
"Dek......" ucap Adi dengan suara serak memberat.
"Bang cukup!" pangkas Adinda menahan kepala Adi yang mendekati wajahnya, "Jangan sampai ku tukar kau dengan beras ta'ziyyah!" seru Dinda terlihat kesal.
Adi menarik nafasnya dan menyingkir dari atas tubuh Adinda. Adi merebahkan tubuhnya di samping tubuh Adinda.
"Maaf dek." ucap Adi menyesal dan meraih tangan Adinda untuk digenggamnya, Adi memejamkan mata untuk menetralisir hasratnya.
"Aku percaya sama abang." ungkap Adinda datar dan memeluk lengan Adi.
"Abang butuh air dingin." balas Adi melepaskan pelukan Adinda di tangannya dan beranjak bangun dari tempat tidur. Adi lalu menuju ke kamar mandi.
Terlihat Adinda hanya menatap lurus plafon kamar Adi. Ia pun sebenarnya menginginkannya, tapi ia paham kalau ini adalah hal yang salah. Adinda terdiam cukup lama dan mengatur nafasnya yang sempat memburu itu. Cukup lama, sampai ia merasakan haus menjalar di tenggorokannya. Lalu ia bergegas menuju dapur untuk mengambil air minum. Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Apa Adi mandi di malam hari seperti ini? Pertanyaan yang muncul di benak Adinda.
Setelah Adinda selesai minum dan meletakkan gelasnya di meja makan. Adinda beranjak dan ingin berlalu dari dapur. Namun terdengar suara geraman Adi yang menyebutkan namanya membuat Adinda tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya. Kemudian Adinda langsung pergi dari dapur menuju ke ruang depan.
Tidak berselang lama, Adi muncul dengan handuk di pinggangnya dan handuk kecil yang ia usapkan ke kepalanya untuk mengeringkan rambutnya.
"Udah plong bang?" ucap Adinda dengan tersenyum kecil namun tetap fokus pada ponsel yang ada di tangannya.
"Ah sialan kau! Tidur sana!" balas Adi langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Pakai baju yang dari aku bang! Aku mau ajak abang keluar sebentar!" sahut Adinda dengan suara sedikit keras.
Tak lama Adi pun keluar dengan memakai kaos putih yang menurutnya kekecilan itu. Adinda menatap Adi dengan saksama, "Wow, seksi sekali abangku yang satu ini." ungkap Adinda memuji penampilan Adi yang terlihat sederhana itu. Adi lalu duduk di samping Adinda.
"Udah kau jangan pegang-pegang abang! Dasar tidak bertanggung jawab!" ucap Adi menepis tangan Adinda yang meraba dada bidangnya.
Adinda tertawa tertahan, "Kau aja yang memang tak tahan! Nyalahin aku segala pula kau!" Adinda berkata dengan meraba paha Adi dan mencubitnya pelan.
"Risih betul. Sana kau jauh-jauh!" balas Adi memindahkan tangan Adinda di pahanya.
"Bentar aku ke kamar mandi dulu. Terus kita berangkat." tutur Adinda beranjak dari duduknya.
Adi memijat pangkal hidungnya. Ia begitu sensitif ketika berada di dekat Adinda. Sebelumnya ia tak pernah merasakan seperti ini.
ADI POV
__ADS_1
Aku dan Adinda berada di dalam mobil ayahku yang tempo hari ku bawa setelah pulang dari rumah umi.
"Mau kemana kita dek?" tanyaku pada Adinda yang sedang memainkan ponselnya.
"Hmm, ikutin arahan aku aja bang." sahut Dinda melihat jalanan sekitar. Tak lama Dinda memintaku untuk berbelok ke daerah pertokoan yang berujung pada jalanan yang sepi. Lalu Dinda memintaku berbelok ke arah kiri dan wow nampak beberapa mobil modifikasi dan sudah upgrade mesin tengah berjejer di sana.
"Ini udah upgrade mesin belum bang?" tanya Dinda yang bersiap keluar dari mobilku.
"Belum dek. Ini mobil ayah abang!" jawabku dan mengikutinya.
Dinda menyapa beberapa temannya. Dia terlihat nyaman saja dengan gaya pakaiannya yang berbeda dari yang lain.
Dinda menoleh padaku dan menarik tanganku untuk diajaknya berkenalan dengan teman-temannya. Kalau begini caranya. Aku tak yakin aku bisa berubah menjadi lebih baik.
"Siapa nih Din?" tanya teman laki-lakinya.
"Abang ku ini, jangan rese ya kalian. Kau juga jangan gangguin abangku yang satu ini!" ucap Dinda dengan bergurau dan memukul pelan lengan laki-laki di samping temannya yang dikenalkan padaku bernama Frans itu.
"Balik kau sana! Haris tau bisa dikawininya kau." ucap salah satu teman Dinda yang berdatangan ke arahnya. Adinda hanya merespon gurauan mereka dengan mengerucutkan bibirnya.
"Maen berapa? Kau pegang siapa?" tanya Dinda pada Frans.
"Lima juta. Menurut kau siapa Din?" jawab Frans dan bertanya balik pada Dinda. Sudah ku duga tak jauh beda permainannya dengan permainanku dulu.
"Eko aja bang, mobilnya kayanya baru lagi tuh. Abang tak bisa kah keluarkan mobil aku cuma-cuma, ayah kau kan kerja di sana. Mau ku tebus jumlahnya setara dengan mobil baru." ungkap Dinda yang percakapannya bisa ku dengar jelas.
Namun ada laki-laki yang berbadan gembul melambai pada Dinda, "Ada barangnya om?" tanya Dinda yang bisa ku dengar sedikit. Aduh, apalagi ini betina. Aku tak mau terseret kasus yang sama untuk kedua kalinya.
Entah Dinda sedang membahas apa dengan laki-laki gembul itu. Yang ku lihat Dinda sesekali mengangguk dan menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya. Dan Dinda menunjuk ke arahku. Entah kenapa aku malah merasakan aura tidak baik di sini. Dinda tersenyum pada lawan bicaranya dan mendekatiku.
"Ku tepati nih ucapanku bang. Tapi adanya bekas semua. Kau mau tak?" tanya Dinda di samping ku.
"Apaan dek? Abang balik aja ya kalau kau masih mau di sini." balasku sambil menatap wajahnya yang tetap terlihat menarik meski dengan cahaya yang redup begini.
"Nanti siapa yang jagain aku?" sahut Dinda lebih dekat dan memeluk ku. Kami tidak menjadi pusat perhatian, mungkin karena memang begini lingkungannya. Dan orang-orang malah seolah tidak melihat kami.
"Kau ini asik main peluk aja. Memang kau biasanya sama siapa kalau kesini?" tanyaku padanya yang masih setia memeluk ku.
__ADS_1
"Sendirian. Tapi aku takut ada yang rese sama aku lagi bang." balas Dinda mendongak untuk bisa menatap wajahku.
"Lepas coba dek. Jangan sampai malah abang yang rese sama kau. Lagian kau seenak jidat kau peluk, gandeng begitu, ya mana tahan laki-laki itu dek." tutur ku jelas. Dan Dinda melepaskan pelukannya.
"Aku begini cuma sama abang. Kau kira aku gila apa masa iya setiap laki-laki ku peluk gandeng begitu." jawabnya dan duduk di kap mobil di belakang ku. Benarkah Dinda begitu hanya dengan ku. Aku masih ingat waktu Dinda bersandar pada Haris dan menggandengnya seperti menggandengku. Aku masih ingat saat Jefri merangkulnya dan membawanya pergi dari ku waktu di acaranya.
"Basi!" ungkap ku pelan. Tapi kurasa Dinda masih mendengarnya. Tak lama kami diam menyaksikan beberapa orang yang tengah bersiap dengan mobilnya. Lalu muncul tiga perempuan seksi yang entah datang dari mana, mereka mendekat ke arah ku.
"Mau yang mana bang?" tanya Dinda di belakang ku. Tunggu dulu, maksudnya bagaimana? Aku suruh tidur dengan wanita panggilan begitu? Seumur-umur aku tidak pernah tidur dengan wanita bayaran seperti itu. Aku melakukannya dengan pacar-pacar ku dulu itu sudah hal yang salah. Apalagi kalau aku sengaja membeli mereka begini.
"Santai mantong dek! Pungo eunteuk, rukok na keuh?" ucap ku menggunakan bahasa daerah ku yang berarti (santai saja dek! Gila nanti, rokok ada kah?), lalu menyelipkan rokok di mulutnya dan menyalakan korek untuknya. Yang sebenarnya aku tengah emosi. Apa maksudnya dia meminta ku memilih satu di antara tiga wanita yang berada di dekat kami itu.
Dinda terkekeh dengan asap yang keluar dari mulutnya. Sungguh aku geram sekali padanya.
"Pilih satu, aku yang bayar bang Adi!" ucapnya santai dengan menarik bajuku untuk lebih dekat dengannya.
"Kenapa tak kau aja?" balasku lalu duduk di sebelahnya.
"Rencananya begitu. Ini aku lagi naikin harga dulu. Kira-kira aku laku tak kalau sekali pakai 80 jutaan?" tanyanya menatap ku dengan senyum.
"Memang kau betul-betul gila dek. Mati saja kau!" balasku kesal dan membuang muka. Tapi aku malah mendengar kekehannya. Aku ini tengah marah, malah di tertawakan. Aku jadi ragu, jangan-jangan di dalam kepalanya tidak ada otak.
"Tengoklah dulu bang. Kau sombong sekali." tutur Dinda memegang wajahku dan menariknya untuk menghadap wanita-wanita tersebut.
Aku tak ada minat pada mereka. Kalau boleh, biar Dinda saja yang ku bungkus. Aku memperhatikan mereka satu persatu, tak ada yang lebih menarik melebihi dek Dinda.
"Yang mana bang Adi? Ngelamun pula kau!" ucap Dinda menepuk pahaku.
"Suruh balik ajalah! Tak ada yang menarik." tutur ku pelan. Takut mereka mendengar ucapanku. Dinda menganggukkan kepalanya.
"Maaf mbak, abang ku sedang tidak ingin." ungkap Dinda halus memberitahu mereka. Kami terdiam cukup lama. Kami hanya fokus menonton keramaian di depan kami.
Sampai sifat gila Dinda mulai lagi, "Abang, aku bosan. Kenapa kau diam aja bang?" ucap Dinda dengan memeluk ku dari samping.
"Terus abang harus gimana dek? Masa iya abang harus atraksi di sini!" seruku kesal. Aku tak tau bagaimana aku harus bersikap padanya. Aku keenakan dengan pelukannya dan gandengannya. Tapi di sisi lain akupun merasa frustasi karena selalu berhasrat padanya. Aku khawatir aku berbuat tanpa kasihan padanya. Sedangkan dia sudah amat percaya padaku. Sungguh aku frustasi sekali memikirkannya.
TBC.
__ADS_1