Sang Pemuda

Sang Pemuda
77


__ADS_3

*Ini lebih jorok 🤢


Jangan jijik ya rekan 🤮


Mohon maaf author tak bisa memperhalus ceritanya 🙏


Happy reading*


Detik itu jaga, aku merasakan detak jantungku berdegup kencang. Aku terkejut, aku khawatir padanya. Apa dia tertusuk sesuatu semalam saat hendak tidur di sini. Apa jangan-jangan ia terjatuh dan badannya terluka.


"UMIIII, DINDA BERDARAH." teriakku dengan suara yang sedikit bergetar. Sungguh aku sangat takut melihat Dinda yang bersimbah darah begini.


Terdengar derap kaki umi yang begitu cepat, "Mana?" tanya umi setelah berada di hadapanku.


"Hah? Kok bisa?" ucap umi terlihat kaget.


"Tak tau Umi." sahutku terdengar gemetaran.


"Coba kau cek, mana yang luka." balas umiku menyuruhku untuk melihat luka yang tertutup pakaian.


Aku mencari sumber darahnya. Kemeja bagian belakang, lalu celana hitam ketatnya. Aku teringat ucapannya saat aku ajak shalat sore tadi. Dia mengatakan ia sedang tak shalat.


Tapi bagaimana mungkin, darahnya bisa sebanyak ini?


"Heh, umi suruh kau priksa. Kenapa malah kau raba-raba selang*angannya." ucap umi saat tanganku berada di depan k*malu*n Dinda.


"Sebentar Umi." sahutku masih meraba bagian itu.


Sampai umi menampol tanganku yang berada di selang*angan milik Dinda.


"Tak sopan kau. Dinda lagi begitu kau raba-raba. Di depan Umi pula." balas umi terlihat geram sekali.


"Aku bukan meraba selang*angannya, apa lagi k*malu*nnya. Aku lagi mastiin apa ada pembalutnya tak." ujarku mendongak pada umi.


"Bentar Umi." ucapku kemudian, "Rupanya lagi halangan. Ada ganjalan pembalut di selang*angannya." lanjutku melepaskan tanganku dari sana.


Aku mencium tanganku yang berlumuran darah. Ini seperti bau darah segar. Ya memang aku tak tau juga bau darah haid itu bagaimana. Tapi tak mungkin juga rasanya darah haid sebanyak itu.


"Jorok! Tau darah haid, kau cium segala. Segitu gilanya kah kau pada Dinda?" seru umiku yang menjauhkan tanganku yang berada di depan hidungku.

__ADS_1


Aku tak menghiraukan celoteh umiku. Aku pergi sebentar ke kamar mandi untuk mencuci tanganku. Dan kembali lagi ke tempat Dinda yang masih tertidur.


Terlihat umi tangah menggoyang-goyangkan tubuh Dinda, sesekali menepuk pelan pipi Dinda, "Dinda, bangun Nak." suara umi yang tengah memanggil nama Dinda, dan berusaha membangunkannya.


"Dek, bangun Dek." ucapku mencoba membangunkannya.


Namun Dinda tak ada pergerakan. Apa ia terlalu banyak menegak alkohol kah? Apa jangan-jangan ia pingsan lagi karena darah yang cukup banyak keluar.


"Umi, tolong salinin Dinda. Aku mau telpon Jefri dulu." ujarku pada umi.


Namun umi menggeleng, "Kau aja lah. Umi ngeri liat darahnya sebanyak itu. Darah seger itu." ungkap umiku yang membuatku semakin khawatir.


"Aduh, gimana ini." tukasku panik.


"Taruh Dinda di kasur angin. Terus kau salinin dia. Biar Umi yang telfon Jefri." tutur umiku kemudian.


Tak ada pilihan lain. Sepertinya aku harus mengorbankan puasaku hari ini. Entah disengaja atau tidak. Aku khawatir nanti aku berhasrat padanya.


Aku lalu menggendongnya ala bridal style yang tentu tak romantis sekarang. Aku menempatkannya pada kasur angin yang berada di depan ruang samping.


Aku melihat umi sekilas sedang mengutak-atik ponselnya. Mungkin ia akan menelpon Jefri sekarang.


Lalu aku membersihkan sisa darahnya yang berada di lantai ruang tamu. Setelahnya, aku memperhatikan umi yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Umi masuk gih ke kamar." seruku pada umi.


"Kenapa sih? Kau ambillah dulu pakaiannya, pembalutnya juga. Terus ambil lap dan baskom di isi air buat nyeka badannya yang kena darah. Biar nanti Jefri datang, Dinda udah rapi, tak berdarah-darah begitu." ucap umi memberitahu apa yang harus kulakukan.


"Aku malu lah, Umi." sahutku kemudian.


"Kau tega mau ngapa-ngapain Dinda saat Dinda lagi tak berdaya begini?" balas umi menurunkan ponselnya terlebih dahulu.


"Tak mau ngapa-ngapain juga. Aku malu sama, Umi. Dinda juga kalau tau pasti malu." ujarku dengan menggaruk kepalaku yang tak gatal.


"Jadi maksud kau Dinda tak malu kalau sama kau?" ungkap umi dengan menatap tajam padaku.


"Bukan begitu juga maksudnya. Aduh, bingung kali aku." tuturku dengan berjalan mondar-mandir.


"Udah sana ambil dulu barang-barangnya. Terus nanti Umi masuk ke kamar." tukas umi akhirnya mengerti juga maksudku.

__ADS_1


Lalu aku bergegas mengambil pakaian Dinda di lemari. Aku mengambil rok hitam berpotongan besar. Dan kemeja panjang berwarna dongker. Beserta pakaian dalamnya juga. Lalu aku mengambil pembalut dengan bungkus hitam. Hanya pembalut itu yang berada di lemari Dinda. Tak lupa aku mengambil lap seperti sarung tangan yang berserat seperti handuk.


Setelahnya aku mengambil baskom berisi air, dan menarik handuk yang biasa Dinda bawa ke kamar mandi.


"Udah Umi. Gih masuk." pintaku dengan malu-malu.


"Ingat, jangan macem-macem!" peringatan dari umi yang langsung kuangguki. Lalu umi berlalu masuk dalam kamar.


"Bismillah" gumamku pelan sebelum melepaskan hijab yang menutupi kepalanya, lalu aku melucuti pakaian Dinda. Sungguh aku gemetaran sekali. Antara khawatir padanya dan menahan hasrat sialan yang tak tau situasi ini. Aku merasakan Adi's bird tegang sempurna saat aku mulai melihat tubuh t*lanjangnya dengan begitu jelas.


Setelah aku berhasil melepaskan pakaiannya, aku mulai mengelap wajahnya. Lalu melanjutkannya dengan cepat. Takut-takut aku malah melakukan hal yang tak senonoh padanya.


Baru kali ini aku melihat k*malu*n wanita saat mengeluarkan darah seperti ini. Jujur ini membuatku sedikit jijik. Tempat Adi's bird ku bersarang, ternyata bisa berdarah seperti ini setiap bulannya.


Setelahnya aku mengelap tubuhnya dengan handuk lalu hendak memasangkan pakaiannya satu persatu.


Oh aku lupa, aku mengelap kasur angin yang terdapat bekas darahnya. Setelah mengelapnya dengan kain basah, lalu aku mengelapnya dengan handuk Dinda. Dan langsung kupakaikan Dinda pakaian dalam.


Untungnya kasur angin ini kedap air. Kasur ini sejenis kasur yang digunakan untuk mengapung di atas air. Tinggal di pasangkan seprei saja, untuk beralih fungsi untuk menjadi tempat tidur.


Huft, akhirnya aku selesai juga.


"Umi, aku udah selesai. Aku mau bersihin bekas darahnya dulu ya." ucapku membuka pintu sedikit dan memunculkan kepalaku dari situ.


"Iya, dicuci pembalut bekasnya." sahut Umi pelan. Agar Givan tak terbangun. Aku mengangguk mengerti, dan berjalan menuju kamar mandi.


Sebelum aku mencuci bekas darah Dinda. Aku melepaskan dulu cairan yang membuatku merasakan sakit kepala ini. Kepala bawah yang bermasalah, tapi kepala atas juga menanggung deritanya. Nasib bujang! Lepas aku beristri nanti, kupastikan tidak akan terjadi lagi aku bermain sabun seperti ini.


Setelah aku merasa lega, aku mencuci bekas darah Dinda. Ya ampun, darah bekas nifas istriku pun belum pernah aku merasakan mencucinya. Eh, malah harus kucuci bekas darah janda beranak satu ini.


Setelah selesai, aku berlanjut mandi besar hasil perbuatanku dengan sabun tadi.


Aku menyegerakan diriku, saat kudengar suara Jefri yang sudah berada di sini.


Cepat juga itu dokter datang.


TBC.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, VOTEnya 😉

__ADS_1


terimakasih 🙏


__ADS_2