Sang Pemuda

Sang Pemuda
48


__ADS_3

Aku memperhatikan wajah lelahnya. Sekilas memang terlihat mirip dengan mantan suamiku. Bukan aku bermaksud membandingkan. Tapi jelas berbeda, bang Adi jauh lebih unggul dari Mahendra. Aku tak pernah ingin orang-orang tau karena apa aku bisa bercerai dengan Mahendra. Karena sampai sekarang pun aku masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Laki-laki yang aku kenal hampir satu dekade itu, memilih pergi meninggalkan aku dan anaknya sendiri.


Aku terkejut saat Bang Adi membuka matanya, dia tersenyum mengejek dengan wajah yang mengantuk. Aku langsung memalingkan wajahku dan berpura-pura tertidur.


"Ketahuan! Ah aku malu sekali." ujar Bang Adi bermaksud mengejekku. Pasti sekarang wajahku memerah karena malu.


Dia memelukku dari belakang, dengan kaki yang mengapit kakiku.


"Sempit loh Dek, nanti Givan terbangun karena gempa lokal. Gaya berdiri atau maen di kamar sebelah aja yuk yang aman." ucap Bang Adi yang mengeratkan pelukannya.


"Mesum, lepas lah Bang. Kaki kau ini berat sekali!" jawabku mencoba melepaskan diri.


"Nanti besok kau ke provinsi A. Yakin tak mau ngasih kenang-kenangan dulu buat Abang?" balasnya yang aku tau maksudnya.


"Perasaan tadi kau tidur lelap. Pura-pura tidur ya?" tuturku dengan berbalik menghadapnya. Aku pun menginginkannya, tapi aku tak mau nanti Bang Adi menyesalinya karena melakukanya tidak dengan barang baru sepertiku.


"Lelap, sebelum negara air menyerang." Ucapnya dengan menunjukkan bekas ompol anakku. Ah aku lupa, jika Givan tidak diajak buang air kecil sebelum tidur pasti ia akan mengompol seperti ini.


"Anget-anget mengalir tuh apa? Eh tak taunya…" ungkap Bang Adi dengan tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.


"Abang pindah ya ke kamar sebelah ya, nanti Abang ambilkan sarung Abang buat nutupin ompolnya." lanjutnya dengan bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu. Silahkan aja keluar, dia tidak akan bisa masuk ke kamarnya sendiri!


Tak lama aku mendengar pintu kamarku terbuka kembali, "Dek, ada yang nempatin kamar Abang kah?" tanyanya mendekat ke arahku.


Aku menggeleng, "Tak tau." sahutku singkat.


"Jadi Abang mesti tidur di sini nih? Nampaknya tadi kau kecewa kali, pas Abang bilang mau tidur di kamar sebelah." balasnya sambil mengambil posisi di sebelahku.


"Dek, agak basah loh ini celana Abang." ujarnya dengan mengambil ancang-ancang untuk memelukku kembali.


"Ya kau gimana Bang? Masa belum diapa-apain aja udah basah?" sahutku ke arah yang jelas berbeda.


Dia tertawa dengan menutup mulutnya, "Maksud Abang, basah kena ompol Givan." ungkapnya menjelaskan dengan menatap wajahku, "Bukan karena Abang udah keluar." lanjutnya dengan mengecup pelan pipiku. 


Sejauh ini cuma laki-laki ini yang aku bebaskan mencium dan memelukku. Aku tak pernah mengijinkan siapapun melakukannya padaku. Tapi padanya aku tak bisa menahan diriku sendiri, sebelum ia seperti ini padaku pun aku sering memeluknya dan menempel terus padanya. Bukan karena aku terbiasa demikian pada laki-laki, tapi karena aku sengaja melakukannya pada bang Adi.

__ADS_1


"Lepas aja celananya!" seruku bergurau. Namun ia berdiri dan malah melepaskan celananya di depan mataku.


"Dari pada gatal kena ompol, Dek." jelasnya santai dan berbaring kembali di sebelahku. Ia hanya mengenakan celana dalam saja. Gila memang, tak punya rasa malu kah dia?


"Jadi, lebih baik gatal karena aku begitu?" ucapku mendelik tajam padanya.


"Bisa tak, kalau ngomong tak usah melucu Dek." sahutnya dengan terkekeh geli. Lalu ia menarik selimut sebatas dadanya. Aku tak melucu, tapi ia sering tertawa karena ucapan yang keluar dari mulutku.


Aku memunggugi bang Adi agar tak berlanjut terlalu jauh, aku tak mau ia marah lagi karena gagal melakukannya padaku.


"Dek." panggilnya menoel punggungku yang membelakanginya.


"Apa Bang?" ucapku yang masih memunggunginya.


"Abang masukin dari belakang ya?" ujarnya dengan sesuatu yang keras menempel di bongkahan p*ntatku.


"Rupanya kau belum pernah ya ngerasain jotosan dari aku!" seruku kesal. Namun ia malah memelukku dan tertawa pelan di punggungku.


"Bacut, Dek! Abang bolehnya ngapain?" tanyanya masih memperlakukanku dengan mesra. Suaranya terdengar seperti sedang membujukku. Bacut bararti sedikit, sering kali bang Adi berbicara dengan bahasa daerah campur dengan bahasa Indonesia denganku. Dia meminta sedikit padaku, sedikit atau banyak tetap saja sama menurutku.


ADI POV


Dinda membatasi bantal guling diantara aku dan dia. Aku membelakanginya, dan melihat kunci yang terselip antara ponsel Dinda dan bungkus rokok yang ditaruh di atas nakas. Sepertinya itu kunci kamarku. Aku mengambilnya dan mengamati kunci tersebut. Benar, ini kunci kamarku. Lalu aku menaruh lagi kunci tersebut di tempatnya.


Dinda sepertinya merencanakan sesuatu agar terlihat rapi dan tidak diketahui oleh orang rumah. Memang pandai betul betina yang satu ini.


"Dek, jangan dekat-dekat bekas ompol Dek. Nanti kau bisa basah!" ujarku kembali menghadap padanya dan menyingkirkan bantal guling sialan itu.


"Sudah aku tutupin. Tenang aja!" sahutnya tanpa menoleh padaku. Aku tau sepertinya ia sedang mencoba jual mahal padaku.


"Dek, Abang udah kirimin gajian kau pas tadi nungguin kau makan nasgor." ucapku berharap mendapat perhatian darinya.


"Iya makasih. Itu gajian ya, bukan kasbon!" jawabnya dan menghadap padaku. Oh, begini ya cara menjinakkan betina yang satu ini.


"Kau nanti pakai aja mobil Abang yang di sana. Abang simpan di rumah Masyik Abang. Kau minta antar sama Safar aja nanti." ungkapku dengan suara yang kuperhalus. Sengaja memang, aku penasaran sekali padanya. Masyik adalah sebutan untuk nenek.

__ADS_1


"Mobil apa Bang? J*zz bukan?" sahutnya dengan senyum yang mulai merekah.


"J*ep Dek sama C*rolla DX tapi udah full modif dalamnya." jelasku memberitahunya.


"Pasti mobil jaman dulu, macam orangnya!" balas Dinda dengan mendekatkan dirinya padaku.


"Abang baru dua sembilan, Dek! Yuk boleh dicoba seberapa perkasanya Abang." jawabku sambil menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah orientalnya. Dan langsung menyerang mulutnya yang hendak melontarkan pertanyaan lagi.


Aku bermain halus, sengaja agar ia terbuai sentuhanku. Ia belum meresponku, dan aku melepaskan lagi penyatuan bibir kami berdua.


"Pengen tak? Jujur sama Abang! Abang tak mau maksa kau. Tapi Abang tak mau kau ngelarang Abang nyentuh kau." ungkapku jujur dengan menatap kedua matanya. 


"Sewajarnya aja, menurutku kita udah terlalu jauh. Kita ini siapa sih Bang sebetulnya?" ucapnya bertanya tentang hubungan kami. Aku tak menginginkan status diantara kami. Entah aku yang terlalu gengsi, atau aku yang tidak bisa menerima kenyataan sebenarnya tentang Dinda.


Aku masih baru mengenalnya. Alasan detailnya hingga ia bisa bercerai karena apa pun, aku tak tau pasti. Keluarganya, dan asal usul tentangnya pun aku tak tau juga. Ini terlalu berat jika Dinda menginginkan status dariku.


"Maaf Dek. Sepertinya kau benar, kita terlalu jauh. Abang harap, setelah ini kita tau batasan kita." ucapku mencium sekilas pucuk kepalanya dan bangkit dari posisi tidurku.


Aku memakai kembali celanaku yang tergeletak di lantai. Lalu mengambil kunci kamarku dan langsung berjalan pergi keluar dari kamarnya.


Aku membuka pintu kamarku yang terkunci, dan kembali menguncinya setelah aku masuk. Aku tak ingin Dinda menyelinap masuk dalam kamarku, meski hanya kemungkinan kecil saja.


Aku merasakan nyeri di hatiku. Apa Dinda merasakan demikian juga? Ia beruntung sekali, bisa mengingatkanku disaat aku belum terlalu jauh menuntut terhadapnya. Meski pastinya aku merasakan sesuatu yang tak bisa kumengerti sendiri.


~


TBC.


Ayo dong semangatin aku. 😉


LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT dan ❤️ FAVORITkan juga ya kak 🙏😅.


Terimakasih 🥰


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2