
AUTHOR POV
Adi sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sekarang Adi dan keluarganya berada di rumah Adinda yang berada di perumahan belakang kedai kopi.
Adinda tengah berbenah dan membersihkan rumahnya dari debu yang menempel pada barang-barang dan perabot lainnya.
"Biar aku pompa dulu kasur lantainya." ucap Adinda yang melihat beberapa orang merebahkan diri di lantai.
"Dinda kalau kau mau nikah sama Abang nanti Umi kasih rumah buat hadiah pernikahannya." ujar ibu Meutia mengguraui Adinda.
"Kok aku gak dikasih rumah." tutur Edi dengan memasang wajah memelas.
"Umi kan lagi ngiming-ngimingin Dinda dulu." sahut ibu Meutia dengan kekehan.
"Nanti Abang dikasih apa Umi?" tanya Adi yang terlihat tengah bercanda.
"Ya kau kan dikasih anak sama Dinda nantinya." balas ibu Meutia dengan melirik Adinda yang diam saja.
"Dek, nanti Abang kau kasih berapa anak?" tukas Adi bermaksud bercanda pada Adinda.
"Tergantung seberapa kuatnya kau lah Bang." sahut Adinda yang mendapat tawa geli dari semua orang.
"Jadi kau mau tak Dek?" tanya ibu Meutia pada Adinda.
"Tak mau, Umi. Rumah juga tak cukup lah. Nanti aku makannya dari mana?" tutur Adinda menjeda ucapannya sejenak, "Apa tak sekalian ladang usaha gitu." lanjutnya kemudian.
"Ngelunjak itu namanya! Udahlah Umi, jangan gurauin dia. Tak seru." protes Adi.
Dinda masuk ke dalam kamar dan keluar dengan membawa beberapa sampah kering dari dalam kamar.
"Kamar perempuan macam kamar laki-laki kak, kenapa bisa banyak tisu gitu." ungkap Edi yang melihat beberapa tisu bekas pakai.
"Oh, itukan kamar yang dipakai Abang sama Kak Dinda kemarin Bang Ed." Zulfa menyahuti. Adi langsung melemparkan bantal sofa pada Zulfa yang tengah berbaring di lantai bersama ibunya.
Tawa langsung Edi pecah mendengar ucapan Zulfa itu. Ibu Meutia terlihat tengah berpikir, lalu ia bangkit dan mengikuti Adinda yang menuju dapur.
"Din" panggil ibu Meutia.
Dinda tengah menyatukan sampah keringnya dan memasukannya dalam kantong plastik hitam, lalu mengikatnya.
"Ya Umi." sahut Adinda, menoleh pada ibu Meutia yang duduk di kursi makan yang hanya terdapat dua kursi, dan satu meja makan berukuran kecil.
Kemudian Adinda berjalan dan mencuci tangan pada wastafel.
"Kalau Bang Adi udah terlalu jauh bilang ke Umi ya? Umi tak mau anak Umi larut dalam dosa besar." ucap ibu Meutia setelah beberapa saat ia terdiam.
__ADS_1
"Terlalu jauh bagaimana, Umi?" tanya Adinda yang mengelap tangannya dan duduk di kursi di samping ibu Meutia.
"Zina. Umi tak mau anak-anak Umi memiliki anak diluar pernikahan. Cukup Edi saja, semoga yang lainnya tak seperti itu." ungkap ibu Meutia dengan memegang tangan Adinda. Ia harap Adinda mengerti maksudnya.
"Yang penting kan jangan sampai hamil, gitu kan Umi?" jawab Adinda. Sontak membuat ibu Meutia melebarkan matanya dan menoleh cepat pada Adinda.
"Umi serius Dinda!" seru ibu Meutia kemudian.
"Hehe, maaf Umi." sahut Adinda, "Iya aku paham, memang aku sama Abang sudah sedekat itu. Tapi kami tak sampai melakukan hubungan s*ksual." lanjut Adinda jujur.
"Umi suka sikap jujur dan terbuka dari kau, Din. Coba mintalah kejelasan pada anak Umi. Terus cepet minta dia nikahin kau." balas ibu Meutia.
"Aku pernah minta kejelasan, meski aku tak bertanya jelas. Tapi aku yakin Bang Adi paham maksudku." Adinda menjeda ucapannya, "Intinya kami hanya berteman. Dan tak akan mungkin bisa lebih dari teman." jelas Adinda kemudian.
"Umi pengennya kau yang jadi istrinya Adi." ungkap ibu Meutia serius.
"Tapi kita yang tak mau Umi." jawab Adinda tak kalah serius.
"Kenapa? Coba jelasin!" sahut ibu Meutia.
"Bang Adi, tak menginginkan aku jadi istrinya. Banyak alasan yang membuat Bang Adi enggan meminangku, Umi. Dan aku juga belum ingin menikah lagi. Aku masih ingin bebas. Aku pun ngerasa mampu untuk ngurus anak sendiri dan ngebiayain kebutuhan anakku sendiri." ungkap Adinda terlihat sungguh-sungguh.
"Tak boleh menyombongkan diri macam itu Nak." ujar ibu Meutia dengan memegang kepala Adinda dan mengelusnya perlahan.
"Maaf kalau Umi terlalu maksa. Umi hanya tak ingin kau dan Bang Adi larut dalam dosa. Jangan sampai pokoknya! Kau harus bisa jaga diri kau ya Nak. Ingetin Bang Adi jika ia berkehendak demikian." tukas ibu Meutia menepuk pelan punggung Adinda.
Adinda mengangguk, "Iya Umi." sahutnya cepat.
"Mamah makan siang." ucap Givan yang berlari ke kamar mandi, "Siapin Mah! Aku mau pipis dulu." lanjut anak itu.
"Baru nyampe gini. Beli aja kali ya? Biar cepet dan hemat waktu. Kayanya udah pada lapar." tutur ibu Meutia bangkit dari kursinya dan pergi menuju ruang depan.
Adinda masih termenung dengan menopang dagu. Pikirannya menjelajah kembali pada saat ia sedang bercumbu dengan Adi. Ia paham meski ia tak sampai berhubungan badan, tapi seperti itu juga termasuknya sudah zina. Ia jadi terpikirkan dengan semua dosa-dosanya dulu. Ia sekarang masih merubah dirinya menjadi yang lebih baik. Tapi ia merasa masih di titik ini saja dan tidak ada perubahan yang menentu. Ia merasa hijrahnya begitu berat.
"Dek, Umi ngomong apa tadi?" tanya Adi yang menarik kursi di sebelah Adinda, lalu mendudukinya.
"Kaget aku!" ucap Adinda dengan menoleh cepat pada Adi.
"MAMAH, CELANA AKU KENA PIPIS." teriak Givan mencuri atensi mereka berdua.
"Ya Bang, lepas aja." sahut Adinda yang meninggalkan Adi, dan berjalan menghampiri anaknya tersebut.
Selepas Adinda membersihkan Givan. Ia mengajak Givan untuk memakai celana di kamar.
"Ih malu, ada Papah Adi." seru Givan yang melihat Adi tengah duduk di kursi makan. Reflek Givan menutupi k*malu*nnya dan berlari cepat menuju kamar.
__ADS_1
"Tuh tengok! Anak kecil aja punya malu. Kau malah tunjukin di depan mata aku." ujar Adinda menyindir Adi saat melihat anaknya tadi.
"Nyatanya kau pun suka!" sahut Adi tersenyum miring.
Namun Adinda tak menghiraukan Adi. Ia terus berjalan menuju kamarnya.
~
Malam telah tiba, Adinda pamit untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia meminta Adi dan keluarganya untuk tetap tinggal di rumahnya saja.
"Sepercaya itu kak Dinda sama abang, ya Umi?" ungkap Edi dengan menyenggol ibu Meutia.
"Nah itulah. Takutnya kaya Bena sama kau lagi kan." ucap ibu Meutia.
Edi merasa tersinggung dengan ucapan ibunya, "Jangan ngomong gitu dong, Umi." sahutnya dengan bersandar manja pada ibunya.
"Menurut Umi, abang sama kak Dinda ini bagaimana?" tanya Edi kemudian.
"Sama-sama belum ingin menikah. Kalau rasa mungkin ada, sepertinya." balas ibu Meutia menyahuti.
"Kenapa ya abang gak gercep gitu. Kak Dinda kan tak ada kurang-kurangnya, ya Mi?" ujar Edi memberikan pendapatnya tentang Adinda.
"Menurut Umi pun begitu. Mungkin abang kau masih gengsi, karena status Dinda yang bukan gadis lagi." tutur ibu Meutia.
"Ekhm. Betul itu, Umi! Entah karena belum move on dari Shasha itu." tukas Edi cepat.
Adi muncul dari dalam kamar Adinda. Ia berjalan menghampiri Edi dan ibu Meutia yang sedang mengobrol di sofa.
"Sepi betul tak ada Givan. Padahal baru beberapa menit pergi. Rasanya macam lama sekali." ucap Adi yang terlihat bosan.
"Ekhm… memang rasanya begini kalau jauh dari anak tuh." jawab ibu Meutia. perkataannya jelas mengandung arti.
"Kenapa sih Umi, Dinda sama Givan kok pulang segala. Umi suruh balik kah?" tanya Adi yang mengambil tempat di sebelah ibunya. Sekarang posisi ibu Meutia di tengah-tengah Edi dan Adi.
"Masa iya Umi ngusir orang yang punya rumahnya." balas ibu Meutia.
"Sepi betul tak ada mereka. Aku pengen kumpul. Gangguin Givan, gangguan Dinda." Adi bermonolog sendiri dan masuk ke dalam kamar Adinda lagi.
TBC.
Sedih kali aku. Like aku dapat mentok di angka 50an aja, itu pun paling banyak. Padahal view-nya lebih dari itu. Tak apa lah ya, mungkin harus disyukuri aja.
Bagi aku amunisi semangat dong 😋
terimakasih 🥰
__ADS_1