Sang Pemuda

Sang Pemuda
134


__ADS_3

Adinda langsung bergegas menuju sumber suara. Ia mendapati suaminya tergeletak dengan hidung dan mulut yang mengeluarkan darah.


"BANG…"


"ABANG… BANG ADI…"


"BANG ADI…" teriak Adinda memanggil nama suaminya berulang kali. Berharap suaminya bisa mendengar suaranya.


"Awas, Dek." ujar Jefri meminta diberi ruang, lalu Jefri memberikan pertolongan pertama dengan tangan yang gemetaran.


"Bawa ke rumah sakit aja." lanjut Jefri yang melihat keadaan Adi yang tidak ada perubahan.


Lalu mereka semua membawa Adi untuk menuju ke rumah sakit.


Givan terlihat syok. Ia hanya terdiam membisu tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Setelah tiba di rumah sakit, Adi langsung dibawa ke unit gawat darurat. Dan mendapatkan pertolongan lanjutan di sana.


"Zulfa, awalnya gimana kok bang Adi bisa berdarah macam itu?" tanya Adinda dengan duduk di bangku yang tersedia.


"Kaya kesedak gitu, Kak. Batuk-batuk terus darahnya muncrat gitu aja. Aku aja kaget banget." jelas Zulfa dengan memangku Givan.


Lalu mereka hanya terdiam menunggu kabar dari dalam ruangan itu. Jefri yang pergi untuk mengurus data diri Adi.


~


Beberapa jam kemudian, Adi masih terbaring lemah di ruang inap rumah sakit. Dengan Givan yang meneteskan air matanya, tanpa suara tangis dari mulutnya. Ia memandangi wajah pucat seseorang yang telah menjadi ayah sambungnya itu.


"Tante, aku mau nangis. Tapi tak bisa. Aku tak mau papah Adi kenapa-kenapa." ucap Givan yang masih berada di dekapan Zulfa.


"Itu namanya sedih. Dan Abang tak mau papah Adi kenapa-kenapa itu, namanya khawatir." jelas Jefri dengan mendekati Givan dan wanitanya itu.


"Mamah aku ke mana sih? Tega betul ninggalin papah Adi lagi sakit macam ini. Padahal kemarin mamah masuk rumah sakit, yang jagain papah Adi terus." ujar Givan dengan cemberut.


"Mamah lagi ada keperluan sebentar. Biar papah Adi tak sakit-sakitan macam ini lagi." jawab Jefri memberitahu.


"Ke mana sih, Bang? Tadi aku dengar ke kota J begitu dia ngobrol di telpon." tanya Zulfa pada kekasihnya.


"Ke ustad yang ngobatin Adi kemarin." jawab Jefri dengan memperhatikan kantong infus yang hampir habis itu.


"Memang Abang kena santet lagi?" sahut Zulfa menimpali.


"Kayanya sih kena serangan baru lagi. Dan yang Abang tau juga kan, rumah itu dipasang sesuatu sama pelakunya. Jadi meski tak diserang langsung. Adi tetap bisa mendapat kesakitan, jika berada di rumah itu." ungkap Jefri kemudian. Jefri mengetahui rumah Adi dipasang sesuatu dari informasi ustad tersebut.


"Oh, memang Yah. Tadi aku udah kencingin." ucap Givan menyambungi. Sontak membuat dua orang dewasa itu menoleh cepat pada anak laki-laki yang tengah duduk di tepian tempat tidur Adi.

__ADS_1


"Di mana tempatnya? Kalau Abang tau kenapa tak bagi tau mamah atau yang lain?" tanya Jefri yang mendekati Givan.


"Di halaman, tadi sebelum masuk aku kencingin." jawab Givan dengan terkekeh geli.


Lalu Jefri menitipkan Givan pada Zulfa. Dan ia keluar dari ruangan, bertujuan untuk menelpon Adinda.


~


Malam harinya, Afan dan Arif datang bertujuan untuk menjaga adik iparnya itu yang masih enggan membuka matanya.


Karena Jefri mendapatkan giliran tugas malam. Dan juga, Adinda berpesan untuk tidak mengabari orang tua Adi.


Dengan Zulfa yang diberi pengertian oleh Jefri, dan langsung diantarkan pulang. Tentu saja tanpa memberitahu masalah pernikahan siri abangnya dengan Adinda. Karena Jefri pikir, yang lebih berhak memberitahu sendiri adalah kedua orang yang bersangkutan tersebut.


"Aku juga tugas di rumah sakit ini, A. Kalau perlu sesuatu tinggal hubungi aku aja ya. Ini nomor kontak aku." ucap Jefri yang akan pamit untuk bertugas.


"Ok, Dinda ada ngomong apa lagi Jef?" tanya Arif dengan mengetikan nomor telepon Jefri.


"Besok Dinda pulang sama salah satu asisten dari ustad tersebut, untuk ngecek rumah Adi. Sekarangnya lagi proses ngobatin Adi dari jauh. Semoga aja hasil kenekatan Dinda, yang rela pergi langsung ke kota J bisa membuahkan hasil." sahut Jefri kemudian.


"Aamiin, semoga usaha Dinda gak sia-sia." balas Arif dengan memperhatikan Adi dengan prihatin.


"Bang Givan bener mau bobo di sini?" tanya Afan yang mengelus-elus rambut Givan. Anak itu terlihat begitu sayang dengan ayah sambungnya. Sedari tadi ia terus melafalkan surat-surat pendek yang ia hafal. Berharap usahanya bisa membangunkan Adi.


"Aku pengen jagain papah aku. Soalnya mamah aku malah kabur entah ke mana." jawab anak itu yang memonyongkan bibirnya, untuk bisa mencium pipi Adi yang sebagian tertutup oleh alat bantu pernapasan.


~


Pagi harinya, Adinda dan salah satu asisten ustad tersebut sudah berada di rumah Adi. Dengan Haris dan Jefri yang diminta datang oleh Adinda.


Setelah tempat berhasil dinetralisir. Mereka semua bergegas menuju ke rumah sakit, untuk menemui Adi.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Asisten ustad tersebut memandangi Adi dengan seksama.


"Ini betul apa yang dikatakan ustad. Bapak Adi dikirimkan sihir lagi. Rupanya orang tersebut masih enggan untuk bertaubat." ucap asisten ustad tersebut.


"Terus gimana, Pak? Ustad bilang harus bawa bang Adi. Tapi keadaannya masih macam ini aja." sahut Adinda dengan mendekati suaminya. Ia merapikan rambut Adi yang terlihat begitu acak-acakan.


"Iya, soalnya mereka gagal masuk. Tapi tak bisa keluar juga. Nyangkut di leher. Coba saya bantu dulu, mana tau bisa bikin suami ibu sadar. Setelah sadar tolong diurus masalah rumah sakitnya, biar suami ibu bisa langsung keluar begitu dia sadar." balas asisten ustad tersebut.


"Baik, Pak." Adinda menyanggupinya. Tentu saja ia akan minta bantuan dari Haris dan Jefri untuk masalah rumah sakitnya.


Asisten tersebut mulai membacakan doa untuk Adi. Terlihat Adi bereaksi dalam tidurnya. Ia terbatuk-batuk hebat, dengan langsung membuka matanya.


"Pakde, papah aku diapain itu." ucap Givan terlihat begitu ketakutan.

__ADS_1


"Yuk jajan sama Abi." ajak Haris yang bermaksud agar Givan tak menyaksikan ini semua.


"Pakde Afan, jagain papah Adi aku." ujar Givan saat ia sudah berada digendongan Haris.


"Ok siap, Bos." sahut Afan dengan senyum yang meyakinkan.


Lalu Givan dan Haris keluar dari ruangan tersebut.


Terlihat Adi masih terbatuk-batuk, Jefri memiringkan tubuh Adi. Bermaksud agar ia lebih mudah untuk mengeluarkan dahaknya. Yang tentunya bukan dahak yang menggangu tenggorokannya tersebut.


Dan Adi memuntahkan cairan merah yang cukup banyak. Adinda terlihat begitu syok dengan apa yang ia lihat di depan matanya.


Air mata perlahan berjatuhan tanpa dikehendaki oleh diri Adinda sendiri. Namun sepertinya prosesnya belum juga berakhir.


Beberapa menit kemudian, Adi menyeka sendiri bekas merah yang tersisa di bibirnya.


Dan terdengar penutup doa yang mengalun di ruangan ini.


"Aku panggilkan dokter dulu ya, Pak. Buat ngecek keadaan Adinya." ucap Jefri pada asisten ustad tersebut. Lalu ia mengangguk mempersilahkan Jefri.


"Apa yang dirasa, Pak Adi?" tanya asisten ustad tersebut dengan memperhatikan Adi yang mencoba bangkit dari posisinya. Lalu ia membantu Adi.


"Pedas betul tenggorokan aku. Terus macam masih ada yang meganjal aja." ucap Adi dengan suara serak.


Lalu asisten tersebut pun merogoh ponselnya untuk menghubungi gurunya itu.


Kemudian dokter datang, dan langsung memeriksa keadaan Adi. Dengan Jefri mengikuti langkah dokter tersebut, setelah dokter tersebut selesai memeriksa keadaan Adi.


"Sebaiknya, selesaikan masalahnya dulu dengan pelaku yang bersangkutan. Agar orangnya tak terus-terusan mengirimkan sihir seperti ini. Sepertinya ini sihir dari dukun yang berbeda. Kurang lebihnya seperti itu yang dikatakan oleh pak ustad." ungkap asisten ustad tersebut, setelah selesai menelepon.


"Kalau sudah selesai masalahnya, nanti langsung datang ke tempat ustad saja ya, Bu Dinda. Biar Bapak Adi bisa langsung dibersihkan langsung sama pak ustad." lanjutnya kemudian.


"Oh begitu? Baik Pak. Mari saya antar Bapak." sahut Adinda.


"Tak perlu repot-repot, Bu Dinda. Setelah ini saya masih ada keperluan lain juga. Tak apa saya tak perlu diantarkan pulang lagi." tolaknya dengan halus. Lalu ia permisi pergi, dengan diantarkan oleh Arif sampai di depan rumah sakit.


Di ruangan Adi, Adinda tengah membilas tubuh suaminya tersebut. Dengan telaten dan sabar, Adinda membersihkan lekuk demi lekuk tubuh suaminya. Terlihat keadaan Adi masih begitu lemas.


"Dek, jangan itu juga kali. Bangun kan jadinya?" ucap Adi dengan menggelengkan kepalanya. Istrinya memang sengaja, atau memang tak paham.


"Diem Bang!" ujar Adinda saat Adi mengarahkan tangan Adinda pada sesuatu yang perlahan bangkit tersebut.


TBC.


Dikupas tuntas tentang pelaku tersebut 🤔

__ADS_1


Tapi ngomong-ngomong, itu apaan sih yang bangun?


__ADS_2