Sang Pemuda

Sang Pemuda
124


__ADS_3

Harap pegangan kuat-kuat 😆


"Pas awal-awal aja. Karena jujur waktu itu pun keuangan aku belum stabil. Udah ke siniin, tak pernah lagi. Cuma...aku kemarin waktu di rumah sakit ada cerita keuangan aku lagi buruk. Aku soalnya tak bisa kalau punya hutang. Pas Abang bilang, Abang ada hutang buat biaya rumah sakit. Aku langsung pusing mikirinnya. Terus aku cerita sama kak May. Maaf ya?" ungkapnya dengan memeluk lenganku.


"Hmm, lain kali tak usah cerita ke orang lain masalah keluarga kita. Itu kan hutang, hutang Abang. Nanti juga Abang bisa lunasin sendiri. Dan tenang aja, meski nanti uang kita udah habis. Abang masih bisa kerja buat hasilin uang." ucapku yang menaruh ponselnya dan memiringkan tubuhku, agar bisa berhadapan dengan istiku. Dinda mengangguk samar.


"Besok-besok yang rajin masak. Kalau tak sempet masak, beli makanannya di rumah makan yang bersih aja. Jangan warung pinggir jalan. Abang tak mau Adek sakit macam kemarin lagi." lanjutku menasehatinya.


"Mamang dasarnya lagi penyakit aja, Bang." sahut Dinda kemudian.


"Adek lupa yang dokter jelasin itu. Tifus itu dari makanan yang dijual di pinggir jalan. Bisa jadi dari makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan air kencing dan kotoran manusia. Tak ada salahnya kita mencegahnya. Takut-takutnya ini terjadi berulang, bukan cuma pada Adek. Kalau sampai kejadian sama Givan, gimana? Abang sih mikirnya kan jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Tak ada salahnya juga Adek masak tiap hari. Abang tak pemilih makanan. Asal bersih dan rasanya pas di lidah. Pedas juga Abang doyan." tuturku agar Dinda rajin memasak. Karena aku ingat perkataan ibunya, Dinda masak tuh musim-musiman.


"Tapi aku yang pemilih makanan. Aku cepet bosan sama masakan rumahan yang hanya itu-itu aja." tukasnya menyahuti.


"Ya sekali-kali kita nanti makan di luar. Seminggu sekali apa sebulan sekali gitu kan." ucapku yang langsung diangguki Dinda.


"Aku juga ada liburnya ya Bang. Buat perawatan bulanan." sahutnya yang tak kupahami.


"Libur apa?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya.


"Libur tugas jadi mamak-mamaknya. Aku mesti perawatan. Biar selalu jadi idaman di hati Abang." jawabnya dengan senyum yang merekah.


Aku terdiam sejenak, memikirkan ini. Dinda perawatan bertujuan untuk menyenangkan hatiku. Selain biaya, waktu dan beberapa pekerjaan rumah pasti terbengkalai. Baiknya bagaimana?


Aku tak masalah jika hanya pekerjaan ringan, yang ia tinggalkan. Jika masak nasi, masak lauk, cuci baju, cuci piring, ngepel. Jujur sedikit berat menurutku. Kalau pakai asisten rumah tangga, untuk apa juga. Dinda bisa menghandlenya sendiri. Lagian rumahku tak terlalu besar juga. Hanya tiga kamar, satu ruang tamu, satu ruang keluarga yang menyatu dengan dapur. Dan juga hanya dua toilet.


"Kenapa Bang?" tanya Dinda yang melihatku hanya terdiam.

__ADS_1


"Lagi mikirin. Soalnya ini baru juga buat Abang. Jadi Abang tak terlalu paham harus gimana mengaturnya." jawabku jujur.


"Memang apa sih?" sahutnya.


"Masalah kerjaan rumah. Kalau yang ngawasin ladang, jelas Abang ambil alih. Biar Abang yang kerja di luar. Adek cukup urus rumah dan anak aja. Urus anak pun tenang, Abang bantuin. Abang paham, anak Adek anak Abang juga. Kita harus urus sama-sama. Masalahnya, kalau Adek minta libur tugas. Gimana kotornya rumah, gimana numpuknya cucian, dan pasti piring pada habis karena kotor semua." balasku sambil menerawang jauh.


Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Dinda rajin salin, satu hari bisa tiga stel pakaian. Pagi, sore, dan mau tidur pun ia ganti pakaian lagi. Belum lagi pakaian dalamnya, yang setiap waktu shalat pasti ia ganti. Belum hijabnya yang harus senada itu. Pakaiannya ganti, hijabnya pun ia ganti juga. Givan pun sama, basah sedikit ganti lagi.


"Kalau aku libur tugas tinggal Abang nyuruh orang aja. Aku pun waktu di rumah sendiri, kalau malas beres-beres aku nyuruh orang. Seratus sampai dua ratus ribu sampai selesai semua. Satu hari itu aja. Karena aku pun tak nyaman kalau pakai asisten rumah tangga. Aku merasa tak bebas. Apa lagi kalau mau mesra-mesraan sama suamiku." ungkapnya yang menindihi dadaku. Lalu ia menciumi seluruh wajahku. Ok, aku paham sekarang. Bayar orang di hari Dinda minta libur saja, beres masalahku. Istriku pun tetap bisa merawat tubuhnya untukku.


"Tidur gih. Ciumin Abang terus, nanti ada yang bangun. Malah bikin repot Abang." ucapku dengan menghalau serangannya.


"Aku mau minta tiket ke surga." sahutnya melepaskan bibirnya dari pipiku.


Lampu hijau untukku. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, "Otw, Dek. Yuk kita ke surga sama-sama." balasku yang langsung mengambil alih permainan. Aku memutar posisi, menjadikan Dinda yang berada di bawah kungkunganku.


Perlahan namun pasti, aku mulai membuat rileks Dinda agar saat penetrasi terjadi. Dinda tak begitu kesakitan. Meski dia bukan perawan lagi, tapi ini adalah yang pertama kali untuknya. Setelah sekian lama tak pernah melakukannya.


Baru saja aku sampai di telinganya. Beberapa desahannya keluar dengan Dinda yang memejamkan matanya rapat.


"Jangan keluarin suara terlalu kuat. Takut Givan bangun." ucapku berbisik di telinganya.


"Aku tak bisssa." sahutnya dengan mendorong tubuhku.


"Abang jangan terlalu ke telinga. Aku tak tahan, geli kali." lanjutnya kemudian. Aku kira ia tak bisa untuk melanjutkan. Eh tak taunya, ia sudah difase geli-gelian.


"Kamar sebelah aja, yuk. Khawatir nanti Givan bangun karena gempa lokal." ucapku sambil menggendong tubuh Dinda, dengan tangan yang aku selipkan di lehernya dan di bawah lututnya.

__ADS_1


Lalu setelah sampai di kamar sebelah. Aku memulai kembali aksiku. Melucuti pakaiannya dan pakaianku sendiri dengan perlahan. Aku menyerangnya bertubi-tubi. Sampai terlihat air matanya merembes karenaku. Berulang kali Dinda memohon ampun. Berulang kali juga aku membuatnya semakin melayang. Padahal aku belum memasukkannya. Tapi Dinda sudah seberisik ini.


Jengkal demi jengkal tubuhnya aku nikmati dengan rasa bangga dan bahagia. Tak lupa aku bubuhkan tanda kepemilikanku. Perlahan aku menurunkan kepalaku, sengaja aku lewati bagian intinya. Karena aku ingin menikmati kaki yang begitu mulus dan betis yang terlihat kencang itu.


Tanpa rasa jiji aku sampai menurunkan kepalaku sampai ujung kakinya. Hanya ingin wanitaku tetap menyebutkan namaku berulang kali.


Sedikit demi sedikit, aku menaikan tubuhku agar sampai di pangkal pahanya. Bau khasnya sudah menguar. Tandanya istriku telah siap untuk kumasuki. Namun aku tak mau terburu-buru.


Aku memberanikan diriku untuk menjulurkan lidahku tepat pada daging kecilnya yang megeras. Ini adalah pertama kalinya aku melakukan hal ini pada wanita. Sengaja aku menjaga ini semua, hanya untuk istriku.


Aku belajar ini dari suatu aplikasi dewasa. Entah benar atau salah aku melakukannya, tapi terlihat Dinda begitu kolojotan.


Aku selipkan satu jariku untuk mencari satu titik inti yang berada di dalam intinya. Terdengar suara Dinda yang menyebutkan namaku lagi. Aku masih berusaha mencarinya. Diterangkan dalam video itu, bahwa ciri-cirinya dengan permukaan yang sedikit kasar.


"Abang buka kaki aku agak lebar, terus tekan jarinya agak dalam. Jarinya jangan lurus, sedikit ditekuk aja." ucap Dinda dengan mata yang sudah berkabut.


Ok, aku mengakuinya bahwa aku masih amatiran untuknya, ketimbang dengan janda yang sekarang menjadi istriku ini. Sialan memang, aku malah diajarinya!


Aku menuruti ajarannya, dan benar saja. Aku merasakan jariku semakin tertarik ke dalam dan serasa dipijat dengan tempo remasan yang teratur. Terdengar suara becek yang amat sangat. Bukan karena Dinda yang berair. Tapi ia becek karena mengeluarkan pelumas untuk penetrasiku nanti. Laki-laki pun mengeluarkan cairan pelumas berwarna bening dan sedikit lengket, mirip dengan air liur. Tapi tak begitu banyak ketimbang perempuan.


"Lebih dalam, aku bentar lagi Bang." ucapnya cepat dengan nafas yang begitu memburu.


TBC.


Ekhmmm, serak aku jadinya 😅


Kesel aku, mesti aja nanggung macam ini 🤦🏻‍♀️

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 😁


__ADS_2