukan kegiatan lain saja. Karena Givan tipe anak yang aktif.
Adinda berinisiatif membantu asisten rumah tangga yang sedang mengolah makanan. Ia suka memasak, terutama masakan tradisional khas Indonesia.
Umi Adi muncul dengan senyum yang mengembang. Ia mengelus kepala Givan dan menyapanya.
"Sepagi ini Adek udah bangun?" ujarnya dengan tersenyum ramah.
"Aku Abang, bukan Adek!" ucap Givan mengalihkan perhatiannya sejenak pada umi Adi. Adinda mendengarnya hanya tersenyum samar dan tetap fokus pada aktifitasnya.
"Ok Abang, namanya siapa?" tanya umi Adi yang duduk di sebelah Givan.
"Ananda Givan, ibu siapa?" tutur Givan bertanya kembali pada umi Adi. Ia mengalihkan fokusnya pada umi Adi.
"Ibu Meutia, ibunya Bang Adi. Yang Givan dengan sebutan Papah itu." terang umi Adi agar Givan dapat mengerti. Givan mengangguk dengan tatapan yang tak pernah lepas dari umi Adi.
"Kok gak mirip? Aku sama Mamah mirip, Mamah aku sama Nenek mirip." sahutnya dengan masih memperhatikan wajah umi Adi.
"Papah miripnya sama Abi-nya. Hmm…sama Bapaknya begitu." ungkap umi Adi yang mengira Givan tak paham dengan sebutan Abi.
Givan mengangguk dan tangannya sesekali menggeser permainan dalam ponsel yang sedang ia mainkan, "Aku pun manggil Abi Haris dengan sebutan Abi. Berarti ibu dipanggil Umi ya macam Umi Sukma?" tukas Givan yang sedikit membuat umi Adi bingung, namun ia tetap menganggukan kepalanya juga.
Tiba-tiba Adi muncul dengan kemeja berwarna biru dongker bermotif kotak-kotak besar, "Dia manggil Haris dengan sebutan Abi, manggil Jefri dengan sebutan Ayah. Manggil Abang dengan sebutan Papah." terang Adi jelas lalu mencium pipi ibunya. Ia melihat Adinda sekilas, namun ia kembali memfokuskan pandangannya pada umi dan Givan saja.
"Oh, pantesan. Hm, asik ya Abang punya Abi, Ayah juga Papah." ucap umi Adi memperhatikan Givan kembali.
Givan mengangguk, "Tapi kalau boleh cukup satu Mamah dan satu Papah aja. Tapi malah Papah aku gak pulang-pulang. Ditambah lagi Mamah ngajak aku pindah jauh. Pasti Papah Hendra pusing nyariin alamat baru aku." ucapnya polos. Ia tak mengerti ucapannya menyinggung perasaan ibunya. Adinda mencoba tak mendengarkan celotehan Givan dan memfokuskan dirinya pada masakannya saja.
__ADS_1
"Papah Givan pasti bisa kok nemuin Givan. Mana tau kan di sana Givan dapat Papah baru." ujar umi Adi setelah menyimak cerita Givan.
"Papah baru itu Papah sambung ya?" tanya Givan polos.
"Iya, Papah baru itu Papah sambung. Papah Adi juga punya Papah sambung." sahut umi Adi kemudian.
"Papah Adi kok gak pernah bilang. Harusnya Papah cerita sama aku enak apa enggaknya punya Papah sambung." ungkap Givan menatap Adi dengan kesal.
"Enak punya Papah sambung tuh." jawab Adi ringan.
"Kaya apa rasanya?" balas Givan menunggu jawaban dari Adi.
"Hmmm. Kaya makan ayam." ujar Adi yang mendapat kekehan dari orang-orang yang berada di situ.
"Yang bener Pah." tanya Givan terlihat serius.
"Tak usah punya Papah baru. Kan udah ada Papah Adi juga." ucap Adi secara tidak sadar karena ia tengah mengupaskan buah untuk Givan. Ia tak menyadari beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ekhmmm." Adinda berdeham untuk menetralisir rasa kaget bercampur bingungnya.
"Memang si Adek tau telor mata sapi kesukaan Abang." pancing umi Adi dengan pertanyaan sederhana.
"Tau kan Dek?" tanya Adi melirik Adinda sekilas, Adinda hanya diam tak merespon pertanyaan Adi. Ia merasa Adi secara tidak sadar sedang membocorkan sedikit tentang dirinya dan Adi.
"Abang pernah beberapa kali sarapan bareng Dinda, Umi. Dan dia selalu bikin masakan berat untuk sarapan Abang. Sebenarnya tak masalah sih, cuma kasian aja. Dia capek hanya untuk buat sarapan aja kan gitu Umi." lanjut Adi mengajak ngobrol Umi. Detik itu juga Adinda pamit dari dapur. Entah kenapa ia merasa malu pada umi Adi.
"Kenapa lagi tuh perempuan? Wajahnya udah masam aja pagi-pagi begini." gumam Adi yang didengar umi Adi.
"Dia malu, semalam Umi tanya katanya bukan pacar kau. Tapi dengar dari cerita kau yang sering sarapan bareng itu, Umi jadi curiga. Masa bukan pacar, tapi kok pagi-pagi sudah ketemu untuk sarapan bareng." terang umi Adi yang membuat Adi tersadar. Adi menepuk jidatnya sendiri dan umi Adi hanya terkekeh geli melihat tingkah anaknya itu.
~
Sekarang Adi, Adinda dan Givan sudah berada dalam satu mobil. Adi akan mengantarkan Adinda dan Givan menuju ke bandara.
"Pakon Dek?" tanya Adi menoleh pada Adinda yang berada di sampingnya dengan memangku Givan. Yang berarti kenapa Dek.
__ADS_1
"Tak Bang!" cetus Adinda tanpa melihat pada Adi.
"Sneakers putih yang di kamar kau itu, Abang yang belikan Dek! Gimana, pas tak ukurannya?" tanya Adi mencoba mengajak Adinda mengobrol.
"Pas." jawab Adinda singkat.
"Kau kenapa sih? Ini Abang ngajak ngobrol loh Dek!" ujar Adi sedikit meninggi.
"Tau, siapa juga yang bilang kau ngajak makan!" ucap Adinda dengan membuang muka saat ditatap oleh Adi.
"Yang di ruang makan tadi? Ya ampun Dek, santai aja kali. Macam sama orang lain aja. Lagian kan itu umi Abang sendiri." ungkap Adi santai.
"Coba aku tanya nih ya. Apa kau ada cerita tentang Devi sama umi kau?" tanya Adinda yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Adi.
"Tak pernah kan? Tapi kau malah ceritakan aku. Kenapa tak sekalian kau bagi tau Umi aja kau suka main-main bareng aku." lanjut Adinda yang membuat Adi tersinggung. Adi langsung memikirkan perihal statusnya dengan Adinda. Yang secara halus Adinda meminta kepastiannya semalam.
Setelah sampai di bandara. Adi menunggu pesawat yang Adinda tumpangi sampai take off. Ia lalu kembali ke mobilnya dan menjalankannya dengan perlahan.
Adi merasa ia dan Adinda tidak baik-baik saja. Adi tak mengerti kenapa Adinda sampai menanyakan perihal status mereka berdua. Padahal jelas tanpa Adi katakan pun harusnya Adinda paham bahwa Adi tak menginginkan status yang lebih jauh.
~
Adi sudah sampai di kota C dengan selamat. Zulfa tak ikut bersamanya, karena Adi pernah berbicara perihal keberangkatannya ke provinsi A. Zulfa khawatir ia akan sendirian di kota C nantinya.
Adi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata yang menatap lurus pada plafon kamar. Ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena terlalu lama mengemudi.
Namun perlahan ia pun terlelap dalam mimpi buruk yang mendatanginya.
TBC.
Butuh amunisi semangat kak 😔
Kasih aku satu kata tentang karya aku ini kak?
terimakasih
__ADS_1