
"Mamah aku kan anggota fast furious. Wajar lah bawa mobilnya laju sedikit." balas Givan terdengar membela ibunya.
"Terserah kamu lah!" ujar Arif terlihat acuh.
"Tau juga?" tanya Adi pada Arif.
"He'em. Entah itu anak kapan berubahnya. Insaf sejenak terus mulai lagi dari awal. Begitu terus siklusnya." jelas Arif yang mengerti maksud pertanyaan Adi tadi.
"Berarti udah lama Dinda begitu?" sahut Adi menimpali.
"Dulu waktu mudanya gilain motor. Nikah tobat, nurut dia sama suaminya. Tapi begitu cerai, tak ada yang ngatur. Bebas lagi pergaulannya. Pas jadi janda malah ngegilain mobil." balas Arif yang diangguki oleh Adi.
"Tapi lama dia udah tak pernah datang lagi ke sana." ucap Adi memberitahu.
"Dia main di tempat kaya gitu, hanya untuk pelarian aja." tukas Arif yang mengerti siklus kehidupan adiknya.
"Kata Dinda, Aa tuh cuek sama dia. Kok bisa tau sampai ke situ?" tutur Jefri yang belum tidur.
"Cuek bukan berarti tidak perduli." ucap Arif yang membuat dua laki-laki itu bungkam.
~
Kurang lebih empat jam perjalanan, mereka telah sampai di tempat tujuan. Lalu mereka semua langsung masuk ke dalam ruko yang cukup mewah itu, karena sebelumnya Adinda sudah membuat janji.
"Assalamualaikum…" ucap Jefri begitu sampai di dalam ruangan di mana ustad itu berada.
"Wa'alaikum salam….." sahut ustad yang tengah sibuk membaca kitab tebal itu.
"Ini, aku bawa Adi juga nih Pak. Baru balik rumah sakit dia kemarin." ujar Jefri setelah mencium tangan ustad tersebut.
"Udah lebih baik ya kelihatannya. Sepertinya Adek Dinda sungguh-sungguh puasanya." tutur ustad tersebut.
"Betul, Pak. Sekarang dia lagi kenceng minumin obat lambung. Maklum anak muda, puasa wajib aja dia kayak segan hidup mati dia tak mau." tukas Jefri membuat ustad tersebut tertawa kecil.
"Perjuangan untuk sembuh. Karena kalau Abangnya sendiri yang puasa kan gak mungkin." sahut pak ustad yang terlihat ramah itu.
"Yuk kita mulai langsung aja." ucap ustad tersebut. Dan detik itu juga Adi langsung berreaksi dan ambruk setelah beberapa kali memuntahkan isi perutnya.
Namun ustad itu tetap berusaha melanjutkan kegiatannya untuk kesembuhan Adi.
~
~
__ADS_1
~
Satu jam kemudian, Adi sudah membuka matanya. Namun terlihat tubuhnya begitu lemas sekali.
"Nih, kau disuruh minum ini." ucap Jefri memberikan Adi air putih di botol air mineral.
Dengan perlahan Adi meneguk air tersebut dan tertidur kembali. Jefri sudah diberitahu oleh ustad tersebut. Wajar Adi seperti ini. Karena tenaganya habis untuk mengeluarkan penyakit sihir yang untungnya belum terlalu menggerogoti tubuh Adi.
Berbeda dengan Adi. Givan terlihat biasa saja. Dan tidak ada perubahan. Ia masih bisa melihat makhluk halus sejenisnya, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Padahal ia sudah dua kali ke sini.
"Jadi Yah, ikhlas itu apa? Bagaimana rupa ikhlas? Aku dari tadi suruh ikhlas, tapi tak paham." ujar Givan yang muncul setelah selesai disuapi oleh pakdenya.
"Ikhlas itu…...ya ikhlas. Tak berat di hati. Abang rela gitu. Tak pernah ungkit-ungkit lagi." jelas Jefri yang terlihat bingung.
"Aku tak paham! Kata Pak ustadnya aku harus ikhlas. Lah, memang aku bagaimana?" sahut Givan yang membuat Jefri dan Arif tertawa tertahan. Karena mereka masih berada di tempat ustad tersebut. Hanya berbeda ruangan saja dengan ustad yang tadi mengobati Givan dan Adi.
"Abang bobo dulu gih. Nanti kalau Papah Adi bangun kita balik ke kota C." balas Jefri pada Givan.
Setelah Givan berbaring dan berusaha memejamkan mata. Jefri pamit ke luar untuk mengisi perutnya, dan tentu saja untuk merokok juga.
~
Saat hari mulai gelap, mereka pun berencana untuk pulang dari tempat ustad tersebut. Karena terlihat keadaan Adi yang sepertinya sudah baik-baik saja. Hanya terlihat kondisinya yang sepertinya masih mengantuk berat.
"Nah iya. Kamu belajar dulu untuk ikhlas. Kalau udah ikhlas nanti main lagi ke sini ya?" sahut ustad tersebut. Dan orang dewasa itu pun tertawa semua.
"Bang Adi nanti minggu depan ke sini lagi ya untuk membersihkan." lanjut ustad tersebut ketika Adi menyalaminya.
"Baik Pak ustad." balas Adi dengan tersenyum ramah.
"Yang semangat. Ingat dek Dinda yang udah mau bantu puasain kamu sampai tujuh hari tuntas." ujar ustad tersebut dengan menepuk pelan pundak Adi.
Adi hanya mengangguk dan tersenyum malu.
"Langsung sahkan ya kalau udah sembuh." gurau ustad tersebut yang membuat Adi semakin merasa malu.
Lalu mereka pun menyalami pak ustad tersebut dan pamit pergi menuju ke kota C lagi.
"Udah izin tugas belum? Kayanya kita malam sampai di kota C nya." ucap Arif saat mobil mulai memasuki jalanan ramai.
"Udah, A. Tak bisa izin. Hanya tuker tugas aja. Besok aku dapat tugas pagi, sampai nanti hari jum'at." ujar Jefri.
Arif mengangguk, dan mencoba menidurkan keponakannya tersebut. Dengan cara mengelus punggung Givan.
__ADS_1
"Mamah udah sampai rumah belum ya, Pakde? Aku khawatir mamah tersesat dan tak tau arah jalan pulang, aku tanpamu butiran debu…." ungkap Givan yang malah menyanyikan lagu orang dewasa.
Jefri dan Arif tertawa pecah. Sontak membuat mata berat Adi terbuka karena terkejut.
"Ada apa?" tanya Adi yang memunculkan kepalanya di antara kursi Arif dan Jefri.
"Tak apa. Udah sana tidur lagi. Kau macam habis begadang sampai larut begitu." sahut Jefri kemudian.
"Badan pada sakit. Mana mata berat betul." balas Adi yang menyandarkan punggungnya pada kursinya kembali.
"Tak bengek kah?" tanya Jefri memastikan kondisi Adi.
"Tak. Aku dari bangun di rumah sakit kemarin, memang udah tak sesak napas lagi. Cuma ngantuk terus. Bentar-bentar aku tidur." jawab Adi sedikit menceritakan.
"Aku mau bobo sama Papah Adi." ucap Givan yang bangkit dari pangkuan Arif dan berpindah ke bangku belakang dengan Adi.
"Sok rebahan." ucap Adi meminta Givan untuk berbantal pahanya. Lalu tak lama mereka berdua pun terlelap tidur.
~
~
Akhirnya mereka semua sudah sampai di rumah Arif. Arif menawarkan mereka semua untuk menginap. Setelah Adi memberitahu orang rumah lewat telepon. Ia pun menyetujui tawaran Arif. Karena memang ini sudah tengah malam juga, dan dirinya masih amat mengantuk sekali.
Saat Arif mengetuk pintu beberapa kali. Akhirnya dibukakan oleh istrinya. Namun terlihat pemandangan yang membuat mata Adi segar kembali.
Terlihat wanita yang memiliki rambut berwarna coklat keemasan itu, sedang tertidur pulas di lantai. Dengan mulut yang sedikit terbuka. Dan selimut yang tak difungsikan untuk menyelimuti tubuhnya. Melainkan malah dijadikan sebagai sesuatu yang bisa ia peluk.
Dengan beberapa kertas yang berserakan di sekitarnya, dan laptop yang masih menyala. Begitupun dengan ponsel yang masih mengeluarkan suara orang bernyanyi. Wanita tersebut tetap menjadi pusat perhatian orang-orang yang baru datang itu.
"Lah, kenapa gak disuruh tidur di dalam, Dek?" tanya Arif pada istrinya.
"Ketiduran kayaknya, A. Tadi sih lagi nulis." sahut istrinya.
Lalu Maylani masuk kembali ke dalam kamar. Di susul dengan Arif yang menggendong Givan yang tertidur pulas.
Adi memperhatikan wajah lelah wanita itu yang membuat dirinya tersenyum samar. Senyum dan tawanya yang hanya tercipta untuk dua orang tersebut. Untuk anak laki-laki dan ibunya yang membuatnya memiliki semangat hidup lagi.
TBC.
Asyik, mau ada scene Adi sama Adinda lagi nih besok 😍
Tungguin ya, dan tetaplah setia padaku 😉
__ADS_1
LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT juga 🙏