
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
Terimakasih 🥰
happy reading
AUTHOR POV
Adinda larut dalam obrolan ringan para penggemarnya. Adi terlihat begitu kesal, tapi ia enggan menemui Adinda. Adi beberapa kali mencoba menelpon Adinda. Adinda lalu tersadar ponselnya berbunyi dan langsung mengangkat telepon dari Adi.
"Pulang sekarang!" ucap Adi dingin namun penuh emosi. Lalu Adi langsung memutuskan sambungan teleponnya. Adinda melirik ke tempat Adi berdiri bersama anaknya. Terlihat Adi menatap tajam pada Adinda. Adinda pun undur diri dari hadapan penggemarnya, dan langsung keluar dari tempat nasi goreng setelah membayarnya.
Adi langsung menggendong Givan dan menggenggam erat tangan Adinda. Mereka berjalan beriringan kembali ke rumah umi Adi. Sepanjang perjalanan mereka terdiam hanya suara celoteh Givan yang terdengar, dan sesekali ditanggapi oleh Adinda.
"Bang, kenapa diam aja?" tanya Adinda menoleh pada Adi, saat mereka mulai memasuki pekarangan rumah umi Adi.
"Bertanya pula kau!" sahut Adi bernada sewot.
Adinda menahan langkah Adi dan sedikit melompat untuk bisa mencium pipi Adi. Namum tak berhasil, padahal ia mencobanya berulang kali.
"Kau mau apa?" ujar Adi heran dengan tingkah Dinda yang melompat-lompat.
"Mau cium, tapi tak sampai-sampai." ucap Adinda masih mencoba melakukannya. Adi tersenyum geli, dan sedikit munurunkan tubuhnya.
Cup.
Adinda berhasil mecium pipi Adi sekilas. Givan tertawa dan memukul-mukul ibunya untuk menjauhi Adi.
"Jauh-jauh sana. Gak Papah Hendra, gak Papah Adi diciumin Mamah terus." ungkap anak itu dengan kesal.
"Iya ya Bang?" balas Adi pada Givan, "Dasar gatt-alllll!" bisik Adi lebih menekankan huruf L pada Adinda. Adinda terkekeh dan memukul lengan Adi pelan. Mereka sama-sama tertawa dan larut dalam obrolan ringan yang tak berguna.
~
Sesampainya di kamar Adinda. Adi diminta masuk oleh Givan untuk menemaninya bermain. Adi menyetujui permintaan Givan dan masuk ke dalam kamar Adinda.
"Nih Pah, bukain. Papah nyicip jangan banyak-banyak ya?" ucap Givan membongkar jajanan berbentuk telur itu.
"Tengok anak kau, Dek! Habis uang Abang dikurasnya." ungkap Adi menunjukkan pada Adinda.
__ADS_1
"Untuk anak sendiri, jangan perhitungan!" sahut Adinda dengan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
Adi melemparkan bungkus bekas jajanan berbentuk telur itu pada Adinda, "Anak kau!" balas Adi dengan menatap tajam pada Adinda. Adinda tertawa lepas karena mendapat reaksi Adi yang terlihat sewot itu.
"Nanti aku kasih turunan dari benih Abang sendiri." ujar Adinda dengan tawanya yang masih terdengar.
"Kau kira lucu, heh?" jawab Adi dengan menarik hidup minimalis Adinda.
"Lucu lah, kan aku ibunya. Tak lucu kita daur ulang Bang. Itu pun kalau kau masih kuat." tutur Adinda dengan menggoda Adi dengan mengkedipkan matanya.
"Maksud Abang, bercanda macam ini tak lucu Dek!" jelas Adi kesal. Ia memfokuskan dirinya dengan Givan. Ia tak suka dengan sifat Adinda yang sering bercanda tentang hal yang negatif di depan Givan.
Adi melepaskan bajunya, dan merebahkan diri di samping Givan. Tak lama Adi tertidur dengan Givan yang masih mengajaknya bermain. Adinda meminta anaknya untuk tidak mengganggu tidur Adi.
"Abang bobo gih, kaya Papah Adi tuh bobo." lanjut Adinda membujuk anaknya.
"Besok jadi kan kita naik pesawat terbang sama Papah Adi?" tanya Givan memperhatikan wajah ibunya.
"Papah Adi tak jadi ikut Bang! Lain kali, ok?" ujar Adinda yang diangguki Givan.
Tak lama Givan minta dibuatkan susu, Adinda turun ke lantai dasar untuk mengambilkan air hangat. Namun ia berpapasan dengan umi Adi yang hendak menaiki tangga.
"Udah makan belum nak? Maaf, umi tadi ketiduran. Capek ternyata punya acara begini." ucap umi Adi dengan tersenyum ramah.
"Panggil umi aja, Nak! Pacarnya Bang Adi ya?" ujarnya umi Adi yang membuat Adinda tersentak kaget.
"Bukan." balas Adinda cepat, "Aku yang ngawasin ladang Abang, Umi." lanjut Adinda kemudian.
"Betul?" tukas umi Adi meyakinkan. Lalu Adinda pun mengangguk.
"Berarti bukan pelaku kerokan di leher Abang ya?" lanjut umi Adi yang membuat Adinda merasa dituduh.
Adinda tersenyum canggung, enggan menjawab pertanyaan umi Adi, "Aku permisi dulu, Mi. Mau ambil air hangat buat bikin susu." ungkap Adinda yang langsung kabur ke arah dapur.
Sesampainya di dapur Adinda mengatur nafasnya, "Alhamdulillah selamat." gumamnya dengan mengelus dadanya.
"Selamat dari apa Kak?" tanya Edi yang mengambil beberapa makanan dari dalam lemari es.
"Aduh, terkejut aku!" sahut Adinda yang berbalik dan menatap kaget Edi yang tengah berjongkok.
__ADS_1
"Eh, maaf kak. Kaget ya?" ujar Edi dengan tersenyum lebar.
"Bukan lagi!" balas Adinda cuek dan menekan tombol merah pada dispenser air.
"Kak, Abang Adi gimana orangnya? Romantis tak sama akak?" tanya Edi memperhatikan gerakan Adinda.
"Kau tanya lah sama betinanya! Kenapa pula kau tanya sama aku?" cetus Adinda cuek dan berlalu dari dapur. Edi terkekeh kecil dengan menggelengkan kepalanya.
Saat Adinda hendak memasuki kamar, ia langsung ditegur oleh umi yang keluar dari kamar sebelahnya.
"Adi kemana ya, Nak?" tegur umi terlihat bingung.
"Oh, ada di dalam umi. Abang ketiduran barusan." jawab Adinda santai. Ia tak menyadari jawabannya membuat umi Adi kaget mendengarnya.
"Tidur di kamar kamu? Yang benar saja!" ucap umi Adi yang langsung mendahului Adinda untuk masuk ke kamarnya. Adinda bingung dengan reaksi umi Adi yang demikian. Ia bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan umi?
Adinda dan umi Adi menyaksikan pemandangan Givan yang tertidur dengan berbantal lengan kokoh Adi. Umi Adi yang hendak membangunkan Adi pun mengurungkan niatnya. Ia tak tega mengganggu makhluk kecil yang tertidur pulas bersama putranya tersebut.
"Kamu tidur di kamar sebelah aja ya? Umi harap kamu bisa jaga diri kamu." ucap umi Adi yang langsung diangguki Adinda.
Adinda menaruh gelas berisi air hangat itu di atas nakas. Ia lalu mengambil handphonenya dan merogoh kantong Adi yang terlihat ada bungkus rokok di dalamnya. Adi tidak terusik dengan gerakan Adinda. Lalu Adinda pun pindah ke kamar sebelah.
Adinda termenung sendirian di kamar Adi, dan sesekali ia menghembuskan rokoknya. Ia sedikit kecewa dengan Adi yang tak jadi ikut kembali ke provinsi A bersamanya.
Ia enggan bertanya terlalu jauh, biarkan Adi yang akan menceritakan sendiri alasannya.
ADINDA POV
Berulang kali aku mencoba posisi tidur yang nyaman untukku, tapi tetap saja aku tak bisa memejamkan mataku. Apa aku kembali saja ya ke kamarku? Pasti umi sudah tidur juga, ia tak mungkin kembali ke sini untuk memeriksa kamar satu persatu.
Aku punya ide, aku kunci saja pintu kamar Bang Adi dari luar. Lalu aku masuk ke kamarku dan aku kunci juga pintu kamarku dari dalam. Ini pasti aman, umi atau yang lainnya tak akan bisa masuk ke dalam kamar.
Aku langsung bergegas keluar dari kamar Bang Adi. Misi ku selesai, dan aku bisa tidur bersama Abangku dan anakku.
Aku berbaring di sebelah Bang Adi, ia mendengkur halus. Mungkin ia sangat lelah sekali hari ini.
Aku sempat memikirkan pertanyaan Bang Adi, yang pernah menanyakan apa aku tertarik padanya. Aku malah ingin bertanya balik pada dirinya. Apakah dia memiliki rasa padaku? Dengan perlakuannya yang demikian, aku malah mengiranya ia tertarik padaku.
Aku tau Bang Adi begitu pemilih dan jelas tak akan pernah mau denganku, dengan statusku yang janda ini. Tapi kenapa ia malah selalu berada di dekatku? Ah mungkin aku hanya kege'eran saja.
__ADS_1
Sejujurnya aku selalu ingin berada di sisinyanya tanpa menutupi sifat asliku. Aku ingin Bang Adi mengenalku dengan baik. Dan semoga bisa merubah kebiasaan burukku. Berbeda halnya dengan beberapa kekasihku dulu, aku selalu menutupi keburukanku. Karena aku paham, seburuk-buruknya laki-laki pasti menginginkan wanita baik-baik untuk dijadikan pendampingnya.
TBC.