Sang Pemuda

Sang Pemuda
107


__ADS_3

"Kenapa sih kok diem aja?" tanya Retno dengan suara lembut. Aku tak mengerti, katanya ia berasal dari kota M. Biasanya kota M penduduk asli suku batak. Tapi dengar, suaranya kenapa bisa selembut ini. Seperti adonan yang banyak margarinnya. Kalian pasti tau sendiri, orang-orang sana jika menyuruh makan saja macam orang ngajak berantem. Tapi sepertinya tidak dengan Retno ini.


"Kau orang mana?" ucapku bertanya padanya.


"Aku orang M****. Kenapa Bang?" jawabnya kemudian.


"Tak macam orang sana." balasku mengeluarkan pendapatku tentangnya.


"Ayah dari kota M, ibu dari provinsi JTim." tuturnya yang kuangguki saja. Aku harus bisa bertahan di situasi sana.


"Jadi kapan kita nikah?" tukasnya yang membuat jantungku berhenti berdetak. Tapi itu hanya perumpamaan saja, kenyataannya tak begitu pun. Aku masih baik-baik saja. Hanya saja aku merasakan bagaimana gitulah. Kalian pasti paham sendiri.


"Memang umi sama ayah ada ngomong apa?" tanyaku padanya.


Terlihat ia tengah berpikir sejenak, "Hmm, ya intinya minta kita untuk menikah secepatnya. Tapi kembali lagi ke Abangnya, maunya kapan?" jawabnya dengan menyerongkan tubuhnya agar duduk berhadapan denganku.


"Aku belum siap menikah." putusku langsung. Aku tak mau menggantungnya. Karena pendirianku masih sama. Aku hanya ingin Adindaku.


"Gara-gara penulis itu?" ujarnya yang membuatku sedikit heran. Kenapa ia bisa tau soal ini.


"Bukan urusan kau!" tegasku dingin, "Carilah laki-laki yang pantas buat kau." lanjutku agar ia mengerti, aku tak menginginkan perjodohan ini.


"Tapi aku hanya mau laki-lakinya cuma Abang aja." balasnya menyahutiku.


"Aku lagi sakit sekarang. Tengok, aku pun nampak kurus kering begini. Aku tak ada bagus-bagusnya. Apa yang kau lihat dari aku?" tanyaku dengan menyandarkan punggungku pada sofa.


"Aku tak pernah tengok laki-laki dari fisiknyaโ€ฆ." tuturnya yang kupangkas.


"Terus dari hartanya begitu? Percaya atau tidak. Aku bukan apa-apa tanpa harta warisan. Aku pengangguran, tengok tadi pun aku bangun siang. Karena apa? Karena aku memang tak memiliki pekerjaan dan lebih suka bermalas-malasan. Kau tak mau kan aku malah jadi benalu yang mendoakan agar orang tua kau cepat mati?" ucapku yang tentu tidak benar. Tapi masalah warisan, memang benar adanya. Aku hanya meneruskan usaha abiku yang sempat dipegang oleh keluarga besarku.

__ADS_1


Retno terdiam dengan menundukan kepalanya.


"Jangan nangis. Aku tak suka perempuan yang cengeng!" tukasku agar ia tak menangis. Dan ini berlawanan arah sekali. Aku malah tergila-gila pada Dinda yang cengeng. Yang berantem sama anaknya pun nangis. Yang kena bentak pun nangis. Yang terluka sedikit langsung nangis heboh, macam ia diinfus waktu pendarahan itu. Haduh, kenapa aku malah menjadi orang yang munafik macam ini.


"Aku tak pernah tengok harta. Bukannya aku sombong, keluargaku pun cukup berada. Aku hanya ingin segera dipinang, karena jujur aku menjadi buah bibir tetangga karena diusiaku yang sudah menginjak tiga puluh tahun namun belum juga menikah." ungkapnya dengan lirih. Namun masih bisa kudengar dengan jelas.


Hah, yang benar saja. Umi menjodohkanku dengan perempuan yang satu tahun lebih tua dariku. Memang umur tak menjadi halangan sebuah perasaan. Contohnya nabi kita. Tapi masalahnya...aku tetap hanya menginginkan Adindaku. Dengan atau tanpa alasan, aku harus bisa mendapatkan Adindaku.


"Sebetulnya, aku udah memiliki wanita idaman. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tolong mengerti keadaanku." ujarku berterus terang.


"Tolong nikahi aku. Lakukan sebagai mestinya suami meminta hak pada istrinya, lepas itu kau boleh ceraikan aku." tuturnya yang sepertinya sudah tidak waras.


"Gila kah kau? Pernikahan bukan permainan!" sahutku sedikit sewot.


Retno hanya menundukkan kepalanya tanpa menyahuti perkataanku tadi.


"Kau masih perawan?" tanyaku ragu-ragu.


"Aku pernah gagal bertunangan. Tapi sungguh, aku tak pernah sampai melakukan hubungan i*tim." ungkapnya kemudian.


Aku pun pernah gagal bertunangan. Namun bukan berarti aku dan Retno cocok, karena memiliki pengalaman kegagalan yang sama.


"Nikah cukup sekali seumur hidup. Tak apa terlambat menikah, dari pada menyesal karena terburu-buru menikah." ucapku sok bijak.


"Kalau Abang nolak aku begini. Aku tak maksa. Aku terserah orang tua aja. Tapi tak ada salahnya kan kalau kita mengenal lebih jauh." sahutnya dengan membenarkan posisi duduknya.


"Abang boleh tengok wajah aku untuk memastikan." tuturnya lalu membuka cadarnya. Reflek aku langsung menoleh padanya.


Dan terlihat wajahnya yang ayu. Hanya saja menurutku tahi lalat di bawah lekukan hidungnya terlihat seperti upil nongkrong. Oh, sudahlah tak perlu dipermasalahkan.

__ADS_1


Aku mengangguk, dan ia menutup kembali cadarnya. Entah benar atau tidak. Namun menurutku sebaiknya ia tak bersikap buru-buru seperti ini.


Aku memainkan ponselku, dan mengirimkan pesan chat pada nomor Retno yang hanya berisi namaku saja. Agar Retno tau itu nomorku.


"Itu nomor aku. Tolong jangan spam chat ya." ucapku memperingatinya terlebih dahulu. Karena aku khawatir dia akan seperti perempuan yang sudah-sudah.


"Tinggal dulu ya. Aku mau istirahat." lanjutku yang mendapat anggukan kepala dari Retno. Lalu aku berlalu pergi masuk ke kamar. Terdengar suara umi yang tengah bertanya pada Retno.


Aku membaringkan tubuhku berposisi menyamping. Dan mulai memainkan ponselku lagi. Kesibukanku sekarang hanya menstalking sosial media milik Dinda. Berharap bisa menemukan foto ayah kandung Givan, si Mahendra itu. Aku ingin tau rupa laki-laki yang bisa menanam benih di rahim Dinda dulu.


Dan ini salah satu kemunafikanku lagi. Waktu Shasha datang ke rumah untuk mengambilkan gaun Dinda. Aku menampik aku tak pernah membandingkan diriku dengan laki-laki pilihan Shasha. Namun pada Dinda, aku malah ingin menilai si Mahendra itu. Seberapa hebatnya dia sampai bisa mendapatkan Dinda, sedangkan aku harus berjuang sendiri begini.


Aku menemukan sosial media Dinda yang ditandai dengan seseorang. Apa ini Mahendra itu. Terlihat Dinda yang masih menggunakan kawat gigi tersenyum lebar ke arah kamera. Dengan laki-laki di sampingnya yang melihat ke arah kamera juga, namun tanpa ekspresi.


Ini foto tak begitu jelas, tapi apa mungkin itulah Mahendra? Aku mengecek akun yang bernama Bagaskara itu, akun yang menandai Dinda itu. Namun ternyata akun ini sudah lama tak digunakan. Namun tetap tak menemukan petunjuk lain. Hanya kumpulan foto si laki-laki itu dengan team bolanya.


Ehh, tunggu dulu. Givan pernah mengatakan dirinya dulu sering dibawa papahnya main bola. Mungkinkah ini nama akun sosial media milik papahnya, si Mahendra itu.


Kenapa jadi serunyam ini. Namun aku tetap tak menemukan petunjuk apa pun. Kenapa sih dek aku harus berusaha sendiri untuk mencari tahu tentang kau? Kenapa tak kau ceritakan tentang diri kau dulu? Kenapa kau suka sekali membuatku susah begini dek Dinda?


Rasanya aku ingin meneriakinya saja. Aku malah kesal tak jelas begini. Sudahlah, aku coba untuk tidur saja. Aku pun mematikan daya ponselku, dan langsung menyambungkan kabel casan. Dan mencolokkannya.


Aku pun berbaring kembali di tempat tidur dan mulai mencoba memejamkan mataku lagi.


TBC.


***Bantu sundul dong ๐Ÿ˜


bagi amunisi semangatnya juga dong ๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, rate 5, comentnya juga ๐Ÿ™


terima kasih ๐Ÿ™***


__ADS_2