Sang Pemuda

Sang Pemuda
85


__ADS_3

Adinda menggeleng, "Bukan, A." jawabnya lirih.


"Yang denger omongan Aa. Nurut sama Bapak, sama Ibu. Cari orang deket aja. Amrin macemnya, dia udah minta kamu baik-baik kan. Dan kita juga udah tau baik-buruknya, udah tau keluarganya. Udah jadi karyawan juga kerjanya, ada bisnis sampingan juga. Bisnis jual beli burung kicau itu. Ada anak satu, ya dimaklumi aja. Kamu pun udah ada anak juga." Arif menjeda sejenak ucapannya, "Jangan cari orang sebrang terus. Gak B**********, kamu malah ambil yang ujung pulau Sumatera sana, memang gimana sih Din maunya?" lanjut Arif bertanya baik-baik. Karena mata adiknya sudah berkaca-kaca sekarang.


"Gak gimana-gimana, A. Memang Bang Haris dan Bang Adi cuma temen aku aja." jawab Adinda dengan terisak.


"Jangan nangis, Aa cuma nanya." sahut Arif kemudian.


"Berteman ya sewajarnya berteman aja. Jangan kau bawa ke sini semua begitu. Orang nyangka kamu suka ganti-ganti pasangan nantinya, Din! Dikiranya mereka kemarin kamu sama Haris itu. Sekarang sama siapa tadi namanya? Adi?" ujar Arif melanjutkan. Lalu Adinda menganggukan kepalanya.


"Kalau memang udah kepengen rumah tangga lagi, biar Aa bantu carikan. Biar gak jadi masalah lagi. Cukup Aa aja yang dapat orang sebrang. Kamu tau sendiri gimana susahnya perjuangan Aa." lanjut Arif dengan lirih.


"Iya A." jawab Adinda lemah.


"Ya udah cepet sana selesaiin cuciannya. Terus sana susul Givannya." pinta Arif kemudian. Adinda mengangguk dan pergi ke belakang lagi. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya dengan pikiran yang berkelana.


Flashback off


"Intinya bapak sama ibu tak mau kalau sampai aku nikah sama bang Adi. Terlebih lagi, umi udah minta aku jadi menantunya lagi sama ibu aku. Jadi ibu nyangka aku ada main sama bang Adi." terang Adinda dengan singkat mengatakannya pada Jefri.


"Jadi itu masalahnya yang bikin kau setres sampai pendarahan gitu?" tanya Jefri setelah menyimak cerita Adinda.


Adinda mengangguk, "Aku tak tau pasti karena apa aku sampai pendarahan. Yang jelas aku takut ini tanda gelaja yang bermasalah dengan rahim aku, Bang." jawab Adinda pelan.


"Udah minum obatnya?" sahut Jefri bertanya.

__ADS_1


"Udah Bang." balas Adinda seperlunya.


"Mungkin nanti jadwal haid kau bulan depan agak terganggu, bisa maju dan bisa mundur." ujar Jefri dengan mengedarkan pandangannya pada kamar Adinda.


"Kenapa begitu?" tanya Adinda bingung


"Karena ibaratnya darah kamu ini distop dengan paksa. Darah seger itu pastikan keluarnya berbarengan dengan darah kotor kau, karena hitungan kau haid." jawab Jefri memberi sedikit pengetahuan pada Adinda.


Adinda terdiam tidak menyahuti perkataan Jefri tadi.


"Terus gimana sebetulnya kau sama Adi ini? Kau ada rasa kah sama dia?" Jefri membuka suaranya lagi.


"Sejak awal ketemu sama bang Adi. Aku memang udah ada rasa tertarik, ya mungkin memang karena fisiknya. Siapa perempuan yang tak mabok liat rupa tinggi, gagah, manis macam itu, mana lucu lagi kalau ngomong. Pakai bahasa campur gitu. Tapi makin ke sini, kau pasti paham sendiri lah. Sejauh ini, sejak aku bercerai sampai sekarang. Aku hanya bermain fisik dengannya. Perlu kau ketahui, Bang. Jika perempuan sudah sejauh aku ini. Maka dia sebetulnya sudah memasrahkan jiwa raganya. Hanya saja aku tak percaya diri dengan hatiku sendiri. Sejak bang Adi berulang kali mengatakan bahwa ia hanya ingin yang perawan. Kepercayaan diri aku tentang rasa yang aku miliki perlahan pudar. Awalnya aku kira bang Adi demikian juga sama aku. Karena dia begitu intim denganku, Bang. Tapi pas aku tanya yang menjurus ke arah status, dia enggan buka suara, Bang. Aku lupa, harusnya aku paham dari awal. Kalau Bang Adi memang hanya ingin yang perawan. Dia seintim itu dengan aku, karena dia butuh penyaluran hasratnya. Karena tak kunjung dapat perawan, janda pun akhirnya dilahapnya." ungkap Adinda dengan tertawa sumbang.


"Terus sekarang gimana, katanya Adi mau nikahin kau itu." sahut Jefri dengan memperhatikan wajah Adinda.


"Kau tak ada niat untuk bareng-bareng berjuang sama dia gitu?" tutur Jefri menoleh sesaat pada pintu kamar. Dia khawatir Adi yang sedang ia bicarakan malah muncul dari sana.


"Tak Bang. Terhalang orang tua juga kan. Orang tua aku jelas tak bakal nerima kenyataannya kalau memang Adi orang sebrang. Ditambah lagi umi yang entah mengapa jadi tak restuin aku sama Bang Adi. Aku kapok kalau udah mentok direstu, Bang. Aku tak mau maksain. Cukup aku sama Mahendra dulu aja yang maksain kehendak orang tua, biar direstuin. Dan ujung-ujungnya apa? Pisah juga kan akhirnya. Aku jadiin itu buat pengalaman. Aku tak akan maksa kalau memang tak dapat restu dan dilarang orang tua juga." tukas Adinda dengan gemblang.


"Kasian Adi loh Dek. Udah lagi sakit, tak direstuin, ditambah kau tak mau berjuang bareng dia." ungkap Jefri mengutarakan pendapatnya.


"Menurut aku sih, bang Adi bilang mau nikahin aku hanya untuk berjaga-jaga saja. Biar dia tak ditinggalkan sendirian pas keadaannya lagi sakit begini. Secara kan dia sekarang lagi butuh Givan." sahut Adinda sejenak menjeda ucapannya, "Aku cukup tau diri dengan status aku sendiri. Lumayan nyesek di hati pas dia bilang dia cuma mau yang perawan. Sengaja aku tutup-tutupin rasa kecewa aku pas berulang kali dia bilang begitu. Dia kira dia siapa? Dia nolak aku terang-terangan begitu apa dia kira dia pemuda yang sangat berharga begitu? Pemuda yang paling hebat begitu? Jangan kira aku tak bisa dapatkan perjaka lain di luar sana." lanjut Adinda berkata jujur tentang hatinya.


"Aku ngomong begini cuma sama kau Bang. Aku diminta jangan setres dan jangan banyak pikiran sama Bang Haris." ucap Adinda kemudian.

__ADS_1


Jefri mengangguk, "Iya, Dek. Jadi selanjutnya kau mau gimana?" tanya Jefri paham dengan perasaan Adinda.


"Tak gimana-gimana. Aku jalani takdir yang sudah digariskan Allah saja. Aku hanya perlu berdoa dan meminta yang terbaik untuk kehidupanku dan Givan." jawab Adinda dengan mantap.


"Jadi secara tidak langsung, kau ngelepas Adi begitu?" sahut Jefri setelah menoleh pada pintu lagi. Dia khawatir orang yang sedang ia bahas tengah memperhatikan mereka. Ternyata masih aman. Adi sepertinya masih sibuk di kamar mandi.


Adinda mengangguk mengiyakan, merespon obrolannya dengan Jefri.


"Tapi aku tetap ingin selalu ada untuknya. Lepas aku sehat dan bang Adi udah sembuh dari penyakitnya juga, aku bakal balik ke provinsi A lagi. Aku punya janji sama dia untuk ngurus ladangnya sampai ia siap urus sendiri." ucapnya kemudian.


"Kalau kau begitu caranya, yang ada Adi tambah ngegilain kau!" balas Jefri tak habis pikir dengan pemikiran Adinda.


"Aku tak bermaksud bikin dia semakin tergila-gila padaku. Bukan aku jahat, tapi memang aku takut menyesal. Takut-takut tak bisa liat dia untuk selamanya. Karena kau pasti paham sendiri, santet ini susah disembuhkannya." tutur Adinda jelas.


Jefri terdiam cukup lama. Lalu ia menyuarakan suaranya lagi, "Tapi Dek. Kalau diingat-ingat kembali kau ini doyan dicumbunya. Kau juga nampaknya berhasrat sama dia." tukas Jefri sengaja menyindir Adinda.


"Masalah hasrat itu kebutuhan biologis, Bang. Coba aja kau cicipin sendiri cumbuan dari bang Adi. Dia gila betul , langsung nyerang titik kelemahan wanita. Tapi perlu kau tau, nyatanya kan dia tak pernah berhasil masukin aku. Menurut aku dengan caranya sendiri yang begini kan, bikin dia pasti tersiksa pelan-pelan." sahut Adinda yang tersusun rapi.


"Siapa Dek yang disiksa pelan-pelan?" ucap Adi yang bersedekap tangan dengan bersender pada pintu kamar.


Sontak Jefri dan Adinda menoleh kompak pada sumber suara.


TBC.


Keknya ada yang salah paham nih 🤔

__ADS_1


Bagi komen yang terbaik ya, biar author makin rajin nulisnya. Syukur-syukur rajin up nantinya 😆


Salam manis dari kota berintan 😁


__ADS_2