
"Baru balik? Pulang ke rumah Akak aja! Biar besok Dinda suruh pindah, atau kau aja yang pindah sementara?" tanya kak Ayu dengan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Orang-orang udah ramai ngomongin kau, yang malam-malam begini datang dan langsung menyelinap masuk ke rumah yang ditempati Dinda." lanjut kak Ayu yang berjalan mencari keberadaan Dinda. Aku menutup pintu kembali dan mengikuti langkah kaki kak Ayu.
"Masuk ke rumah sendiri malah dibilang menyelinap." gumamku seorang diri.
"Kan ada perempuan yang bukan muhrim kau di sini!" seru kak Ayu yang membuatku terkejut. Tajam betul telinganya, padahal aku tadi bergumam pelan sekali.
"Apa kau? Berani kau melototin Akak?" ujar kak Ayu sengit.
"Terkejut loh aku Kak! Bukan melotot. Suara kau menggelegar betul." sahutku kemudian.
"Jangan berisik! Givan baru merem." ucap Dinda pelan, namun kami bisa mendengarnya.
Aku dan kak Ayu mengangguk serentak. Dan duduk di sofa panjang. Sedangkan Dinda masih duduk di sofa santai, yang masih dengan memangku Givan dengan mendekapnya erat.
"Dinda demam, Kak." ungkapku memberitahu kak Ayu.
"Pantes dari pagi kau nampak lemes kali. Eh tak taunya kau mau sakit." tutur kak ayu dengan menyentuh dahi Dinda dengan punggung tangannya.
"Aku tak mau sakit, Kak. Kalau aku bisa nolak." sahut Dinda dengan suara yang terdengar tak bersemangat.
"Ihh, panas betul kau." seru kak Ayu dengan langsung berdiri. Kenapa dengan anak dari kakak abiku ini. Sekali ngomong bikin jantung bergeser. Udah kencang, mana mendadak lagi.
"Eh, ada apa nih?" ucap Dinda kaget. Tuh kan, apa aku kata. Aku menahan tawaku melihat situasi ini. Kak ayu pun menahan tawanya, melihat Dinda yang bingung karena kak ayu yang tiba-tiba berdiri.
"Kau mau apa berdiri macam tu, Kak?" tanyaku kemudian.
"Tak mau apa-apa sebetulnya. Reflek aja." jawab kak ayu. Namun Dinda hanya tersenyum merespon hal yang menurutku lucu ini. Benar-benar tengah tak enak badan rupanya.
"Reflek kok ngagetin gitu. Untung Givan tak bangun." sahut Dinda dengan wajah yang memerah karena demamnya yang cukup tinggi.
"Bawa ke bidan sana, Di." ujar kak Ayu menyuruhku.
"Memang siapa yang mau lahiran?" tanyaku dengan menggaruk kepalaku yang tak gatal. Sungguh aku merasa bingung saat ini.
"Itu Dinda sakit. Pakek tanya lagi kau." balas kak Ayu melirikku tajam
"Dinda demam, bukan mau lahiran! Kenapa tak dibawa ke dokter? Kenapa malah ke bidan?" tuturku pada kak Ayu.
"Bidan juga bisa. Dia punya obat untuk penurun panas. Lagi pula, dokter di sini jauh." tukas kak Ayu. Oh begitu, memang sih logika juga. Bidan juga petugas medis. Untuk penurun demam, mungkin ia punya.
"Yuk, Dek. Abang antar ke bidan." ajakku pada Dinda. Lalu aku menghampirinya dan mencoba mengangkat Givan dari dekapan Dinda. Givan terlihat basah karena keringat. Jelas saja orang yang memeluknya tengah demam tinggi. Pasti Givan serasa dikukus sekarang.
"Tak usah, Bang. Aku ada paracetamol di tepak obatku." ucap Dinda menolak ajakanku.
__ADS_1
"Sini biar Givan Abang pindahin. Khawatir nanti malah panasnya nyerep ke Givan." ujarku dengan mengambil ancang-ancang untuk mengangkat Givan.
"Dinda sama Givan tidur di rumah Akak aja yuk. Biar ada yang ngurus." ungkap kak Ayu memberi ide.
"Tak usah lah, Kak. Nanti pagi juga aku sembuh. Aku cuma butuh tidur aja." tolak Dinda kemudian.
"Terus kau gimana, Di?" tanya kak Ayu padaku.
"Jagain Dinda di sini." jawabku yang dengan mengangkat Givan perlahan.
"Apa? Gila kah kau? Mau kau mati dicambuk?" seru kak Ayu yang membuat Givan terlonjak dari tidurnya. Ia terlihat begitu kaget dan bingung. Ia memperhatikan sekelilingnya, kemudian mengeluarkan tangis yang langsung kencang.
"Ihh Akak, ngeselin betul!" ucap Dinda melirik tajam pada kak Ayu. Sepertinya mereka sudah saling akrab.
Aku langsung memeluk Givan dan membawanya masuk ke dalam kamarku. Diikuti dengan Dinda di belakangku.
Saat aku menimang-nimang Givan agar ia terlelap kembali, aku melihat tangan Dinda ditarik keluar dari kamar oleh kak Ayu.
Beberapa menit kemudian, Givan sudah nyenyak kembali. Aku menaruhnya di atas tempat tidur dengan perlahan. Dan setelah aku pastikan Givan aman dengan beberapa bantal yang mengiringinya, aku keluar dari kamar dengan menutup pintu kamarku perlahan.
Puk
Seseorang menepuk punggungku dari belakang. Aku sedikit terlonjak karena reflek kaget. Untung aku tak sampai menggeluarkan suara yang membuat Givan kaget.
"Apa sih? Ngagetin aja!" ucapku dengan memutar tubuhku.
"Ayo ikut Akak balik." ajaknya yang langsung menarik tanganku.
"Bentar Kak, aku mau ngobrol sama Dinda dulu." tolakku melepaskan tarikan tangannya.
"Udah malam, besok lagi!" sahutnya yang menarik tanganku lebih kuat. Pemaksa sekali manusia satu ini. Aku hanya bisa menoleh ke belakang memperhatikan Dinda yang sedang meminum obat itu. Kapan aku bisa memeluknya?
Perlahan aku semakin menjauh. Dan setelah berbelok ke arah ruang tamu, aku sudah tak bisa melihat Adindaku lagi karena terhalang tembok.
"KUNCI PINTUNYA, DEK!" teriak kak Ayu setelah berada di ambang pintu rumahku. Gila kak Ayu ini, aku mengelus-elus pelan telingaku yang terasa berdengung ini.
Semoga saja Givan di dalam tak terbangun lagi gara-gara teriakan kak Ayu.
"Aduh Kak, hp aku ketinggalan di rumah. Aku balik dulu ya, mau ambil hp." ujarku setelah berada di separuh jalan menuju rumah kak Ayu.
"Tak usah, besok pagi bisa kau ambil." ucap kak Ayu yang sepanjang jalan masih mencekal tanganku terus.
"Akak tau kau alasan aja." lanjutnya kemudian. Aku meliriknya sekilas, yang tinggi badannya hampir sejajar denganku itu. Geram sekali aku padanya.
"Kau ngapain sih Kak? Malam-malam masih berkeliaran aja. Bukannya anteng di rumah ngelonin anak suami kau!" ungkapku kesal.
__ADS_1
"Akak tadi disuruh beli rokok sama Bang Ridho. Terus pas nyampe toko ramai orang ngomongin kau yang ngendap-ngendap masuk." jawabnya enteng.
"Ehh…" ucapnya dengan menepuk jidatnya sendiri, "Akak lupa, Akak belum beli rokoknya." lanjutnya dengan menarik tanganku untuk memutar kembali ke toko yang beberapa langkah terlewat tadi.
Aku menggelengkan kepalaku. Pusing aku dibuatnya.
"S*rya satu bungkus, Mak." ucap kak Ayu pada pemilik toko. Yang kebetulan masih satu keluarga dengan Shasha. Memang keluarga Shasha sebagian besarnya adalah pedagang.
"S*mpurna mildnya satu bungkus juga, Mak cek." ucapku setelah bibi dari Shasha memberikan barang yang diminta kak Ayu.
"Kak Ayu yang bayar." lanjutku kemudian. Aku langsung mendapat cubitan di tanganku dengan delikan tajam mematikan.
"Aku tak bawa dompet." ucapku dengan memberikan senyum kuda pada kak Ayu.
"Kau nampak kurus kali, Di. Perasaan terakhir kali ketemu badannya berisi." ujar bibi dari Shasha itu dengan memberikan satu bungkus rokok padaku.
"Abis sakit, ini juga belum pulih betul." jawabku jujur.
"Betul begitu? Aku kira kau kaya dulu lagi." sahut kak Ayu menimpali. Lalu ia memberikan uang untuk rokokku pada bibi Shasha.
"Tak lah. Aku tak mau nanti ditiru anak laki-laki aku." balasku sambil menyelipkan satu batang rokok diantara bibirku. Dan mengambil korek api gas yang disediakan di toko ini yang tergantung dengan tali plastik.
"Kau udah punya anak?" tanya kak Ayu dengan mata bulat sempurna. Kami masih menunggu uang kembalian.
"Ehh, anu…" ucapku bingung ingin menjawab apa.
"Hmm, pantes." tutur kak Ayu dengan menerima kembalian uang dari bibi Shasha.
Lalu kami pergi setelah mengucapkan terima kasih. Kak Ayu terdiam tanpa menanyakan apa pun lagi.
~
~
Esok paginya, setelah selesai sarapan aku langsung bergegas menuju rumahku. Aku berjalan kaki dengan masih memakai pakaian semalam.
Tak sedikit orang memperhatikanku dengan terang-terangan. Dan sebagian lain menyapaku untuk sekedar berbasa-basi.
Dan aku berpapasan dengan wanita berperut besar itu dengan membawa beberapa kantong plastik. Sepertinya ia tengah membawa belanjaan untuk ibunya yang berada di warung nasi ibunya, yang berada di sebelah rumahku betul.
Aku melewatinya begitu saja tanpa menyapanya, dan terdengar suara kantong plastik yang berjatuhan dari arah belakangku.
Aduh, jika aku melanjutkan langkahku. Aku terkesan tidak manusiawi. Tapi jika aku membantunya, aku khawatir malah menjadi gosip warga kampung. Karena semua orang tau, aku dan Shasha pernah bertunangan. Dan sekarang Shasha berstatus sebagai istri orang. Bagaimana baiknya aku menyikapi ini?
TBC.
__ADS_1
JANGAN LUPA BAGI LIKE, VOTENYA, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT JUGA 😉