Sang Pemuda

Sang Pemuda
13


__ADS_3

AUTHOR POV


Semua orang yang ada di ruang keluarga kediaman Haris tengah menatap laki-laki dewasa bertelanjang dada yang baru keluar dari kamar tamu.


Adinda berjalan cepat menuju Adi yang hanya berdiam di tempat seperti orang bingung.


"Maaf Bu, semuanya. Ini abang aku yang baru datang semalam" ucap Adinda dengan menetralisir rasa gugupnya karena takut ketahuan berbohong.


"Kok ibu gak liat dari tadi siang nak!" jawab ibu Halimah, ibunda Haris.


"Hah, iya. Tadi abang ku sedikit pusing jadi aku suruh istirahat aja bu!" balas Dinda gugup. "Permisi semuanya." lanjut dinda pamit ke semua orang sambil menarik Adi keluar dari ruang keluarga. Adi hanya tersenyum canggung ke semua orang yang ada di situ.


"Kenapa kau keluar-keluar bang Adi!" tandas dinda dengan geram, sesaat setelah mereka sampai di kamar Haris. Haris dan beberapa orang yang ada di kamar tersebut kaget melihat Dinda masuk dengan menarik Adi yang tidak memakai baju.


"Hei, kau Adi Riyana anak FP agroteknologi bukan?" ucap Ashila yang juga berada disitu.


"Bukan, aku anak ibu Meutia!" sahut Adi yang terlihat frustasi, lalu ia langsung duduk di sofa singel yang ada di dekatnya. Lalu adinda melemparkan kaos milik Haris untuk di kenakan Adi.


Beberapa orang disana tertawa geli, "Bukan gitu Di..." ucap Haris terpotong dengan pertanyaan Adi yang spontan, "Aku paham, terus ngapain kau betina pejantan ada dalam satu ruangan?"


"Kita lagi pesta se*s!" sahut Adinda, yang langsung dapat lemparan bantal dari Ashila. Adi langsung mendelik tajam ke arah Adinda.


"Lagi ada diskusi keluarga di bawah. Aku di minta ambil keputusan, ini lagi minta pendapat!" jawab Haris tenang.


"Perasaan tadi ada suara anak-anak mengaji" tanya Adi. Sambil mengambil rokok milik Haris dan berdiri di depan jendela.


"Anak-anak tadi habis setor hafalan ke Dinda" sahut Ashila, "Di, sekarang kau sibuk apa? Sejak kapan tinggal di kota ini?" lanjut Ashila bertanya.


"Dek, kau bisa ngaji kah dek?" tanya Adi ke Adinda yang mendekat ke arah Adi untuk mengambil korek api.

__ADS_1


"Ngeledek kau bang, aku ini Islam. Masa tak bisa ngaji" sahut Adinda. Adi sengaja tidak menjawab pertanyaan dari Ashila dan mengalihkan perhatiannya ke Adinda.


"Don't judge a book by it's cover" seru Jefri.


"Aku malah nilai dia macam ukhti yang sedang berhijrah, karena belum syar'i penampilannya. Eh ternyata ukhti tak berakhlak!" gurau Adi melirik ke Adinda.


"Hijrah itu susah bang! Bagaimana kalau kita saling memperbaiki?" canda Adinda dengan memamerkan gigi putihnya.


"Nah tuh kalian cocok!" Jefri menimpali. Adinda menaik turunkan alisnya ke Adi. Adi hanya mengelus dada.


"Aku tak sanggup dek kalau harus jadi pejantan kau." tutur Adi memasang wajah memelas. Dan terdengar kekehan dari mereka kecuali Haris.


"Heh, pada bercanda pula kalian." ucap Haris dengan nada kesal.


"Menurut aku sih kasih aja ke keluarga laki-lakinya" jawab Jefri.


"Jadi aku di suruh berkunjung hanya untuk bahas ini?" tanya Ashila.


"Lagian kau ini ada-ada saja, masalah keluarga kau omongin sama kawan-kawan kau!" ucap Adi yang baru mengerti pembicaraan mereka.


"Karena mereka nanti yang jadi keluarga aku kalau ibu dan semuanya pada balik ke daerah asal!" jawab Haris melihat Adi sekilas


"Adi kan tak pernah merantau, mana dia tau rasanya di daerah orang tanpa keluarga tanpa kerabat dekat" sindir Jefri halus.


"Oh, jadi kau lepas siap jadi sarjana kau di daerah kau aja Di?" tanya Ashila penasaran. Adi hanya terdiam.


"Gak suka dia di kepo'in. Lebih baik diam lah kau, tak usah tanya-tanya ke dia!" ujar Haris dengan kekehan.


Suara Adinda menginterupsi orang-orang di sana, "Bang, menurut ku..lebih baik Shalwa lanjut aja sekolah nya tapi pindah sekolah, jangan di sekolah kemarin"

__ADS_1


"Kenapa begitu dek?" tanya Haris menunggu jawaban Adinda.


"Shalwa belum cukup umur. Biar mereka berdua punya masa depan yang jelas. Kalau tetap di pertahankan kasian mereka juga. Aziz berhenti sekolah dan harus cari nafkah buat anak istrinya. Sedangkan SMA aja dia belum tamat. Mau kerja apa dia bang? Dan terus mau sampai kapan keluarga abang nutup-nutupin kenyataan kalau Shalwa udah punya anak, udah gak sekolah lagi. Kan lebih baik kau ambil alih Kin sekalian kan, Shalwa dan Aziz tetap bisa lanjut sekolah" ucap Adinda. Haris berpikir dalam diam.


"Menurut aku mereka ini cuma gak paham aja bang. Lingkungannya ngasih tau tentang berhubungan int*m, tapi mereka gak punya ilmu basic nya. Mereka gak tau kalau buang dalam bisa bikin hamil. Itu masalahnya! Coba tengok kita aman-aman aja kan? Karena kita tau buang dalam, buang luar, buang dada, buang di muka" ucap Adinda panjang lebar. Tetapi semua orang malah tertawa terbahak-bahak mendengar akhir penuturan cerdas dari Adinda. Adinda hanya cuek saja, dan membakar satu batang rokok lagi.


"Memang dek, kau ini tiada duanya. Sudah pandai, berbakat, multitalenta, bisa beranak pulak kau. Sayang sekali, tingkat kemesuman kau ini lebih tinggi sedikit dari kebanyakan wanita lainya!" ucap Jefri dengan tawanya.


"Pejantan kan memang sukanya yang begitu kan?" tanya Ashila.


"Pejantan tau diri dengan kemampuannya. Beda orang beda porsinya" sahut Haris. Haris tersenyum manis ke arah Adinda, "Coba Abang rundingin sama keluarga yang lain ya dek" lanjut Haris berbicara pada Adinda. Adinda hanya menganggukan kepalanya.


ADI POV


Aku tau sekarang , aku berada di rumah Haris. Setelah tragedi bertelanjang dada di depan banyak orang dan di sered ke kamar Haris. Lalu Adinda memaksaku untuk membersihkan diri. Tak mandi tak apa katanya, yang penting sikat gigi dan ganti baju. Dinda juga yang menyiapkan sikat gigi baru, celana dalam yang katanya masih baru, dan pakaian Haris yang akan ku kenakan.


Di rumah ini Dinda seperti sudah hafal tempat dan posisi barangnya, macam di rumah sendiri. Dan aku baru tau sekarang kalau Kinasyah bukan anak kandung Haris, melainkan anak dari adik perempuan Haris yang hamil di masa sekolah. Haris mengambil keputusan seperti yang Dinda sarankan. Aku dengar Shalwa dan Aziz, ayah biologis anak dari Shalwa juga masih sekolah. Penuturan Dinda masuk akal, tapi terdengar kejam dan menyakiti perasaan.


Sekarang aku berada di balkon kamar Haris, aku memijat sendiri kepalaku yang masih terasa berdenyut. Ya, kamar Haris terletak di lantai dua rumahnya. Aku merasa tidak nyaman dengan Ashila, dia terlalu banyak bertanya padaku. Aku pun mengenalnya, tapi hanya sekedar tau nama dan wajah saja. Jefri, Haris dan Shila satu perguruan tinggi dengan ku di universitas M********h, tapi memang tidak di fakultas yang sama. Mereka bukan berasal dari daerah yang sama dengan ku. Tapi mereka menuntut ilmu di provinsi A dari umur 12 tahun, mereka di pesantrenkan oleh orang tuanya sampai jenjang sarjana. Tapi aku kurang tau pasti tentang Shila.


Dinda datang membawa minuman hangat. Terlihat dari asap yang mengepul dari gelas, "Kau ke abang terus, yang lain curiga nanti dek." ucapku saat dia duduk di kursi yang tersedia disini.


"Aku ke bang Haris dan bang Jefri pun begini, cuma kan kau sekarang yang lebih membutuhkan." balas Dinda.


"Abang tak butuh apa-apa dek! Gih balik lah sama anak-anak lagi!" sahutku. Aku lebih nyaman menggunakan panggilan dek ke Dinda, dan menyebut diriku sendiri abang. pembawaannya yang cepat akrab membuat ku tidak merasa ada jarak.


"Anak-anak udah pada tidur cuma Kinasya aja yang masih melek, kak Shila dan anaknya juga udah balik!" jawab Dinda memberitahuku.


"Sini, duduknya di bawah. Aku pijitin kepalanya" perintah Dinda yang melihat ku tengah memijat kepala ku sendiri. Aku pun menurutinya.

__ADS_1


"Dek, kau semalam buka baju abang? Buka pengait celana Abang?" tanyaku berhati-hati. Aku takut tebakan ku benar. Mana belum di pangkas pula rambut Adi's bird. Malu sekali aku, aku bertanya hanya untuk memastikan saja. Semoga tebakan ku salah.


TBC.


__ADS_2