
"Hei, dengar baik-baik ya dek..." kesalku tertahan karena dia langsung ditarik oleh....
"Jaga nama baik kau, Dek. Kenapa kau ini, hm?" Itu adalah suara Jefri.
Ya benar, Jefri datang dan membawanya. Dengan santainya dia merangkul Adinda, jadi Adinda ini wanitanya siapa? Apa Adinda saudara jauh dari Haris dan Jefri?
Banyak pertanyaan mengusik pikiranku, aku penasaran dengan dirinya. Sampai aku tak sadar Jefri sudah berada di sampingku, "Jadi?" tanya Jefri tak jelas.
"Apanya yang jadi?" sahutku kaget menoleh ke arahnya.
Dia tersenyum menoleh ke Adinda. "Cantik ya Dinda!" gumamnya lirih tapi masih terdengar jelas.
"Kau tak jelas kali, ngomongin apa sih kita ini?" tanyaku merasa bingung dengan pembahasan kami.
"Jadi kau belum nikah, Di? Haris udah ada buntut dua tuh!" ucap Jefri lalu menunjuk ke arah parkiran. Terlihat Haris baru keluar dari area parkir, sembari menggendong anak perempuan dan menggandeng tangan anak laki-laki. Ayam jago membawa anak ayam, aku tertawa geli melihatnya.
"Huh", aku meredam tawaku "Aku pengen nikah sekali seumur hidup, aku takut nyesal kek Haris karena terburu-buru," ungkapku masih menatap pemandangan Haris yang membawa anak.
"Jadi itu pendapat kau?" sahut Jefri dengan menoleh ke arahku sejenak.
"Ayam jago bawa anak ayam, keknya ngerepotin betul. Terus dengan status dia duda, wanita bakal punya pemikiran ngurus istri aja tak becus!" Pendapatku menghakimi keadaan yang tidak tahu kejadian sebenarnya.
"Hmm, perkara halal yang di benci Allah. Pasti ada alasan di balik semua kejadian."
Aku mengangguk mengiyakan.
Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan kalimatnya, "Sama halnya seperti Dinda, tapi dari awal sampai sekarang aku tak pernah tau alasan apa yang bikin Dinda bisa jadi janda. Padahal sebelumnya, pas dia masih jadi pasienku dia nampak baik-baik aja sama suaminya."
Benar bukan dugaanku, lagian kalau dilihat dari tingkahnya. Suami mana yang tahan, dengan istrinya yang menyebalkan dan terlalu akrab dengan laki-laki. Sekarang pun dia sedang asik tertawa dengan Haris dan beberapa laki-laki di sekitarnya.
"Saudara jauh kau kah?" tanyaku kemudian, dengan mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Bukan, dulu dia salah satu pasien di rumah sakit tempat aku tugas. Kebetulan dia kekurangan banyak darah, dari pihak keluarga sudah mendonorkan tapi masih kurang sedangkan stok darah golongan nya di rumah sakit sedang kosong. Entah kenapa aku tak tega lihat Dinda demikian, jadi aku hubungi Haris yang aku tahu golongan darah Haris sama kek golongan darah Dinda. Kurang lebih lima bulan tak ketemu lagi, terus aku lihat dia sering nongkrong di kedai kopi kau. Agak pangling soalnya badannya lebih berisi dari terakhir aku lihat dia rumah sakit," jelas Jefri panjang lebar.
Aku mengangguk paham, tapi aku malah bertambah penasaran. "Sakit apa memang?" tanyaku singkat.
"Keguguran anak keduanya, tapi pendarahannya sulit dihentikan, untung nyawanya masih tertolong," jawabnya Jefri, dia berjongkok karena anak Adinda menghampiri Jefri.
"Ayah, om ini nubruk aku kuat kali sampai aku terpental jauh dan berguling-guling," ucap anak Adinda sambil mendelik tajam kearah ku.
Apa yang dia katakan? Terpental jauh dan berguling-guling? Hei dia hanya terduduk tadi. Pandai sekali dia berdalih, memang ibu dan anak ini sama-sama menyebalkannya.
Jefri terkekeh mendengar ucapan anak Adinda. "Abang udah kenal belum sama om ini?" Mereka menoleh ke arahku.
Kenapa Jefri ikut memanggilku om? Aku benar-benar tidak suka dengan panggilan itu.
Anak Adinda menggeleng.
__ADS_1
"Ayo kenalan dulu sama omnya," lanjut Jefri kemudian.
"Apa sih kau? Tak suka aku dipanggil om," cetusku cepat dan mendelik tajam ke Jefri.
"Terus Anda mau aku panggil apa?" sahut anak itu dengan kalimatnya yang terdengar congkak, anak ini benar-benar.
"Ayo lanjut kenalannya!" perintah Jefri menginterupsi anak laki-laki itu.
"Kenalin aku Ananda Givan, dan Om harus panggil aku abang biar adik aku juga ikutan." Suara anak laki-laki itu dengan mengulurkan tangannya.
Ibunya Adinda, anaknya Ananda, pasti suami Adinda dulu namanya Kakanda.
Aku menerima uluran tangannya. "Jangan panggil om lagi, ok? Abang yang manis dan baik budi." Aku tersenyum ramah padanya. "Panggil Abang! Nama Abang, Bang Adi," tukasku jelas agar dia mengerti maksudku.
"Abang kan aku ya yah?" tanyanya ke Jefri.
Jefri mengangguk mengiyakan.
"Kok nama Abang sedikit kali?" tanyanya kepadaku, lihat mata kecilnya menatapku dengan polos.
"Nama Abang Adi Riyana, " jawab ku masih dengan mengamati wajahnya.
Sepertinya Givan tipe anak yang mudah bergaul.
Dia merentangkan kedua tangannya memintaku untuk menggendongnya, hm dasar anak-anak.
Rasanya ingin kujitak kepalanya sekarang juga mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya itu.
Jefri tertawa kecil mendengarnya.
"Bang Adi kenapa hidungnya sebesar terong?" tanya Givan sambil menoel hidungku.
Pertanyaan yang tadi saja belum sempat kujawab, muncul pertanyaan masalah hidung.
"Bang Adi tinggal di mana? Kok baru nampak wajah macam Abang disini?" Givan bertanya lagi.
Aku hanya diam saja, cerewet sekali anak ini. Sampai dia mengatakan...
"Abang gagu ya?" Dia berkata tanpa dosa dengan menatap wajahku dengan saksama.
Astagfirullah, ini anak. Rasanya ingin kudaur ulang saja. Sepertinya komposisinya kurang lengkap.
Jefri terbahak mendengar celoteh Givan. Aku memilih untuk memejamkan mata sejenak, meredam emosiku yang mulai meletup-letup.
"Nak, balik gih ke mamah kau. Nampaknya sebentar lagi Abang mau kejang-kejang kalau kau tetap disini terus," ucapku sehalus mungkin. Dia malah memeluk leherku dan bersandar di pundakku.
"Bang Adi kesal ya, maafin aku Bang." Suaranya yang terdengar hampir menangis.
__ADS_1
Ternyata dia peka juga, mengerti akan ucapanku yang menyiratkan bahwa aku ini marah. Aku mengusap punggungnya, kenapa aku jadi merasa tak enak hati begini?
"Abang kalau nanya satu satu ya? Abang belum jawab Bang Givan nanya lagi," jawabku menjelaskan agar dia tidak mengulanginya lagi.
Dia bergumam mengiyakan.
Tak lama aku merasa pundak ku semakin berat, ku dengar nafasnya teratur. Ah, rupanya dia tertidur.
AUTHOR POV
Adinda menoleh ke arah Jefri dan Adi yang sedang mengobrol. Pemandangan Givan digendong Adi dan sepertinya tertidur, Adinda tersenyum samar dan melanjutkan aktivitasnya agar cepat selesai dan mungkin akan mengajak Adi juga untuk makan bersama Haris dan Jefri.
Haris menghampiri Jefri dan Adi dengan membawa kedua anaknya.
"Sampai hati kau sama aku? Tangan kau kosong, Jef! Harusnya kau berinisiatif gendong Kin apa gandeng Ken!" sindir Haris yang terlihat amat lelah.
Jefri hanya terkekeh dan mengambil alih menggendong gadis kecil itu.
"Anak kau ini, Di?" tanya Haris mengguraui Adi.
"Sialan kau!" sarkas Adi mendelik tajam ke mereka berdua.
"Ngapain kau disini?" tukas Haris melihat Adi dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Ngikutin Dinda dia, pesaing kau bertambah, Ris, " jawab Jefri sambil terkekeh.
"Heh, dengar ya baik-baik? Aku tak tertarik dengan Adinda kau itu, " cetus Adi dengan memberi peringatan lewat jari telunjuknya yang ditegakkan.
"Nah terus ngapain kau di sini?" balas Haris santai.
"Aku tak tau kalau penulis buku ini dia," jawab Adi menunjuk Adinda dengan dagunya.
"Jadi kalian berdua berebut janda satu anak ceritanya?" lanjut Adi dengan ekspresi wajah mengejek.
"Aku tiga bulan lagi mau nikah Di," ungkap Jefri serius.
"Hah? Kau nikahin Adinda?" sela Adi kaget.
"Ya bukan Dinda juga, wanitaku perawat di rumah sakit tempat aku bertugas," jawab Jefri santai dengan mengelus rambut gadis kecil di gendongannya.
"Jadi kau kapan nikah?" tanya Haris kepada Adi.
"Harusnya aku yang tanya itu ke kau?" sahut Adi menoleh ke arah Haris.
"Aku kan sudah pernah nikah di!" ungkap Haris tersenyum samar.
"Jadi kalau sudah menikah tak usah nikah lagi? Tak kasian kah kau sama anak-anak kau dan diri kau sendiri?" canda Adi sambil menepuk-nepuk bahu Haris. Di susul tawa renyah dari mereka semua.
__ADS_1
TBC.