
AUTHOR POV
Adinda tengah mengangkat telepon dari seseorang yang sepertinya penting. Adi mengajak Givan keluar dari ruangannya, takut mengganggu percakapan penting Adinda dan orang di sebrang sana. Adi nampak kesulitan menjaga Givan. Adi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia amat kesusahan membujuk Givan yang tidak mau turun dari meja bar kedai yang biasa di gunakan barista meracik kopi, entah bagaimana caranya anak itu naik. Adi tengah lengah pada saat itu. Beruntung kedai itu masih sepi pengunjung.
"Anaknya jangan di ajak kerja dong Di." gurau Jefri yang muncul dari belakang Adi. Jefri terkekeh kecil melihat frustasinya wajah Adi, dan tingkah Givan yang aktif itu.
"Bujuk itu anak, suruh turun. Ngeri-ngeri sedap kalau tau emaknya aku lengah menjaganya." ujar Adi mengelap keringat di pelipisnya dan berkacak pinggang setelahnya, tanpa menanggapi gurauan Jefri.
"Heran aku sama kau, bukanya takut Givan jatuh. Malah yang kau takuti amarah emaknya." sahut Jefri mendekati Givan.
"Sini nak, ikut ayah yuk. Kita main dokter-dokteran." bujuk Jefri kepada Givan.
"Asal ayah Jefri yang jadi pasiennya." cetus Givan mendelik ke arah Jefri.
"Kita cari pasien yang lain aja bang, oke?" bujuk Jefri kembali dengan melirik kearah Adi, dan mengangkat kedua tangannya untuk bersiap menggendong Givan.
"Kau tak berniat jadikan aku pasien anak ajaib kau itu kan?" ujar Adi memastikan. Jefri hanya terkekeh geli melihat tanggapan Adi.
"Aku mau di gendong sama bang Adi yah!" teriak Givan menolak gapaian tangan Jefri. Adi menuruti permintaan Givan. lalu mencari tempat yang aman untuk Givan pastinya.
"Di pesankan kopi. Berat sekali mataku." pinta Jefri saat Adi hendak duduk di kursinya.
"Nanti gimana kau jaga ini anak kalau kau sendiri ngantuk begitu." sahut Adi serius dan menyuruh salah satu karyawannya untuk membawakan satu gelas kopi jenis Arabika G***.
__ADS_1
"Ya itulah. Takutnya nya ini anak terjun dari balkon." balas Jefri memijat pangkal hidungnya.
Givan naik ke pangkuan Adi dan berkata dengan menatap netra coklat Adi, "Aku mau di kasih papah sambung sama mamah nanti, katanya boleh punya papah dua juga. Tapi aku kasian sama papah Hendra, meski mamah bilang papah kandung aku tetap papah Hendra! Kata mamah juga nanti papah sambung aku yang tinggal di rumah terus Bobo bareng aku elus-elus punggung aku begini." Givan berkata polos dan menyontohkan mengelus punggung Adi. Seketika Givan berada di pelukan Adi.
Dua laki-laki dewasa itu memperhatikankan Givan dengan seksama. Jefri menyahuti perkataan Givan dengan pandangan yang tak lepas dari penampakan Adi yang tengah memeluk anak laki-laki dan anak laki-laki yang mengelus punggung Adi, "Abang udah punya Abi Haris, udah punya ayah Jefri. Yakin masih mau cari papah baru juga?" tanya Jefri sesekali menyeruput kopinya.
"Gimana kalau abang panggil bang Adi papah aja biar tak perlu lagi cari papah baru!" ucap Adi spontan karena Givan tak menyahuti perkataan Jefri. Adi seolah mengerti Givan masih berharap pada papahnya.
"Memang boleh begitu? Aku sih masih mau nunggu pulangnya papah Hendra. Tapi mamah kayak udah tak peduli sama papah Hendra. Di telponnya pun enggan. Kalau aku bilang mah telpon papah dong, pasti langsung di jawabnya papah sibuk kerja. Jadi papah tak mungkin tau pasti aku nungguin papah. Apalagi sekarang aku tinggalnya di rumah baru. Papah Hendra mana mungkin tau alamat rumah aku yang baru." tutur Givan yang sedikit menyentuh hati kedua laki-laki dewasa itu.
Adi terdiam memeluk Givan sesekali mengelus surai hitam yang berantakan itu.
Adinda datang dan langsung menduduki kursi kosong di sebelah Adi.
"Kenapa dek? kau bilang mau fokus buat beli mobil baru jadi terpaksa kerja buat kebutuhan sehari-hari kau, biar tak ganggu pemasukan lain." tukas Jefri menyela Adi yang hendak berbicara.
"Nih ya aku bagi tau, jangan kuat-kuat bicaranya." bisik Adinda lirih dan memajukan kepalanya mendekati mereka.
"Aku di suruh ke provinsi A, ngurus ladang kopi katanya. Soalnya pak Dodi lagi ada masalah keluarga." ucap Adinda setengah berbisik.
"Kau mau kita ghibahin ayah aku sendiri gitu? Aku aja yang anaknya tak tau ada masalah keluarga. Dan itu ladang, ladang milik aku." jawab Adi tegas membuat Adinda sedikit terkejut menaikan badannya spontan mendengar suara Adi. Jefri malah tertawa geli melihat tingkah Adinda.
"Aku tau kau anaknya pak Dodi. Tapi heran aku, kau bahkan tak tau masalah yang menimpa adik laki-laki kau." ungkap Adinda keceplosan dan langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Adi langsung melirik tajam kearah Adinda, Adinda membuka mulutnya dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Masalah apa dek?" tanya Jefri penasaran dan mencolek telapak tangan Adinda yang berada di meja.
Adinda menoleh ke Jefri dan melanjutkan ghibahnya dengan Jefri. Adi terdiam kaget mendengar berita yang ia dengar dari Adinda itu. Adi langsung menyerahkan Givan ke pangkuan ibunya dan pergi menuju ruangannya tanpa sepatah katapun. Meski Givan meneriakinya habis-habisan untuk tetap disisinya.
ADI POV
Benarkah berita yang aku dengar barusan. Aku harus memastikannya. Karena Dinda pun baru katanya, yang ia tau dari ayah langsung hanya masalah keluarga. Tapi Zulfa tidak menceritakan apapun pada ku.
Aku tak habis pikir, kok bisa Edi seceroboh itu. Umi Abi sudah cukup malu karena ulah ku, sekarang di tambah lagi dengan masalah Edi.
Aku beberapa kali menghubungi nomor handphone ayah, tapi selalu saja sibuk. Aku hubungi umi ku, tapi tak di angkat. Nomor Edi malah tidak aktif.
Hah sudahlah, ayah pasti bisa mengatur semuanya sementara. Aku melanjutkan masalah di kedai, tentang resign dadakan dari Adinda. Mungkin hari ini akan jadi hari yang sibuk untuk ku.
~
Sekarang aku berada di T********gym bersama Jefri, Dinda dan juga anak ajaibnya. Aku tak habis pikir dengannya, padahal dia tau anaknya seaktif itu. Kenapa malah di bawa ke tempat ini, Dinda maksa sekali pengen olahraga.
Aku, Jefri dan beberapa laki-laki di sini bersiap pemanasan ringan dengan di bimbing coach Evan lagi. Dinda menggandeng anaknya, sebelum pergi dia menyempatkan menggoda ku, "Ingat, pemanasan itu penting dalam segala hal!" ujarnya dengan mengedipkan satu matanya. Dasar otak ku yang terkoneksi dengan yang tidak-tidak atau memang maksudnya demikian. Kenapa pikiran ku langsung membayangkan Dinda pasrah di bawahku. Oh shit, pasti seluruh bagian badannya putih juga. Apalagi dadanya yang sepertinya padat, aku merasakannya saat dia memeluk lenganku untuk di jadikan sandarannya waktu tadi pagi di ruangan ku.
Sampai tepukan pelan di bahuku membuyarkan lamunanku tentang Dinda. Dan semua mata tertuju kearah ku dengan gelak tawa terdengar jelas.
Ya ampun Adinda, kau sudah meracuni pikiranku. Jangan sampai aku tertarik padanya, ingat sifat buruknya Di. Tak bisa ku bayangkan jika ibu dari anak-anakku adalah dia. Apalagi statusnya yang cerai pisah, sepertinya suaminya dulu tak tahan menghadapinya. Aku bergidik ngeri membayangkannya. Aku membuang nafasku mencoba tidak memikirkan hal itu lagi. Ayo fokus Di fokus.
__ADS_1
TBC.