
Episode yang ke seratus nih..
Author hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak, untuk kakak sekalian dan rekan-rekan yang membaca cerita Sang Pemuda sampai sejauh ini 🙏
Kisah Adi Riyana yang punya ladang 14 hektar ini masih berlanjut ya kak 😁
Author mohon dukungannya, agar author semangat terus untuk nulisnya. 😋
JANGAN LUPA BAGI LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, dan COMENT juga apa yang harus author perbaiki dalam penulisan ataupun susunan katanya.
Dan bagi yang belum tap ❤️ FAVORIT, segera tap ❤️ novel ini ya kak 🙏
terima kasih 🙏
Happy reading 😍
......................
"Abang buang dalam." ucap Adi ambigu.
"Heh, maksudnya?" tanya Adinda terlihat tak mengerti dengan ucapan Adi.
"Kita dapatkan restu Umi dengan cara kau ngandung anak Abang dulu. Dengan begitu Umi pasti restuin kita." jelas Adi yang membuat mata kecil Adinda hampir keluar.
"Gila kau! Kau mau mempermalukan keluarga aku? Kau tak punya otak kalau gitu caranya! Kau dengerin aku, Bang. Anak hasil hamil di luar nikah itu nashabnya tak jelas. Besar nanti dia menikah terus binnya pakai nama Abang, maka pernikahannya tak sah. Nashab dia ikut aku, ikut ibunya. Dia tak ada hubungan sama ayah kandungnya sekalipun kau ayah biologisnya. Dan saat orang-orang tau dia di nikahkan dengan bin dari ibunya. Dengan tak sengaja, kita membuka aib kita sendiri bahwa anak kita yang menikah di hari itu adalah anak hasil di luar nikah. Selain kau mempermalukan kita, kau juga ikut mempermalukan anak kita kelak." jelas Adinda mantap. Sepertinya Adi melupakan perkataan Jefri waktu ditelepon.
"Dan yang bikin aku nyerah dengan hubungan ini. Kau tau, orang tua aku tak pernah izinin aku untuk milih orang sebrang pulau untuk jadi menantu mereka. Jangankan orang sebrang. Orang satu pulau, hanya jaraknya jauh aja mereka langsung ngelarang. Pemikiran orang tua aku masih kolot kali, Bang. Belum lagi mereka ingin anak perempuan mereka yang urusin mereka tua kelak." lanjut Adinda mengatakan permasalahan sebenernya yang membuat ia sampai setres kemarin.
"Aku paham ini tak mudah. Makanya aku bilang tadi, dengan kita berjauhan nanti. Cepat atau lambat perasaan kita akan hilang dengan sendirinya." ucap Adinda yang melihat air mata Adi mengumpul di kelopak matanya.
"Kau tau, baru kali ini Abang segila ini dengan perempuan. Kalau memang kau tau dari awal kau tak boleh cari orang sebrang. Kenapa kau selalu ada di dekat Abang, heh? Kau bikin Abang segila ini terus kau mau tinggalkin ini semua begitu aja?" ujar Adi yang meloloskan beberapa butir air yang mengalir dari matanya.
"Kita udah sejauh ini, Dek. Abang udah segila ini. Jangan harap Abang lepasin kau begitu aja! Jangan kira Abang bakal nurut sesuai rencana kau! Jangan lupa juga kau berhadapan dengan siapa!" lanjutnya dengan memukul-mukul setir mobilnya beberapa kali. Terdengar nafas Adi yang memburu dan mata merahnya yang basah.
Adinda beringsut ketakutan dengan Adi yang demikian. Ia khawatir, ia akan menjadi sasaran amukan Adi. Perlahan air matanya mengalir dengan sendirinya.
__ADS_1
"Keluar kau sana! Kereta kau udah datang." tuturnya tanpa menoleh ke arah Adinda. Ia merasa pertemuannya dengan Adinda hanya menambah beban pikirannya saja. Ia merasa Adinda hanya mempermainkan perasaannya saja. Adi tak mengetahui, Adinda meninggalkan mobilnya dengan air mata yang sudah membasahi wajah orientalnya.
Harusnya Adinda menjauhinya sejak awal. Bukan mundur setelah perasaan yang semakin besar itu menggerogoti hati masing-masing. Adi merasa Adinda sangat keterlaluan dan tak memiliki hati. Dengan pernyataan Adinda yang demikian. Membuat Adi semakin berusaha untuk mendapatkannya, mendapatkan wanita yang membuat dirinya berani mencari cara licik dan instan untuk mendapatkan restu dari sang ibunda.
Adi memperhatikan Adinda dari balik kaca mobilnya. Sampai seruan suara yang menginformasikan bahwa kereta yang Adinda naiki telah berangkat, ia baru memberanikan diri untuk menyalakan mesin mobilnya. Dan kembali ke rumahnya.
~
Sesampainya Adi di rumah. Ia langsung masuk dalam kamar begitu saja. Zulfa sempat melihat mata kakak sulungnya yang tidak baik-baik saja. Zulfa paham, jika laki-laki menangis atau menahan amarahnya maka akan terlihat begitu kentara di matanya. Namun ia enggan menegur kakaknya, dan malah memberitahunya ke pada ibunya.
"Abang kenapa ya, Umi? Abis berantem apa ya?" tanya Zulfa yang menghampiri ibunya yang sudah merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Kenapa memang?" ucap ibu Meutia yang menoleh pada Zulfa yang duduk di tepian tempat tidur.
"Matanya merah banget. Kan gak mungkin kalau Alabang begadang. Atau nahan ngantuk. Abang kan selama di rumah sakit banyak tidur, di rumah juga kerjaannya tidur terus." ujar Zulfa seperti tengah mengingat kembali saat abangnya berada di rumah sakit.
"Kelilipan paling." sahut ibu Meutia ringkas.
"Abang kan pakai mobil." balas Zulfa dengan menoleh ke arah ibunya yang dari tadi menyimak ucapannya.
"Bilangin abang kau, bang Edo. Minta dia tidur bareng bang Adi aja. Khawatir nanti bang Adi kenapa-kenapa lagi." lanjut ibu Meutia saat Zulfa hendak keluar dari kamar.
"Iya, Umi." sahutnya dengan menutup pintu kembali.
~
~
Esok harinya, mood Adi terlihat belum membaik. Ia pergi dengan Jefri dengan keadaan perut kosong. Ia merasa sangat sesak gara-gara keputusan Adinda semalam, yang menurutnya tak memikirkan perasaannya.
"Di, kau pernah kan main ke rumah orang tuanya dek Dinda?" ucap Jefri membuka suara. Saat kesenyapan menghantui mereka berdua di dalam mobil.
"Ya, kenapa memang?" sahut Adi dengan raut wajah yang belum membaik.
"Kau kenapa sih? Macam lagi dapat tamu bulanan aja." ujar Jefri yang tak digubris oleh Adi.
__ADS_1
"Kau bawa mobil ya. Ke rumah abangnya Dinda dulu. Rumahnya di gang yang sebelumnya SD itu. Aku mau tidur bentar aja. Mata aku pedes banget udah kepengen merem." lanjutnya kemudian.
"Mau ngapain kita ke sana?" tanya Adi dengan menoleh ke arah Jefri.
"Kita ke sana sama Givan sama abang keduanya dek Dinda." jawab Jefri dengan menepikan mobilnya.
Lalu mereka berdua keluar dari mobil untuk bertukar posisi.
"Kenapa Givan ikut juga?" ucap Adi begitu mereka berdua sudah masuk di dalam mobil dengan posisi berbeda. Sekarang Adi yang mengemudikan mobil Jefri.
"Di situ tak sekali sembuh. Givan baru mutusin perjanjian neneknya Mahendra dengan jin-jin itu. Givannya masih tetep bisa liat dan bisa komunikasi dengan mereka. Dinda pengennya Givan macam anak-anak umum." jelas Jefri panjang.
"Oh gitu. Dinda berapa bersaudara sih? Terus laki-laki apa perempuan? Udah pada nikah belum mereka?" tanya Adi beruntun.
"Di, aku minta tuker posisi biar aku bisa tidur. Bukan untuk kau wawancarai. Nanti kan ada tuh abangnya Dinda. Kau tanya-tanya puas lah sama dia. Jangan sama aku. Aku mau merem sekejap aja." sahut Jefri yang membuat Adi langsung manggut-manggut mengerti.
Tiga puluh menit kemudian, Adi sudah masuk ke jalan yang menuju gang rumah orang tuanya Adinda. Ia mengendarai mobil dengan perlahan, sambil mencari gang yang Jefri maksud.
Setelah ia sampai di depan gang, lalu Adi membangunkan Jefri.
"Jef, ini bukan?" tanya Adi dengan menepuk pundak Jefri.
Jefri terbangun dan menggeliatkan tubuhnya, lalu ia memperhatikan jalan di sekitar mobilnya dan mengangguk.
"Belok, masuk ke gang. Rumah ke dua yang masih bataan itu rumah abangnya Dinda." ucap Jefri kemudian. Adi mengangguk dan mulai memperhitungkan jalan untuk bisa berbelok ke gang yang hanya muat satu mobil itu.
Begitu mobil terhenti di depan rumah abangnya Dinda. Ia mendapati Givan yang hanya memakai celana dalam saja.
Langsung mood Adi kembali membaik, dengan senyum lebar yang ia pancarkan untuk anak laki-laki dari wanita yang ia cintai itu.
Adi dan Jefri turun dan langsung menghampiri Givan yang tengah bermain mobil remote control itu.
Adi langsung menggendong Givan dan menciuminya bertubi-tubi. Karena saat ia bertemu dengannya di rumah Haris. Adi belum sempat menyapa Givan.
"Hei, siapa itu?" seruan seorang laki-laki dari dalam rumah, yang membuat Adi dan Jefri menoleh serentak.
__ADS_1
TBC.