Sang Pemuda

Sang Pemuda
95


__ADS_3

AUTHOR POV


Tiga hari kemudian, Adi sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Pagi ini ia sengaja berjalan di depan rumahnya tanpa menggunakan alas kaki. Ia merasakan kakinya begitu kaku untuk digerakkan. Sampai satu jam kemudian, saat matahari mulai terasa begitu menyengat dikulitnya. Ia segera duduk di depan teras rumahnya dengan meluruskan kedua kakinya.


Tak lama terdengar deru mobil yang seperti melaju dengan kencang sekali, dan melewati rumah Adi dengan menekan klakson beberapa kali.


Adi amat terkejut dan mengelus dadanya reflek. Ia melihat mobil itu sekilas, sepertinya ia mengenal mobil putih itu.


Ia terlihat seperti mengingat-ingat dan bergumam sendiri, "Itu kan mobil Dinda. Dia ada di sini?" gumamnya pelan.


"Orang tak punya tata krama betul. Lewat di jalan yang muat satu mobil, lajunya minta ampun." ucap ibu Meutia yang keluar dari dalam rumah.


Adi mendongak untuk bisa melihat ekspresi wajah ibunya.


"Namanya juga anak muda, Mi." sahut Adi dengan memijat lututnya yang sedikit terasa nyeri.


"Kok Abang tau yang bawanya anak muda?" tanya ibu Meutia menyuguhkan Adi air putih dan cemilan.


"Ya… tak mungkin juga kakek-kakek bawa mobil selaju itu." balas Adi kemudian. Ibu Meutia terkekeh kecil dan mengelus lengan tangan Adi. Ia terlihat begitu sedih melihat tubuh Adi yang terlihat begitu kurus.


"Harus berobat ke mana lagi biar Abang lekas sembuh." ujar ibu Meutia dengan prihatin.


"Tak tau, Umi. Sembuh pun untuk apa? Kecuali memang Abang ada tujuan hidup." ucap Adi merasa miris dengan dirinya sendiri.


Dinda sudah pasti tak menginginkannya yang kering kerontang seperti ini, pikirnya. Ditambah lagi, ia tengah gundah hati. Karena ia tak mendapat jawaban siapa yang mengangkat teleponnya hari itu. Waktu ia menelpon Dinda.


"Tak boleh ngomong begitu! Umi paham Abang tengah patah hati. Kan masih banyak perempuan lain selain Din….." ujar ibu Meutia terpangkas dengan ucapan Adi.


"Boleh Abang main ke luar sebentar?" tanya Adi menoleh pada ibunya. Ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Main ke mana? Temennya suruh ke sini aja? Jefri kan? Atau Haris?" jawab ibu Meutia kemudian.


"Aku pengen liat anak perempuannya Haris. Katanya waktu itu dia udah bisa berdiri sendiri." sahut Adi asal. Sebetulnya ia memiliki maksud lain.


Ibu Meutia mengernyitkan dahinya. Ia merasa bingung, sejak kapan anaknya jadi penyayang anak-anak begini.


"Kinasha itu?" tukas ibu Meutia setelah beberapa saat terdiam.


Adi mengangguk mantap. Dan masuk dalam rumah. Setelah mencuci wajah, dan membasuh tangan serta kakinya. Ia bergegas masuk ke kamar, mencari baju yang pantas ia kenakan.


Adi menggunakan celana jeans panjang, dengan setelan kaos berwarna hitam dan jaket abu-abu yang membuat tubuhnya terlihat sedikit menggembung.

__ADS_1


"Abang keluar sebentar ya, Umi." ucap Adi dengan mencium pipi kanan ibunya sekilas.


"Apa sebaiknya Umi ikut aja?" sahut ibu Meutia yang berhasil menghentikan langkah kaki Adi.


"Hmm. Sebentar, Umi. Tenang aja, ok?" balas Adi berbalik pada ibunya dan mencium pipi kiri ibunya.


Lalu Adi berjalan, dan memasuki mobilnya. Senyumnya mengembang, ia berharap bisa melihat Adinda hari ini. Karena ia yakin mobil Adinda tadi dikendarai oleh Adinda sendiri.


~


Adi tersenyum begitu bahagia, saat melihat mobil Adinda terparkir di depan rumah Haris. Lalu ia memarkirkan mobilnya dengan perlahan.


Begitu siap, ia keluar dari dalam mobilnya. Terlihat Haris tengah menyirami tanaman dengan selang yang terhubung dengan keran air.


Haris menoleh dan melihat penampilan Adi yang terlihat jelas begitu kurus, walau dengan menggunakan jaket yang cukup mengembangkan juga.


"Sehat kau, Di?" sapa Haris dengan mematikan keran air dan langsung menghampiri Adi untuk berjabat tangan dengannya.


"Yaaaa, begitu terus siklusnya. Kau tau sendiri lah." sahut Adi menyambut uluran tangan Haris.


"Kau tau aja betina kau ada di dalam." bisik Haris disela jabatan tangannya. Dan mereka tertawa bersama.


"Mana dia?" tanya Adi kemudian.


"Ngapain?" sahut Adi dengan melepaskan sepatunya.


"Coba liat langsung aja." balas Haris santai. Adi menganggukan kepalanya, dan ia masuk dalam rumah dengan tuan rumahnya yang masih berada di luar itu.


Ia langsung menuju ruang bermain anak-anak. Namun tak menemukan Adinda maupun Givan. Ia hanya melihat Ken dan Kin serta salah satu pengasuhnya.


"Mana Givan?" tanyanya pada pengasuh anak Haris yang bernama Mbak Mirna itu.


"Oh, sama ayah Jefri di kamar tamu." jawab mbak Mirna. Dan Adi langsung berlalu pergi tanpa mengucapkan terimakasih.


Ia berjalan terburu-buru menuju ke kamar yang ia pernah tiduri dulu. Terdengar isak tangis dari kejauhan. Ia kenal dengan suara isak tangis perempuan tersebut.


Ia cepat membuka pintu kamar itu, dan terlihat Dinda yang sedang menangis dengan memeluk guling, Givan yang tengah mengelus kepalanya ibunya. Dan Jefri yang berdiri dan menggaruk kepalanya, sepertinya ia tengah kebingungan sekarang.


"Kenapa, Dek?" ucap Adi cemas.


Dinda langsung membuang bantal guling yang menutupi wajahnya, dan melihat ke sumber suara. Namun ia menutup kepalanya kembali dengan guling, dan melanjutkan tangisnya.

__ADS_1


"Abang keluar dulu ya, Dek?" ujar Jefri pada Adinda, "Yuk Bang, ikut Ayah." lanjutnya dengan mengajak Givan.


Adi berjalan menghampiri Adinda, dan duduk di tepian tempat tidur yang Adinda tiduri.


"Kau kenapa?" tanya Adi yang terlihat ragu untuk menyentuh kepala Adinda.


"Aku... lagi nang-is, Bangggg." ucapnya dengan sesenggukan.


"Iya tau. Anak kau pun paham kau lagi nangis. Nangisnya kenapa? Apa masalahnya?" ujar Adi dengan mengucapkan dengan jelas.


"Aku mau nangis dulu. Abang diamlah sebentar." sahut Adinda cepat. Dan melanjutkan tangisannya. Adi menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan tingkah kekanak-kanakan Adinda.


Beberapa menit kemudian, Adinda bersuara lagi.


"Kenapa kau diam aja?" ucapnya dengan menyingkirkan bantal guling yang menutupi wajahnya.


"Abang harus gimana, Dek? Masa mau ikutan nangis?" sahut Adi merasa serba salah. Tadi ia menyuruh Adi untuk diam. Sekarang diam pun terlihat salah di mata Adinda.


"Kepala aku tak dibelai-belai. Aku tak dipeluk juga." balasnya yang membuat Adi tertawa geli.


Adi menurunkan tubuhnya untuk bisa berbaring di sebelah Adinda.


"Abang kurusan, Dek. Pelukan Abang pasti udah tak sehangat dulu lagi." ucap Adi dengan memeluk tubuh sintal Adinda. Sejujurnya ia merasa malu pada Adinda, tapi ia sudah tak bisa menahan rasa rindunya lagi.


"He'em, kau nampak cungkring betul" sahut Adinda yang ternyata sudah reda dari tangisnya. Adi tersenyum miris mendengar jawaban Adinda. Sudah ia duga pasti Adinda tak menginginkannya lagi, tapi kenapa Adinda malah meminta dipeluk tadi, pikir Adi bimbang.


"Kau nangisin apa?" tanya Adi dengan memperhatikan wajah Adinda. Ia mengalihkan pembicaraan, agar tak semakin terasa nyeri mendengar kenyataan dari Adinda.


"Aku sedih kali tengok kau tadi di depan rumah. Kau macam kena penyakit ganas, tiba-tiba kau terlihat kurus mendadak begitu. Kau tau Bang, tadi aku sengaja lewat depan rumah Abang." ungkap Adinda dengan menghela nafasnya, "Aku kasian sama kau. Sampai kapan kau gini terus? Ternyata santet itu sulit disembuhkan sekalipun Abang udah minta maaf dengan orang tersebut. Itu fakta yang aku tau, yang bikin aku setakut ini. Kenapa sih kita ketemu baru sekarang? Kenapa tak dari dulu-dulu aja? Kan kalau dari dulu, mungkin kita udah beranak pinak" lanjutnya kemudian.


"Kau nanya jangan yang tak bisa Abang jawab. Masalah ketemu, itu bukan kehendak Abang. Dan masalah santet, udahlah Abang udah pasrah. Sembuh pun untuk apa? Tetap tak bisa dapat restu dari umi. Dan pasti sekarang pun kau tak mau Abang nikahi." sahut Adi seperti patah semangat.


"Lagian kemarin hari pun kau udah mainan sama yang baru kan?" lanjut Adi mengingat kejadian saat ia menelpon Adinda, dan seorang laki-laki yang menjawabnya.


"Mainan apa?" tanya Adinda polos.


"Kau tidur kan sama laki-laki lain? Subuh Abang telpon, yang angkat laki-laki kau itu." jawab Adi terlihat seperti sedang membuka aib Adinda yang ketahuan selingkuh.


"Hah?" sahut Adinda terlihat bingung dengan menatap manik coklat tua milik Adi.


TBC.

__ADS_1


ikutin ceritanya terus ya kak 😁 🙏


jangan lupa tap ❤️ favorit, agar dapat notifikasi dari ceritanya 😁


__ADS_2