
"Yang betul, Dek? Adek tak salah kira kan?" tanya Adi begitu mereka sampai di rumah berpagar cukup tinggi ini. Karena ia jelas mengenal rumah ini.
"Kalau aku salah orang nanti tinggal kita balik lagi aja." jawab Adinda santai.
"Assalamualaikum. Assalamualaikum…" ucap Adinda berulang. Karena rumah itu terlihat sangat sepi.
"Wa'alaikum salam…" sahut ibu-ibu seumuran ibu Risa dari dalam rumah.
"Cari siapa, Nok?" tanya ibu tersebut dengan berjalan menuju gerbang rumah. Bermaksud untuk membukakan pintu untuk mereka.
Nok, adalah panggilan untuk seorang anak perempuan di kota C ini.
Kemudian ibu tersebut membukakan pintu gerbangnya. Adinda, Adi dan Givan mengulurkan tangan mereka satu persatu, untuk menjabat tangan ibu-ibu tersebut.
"Betul ini rumah Devi Latvia, Bu?" tanya Adinda dengan senyum ramah.
"Hm, betul. Ada apa ya, Nok?" jawab ibu tersebut.
"Saya bermaksud ingin bertemu dengan Devi." sahut Adinda kemudian.
"Maaf ya. Tapi Devi lagi gak mau ketemu siapa-siapa." balas ibu tersebut dengan memperhatikan mereka bertiga.
"Sebentar ya, Bu." ujar Adinda dengan berlari menuju mobilnya. Dan setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia langsung kembali ke hadapan mereka semua.
"Devi ikut serta dalam kegiatan promosi buku terbaru saya." ungkap Adinda dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
"Terus?" tanya ibu tersebut yang masih enggan mengizinkan mereka masuk.
"Dia dapat novel terbaru aku, jika ia bantu bagikan informasi tentang buku terbaru aku." jawab Adinda, "Hmm, semacam give away begitu." lanjut Adinda. Karena ia melihat wajah kebingungan dari ibu-ibu tersebut.
"Ibu gak paham, Nok. Dengan siapa? Biar disampaikan langsung ke Devinya. Barang kali dia mau ketemu langsung sama yang punya bukunya." sahut ibu tersebut dengan senyum yang merekah.
"Dengan Adinda. Baik, Bu. Ditunggu." balas Adinda membalas senyum yang tak kalah manis. Lalu ibu tersebut masuk ke dalam rumah.
"Dek, katanya mau ke pelaku? Kok malah ngasih give away? Terus biasanya juga give away itu Adek paketin. Bukan ngasih langsung macam ini." ucap Adi yang dari tadi hanya diam menyimak.
"Diem aja dulu." sahut Adinda yang melihat ibu itu berjalan menuju arahnya.
"Silahkan masuk Nok, A." ucap ibu tersebut mempersilahkan mereka.
"Maaf ya keadaan Devi lagi sakit. Makanya dia gak mau ketemu sama siapa pun juga." ujarnya dengan mengarahkan mereka semua untuk mengikuti langkah kakinya.
__ADS_1
"Oh, sakit apa Devinya, Bu?" tanya Adinda dengan memperhatikan rumah tersebut.
"Sakit asma. Badannya sampai kurus. Makanya dia malu untuk keluar rumah." jawab ibu tersebut.
"Silahkan langsung masuk aja ke kamar Devi. Mau dibuatkan minum apa?" ungkapnya setelah berada di depan pintu kamar yang setengah terbuka.
"Hm, jus buah boleh juga Bu." sahut Adinda dengan menunjukkan gigi putihnya. Sengaja ia meminta jus buah. Agar ibu tersebut butuh waktu cukup lama untuk membuatkannya.
Ibu tersebut mengangguk mengiyakan, "Silahkan masuk aja." lanjutnya kemudian. Lalu ia pergi menuju dapur.
Adinda perlahan mendorong pintu tersebut, dan terlihat seorang wanita tengah duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia terlihat begitu kurus dengan kantung mata yang terlihat jelas.
"Assalamualaikum." ucap Adinda dengan menyinggungkan senyum manisnya.
"Wa'alaikum salam." sahut Devi menoleh ke sumber suara.
Ia terlihat begitu kaget melihat Adi yang berjalan membuntuti Adinda.
"Ini hadiahnya. Cepet sembuh ya." ujar Adinda dengan menyerahkan bukunya dan memeluk Devi sekilas.
"Terima kasih, Kak." jawab Devi begitu canggung.
"Kenapa bang Adi ikut juga?" lanjutnya memperhatikan Adi yang terlihat kurus. Meski memang sedikit berisi sejak ia menikah dengan Adinda.
"Aku mau maafin bang Adi, dan gak akan kuulangi kejadian kemarin yang cukup membahayakannya. Asal…" balasnya terlihat begitu percaya diri. Ternyata benar Devi adalah pelaku dibalik sihir yang menyerang Adi.
"Asal apa?" tanya Adi terdengar tidak sabaran, karena Devi menjeda ucapannya.
"Asal kita menikah." jawab Devi yang membuat hati Adinda mencelos tak karuan.
"Janganlah minta sesuatu yang tak bisa aku penuhi. Aku paham kau sakit hati karena tindakanku dulu. Tapi sungguh aku sangat menyesalinya sekarang. Aku mohon maafin aku, dan tolong jangan kirimi aku penyakit lagi." ungkap Adi dengan mendekati Devi dan menggenggam tangan Devi.
"Bang, Abang tak tau bagaimana terpuruknya aku." ucap Devi dengan berurai air mata.
"Abang permainkan perasaan aku. Abang rendahin harga diri aku. Terus Abang tinggalin aku begitu aja. Bang, aku sakit hati. Abang tega banget sama aku!" seru Devi yang membuat Givan memeluk pinggang ibunya.
"Aku mohon maafin bang Adi, Dev." ucap Adinda dengan menurunkan tubuhnya, dan bertumpu pada kedua lututnya.
"Dek, tak perlu macam ini." tukas Adi mencoba membangunkan istrinya.
"Kak, dengerin aku. Kakak tak perlu sampai segitunya." tutur Devi yang terkejut melihat tindakan Adinda.
__ADS_1
"Aku mohon maafin suami aku. Ikhlas semua yang udah terjadi. Dan aku mohon jangan renggut suami aku, Dev. Biarkan dia hidup denganku." ungkap Adinda dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Devi menutup mulutnya dengan tangannya, ia tak percaya apa yang ia dengar barusan.
"Bagaimana bisa bang Adi jadi suami Kakak?" tanya Devi dengan membantu Adinda bangkit dan memintanya duduk di sebelahnya.
"Sedikit banyaknya kamu pasti tau kisah tentang aku?" ucap Adinda yang diangguki oleh Devi.
"Tolong, biarkan kisah ini berakhir dengan bahagia. Ikhlaskan bang Adi untukku. Maafkan segala kesalahannya. Dan jangan kamu balas dia dengan cara yang seperti ini. Aku mohon dengan sangat, Dev." ujar Adinda dengan penuh harap.
"Tunggu Kak, aku masih gak paham tentang ini semua." tukas Devi dengan memperhatikan wajah Adinda lekat.
"Bang, mana hp Abang?" tanya Adinda pada suaminya yang duduk tepat di belakangnya, di tepian tempat tidur sambil
memangku Givan.
Adi langsung memberikan ponselnya pada Adinda.
"Coba tengok ini, kalau kau tak percaya." ucap Adinda dengan memperlihatkan video akad nikahnya dengan Adi.
Sambil memutar video tersebut, Adinda menjelaskan secara singkat tentang pernikahan di bawah tangannya. Dan tentang hubungan cintanya yang terhalang restu.
"Dan sekarang, kau tau? Bahkan orang tua bang Adi belum mengetahui kebenaran ini." ujar Adinda yang langsung mendapat pelukan dari Devi.
"Aku minta maaf sama Kakak. Kakak berhak bahagia. Maafkan aku udah membuat kalian menjadi kesusahan. Sekarang aku hanya ingin bang Adi minta maaf sendiri padaku." ungkap Devi dengan mata yang basah.
Lalu Adi menurunkan anak laki-lakinya tersebut dari pangkuannya. Dan ia menghampiri Devi. Dengan Adinda yang memberi sedikit ruang untuk mereka.
"Devi, aku minta maaf atas segala kesalahanku yang aku sengaja atau pun yang tak kusengaja. Aku mohon ikhlaskan aku untuk melanjutkan hidupku bersama wanita pilihan hatiku, dan ikhlaskan aku untuk berbahagia dengan keluarga kecilku." ungkap Adi dengan menggenggam tangan Devi. Adinda memperhatikan mereka dengan seksama. Apa lagi melihat mereka sudah dua kali ini bertautan tangan. Karena sejujurnya ia adalah tipe wanita pencemburu. Apa lagi jelas, Devi dan Adi dulunya adalah sepasang kekasih.
"Aku pun minta maaf, Bang. Aku mohon maafkan segala kesalahanku. Dan semoga Abang tidak memendam rasa dendam, atas segala sikap tak terpujiku. Tolong jaga hati idolaku, panutanku, dan seseorang yang aku anggap sebagai kakakku sendiri." sahut Devi dengan menatap netra coklat tua yang terlihat begitu pas di wajah Adi.
Adi menganggukan kepalanya, dan Devi langsung memeluk tubuh Adi. Sontak membuat Adi terkejut dan langsung menoleh pada istrinya yang menatap tajam ke arahnya.
TBC.
Benar tebakanku 🤬
Ya ampun, Dev.
Memang sih kalau udah sakit hati, bisa bikin orang gelap mata.
__ADS_1
Makanya hati-hati ya kalau bertutur kata atau bersikap pada sesama manusia.
Ingat, ada hablum minannas selain hablum minallah.