
"Cek lab, Dinda demam tinggi tiap malam, udah empat hari berturut-turut." sahutku menyangkalnya.
"Akak ngapain di sini? Sama siapa?" tanya Dinda pada Shasha.
"Habis cek darah, diminta bidan suruh cek darah di sini." jawab Shasha kemudian.
"Kenapa diminta cek darah?" tanyaku yang melihatnya keadaannya baik-baik saja.
"Untuk mengetahui apakah ibu hamil mengalami penyakit tertentu, seperti infeksi atau kurang darah, serta untuk mendeteksi kelainan pada janin." jelas istriku macam dokter.
Aku menoleh padanya dan tersenyum lebar, aku mengangkat tanganku untuk membelai lembut kepalanya yang berhijab coklat muda ini.
"Hana payah mesra-mesraan di depanku dong." ucap Shasha yang menarik atensiku dari Dinda.
"Macam dulu tak pernah merasakan dibelai sama aku aja." ujarku membuat alis Dinda berkerut. Eh, aku keceplosan. Jangan-jangan Dinda belum tau kalau Shasha adalah mantan tunanganku.
"Dulu ya dulu. Aku duluan ya, Dek." sahut Shasha dengan berlalu pergi dari hadapan kami.
"Memang Abang sama kak Shasha dulu pernah ada hubungan?" tanya Dinda tepat.
Sebelum menjawab aku memperhatikan wajahnya terlebih dahulu. Takut-takut ia tak toleransi dengan kenyataan yang sebenarnya.
"Cari bakso yuk." ajakku dengan menggandeng tangannya.
Namun Dinda mogok, ia sengaja tak melangkahkan kakinya. Sepertinya ia menantikan jawabanku. Tapi aku takut setelah ini aku dan dia malah bertengkar.
"Ayo Dek." ajakku lagi.
"Jawab!" ucapnya dengan menatapku intens.
"Iya sambil cari tempat duduk. Memang tak capek berdiri terus?" sahutku kemudian, dan Dinda melangkahkan kakinya mengikutiku.
"Jadi?" tanya Dinda singkat. Setelah menemukan gerobak pedagang bakso. Lalu kami berdua duduk di tempat yang telah disediakan, setelah memesan dua mangkuk bakso. Jadi Dindaku masih membahas tentang hal itu tadi.
"Shasha...salah satu mantan Abang yang pernah Abang sebutin itu." ungkapku dengan memperhatikan wajahnya
__ADS_1
"Lebih tepatnya mantan tunangan Abang." lanjutku saat Dinda hanya berekspresi datar.
"Kenapa sih diem aja." tanyaku kemudian, karena Dinda masih enggan berkomentar.
"Aku tak menyangka, ternyata kak Shasha mau digituin Abang. Pasti rugi besar dia." jawabnya dengan memutar bola matanya. Dinda tak marah ternyata.
"Digituin gimana? Kau aja diem aja. Kau nampaknya lebih suka rela digituin sama Abang." ujarku dengan tersenyum mengejeknya.
"Memang, apa lagi waktu badan Abang lagi bagus-bagusnya itu. Aku bayangin maen tiga kali sampai lima kali sehari. Pasti plong beban hidup, beban pikiran yang menumpuk segunung. Iya kan Bang?" ucapnya dengan suara pelan, dan senyum merekah yang menghiasi wajahnya.
"Untuk hidup sehat, normalnya maen seminggu tujuh kali. Kalau kau minta sehari tiga sampai lima kali yang ada Abang encok, Dek." sahutku yang ia respon dengan tawa renyah. Aku pun terundang untuk mengikuti tawanya.
"Aku pernah nonton video pengakuan artis yang banyak kontroversi itu, di channel y*utubenya. Bang dia pernah maen delapan kali sehari. Hebat kali kan suaminya. Padahal suaminya orang Indonesia." balas Dinda dengan mata berbinar.
Betulkah wanitaku secandu ini pada s*ks? Apa betul-betul dia menginginkan maen berkali-kali dalam satu hari? Sejauh ini aku mencoba daya tahanku sendiri. Aku hanya pernah melakukannya tiga kali dalam sehari, itu pun dironde ke tiga aku beristirahat dulu. Aku hanya mampu menyambung dua ronde saja.
"Kalau Abang tak bisa begitu macem mana?" ujarku ingin tau apa yang akan dia lakukan nanti.
Dinda menoleh dengan tatapan anehnya, "Makanya olah raga yang teratur. Biar keluarnya agak lamaan. Nanti kalau Abang udah ada uang, aku beli alat-alat olah raga. Terus makanannya dijaga. Biar kualitas airnya bagus. Terus sesekali makanlah sate kambing muda, dan telor bebek. Tapi sesekali aja, jangan terlalu sering. Kalau masih tak berhasil juga. Abang nanti aku tuker tambah." ungkapnya yang membuatku melongo.
"Dilarang pakai obat kuat. Aku tak mau jadi janda gara-gara jantung suamiku meletup karena obat kuat." ucapnya dengan mengetuk-ngetuk hidungku dengan telunjuknya.
Aku tersenyum kecil padanya, "Dek, jangan bikin Abang minder macam ini dong." ucapku dengan masih memasang senyum kecil.
Sebelum Dinda menjawab, pedagang bakso itu mengantarkan pesanan kami. Dan Dinda mengucapkan terima kasih pada pedagang tersebut.
"Biasanya pemuda kan kuat lama. Abang kan tak mungkin gitu juga kan?" ujarnya dengan membubuhkan sedikit sambal pada makanan berkuah itu.
"Tak tau. Kemarin aja tak lama." sahutku membuat Dinda menoleh dengan tatapan tajam.
"Sama siapa kemarin?" tanyanya mengintimidasi.
"Ehh, maksud Abang... terakhir Abang maen, Abang keluar lebih cepat dari biasanya." jawabku gelagapan. Dinda hanya mengangguk dan melanjutkan aktifitasnya dengan baksonya. Aku pun terdiam dan menyantap makananku. Aku paham jika Dinda makan, ia butuh konsentrasi penuh.
Satu jam lebih, hasil tes sudah keluar. Dari hasil tes widal, petugas medis itu mengatakan bahwa Dinda positif tifus. Dan harus segera dirujuk ke rumah sakit. Petugas medis tersebut langsung membuatkan surat rujukan untuk rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Namun Dinda mengatakan sesuatu, yang maksudnya agar dirinya tak perlu dirujuk ke rumah sakit. Aku paham ia begitu tersiksa dengan jarum infus semacamnya. Pasti ia tengah ketakutan sekarang.
"Namun bisa saja kan, Bu? seseorang yang hasil tes widalnya positif, namun tidak mengidap sakit tifus. Lantaran tubuhnya memang memiliki anti bodi sendiri, untuk bakteri yang menyebabkan seseorang sakit tifus." ucap Dinda dengan tangan yang selalu menggandeng tanganku.
"Betul seperti itu. Tapi agar keadaan Kakak cepat pulih, dan tidak demam setiap malam. Lebih baik Kakak dirujuk ke rumah sakit saja." jawab petugas medis tersebut. Dinda langsung menoleh ke arahku dengan menggelengkan kepalanya berulang kali.
Aku tau, ia ingin aku menolak surat rujukan itu. Tapi aku lebih khawatir dengan keadaannya. Sekalian pun penyakit itu ringan, tapi jika disepelekan akan menjadi masalah pada tubuh kita sendiri.
"Tak apa. Abang temani, ok?" ucapku dengan menggenggam tangannya sedikit kuat.
"Aku udah sembuh kok, Bang. Aku tak mau masuk ke rumah sakit. Nanti di sana diinfus pulak." jawabnya dengan mengikutiku yang berjalan ke tempat administrasi lagi untuk membayar tes tadi, dan mengambil surut rujukan tersebut.
Setelah aku selesai, lalu aku keluar dari puskesmas tersebut. Dan masuk ke mobil, menjalankannya untuk menuju ke rumah sakit yang berjarak satu kilometer dari tempat ini.
Sepanjang jalan, Dinda merengek terus menerus. Ia berujar berulang kali bahwa dirinya sudah baik-baik saja.
Aku bukan menghiraukannya juga, hanya saja aku khawatir bila harus menuruti kemauannya. Aku khawatir malah nanti malam demam tinggi itu datang kembali.
Kalau benar Dinda sudah benar-benar sehat, tak mungkin juga pihak rumah sakit menahannya agar tetap tinggal di rumah sakit tersebut.
Setelah aku mengurus pendaftaran dan kamar rawat inap Dinda. Aku langsung menghubungi bibiku. Bertujuan agar ia mau merawat Givan sampai aku bisa mengurusnya kembali.
Selesai dengan bibiku lewat telepon. Aku kembali meladeni istriku yang menangisi tangannya yang sudah terpasang infus itu. Aku heran padanya, kenapa ia bisa secengeng ini.
"Dek, Adek pandai kali masalah kesehatan. Adek mau tak lanjut kuliah buat jadi dokter." ucapku yang mengalihkan perhatiannya dari tangan kirinya, yang ia tatap dengan prihatin itu.
TBC.
Jadi kapan nih? malah mereka nginep di rumah sakit 😆
Ah Dinda, pakai acara sakit segala.
Jadi kapan Adi tempurnya 🤔
Like, vote jangan lupa 🙏
__ADS_1