Sang Pemuda

Sang Pemuda
123


__ADS_3

"Tak mau. Aku udah tak mampu kalau harus sekolah lagi. Otak aku udah tak mampu digembleng pelajaran yang hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiriku." jawabnya kemudian. Aku tak percaya Dindaku selemah ini tentang pelajaran.


"Itu sih, Adek kok pandai kali masalah kesehatan. Belajar dari Haris dan Jefri kah?" sahutku dengan duduk di tepian tempat tidurnya.


"Tak juga. Aku ada aplikasi chat sama dokter-dokter gitu. Dulu waktu aku sakit, Givan sakit, aku nanya obat yang tepat dan dosis yang sesuai dari aplikasi itu. Soalnya dulu b*js aku tak aktif, mati dia karena aku tak mampu bayar iurannya." ungkapnya bercerita dengan tangan kanan yang memeluk tangan kiriku.


"Terus, aku tak bisa ke dokter juga. Karena tak ada duit. Modal tethering, aku nanya sama dokter-dokter di aplikasi itu. Cuma nanya obat yang tepat sama dosis aja. Karena siklusnya begitu terus. Dikasih penjelasan sama dokternya, kasih tau obat yang bisa dibeli di apotek, sama dikasih tau dosisnya." lanjutnya. Sebetulnya gampang juga mengalihkan perhatiannya. Dengan mengobrol begini. Ia lupa dengan rengekannya.


~


~


Empat hari dari kejadian Dinda dirujuk ke rumah sakit. Sekarang ia sudah diperbolehkan pulang, karena keadaannya yang sudah pulih. Selama empat hari itu, aku bolak balik ke rumah untuk mengurus anak laki-lakiku yang sempat rewel. Semalam pun ia menginap di rumah sakit, denganku yang menemani Dinda.


"Pah, jadi kapan kita jalan-jalannya?" tanya Givan yang duduk dipangkuanku yang sedang mengemudi. Tingkahnya semakin menjadi-jadi saja. Tingkah isengnya kumat, jika melihat jalanan sepi. Ia pasti akan memencet klakson berkali-kali.


"Coba tanya Mamah." jawabku yang fokus pada jalanan.


"Mah kapan?" tanya Givan dengan menoleh pada ibunya yang sibuk dengan ponselnya.


"Sekarang aja. Yang deket aja dulu." jawab Dinda dengan senyumnya. Lihat matanya begitu bengkak. Jelas saja, karena tiap hari ia lalui dengan menangis terus. Berhenti menangis kalau aku tengah mengoceh dan aktif bertanya saja. Selebihnya ia menangisi tangannya yang membengkak itu.


"Jangan dulu deh. Mamah aku masih jelek. Nanti difotonya tak bagus." sahut Givan kemudian. Aku terkekeh geli mendengarnya. Berbeda dengan Dinda yang mamanyunkan bibirnya.


"Udah sore juga ini. Tempat wisata ya udah pada tutup." ucapku melirik jam tanganku yang menunjukkan sudah pukul empat sore. Karena Dinda diminta menunggu dokter yang menanganinya terlebih dahulu. Makanya ia baru diperbolehkan untuk pulang di sore harinya.


Dua puluh menit kemudian, kami sudah sampai di rumahku. Beberapa orang memperhatikan aku, yang menggendong Givan dan menggandeng tangan Dinda.


Entahlah apa yang mereka gosipkan. Aku sudah tak peduli. Terlebih lagi kawan-kawan aku yang tau seleraku tentang perawan, sekarang mereka tau bahwa yang persunting adalah janda anak satu. Meski begitu, aku tak merasa malu atau bagaimana. Aku merasa bangga bisa memperistri Dinda. Semoga juga Dinda demikian.


~


Malam harinya, setelah menunaikan shalat isya dengan aku yang jadi imamnya. Aku, Dinda dan Givan tengah bersenda gurau di atas tempat tidur.

__ADS_1


Givan tengah asik dengan ponsel ibunya, dengan bersandar pada kepala ranjang. Dan Dinda yang memelukku dari belakang. Karena posisiku sekarang tengah memungguginya.


"Bang, besok Abang yang cuci baju ya? Tangan aku masih sakit kali." ucapnya menegakkan kepalanya dengan menciumi pipiku. Hmm, dia menciumiku karena ada maunya. Agar ia terbebas dari tugasnya.


"Tuh kan, suka cium-cium yang jadi papah aku. Dulu papah Hendra yang Mamah cium-cium. Sekarang papah Adi aku yang mamah cium-cium. Awas aja kalau papah Hendra pulang, Mamah tak boleh cium-cium papah Hendra lagi." ujar Givan yang melihat tingkah ibunya yang tak tau situasi ini.


"Ok siap." sahut Dinda mantap.


"Ya, Bang ya? Atau beli mesin cuci gitu. Macam punya aku di rumah kota C. Murah itu cuma 1,3 juta." lanjutnya membujukku lagi.


"Ok, bikin listnya apa yang mau dibeli. Beli yang mahal sekalian, yang otomatis. Biar tak usah Adek isi air, buang air, keringin." sahutku dengan menarik dagunya, lalu mencium pipinya.


Hmm, sudah bisa ditebak. Adi's bird meronta-rontan sekarang. Sabar ya Adi's bird, Adindaku masih terlihat lemah.


"Papah, aku mau bobo. Bikin susu dulu. Yang banyak, biar manis." ucap Givan yang menaruh ponsel ibunya begitu saja. Lalu ia mendekatiku dan langsung memeluk leherku.


"Bikin sama Mamah yuk?" ajak Dinda dengan duduk dari posisinya.


"Iya dong, Papah kan manis. Mamah aja sampai terpesona sama Papah." tuturku dengan senyum yang menggelikan. Dan itu sukses membuat dua orang yang menjadi duniaku tertawa lepas.


"Susu buatan Papah yang manis. Bukan Papahnya. Papah kan itam dekil begitu, tak ada manis-manisnya." tukas jagoanku yang mengulurkan kedua tangannya begitu aku bangkit dari tempat tidur.


"Memang Papah itam dekil, Mah?" tanyaku pada Dinda.


"Hmm, Papah kan itam mameh." jawab Dinda dengan mengedipkan sebelah matanya. Ia terlihat begitu menggiurkan. Ditambah rambut bergelombangnya yang sehabis dimaskerinnya. Membuat wanginya sampai semeriwing di hidung terongku. Itam mameh adalah bahasa daerah sini, yang berarti hitam manis.


"Weeek, Papah jelek macam itu. Dibilang itam mameh. Mamah tuh kena peletnya Papah." ucap Givan dengan menjulurkan lidahnya. Segala pelet dia tau. Hadeh, dasar anak ajaib. Anak jaman now.


Lalu aku pergi ke dapur untuk membuatkan susu untuk jagoanku yang pandai meledek ini.


Dan, seperti biasa. Givan tertidur setelah kutimang-timang. Perlahan aku menidurkannya di tempat tidur.


Aku kira Dinda sudah tertidur setelah meminum obatnya. Ternyata ia masih asik dengan ponselnya saja.

__ADS_1


Beberapa kali ada suara getar ponsel yang terdengar samar. Dinda langsung membalik layar ponselnya, saat aku mengambil posisi tiduran di sebelahnya.


"Lagi chat sama siapa?" tanyaku dengan menempatkan tanganku di atas perut datarnya.


"Sama kak May. Sama beberapa temen juga." jawab Dinda dengan menyentuh tanganku yang berada di perutnya.


"Siapa kak May? Boleh Abang liat hpnya." sahutku dengan mencium pipinya sekilas.


Dinda memberikan ponselnya, dan dia bersuara kembali.


"Istrinya kakak aku, istrinya a Arif. Namanya kak Maylani. Orang sebrang juga dia Bang, orang B***********. Masih satu kota sama bang Haris." ujarnya, "Hutang di pak cek berapa, Bang?" lanjutnya dengan berbalik memeluk tubuhku.


"Untuk biaya rumah sakit aja. Soalnya b*js Adek kelas tiga. Abang mana tega Adek dirawat di kamar yang isi delapan orang." balasku mengecek pesan chatnya. Ternyata benar, hanya dari teman-teman yang satu profesi sebagai penulis. Yang ia obrolkan juga tentang penerbit dan uang pendapatan dari platform novel online. Meski memang ada sebagian orang temannya adalah laki-laki, tapi mereka bertanya wajar.


"Adek punya toko serba tiga lima ribu?" tanyaku yang membaca pesan chat antara Dinda dan kakak iparnya.


"He'em. Cuma aku keteteran. Aku tak bisa ngatur barang masuk dan barang keluar. Pembukuan keuangan dan lainnya. Jadi dijalankan sama kak May." jelas Dinda.


"Terus kok ini dia bilang uangnya mau dikirim apa mau dibelanjakan barang yang belum ada di list tokonya?" tanyaku dengan menunjukkan pesan yang baru masuk itu.


"Modalnya dari aku. Tapi aku pasrahkan semuanya sama kak May dan a Arif, soalnya keadaan keuangan mereka belum kecukupan." jawabnya. Sebegitu dermawannya kah istriku?


"Terus dibagi hasilnya?" sahutku kemudian. Bukan aku menginginkan uang istriku. Hanya aku ingin tau saja.


TBC.


Biasanya orang yang pernah kesulitan dalam masalah keuangan. Saat ia cukup berada, ia tak akan perhitungan untuk membantu sesama dan orang-orang terdekatnya.


Tapi tergantung sifat orangnya juga sih 😁


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2