
"Masalahnya, Umi tak paham!" ucap Adi berbarengan dengan menghilangnya senyum dari wajahnya.
"Masalah Dinda lagi?" tanya ibu Meutia dengan sorot mata tajam.
"Kan aku udah kata tadi. Umi tak akan paham." jawab Adi dengan berlalu menuju halaman belakang.
"Jangan lupa sore ini kita ke Zulfa nanti. Sekalian mau obatin Abang juga." ujar ibu Meutia yang membuat langkah Adi berhenti sejenak. Lalu ia meneruskan langkah kakinya lagi.
~
Malam harinya setelah mereka sampai di kota C. Ada seseorang yang datang dengan berpenampilan seperti kiyai. Ia datang dibawa oleh ibu Rokhayah.
Setelah mereka bertukar salam dan saling menyapa. Lalu kiyai itu yang biasa dipanggil abah Ano, mulai memperhatikan Adi.
"Siapa namamu, Nak?" tanya abah Ano.
"Adi Riyana." jawab Adi terlihat gugup karena diperhatikan dengan seksama.
"Kamu punya janji ya dengan seorang wanita?" tanya abah Ano mencuri atensi semua orang yang berada di situ. Dan mereka semua beralih menatap Adi dengan tatapan bertanya.
"Janji apa?" Adi balik bertanya karena merasa bingung.
"Ya intinya kamu ini punya janji sama perempuan. Dan kamu lupa. Jadi perempuannya merasa dipermainkan." ungkap abah Ano kemudian.
"Jadi harus gimana ya, Bah?" tanya ibu Meutia pada abah Ano.
Sejenak abah Ano memejamkan matanya, dan mulutnya berkomat-kamit seperti membaca suatu mantra.
"Kita tebus saja. Karena jin suruhannya enggan memberitahu siapa yang menyuruhnya." ujar abah Ano tanpa berbasa-basi lagi.
"Kita tebus dengan apa, Bah?" tanya ibu Meutia.
"Mereka minta ayam jantan putih, menyan putih, kelapa gading, kendi, kembang tujuh rupa dan kopi hitam." jawab abah Ano sambil memejamkan matanya.
Adi mengernyitkan keningnya. Ia terheran-heran dengan keadaan ini. Menurutnya ini seperti praktik perdukunan.
"Kami tak ada persiapan, Bah. Bagaimana kalau sesajen yang diminta tadi diberikan pagi nanti aja." ucap ibu Rokhayah dengan hati-hati.
"Tidak bisa ditawar." sahutku cepat.
"Bagaimana kalau ditukar dengan uang saja, Bah. Biar abah sendiri yang nyari sesajennya itu." tukas Adi yang langsung mendapat delikan tajam dari abah Ano. Ibu Meutia menyenggol kaki Adi dengan kakinya. Ia merasa tak enak hati pada abah Ano karena ucapan Adi.
"Ekhem⦠Maksud saya, saya minta tolong pada Abah untuk sekalian mencarikan sesajennya itu. Karena saya disini tamu, saya bukan orang sini. Saya hanya pendatang, saya tidak tahu harus mencarinya ke mana." jelas Adi dengan sopan.
__ADS_1
Abah ano menganggukan kepalanya, "Iya saya mengerti." sahutnya kemudian.
"Jadi kira-kira berapa ya, Bah?" tanya Adi melanjutkan.
"Mungkin sekitar satu setengah juta." jawab abah Ano, dan Adi langsung tersenyum. Ia paham situasi sekarang.
Lalu Adi merogoh dompetnya dan menyerahkan uang tunai sebesar dua juta rupiah. Dan tak lama abah Ano pulang setelah mereka semua mengucapkan terimakasih.
"Lain kali jangan bawa model begituan." ucap Adi pada ibu Meutia dan ibu Rokhayah.
"Dia kira aku tak tau apa harganya ayam jantan putih. Aku pernah piara dari ayam kate sampai ayam bangkok. Tak sampai jutaan pun harga ayam putih itu. Dasarnya orang cari uang itu sih." ujar Adi mengungkapkan kekesalannya.
"Jangan begitu, Di." sahut ibu Rokhayah, "Dia udah punya nama. Udah terkenal abah Ano itu." lanjutnya kemudian.
"Iya, terserahlah." balas Adi dengan berlalu memasuki kamar.
~
Pagi harinya Adi kembali diserang dengan sesak nafas yang melanda tidurnya. Ia pun terbangun dan langsung menggunakan alat bantu pernapasan portabel itu. Setidaknya ini sedikit membantunya bernafas.
Satu jam kemudian, nafas Adi sudah kembali normal. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan keadaannya yang seperti ini.
Ia pun menjalankan akfitas ibadahnya seperti biasa. Dan setelah selesai ia pun berolah raga ringan di depan rumah.
"Iya. Dari mana, May?" sahut Adi dan bertanya balik pada Maya.
"Ini abis beli sarapan. Abang mau gak? Aku beli nasi lengko nih." balas Maya dengan menghampiri Adi dan duduk di kursi panjang depan rumah Adi.
"Tak May. Buat kau aja." tolak Adi dengan tersenyum.
"Gimana semalam?" tanya Maya berbasa-basi. Ia pasti sudah tahu dari ibunya. Mungkin ini Maya hanya ingin mengajak Adi mengobrol.
"Ya begitulah, disuruh beli sesajen." jawab Adi terdengar tidak ingin membahas tentang kejadian semalam.
Maya manggut-manggut mengerti, "Terus gimana kondisi Abang sekarang?" sahut Maya kembali.
"Tak ada perubahan. Masih sesak nafas juga." balas Adi kemudian.
"Bisa aktifitas seperti biasa gak sih?" ujar Maya dengan memperhatikan kegiatan Adi.
Adi menoleh sekilas pada Maya. Sebenarnya ia tak nyaman diberi rentetan pertanyaan seperti ini. Namun sepertinya Maya masih ingin mengusik Adi.
"Berangkat ke kedai gak hari ini?" lanjut Maya bertanya setelah tak mendapat sahutan dari Adi.
__ADS_1
"Iya, May. Jam delapan nanti berangkat." sahut Adi penuh penekanan.
"Bareng ya?" ucap Maya dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"Iya, May!" balas Adi dengan mendelik tajam pada Maya.
"Naik apa nanti?" tanya Maya lagi yang membuat kesabaran Adi lenyap seketika.
"Mobil, May. Nanti sama Zulfa juga. Udah ya, jangan nanya-nanya lagi. Kau tak paham betul! Abang tak suka kau banyak tanya begini." ujar Adi dan berlalu masuk ke dalam rumahnya.
"Aku kan hanya ingin ngajak ngobrol kamu, Bang." ucap Maya lirih. Dan tak mungkin didengar oleh Adi juga. Karena Adi sudah berada di dalam rumahnya. Lalu Maya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju rumah ibunya, yang berjarak dua rumah dari tempat Adi sekarang.
~
~
Sore harinya, setelah Adi dan Zulfa menyelesaikan pekerjaannya. Mereka duduk sejenak di kedai kopi sambil menikmati kupi khop pesanan mereka.
Tak lama Jefri datang dengan menggunakan mobil sejuta umat itu. Ia menyapa Adi dan Zulfa, dan berjalan menuju meja para barista untuk memesan kopi kesukaannya. Dan ia kembali berjalan menuju tempat Adi dan Zulfa duduk.
"Udah sehatan, Di?" tanya Jefri setelah menduduki kursi yang paling dekat dengan Zulfa.
"Tak ada perubahan. Masih begini aja. Lima hari yang lalu, aku balik ke rumah sakit lagi. Baru diperbolehkan pulang setelah tiga hari dirawat." ungkap Adi sedikit menceritakan tentang kondisinya.
Jefri manggut-manggut mengerti, "Lima hari yang lalu juga aku nemenin Givan ke ustad." ujar Jefri kemudian. Adi mengerti maksud Jefri. Jadi Givan sekarang sudah normal? Pertanyaan yang terlintas dipikirannya.
"Dinda nampak tak ingin aku sembuh." ucap Adi yang membuat dua pasang mata itu tak mengerti maksudnya.
"Maksudnya?" tanya Jefri bingung.
"Dinda buru-buru normalin penglihatan Givan. Terus ia sekarang udah di provinsi A. Pasti ia sengaja menjauh." ucap Adi menyangka buruk tentang Adinda.
"Benar ucapan Dinda waktu itu. Kau bilang mau nikahin Dinda waktu itu, karena kau butuh Givan buat jadi perantara kesembuhan kau." sahut Jefri dengan tawa sumbang.
Sontak ucapan Jefri membuat Adi terkejut dan langsung menatap tajam pada Jefri.
"Apa maksud kau?" cetus Adi dengan emosi yang terlihat pada sorot matanya.
TBC.
SEMANGATIN AUTHOR YA RAKAN π HARI MINGGU INI AKU SENGAJA UP DUA KALI π
JANGAN LUPA BAGI LIKE, VOTENYA JUGA π
__ADS_1
Terimong Geunaseh π